
Liam langsung menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur, sedangkan Jane hanya tertawa kecil menertawakan Liam yang merasa kesal sebelum dia bersiap untuk tidur. Setelah mematikan lampu Jane kemudian memeluk Liam seperti biasanya sebelum dia tidur, dan itu telah menjadi kebiasaannya saat tidur berada di sisi Liam. Jane melakukannya karena dia merasa nyaman serta merasa terlindungi di kala langit malam mulai bewarna hitam pekat. Ritual lainnya sebelum dia tidur adalah memandangi wajah tampan Liam yang berguna sebagai penangkal mimpi buruk (hahaha). Dahulu dia sesekali hanya bisa melihatnya dari layar handphonenya saja dan membuatnya merasa penasaran, akan tetapi sekarang dia bisa selalu memandanginya bahkan menyentuhnya kapanpun dia menginginkannya.
Setelah dia puas, baru dia akan mulai tertidur dengan nyenyak. Saat pukul 3 pagi tiba - tiba saja Jane terbangun karena ingin buang air kecil. Dia melihat bahwa semua ruangan di kamarnya itu terlihat gelap gulita mulai dari kamarnya, walk in closet, sampai kamar mandi juga terlihat gelap walaupun sebenarnya ada seberkas cahaya yang masuk melalui jendela balcony kamarnya. Jane kemudian berinisiatif membangunkan Liam yang sedang tertidur pulas sembari mendengkur, walaupun nanti akhirnya dia akan dimarahi oleh Liam karena sebelumnya dia sudah berjanji tidak akan mengganggunya. Tidak apa - apa dimarahi oleh suaminya yang galak itu daripada nanti dia mengompol di kasurnya yang mahal dan malah semakin dimarahi habis - habisan oleh suaminya itu.
"Hubby," ucap Jane sembari menggoyang - nggoyangkan lengan Liam.
"Nggg."
"Temani aku pergi ke kamar mandi."
"Kenapa tidak pergi sendiri saja?" tanya Liam sembari matanya masih terpejam.
"Aku takut karena terlalu gelap."
"Buakankah kamu bisa menyalakan lampu atau senter di handphone milikmu agar tidak gelap?"
"Tetap saja aku merasa takut apalagi ini sudah sangat sunyi sekali, ayolah hubby."
"Ck, dasar penakut."
"Ya sudah kalau tidak mau, biarkan saja aku mengompol di kasur ini dan kamu yang harus membersihkannya."
Liam langsung membuka matanya, mengingat istrinya itu sedang datang bulan.
"Ya sudah ayo!! daripada nanti pas kamu mengompol aku malah mendapat jackpot."
"Ayo cepat!! aku sudah tidak tahan."
"Dasar penakut," ucap Liam mengikuti Jane dibelakangnya.
Jane langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Liam menunggu diluar.
"Awass jangan mengintip!!"
"Dih siapa yang mau mengintipmu? mungkin hanya penunggu kamar mandi saja yang berniat untuk mengintipmu," teriak Liam dari luar.
Spontan Jane langsung keluar dari kamar mandi.
"Hubby jangan begitu, aku takut."
*Hoamm* Liam menguap.
"Sudah cepat, aku masih mengantuk."
"Temani aku di dalam kamar mandi."
"Dih tidak mau, masa aku melihatmu sedang pipis."
__ADS_1
"Habisnya kamu menakut - nakutiku sih."
"Aku hanya bercanda, cepat selesaikan urusanmu di dalam kamar mandi agar aku bisa kembali tertidur."
"Iya sebentar."
Jane kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya, sedangkan Liam yang sedang menunggu Jane di luar kamar mandi tiba - tiba saja dia merasa mengantuk berat serta bosan karena Jane terlalu lama di dalam kamar mandi. Tiba - tiba sebuah ide jahil melintas di fikirannya, dan dia langsung memainkan saklar lampu kamar mandi agar Jane segera keluar dari kamar mandi. Sontak Jane langsung berteriak untuk memperingatkan Liam agar tidak memainkan saklar lampu. Tangan Liam langsung berhenti memainkan saklar lampu saat Jane mengancam bahwa dia tidak akan keluar dari kamar mandi jika dia berbuat hal seperti itu. 5 menit berlalu dan Jane masih saja belum keluar dari kamar mandi hingga tiba - tiba terdengar suara jeritan dari dalam kamar mandi hingga membuat Liam langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa Jane?" tanya Liam khawatir.
"A-ada kecoa di bawah wastafel."
"Ternyata karena itu sampai kamu berteriak dengan sangat keras? aku kira ada apa."
"Aku takut hubby, tolong."
Sebenarnya Liam ingin meninggalkannya namun dia merasa tidak tega saat melihat wajahnya yang terlihat sangat ketakutan itu, dan akhirnya dia berhasil membunuh kecoa itu.
"Nah mati kau, dasar pengganggu istri orang."
"Sudah mati hubby?" tanya Jane memastikan.
"Sudah sayang, tenang saja."
*Blyarr* suara petir halilintar.
"Tadi takut dengan kecoa dan sekarang takut dengan petir, dasar penakut."
"Aku memang wanita yang penakut dan manja, oleh sebab itu aku membutuhkan kamu untuk melindungiku dari apapun."
Liam langsung menggendong Jane.
"Ululuh sayangku sudah jangan takut, kan ada aku yang akan selalu melindungimu."
"Iya hubby."
"Ayo kembali tidur," ucap Liam menggendong Jane kembali ke ranjangnya sembari menciumi lehernya.
"Hubby sangat gagah sekali karena memiliki tubuh yang sangat kekar."
"Iya, aku terinspirasi oleh tokoh wayang Jawa yaitu Gatot Kaca."
"Memangnya seperti apa Gatot Kaca itu?"
"Raden Gatot Kaca adalah putra dari Werkudara alias Bima, tubuhnya sangat besar dan kekar sekali. Dia juga terkadang dijuliki si otot kawat tulang besi karena saking kuatnya."
"Benarkah? wah keren sekali."
__ADS_1
"Iya, dia seperti ayahandanya yang badannya juga sangat besar dan kuat."
"Bukankah kamu juga seperti daddy? kamu tampan serta badanmu sangat kekar seperti daddy bukan?"
"Iya, lalu?"
"Jika benar aku memiliki anak laki - laki, aku juga ingin dia bisa sepertimu mmm kamu ingin memberi nama siapa jika benar anak kita laki - laki?" tanya Jane menyandar di bahu Liam.
"Aku ingin memberinya nama Ace."
"Kenapa begitu?"
"Aku ingin dia menjadi seorang jagoan yang bisa menjadi malaikat pelindung bagi orang - orang di sekitarnya, bagaimana?"
"Aku menyukainya, dan jika nanti anak kita perempuan?"
"Nah itu kamu yang akan memberinya nama karena kamu pasti lebih banyak mengetahui tentang nama - nama anak perempuan."
"Benar juga."
Mereka berdua terus membicarakan mengenai seorang anak serta masa depan mereka, dan setelah itu mereka berdua kembali tidur bersama dengan saling memeluk satu sama lain. Waktu telah berlalu dan jam telah menunjukkan pukul 8 pagi. Saat itu Mr Robinson yang sedang bersiap pergi bermain golf bersama Mr Kim, tiba - tiba saja dihampiri oleh seseorang yang sedang menarik koper miliknya. Mr Robinson berfikir dia adalah Liam, putranya namun mengapa Liam pulang ke rumah dengan membawa koper? apakah dia telah di usir oleh istrinya karena berbuat nakal? begitu kira - kira fikir Mr Robinson. Namun setelah mengamati secara saksama ternyata dia adalah Lian, putra sulungnya yang berniat untuk pulang setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki dirumahnya.
"Sudah bosan hidup menggelandang di luar sana?" tanya Mr Robinson ketus.
"Bukankah daddy berkata bahwa aku bisa pulang kapanpun yang aku inginkan? lalu kenapa sekarang daddy malah berbicara seperti itu kepadaku?"
Tiba - tiba Mrs Robinson berlari dan memeluk Lian.
"Akhirnya kamu pulang juga sayang, mommy sangat merindukanmu."
"Lian juga sangat merindukan mommy."
"Ayo masuk, kamarmu sudah momny bersihkan tadi."
"Terima kasih mom."
"Hon, aku akan berangkat sekarang."
Mrs Robinson menoleh ke arah suaminya.
"Kenapa tidak ditunda saja dan merayakan kepulangan putra kita?"
"Aku sudah terlanjur berjanji kepada Andrew, kita bisa rayakan lain kali hon."
Mrs Robinson menghela nafasnya.
"Baiklah hon, hati - hati dijalan."
__ADS_1
"Okay."