Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #258


__ADS_3

Liam hanya tersenyum mendengar cerita dari Jane mengenai temannya yang baru saja berkunjung ke rumahnya dan Jane juga mengatakan kepada Liam bahwa dia ingin membawa teman - temannya lebih banyak lagi untuk berkujung ke rumahnya. Dengan ditemani secangkir teh hangat buatan istrinya itu, dia juga mendengarkan tentang sedikit keluh kesahnya karena dia belum sepenuhnya mahir menggunakan teknologi di rumahnya misalnya bagaimana caranya membuka atap gazebo di samping kolam renang serta mengoprasikan remote yang telah disediakan oleh karena terlalu banyak tombol. Jane sebenarnya ingin mencoba - coba menggunakan remote tersebut namun karena takut rusak, akhirnya dia mengurungkan niatnya tersebut dan memilih menunggu Liam untuk mengajarinya. Mendengar hal tersebut, Liam justru menertawakan Jane karena penyampaiannya yang sangat menggemaskan dan tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mengeluh. Jane berbicara dengan sangat manja sekali dan sesekali dia memanyunkan bibirnya hingga membuat Liam ingin menciumnya, walaupun Jane sering bertingkah seperti itu namun jangan sesekali membuatnya merasa marah hingga jiwa kitten di dalam dirinya berubah menjadi macan betina karena jika Jane sudah dalam mode macan betina pasti akan sangat mengerikan sekali.


Setelah Jane berhenti berbicara dan menyuruh Liam untuk mandi, Liam langsung pergi ke kamarnya dengan membawa tasnya. Sebelum ke kamar mandi Liam pergi ke ruang kerjanya terlebih dahulu untuk meletakkan tas miliknya dan baru setelah itu dia mandi sore. Liam lalu menanggalkan pakaiannya satu persatu dan setelah itu dia menatap cermin di wastafel kamar mandinya. Terlihat wajah tampan Liam yang sekarang kumisnya sudah mulai muncul kembali dan sebentar lagi pasti akan semakin lebat. Hal itu membuat Liam merasa senang karena menurutnya kumis itu akan membuat Liam semakin terlihat sangat macho sekali layaknya seperti pria dewasa pada umumnya. Disisi lain Jane sedang berada di dapur membantu bibi memasak hidangan untuk makan malam nanti, tetapi tiba - tiba saja Rosie muncul dari lift dan langsung duduk di sofa rumah kakaknya itu. Rosie lalu menyalakan televisi dan menonton acara kesukaannya yaitu drama korea. Alasan Rosie pulang ke rumah kakaknya karena dirumah menjadi sangat membosankan walaupun dirumah utama sudah ada Lian, kakak sulungnya. Rosie sedari dulu tidak terlalu dekat dengan Lian, kakak sulungnya tersebut dan lebih dekat dengan Liam karena Liam orangnya sangat loyal kepadanya. Jane yang menyadari bahwa ada seseorang di ruang tengah, dia lalu menghampirinya.


"Lho Rosie, ternyata kamu ada disini."


"Iya eonni, aku ingin menginap disini."


"Eh kenapa begitu?"


"Aku bosan dirumah, karena tidak ada Liam."


"Bukankah ada Lian, kakakmu yang satunya?"


"Benar namun aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi jika sedang berbincang pasti terasa sangat canggung."


"Oh begitu," ucap Jane mengangguk paham.


"Dia pria yang sangat kaku melebihi Liam, serta dia juga tidak bisa diajak bercanda hingga membuatku merasa malas sekali bertegur sapa dengannya."


Jane langsung tertawa mendengar ucapan Rosie.


"Ya sudah kalau begitu menginaplah disini saja kapanpun kamu mau."


"Benarkah eonni?" tanya Rosie memastikan.


"Iya benar, oh ya kebetulan aku sedang memasak dengan bibi untuk makan malam jadi....." ucapan Jane langsung terpotong oleh Rosie.


"Dengan senang hati aku akan menghabiskannya eonni hehe."


Jane kembali tertawa sembari mengusap rambut Rosie.


"Kamu ini sangat bersemangat sekali jika mengenai makanan."


"Tentu saja, aku kan sangat suka sekali dengan makanan bahkan jika bisa aku akan menikahi makanan hahaha."


"Kamu ini ada - ada saja," ucap Jane menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya bercanda eonni."


"Bukankah pacarmu itu Chicko ya? aku dengar kamu sedang dekat dengannya."


"Itu tidak benar, kami berdua hanya teman dekat karena sekelas kok."


"Apa iya?" tanya Liam sembari menuruni tangga.


"Benar Liam, aku tidak ada hubungan apapun dengannya."


"Iya deh iya, nanti kalau tiba - tiba ada yang jadian kita berpura - pura kaget saja ya Jane?"

__ADS_1


"Iya hubby."


"Liam!!! kamu sangat menyebalkan sekali."


"Rosie juga sangat menyebalkan wlee," ucap Liam menjulurkan lidahnya.


Liam lalu menggendong Rosie dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Kenapa kamu datang kemari?" tanya Liam.


"Memangnya tidak boleh ya aku datang kemari?"


"Tidak," ucap Liam bercanda.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang saja," ucap Rosie memanyunkan bibirnya.


"Rosie katanya merasa rindu sekali kepadamu, hubby."


"Benarkah? katanya aku sangat menyebalkan, lalu kenapa sekarang kamu merasa rindu kepadaku?"


"Aku merasa sangat bosan saat kamu tidak ada dirumah."


"Bukankah ada Lian?"


"Dia lebih menyebalkan."


"Kenapa begitu? apa dia sering mengganggumu heum?"


Liam langsung menoleh ke arah Jane dan setelah itu dia tersenyum.


"Memangnya kamu sedang menginginkan apa?" tanya Liam sembari mengusap rambut Rosie.


"Tidak ada, hanya sedang ingin bertemu denganmu saja."


"Oh begitu rupanya."


Rosie kemudian pindah duduk di samping Liam.


"Kenapa pindah?" tanya Liam.


"Takut nanti eonni akan merasa cemburu jika aku duduk terlalu lama dipangkuanmu."


"Memangnya kamu merasa cemburu jika aku memangku Rosie, Jane?"


Jane menggeleng.


"Tidak hubby, masa aku cemburu dengan adik iparku."


"Tuh dengar, Jane saja tidak cemburu kok."

__ADS_1


"Tetapi aku tidak mau, aku maunya makanan."


"Ya sudah sana ke dapur mungkin bibi sudah selesai memasak," ucap Jane.


"Okay eonni."


Rosie lalu bergegas pergi ke dapur untuk mencari makanan, sedangkan Liam masih berbincang dengan Jane sembari bermanja ria. Sekitar 20 menit kemudian Liam baru pergi ke dapur bersama Jane untuk makan malam bersama. Rupanya mulut Rosie masih saja terus mengunyah makanan saat Liam duduk di sampingnya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka bertiga lalu berbincang - bincang di kamar Liam sembari menemani Liam menonton pertandingan bola. Tiba - tiba saja Liam berteriak kegirangan saat tim kesayangannya berhasil memasukkan bola ke dalam gawang lawan hingga membuat Jane dan Rosie merasa terkejut. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Rosie langsung pergi ke kamarnya karena tidak ingin mengganggu kakaknya.


"Kamu tidak merasa keberatan saat Rosie ingin menginap disini?" tanya Liam saat membaringkan tubuhnya.


"Tidak hubby, aku tidak merasa keberatan sama sekali dan justru aku malah senang jika Rosie ingin menginap disini."


"Kenapa begitu?"


"Sekarang aku merasa senang karena memiliki adik perempuan yang se frekuensi serta berbincang mengenai banyak hal, jadi aku tidak terlalu merasa kesepian."


"Memangnya selama ini kamu merasa kesepian saat pindah ke rumah ini?"


"Bukan begitu maksudku."


"Lalu?"


"Mmm sudahlah mari kita tidur, aku sudah merasa lelah."


"Hmm hobi sekali mengalihkan pembicaraan."


Jane langsung mencubit pipi Liam.


"Sayangku, cintaku, kamu ini sangat tampan sekali."


"Dih, aku memang sudah tampan sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan mommy."


"Iya aku percaya, eh kumismu ternyata sudah mulai tumbuh."


"Iya, keren kan?"


"Tidak, aku akan mencukurnya besok hahaha."


Refleks Liam langsung menutupi kumisnya.


"Jangan, aku sedang ingin memanjangkan kumisku seperti dulu."


"Kamu jelek jika berkumis."


"Tidak, justru aku lebih terlihat macho saat berkumis."


"Tidak hubby, pokoknya aku akan mencukur kumismu besok!!"


"Beri aku waktu sebulan untuk memelihara kumisku, please."

__ADS_1


"Mmm baiklah."


"Yess!!"


__ADS_2