
Wanita paruh baya itu adalah mami Yunna, dia lalu duduk di sebelah Liam dan mulai bertanya - tanya mengenai Liam karena mami Yunna baru pertama kali bertemu dengan Liam secara langsung. Selama Liam main ke rumah Yunna, Liam tidak pernah sekalipun bertemu dengan mami Yunna karena setiap dia bermain ke rumah Yunna pasti hanya berbincang di teras rumahnya saja. Mami Yunna baru mengetahui bagaimana wujud boss dari putri sulungnya yang selalu diceritakan olehnya dan katanya pernah menyukai putri sulungnya itu. Yunna selalu bercerita kepada mami bahwa dia merasa betah bekerja di perusahaannya karena dia memiliki seorang boss yang sangat baik, dan dia selalu bersedia untuk mengajarinya jika ada sesuatu hal yang belum Yunna ketahui. Mami Yunna mengakui bahwa Liam adalah pria yang tampan serta memiliki dompet yang tebal, dan dia menjadi heran mengapa putrinya itu tidak menerima cintanya Liam.
Tiba - tiba saja Liam merasa sangat canggung kepada mami Yunna karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan mami Yunna secara langsung, serta mami Yunna juga menatapnya sampai seperti itu. Mengetahui jika Liam merasa canggung, mami Yunna kemudian memulai pembicaraan kepada Liam serta bertanya - tanya mengenai putrinya selama berada di kantor. Tidak lama kemudian Yunna datang sembari membawakan secangkir teh hangat untuk Liam, dan itu juga sebagai tanda terima kasihnya kepada Liam karena telah menemaninya berbelanja di boutique. Itu merupakan pengalaman pertamanya memasuki sebuah boutique mewah dan itu tidak akan pernah dilupakannya. Mami Yunna kemudian memperhatikan semua paper bag merk terkenal yang berada di samping Liam. Raut wajah mami Yunna seketika berubah menjadi sedikit lebih menyeramkan dan terlihat seperti ingin memarahi Yunna.
"Habis darimana kamu Yun?" tanya mami Yunna.
"Aku habis dari kantor mi, memangnya kenapa?"
"Lalu semua paper bag itu?"
"Oh itu milikku, tadi aku ditemani oleh Liam berbelanja di sebuah boutique milik kenalan Liam."
"Oh begitu. Maaf ya Liam karena Yunna sudah merepotkanmu."
"Tidak apa - apa tante," ucap Liam dengan senyuman yang sedikit canggung.
"Silahkan diminum Liam," ucap mami Yunna.
"Baik tante."
*Slurrp* Liam meminum secangkir teh buatan Yunna.
"Tahu tidak mi, tadi di dalam boutique itu sangat wangi sekali serta semua barang tertata dengan sangat rapi di dalam sebuah rak kaca."
"Oh begitu."
"Semua barang - barangnya sangat bagus serta tidak ada yang jelek, andaikan aku punya uang lebih pasti aku akan membelinya semua mi."
"Iya, tapi jangan menjadi orang yang boros karena mami tidak suka jika anak mami seperti itu."
"Baik mi. Oh ya Li, tadi tas yang bewarna hijau tosca sangat bagus dan juga design nya sangat elegan."
"Bukankah aku tadi sudah menyuruhmu untuk membelinya, lalu kenapa kamu malah mengambil tas yang lain?"
"Mmm tas yang aku inginkan harganya sangat mahal huhu, nanti kalau aku membelinya bisa - bisa aku tidak akan makan selama sebulan haha."
__ADS_1
"Bukankah kamu sekarang banyak uang? lagipula tadi aku juga menyuruhmu untuk mengambil semua yang kamu inginkan bukan?" tanya Liam mengedipkan mata kirinya.
"Tidak apa - apa, lagipula tas yang aku pilih juga bagus kok hehe."
"Ya sudah jika itu keinginanmu."
"Iya."
Liam kemudian melihat jam tangannya.
"Mmm kalau begitu Liam pamit pulang ya Yunna, tante."
"Oh iya Li, thanks ya sudah mengantarkan serta menemaniku ke boutique."
"Iya santaii," ucap Liam sembari tersenyum.
"Terima kasih ya Liam, dan hati - hati dijalan."
"Baik tante."
Setelah Liam pulang, Yunna lalu membereskan semua paper bag dan membawanya ke kamarnya. Yunna kemudian pergi mandi dan beristirahat sebentar di kamarnya sembari melihat - lihat semua pakaian, sepatu, serta tas yang baru saja dia beli. Namun tiba - tiba saja mami Yunna mendatangi kamar Yunna saat Yunna sedang membereskan kamarnya dan duduk di samping Yunna. Melihat maminya yang berada di sampingnya, Yunna lalu menunjukkan semua barang miliknya kepada mami.
"Kami berdua tidak ada hubungan apapun kok mi, hubungan kami berdua hanya sebatas rekan kerja saja."
"Jika hanya rekan kerja lalu mengapa dia sampai membelikan kamu semua barang - barang mewah ini?"
"Tadi niatnya aku hanya meminta Liam untuk menemaniku mencoba berbelanja di sebuah boutique namun tiba - tiba saat pembayaran, Liam malah memberikan kartu kredit miliknya serta membayar semua belanjaan Yunna. Setelah pulang Yunna ingin menggantinya namun dia malah menolaknya mi."
"Liam melakukan semua itu karena Liam menyukaimu."
Yunna lalu menyentuh paha maminya.
"Tidak mungkin mi, Liam sudah move on serta dia sudah menikah."
"Tidak ada yang tidak mungkin sayang, buktinya tatapannya ke kamu saja sudah jelas berbeda dan seperti ada sesuatu di dalam tatapan matanya itu. Mami tidak ingin jika putri mami dicap sebagai pelakor (perebut laki orang) dan mami ingin kamu merasakan bagaimana pedihnya perasaan istrinya nanti saat suaminya lebih dekat dengan wanita lain."
__ADS_1
"Mami tenang saja, Yunna janji tidak akan menjadi pelakor kok."
"Baiklah, mami pegang janjimu."
"Iya mi."
Sesampainya di rumahnya, Liam langsung mencari keberadaan istri kesayangannya yang gemoyy. Ternyata dia sedang berada di dapur dan sedang membuatkan secangkir teh untuknya, walaupun tadi Liam sudah meminum teh di rumah Yunna namun Liam juga meminum teh buatan istrinya karena dia tidak ingin istrinya merasa sedih. Liam duduk di sofa sembari memeluk istrinya dari samping. Beberapa jam kemudian setelah makan malam, Liam dan Jane memilih untuk bersantai di balcony kamarnya. Liam berbaring di pangkuan Jane sembari membaca sebuah buku novel yang belum sempat dia baca, sedangkan Jane memandangi langit malam sembari mengusap rambut Liam.
"Mengapa hubby sangat senang sekali membaca buku?" tanya Jane tiba - tiba.
"Karena tidak tahu, entah mengapa tanpa alasan yang jelas aku sangat suka membaca buku."
"Hmm aneh sekali. Waktu itu kamu berbohong kepadaku bukan?"
"Berbohong apa sayang?" tanya Liam saat meletakkan bukunya di atas meja.
"Waktu di Paris kemarin kamu mengatakan jika tidak bisa berbahas Perancis, lalu kenapa tiba - tiba saat aku perhatikan kamu terlihat lancar sekali membaca buku novel berbahasa Perancis?"
"Mungkin waktu itu aku sedang kerasukan setan Paris, maka dari itu aku menjadi sangat lancar perbahasa Perancis."
"Hmm dasar tukang ngibul."
Liam tertawa.
"Memangnya kenapa kalau aku bisa berbahasa Perancis?"
"Tidak apa - apa, aku hanya merasa kagum kepadamu karena kamu itu multitalenta."
"Sepertinya itu berlebihan."
"Tidak juga."
Liam kemudian memiringkan tubuhnya dan mencium perut Jane.
"Aku sayang sekali denganmu, ayo kita buat anak."
__ADS_1
"Baiklah, besok kita buat anak."
"Okay."