
Setelah selesai makan dan minum obat, Jane meminta Liam untuk mandi agar badannya menjadi segar. Liam yang mendengar perintah dari Jane langsung bergegas pergi ke kamar mandi karena dia takut jika tidak menurutinya dia mungkin akan ditendang sampai ke kamar mandi oleh Jane. Sifat Liam yang keras kepala dan tidak mau menurut kepada siapapun termasuk kedua orang tuanya seketika sifatnya berubah menjadi penurut setelah dia bersama Jane karena dia sedikit takut kepada Jane. Menurutnya Jane sangat menyeramkan seperti singa betina jika permintaannya tidak dituruti bahkan senyum dan mata kucingnya itu juga berubah menjadi sangat menyeramkan ketika dia marah. Saat Liam sedang mandi Jane lalu pergi ke ruang ganti Liam, tempat dimana Liam menyimpan semua pakaian yang dia pakai setiap harinya. Jane lalu melihat - lihat baju milik Liam yang di gantung maupun dilipat di dalam lemari terbukanya, dan setelah itu Jane memilih pakaian yang akan Liam gunakan karena menurutnya Liam memiliki selera fashion yang rendah untuk seukuran pria anak orang kaya. Jane merasa sangat aneh sekali karena hanya segelintir pakaian Liam yang dibeli dari brand mewah lalu sisanya hanya terlihat seperti pakaian murahan (Jane sedang dalam mode julid). Setelah itu Jane meletakkan pakaian yang sudah dia pilihkan untuk Liam di atas meja agar Liam memakainya, dan tidak lupa Jane juga menuliskan catatan kecil yang dia tempelkan di atas pakaian Liam agar Liam memakai pakaian yang sudah dia pilihkan.
Jane kemudian pergi keluar dari kamar Liam untuk berbincang bersama Rosie maupun bersama Mrs Robinson yang sedang bersantai di taman yang berada di belakang rumah mereka. Taman belakang rumah keluarga Robinson sangat indah dan sangat pas untuk berbincang santai, di tambah lagi ada suara kicauan burung peliharaan Mr Robinson karena Mr Robinson juga sangat gemar mengoleksi burung - burung mahal. Taman itu tepatnya terletak di samping lapangan golf pribadi Mr Robinson yang terbentang sangat luas. Mengetahui jika Jane duduk di sebelahnya lalu Mrs Robinson menanyakan keadaan Liam, dan Jane lalu menjawab pertanyaan Mrs Robinson tersebut jika Liam sudah baik - baik saja karena Liam sudah meminum obatnya. Mendengar hal itu Mrs Robinson merasa lega, dia kemudian mengusap lembut rambut Jane sembari tersenyum dan tidak lupa dia juga berterima kasih kepada Jane. Mrs dan Mr Robinson sebenarnya sudah menganggap Jane seperti anaknya sendiri apalagi setelah mengetahui jika Jane adalah putri bungsu dari sahabatnya yaitu Mr dan Mrs Kim. Selesai mandi Liam melihat di atas meja jika ada pakaian yang sengaja Jane siapkan untuknya, dan Liam langsung memakainya. Tidak berselang lama bibi yang bekerja di rumah Liam memberitahu jika teman - temannya telah datang ke rumah, dan Liam langsung meminta bibi untuk membawa mereka ke kamarnya saja. Liam juga langsung pergi untuk mencari Jane ke taman belakang rumah menggunakan skuter listrik karena rumahnya yang sangat luas, jadi Liam sering menggunakan skuter listrik miliknya untuk berkeliling di dalam rumah maupun di luar rumah (oh ya di rumah Liam juga ada lift jadi dia memakai lift saat mengendarai skuternya). Terkadang Liam sampai dimarahi oleh Mr Robinson karena dia selalu kebut - kebutan saat mengendarai skuter miliknya di dalam rumah.
"Sudah mommy katakan jika sedang mengendarai skutermu jangan mengebut tetapi kamu tidak pernah mendengarnya," ucap Mrs Robinson memarahi Liam.
"Sorry mom hehe."
"Apa kamu sudah merasa baik sekarang sehingga kamu bisa mengendarai skuter milikmu dengan mengebut seperti tadi?"
"Tentu sudah. Oh ya Jane, kamu di sini saja bersama mommy dan jangan masuk ke dalam kamarku."
"Memangnya kenapa?"
"Ada teman - temanku di dalam kamar."
"Baiklah."
"Ya sudah kalau begitu aku akan kembali ke kamar."
Liam kemudian mengendarai skuternya dengan cepat hingga membuat Mrs Robinson berteriak "jangan mengebut Liam!"
"Iya mom," ucap Liam berteriak.
Liam kemudian masuk ke dalam kamarnya dan duduk di ranjangnya. Dio lalu bertanya kepada Liam "waktu itu kamu memberitahuku jika kamu baru saja dibelikan game baru oleh daddy mu, lalu sekarang mana?"
__ADS_1
"Mana? aku tidak sabar untuk memainkannya," sahut Chicko.
Liam kemudian menujuk ke sebuah rak yang berada di bawah televisinya "itu disana, kalian bisa memainkannya."
"Bagaimana denganmu?" tanya Ricko.
"Aku sedang tidak ingin memainkannya karena aku sedang tidak enak badan."
"Benar kamu tidak ingin memainkannya?" tanya Dio memastikan.
"Tidak," jawab Liam singkat.
Dio tersenyum "Baiklah kalau begitu."
"Ricko, bisakah kamu mengambilkan aku peralatan menggambarku?"
"Di atas meja sebelah sana," ucap Liam sembari menunjuk meja kerjanya.
"Baiklah." Ricko lalu berjalan ke arah meja yang ditunjuk oleh Liam untuk mengambilkan Liam peralatan menggambarnya.
"Thank you Ricko," ucap Liam sembari tersenyum.
Ricko lalu berjalan ke arah ranjang Liam dan langsung memberikan peralatan menggambar milik Liam yang "ini peralatan menggambarmu."
"Iya," ucap Liam sembari menerima buku gambar beserta pensil dan penghapusnya.
__ADS_1
Saat Ricko ingin berjalan pergi untuk bergabung bersama teman - temannya yang lain Ricko secara tidak sengaja melihat tas wanita dan handphone yang tergeletak di atas meja samping ranjang milik Liam. Hal itu membuat Ricko berhenti sejenak untuk mengamati kedua benda tersebut, namun Liam yang menyadari jika Ricko sedang memperhatikan barang milik Jane dengan cepat Liam berdiri dan memasukkan benda tersebut ke dalam lacinya. Melihat tingkah Liam yang terlihat sedikit panik, Ricko lalu hanya diam dan kembali berjalan ke arah teman - temannya. Liam kemudian duduk di ranjangnya kembali dan menggambar di buku gambar miliknya sembari sesekali dia memperhatikan teman - temannya bermain game. Liam hanya tersenyum sembari menggambar di atas ranjangnya dan mendengar teman - temannya berteriak - teriak saat bermain game, walaupun dia sesekali juga menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman - temannya itu. Sekitar satu jam kemudian Liam hampir menyelesaikan gambar sketsa yang dia buat, dan dia lalu menatap buku gambarnya sembari tersenyum hingga membuat teman - temannya berhenti bermain game sejenak untuk memperhatikan tingkahnya yang aneh tersebut.
Dio menatap Liam dengan wajah yang penuh tanda tanya "apakah anak itu sedang kesurupan sehingga tersenyum seperti itu?"
"Aku juga tidak tau tetapi sepertinya memang begitu," ucap Chicko menambahkan.
Dio lalu menyenggol tangan Ricko "anak itu sebenarnya kenapa?"
"Aku tidak tau."
"Kan tadi kamu yang terakhir kali dengannya sewaktu memberikan perlatan menggambarnya."
"Tetapi aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Liam."
"Aku jadi merasa merinding melihat Liam seperti itu karena dia jarang sekali tersenyum begitu," ucap Chicko berbisik.
Liam yang menyadari jika dia sedang dibicarakan oleh teman - temannya lalu membalikkan buku gambarnya dan menunjukkan hasil menggambarnya "lihatlah! bukankah dia sangat menawan sekali?"
Teman - temannya itu langsung melihat hasil gambar sketsa Liam "iya, tetapi siapa wanita yang memakai topeng tersebut?" tanya Dio.
"Calon istriku," jawab Liam sembari tersenyum."
"Tetapi kenapa kamu tidak menggambar wajahnya dengan jelas?" Chicko gantian bertanya.
"Tidak apa - apa, aku tidak ingin kalian melihatnya sebelum dia resmi menjadi istriku."
__ADS_1
Chicko menujukkan wajah malasnya "terserah kamu saja Li."
"Ya sudah kita lanjut bermain game saja dan membiarkan dia menikmati masa indahnya jatuh cinta," ucap Dio sembari memainkan kembali gamenya.