Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #110


__ADS_3

Liam lalu berjalan menuju ruangan gym miliknya dan melepas baju yang dia pakai hingga memperlihatkan perut sixpack miliknya. Liam memulai pemanasan terlebih dahulu lalu setelah itu dilanjutkan berlari di atas treatmill selama kurang lebih setengah jam. Liam kemudian mulai mengangkat berbel untuk membentuk otot lengannya, dia juga tidak lupa melakukan push up dan sit up sebelum mengangkat barbel miliknya. Sedangkan Jane memakai masker kecantikan miliknya sembari mencoba cat kuku yang waktu itu dibelikan oleh Liam. Jane melakukan hal - hal tersebut karena kebetulan Liam sedang sibuk berolahraga jadi tidak ada yang mengganggu dirinya. Setelah selesai mencoba cat kukunya Jane kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Liam jus alpukat kesukaannya karena Jane tau jika setelah berolahraga lebih baik Liam meminum jus daripada soda, dan benar saja Liam langsung menghampiri Jane untuk meminta minuman yang menyegarkan dirinya setelah berolahraga. Dengan badannya yang sedikit mengkilap dengan rambutnya yang basah karena terkena keringat dan tentunya belum memakai bajunya Liam langsung duduk di atas meja dapur di samping blender yang masih menyala. Jane merasa terkejut sekaligus terpana melihat badan Liam secara langsung yang sangat bagus seperti seorang model. Dahulu Jane hanya melihatnya melalui vidio call namun sekarang dia melihatnya secara langsung penampakan badan Liam apalagi perut sixpacknya yang mengkilap itu.


Jane langsung memberikan jus alpukat yang telah dia buat lalu dia pergi mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat Liam yang bercucuran sangat banyak di sekujur tubuhnya. Jane lalu memberikan handuk tersebut kepada Liam yang sedang menikmati jus alpukatnya namun dia menolaknya dan meminta Jane untuk mengelap nya. Jane menolak permintaan Liam dan melangkah pergi namun dengan cepat tangan Liam meraih tangan Jane untuk menahannya pergi. Akhirnya Jane pasrah dan menanggapi permintaan Liam. Dia mulai mengelap badan Liam dari perut ke atas hingga rambutnya yang masih basah. Liam hanya diam duduk di atas meja memperhatikan Jane yang mengelap tubuhnya sembari menyeruput jus alpukat miliknya. Perasaan Jane tidak karuan saat mengelap tubuh Liam apalagi saat menyentuh perut sixpack miliknya. "Lama - lama aku bisa dibuat gila jika seperti ini terus," begitu ucap Jane dalam hatinya saat mengelap perut Liam. Saat mengelap wajah Liam Jane melihat jika kumis Liam sudah mulai tumbuh lebat dia kemudian mengambil razor (alat pencukur kumis) dan cream cukur. Jane kemudian mencukur kumis Liam dengan hati - hati hingga saat pendangan mata mereka berdua saling bertemu satu sama lain jantung mereka berdua berdetak dengan sangat cepat. Selesai mencukur kumis Liam, Jane kemudian mengelap wajah Liam menggunakan handuk tadi dan langsung meleparkannya tepat ke wajah Liam. Jane kemudian mengambil air es di kulkas dan meminumnya untuk meredakan rasa hausnya.


"Terima kasih Jane," ucap Liam yang memeluk Jane dari belakang secara tiba - tiba.


Pelukan itu seketika membuat tubuh Jane membeku, hingga dia sulit untuk berkata - kata. Sekitar 5 menit kemudian Jane berbalik dan berkata, "iya sama - sama anak nakal."


"Kenapa kamu menyebutku anak nakal?" tanya Liam kebingunan.


"Karena kamu memelukku dari belakang secara tiba - tiba tanpa memakai baju terlebih dahulu."


Liam mengangguk lalu dia menarik pinggul Jane untuk lebih dekat dengannya dan memeluknya "kalau begini bagaimana?"


Jane merasa terkejut dengan tingkah laku Liam tersebut hingga membuat wajahnya memerah, namun di sisi lain dia merasa sangat nyaman dengan pelukan dari Liam tersebut. Jane yang langsung sadar kemudian mendorong tubuh Liam dengan sangat kuat "lepaskan!"


"Baiklah."


"Maaf aku hanya takut jika," ucapannya tidak dilanjutkan.


"Ya, aku paham."


"Sekali lagi aku meminta maaf kepadamu."


"Tidak perlu meminta maaf karena seharusnya aku lah yang meminta maaf kepadamu."


Jane lalu merentangkan kedua tangannya "ayo."


Liam kembali dibuat bingung oleh Jane "maksud kamu?"


"Aku ingin digendong olehmu," ucapnya dengan nada manja lalu setelahnya dia memanyunkan bibir mungilnya.


Liam tertawa kecil "kemarilah! aku akan menggendongmu."


Liam lalu mulai menggendong Jane yang seperti anak kecil. Jane menyandarkan kepalanya di dada Liam yang bidang itu sembari berkata, "apa aku berat?"

__ADS_1


Liam menggeleng "tidak, kamu sangat ringan seperti kapas."


"Benarkah?" tanya Jane yang merasa tidak percaya dengan ucapan Liam.


"Iya Jane, oleh karena itu kamu harus makan yang banyak."


"Tidak mau, nanti aku gemuk dan pipiku semakin chubby."


Liam terseyum sembari mencubit pipi chubby milik Jane "ya tidak apa - apa agar kamu tambah menggemaskan."


Jane kembali memanyunkan bibirnya "tidak mau."


"Jangan sering memanyunkan bibirmu itu."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu mau aku cium heum?" tanya Liam sembari tertawa kecil.


"Tidak mau, Liam bau karena belum mandi."


"Gendong aku ke kamarmu."


"Baiklah."


Liam menggendong Jane ala bridal dan sesampainya di kamar kemudian Liam menurunkan di atas ranjangnya, dan setelah itu Liam pergi ke kamar mandi untuk mandi. Jane memainkan handphone miliknya sembari menunggu Liam selesai mandi. Hingga beberapa menit kemudian Liam telah selesai mandi dan langsung duduk di sebelah Jane yang sedang sibuk memainkan handphone miliknya. Liam lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Jane dan memeluk perut Jane seperti anak kecil. Jane yang merasa gemas melihat tingkah laku Liam, kemudian dia tersenyum sembari mengacak - ngacak rambut Liam. Hari ini Liam sedang ingin bermanja ria dengan Jane tanpa gangguan dari siapapun. Di sisi lain Mrs Robinson yang sedang menyiram tanamannya kemudian dia duduk di kursi taman setelah Mr Robinson meminta waktunya sebentar untuk berbincang dengannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku hon?" tanya Mrs Robinson saat duduk di samping Mr Robinson.


"Sepertinya putramu itu sudah mulai menyukai Jane."


"Aku fikir begitu, tetapi bisa saja mereka berdua sedang berteman dekat."


Mr Robinson tersenyum "bukankah akan sangat bagus jila mereka berdua menikah apalagi itu sangat menguntungkan perusahaan kita juga?"


"Berhentilah membicarakan hal itu hon, aku justru berfikir itu akan lebih bagus jika dapat membuat Liam sembuh dan bisa kembali seperti dahulu."

__ADS_1


"Benar juga ucapan kamu itu hon, tetapi aku sedikit pesimis setelah mengetahui keinginan Liam yang akan memilih untuk melajang seumur hidupnya."


"Aku juga begitu, tetapi siapa tau jika Jane bisa mengubah keinginan Liam itu."


"Semoga saja begitu, aku sangat berharap sekali kepada Jane."


"Sebenarnya aku juga ingin cepat - cepat menimang cucu," ucap Mrs Robinson sembari tertawa kecil.


"Sssttt, jangan berbicara terlalu keras! kalau Liam mendengarnya pasti dia akan marah kepada kita berdua."


"Liam sedang tidak ada di rumah hon."


"Memangnya anak itu sedang kemana?" tanya Mr Robinson bingung.


Mrs Robinson tersenyum "dia sedang pergi bersama dengan Jane."


"oh begitu rupanya. Kamu sudah tidak ingin menambah anak lagi?" tanya Mr Robinson yang berusaha menggoda istrinya itu.


Mendengar hal itu Mrs Robinson lalu menatap tajam mata suaminya itu "tidak! kamu saja terlalu sibuk bekerja jadi tidak akan ada yang membantuku untuk mengurusnya."


"Ya siapa tau kamu menginginkannya lagi," ucap Mr Robinson sembari tertawa.


"Kamu enak tinggal bilang sedangkan aku nanti yang akan direpotkan, kalau kamu mau membantuku ya tidak masalah."


"Kan aku sibuk mengurus beberapa perusahaan apalagi ditambah hotel dan restaurant."


"Maka dari itu tidak usah!"


"Sebenarnya daddy sering bertanya kepadaku apakah kita akan memberikan cucu lagi atau tidak."


"Tiga saja sudah cukup Jo!"


"Bukan tiga tetapi dua, hanya Liam dan Rosie."


"Bagi aku, anakku itu tetap tiga."

__ADS_1


"Ya sudah terserah kamu saja."


__ADS_2