Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #155


__ADS_3

Pak Kang kemudian mengantarkan Liam pulang ke hotel milik keluarganya. Sesampainya di kamar hotelnya Liam langsung menghampiri dan memeluk Mrs Robinson yang sedang bersantai menonton televisi. Pada hari itu Liam merasa sangat lelah sekali karena kegiatannya yang lumayan padat. Mrs Robinson hanya diam dan mengusap rambut Liam saat putranya tersebut memeluknya karena dia sedang fokus menonton drama di televisi. Liam kemudian berbaring di pangkuan Mrs Robinson dan ikut menonton televisi. 30 menit kemudian Liam tertidur nyanyak di pangkuan Mrs Robinson, dan mengetahui jika putranya tersebut sudah tertidur nyenyak Mrs Robinson menarik selimut untuk menutupi tubuh Liam agar tidurnya lebih nyenyak. Mrs Robinson mengusap rambut Liam dan dipandangnya wajah tampan putranya tersebut yang memiliki mata bewarna coklat muda serta alisnya yang tebal persis seperti milik suaminya itu sembari bergumam "andai dahulu mommy bisa menjagamu dengan baik mungkin kamu tidak akan mengalami hal seperti ini sekarang, bahkan semua hal yang selama ini menimpamu tidak akan pernah terjadi."


*Fast forward


Liam yang mengambil cuti kerjanya karena dia ingin mengikuti turnamen skateboard di Korea Selatan, setelah turnamen tersebut selesai Liam pergi untuk konsultasi ke psikiater terbaik di negara tersebut dengan ditemani oleh Mrs Robinson. Liam sebenarnya sudah kembali normal seperti sedia kala namun Mr Robinson meminta istrinya itu untuk kembali mencarikan Liam psikiater terbaik karena Mr Robinson tidak ingin jika misalnya suatu saat Liam kembali kambuh. Mr Robinson ingin jika Liam bisa 100% sembuh total dan cepat - cepat mengambil alih semua perusahaannya karena sekarang hanya Liam lah satu - satunya putranya yang dapat dipercaya untuk menjalankan bisnis keluarga. Sebelum dia menerima surat yang menyatakan bahwa Liam sudah sembuh total, Mr Robinson tidak berani untuk mewariskan semua bisnis keluarga kepadanya karena itu sangat berisiko untuk kedepannya (ibaratnya Mr Robinson belum berani untuk turun tahta). Dia menginginkan jika Liam harus matang secara sifat dan pemikirannya terlebih dahulu baru dia berani untuk turun tahta.


Malam ini merupakan malam terakhir Liam di Korea Selatan sebelum dia kembali ke Indonesia, dan dia sedang menunggu Jane di tepi Sungai Han.


"Liam," panggil Jane sembari menghampiri Liam yang tengah terduduk di tepi sungai.


"Hei, kemarilah dan duduk di sampingku!" perintah Liam.


"Sudah lama menunggu?"


"Belum terlalu lama."


"Oh begitu, oh ya kamu ingin membicarakan apa denganku?"


Liam kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Jane "aku hanya ingin menghabiskan malam terakhirku disini bersama denganmu."


"Jangan berkata seperti itu! aku jadi merinding mendengar perkataanmu seolah - olah kamu...." Jane tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Aku kenapa memangnya?" tanya Liam menatap Jane.


"Tidak apa - apa, sudah lupakanlah saja."


"Dasar wanita tidak jelas."


"Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin jika perkataanku tadi menjadi kenyataan."


"Oh begitu."


"Rasanya cepat sekali waktu berlalu karena perasaan baru kemarin kita berdua bertemu dan selalu bertengkar setiap bertemu, lalu sekarang tiba - tiba saja kita menjadi sangat dekat bahkan hampir menjalani hubungan ke tahap yang lebih serius."

__ADS_1


"Kamu benar, mulai besok kita akan saling berjauhan terpisah antara jarak dan waktu."


"Ya, benar."


Liam menghela nafasnya "entah bagaimana aku bisa menjalani hari - hariku tanpa matahari cerahku yang selalu tersenyum?"


"Maksudnya?"


"Gummy smile kamu itu bagaikan matahari yang selalu menyinari hari - hariku yang suram, oleh karena itu aku memberikanmh gelang berliontin matahari karena menurutku itu sangat cocok untukmu."


"Terima kasih bulan sabitku," ucap Jane bercanda.


Dengan cepat Liam langsung menyambar bibir strawberry Jane dan ********** dengan sangat lembut. Jane hanya diam tidak membalas ciuman dari Liam karena dia merasa terkejut dengan aksi berani Liam tersebut. Untung saja malam itu di sekitar Sungai Han sepi sehingga tidak akan ada orang lain yang mengetahui keberadaan mereka berdua. Menyadari jika Jane hanya diam Liam kemudian melepaskan ciumannya tersebut dan memalingkan wajahnya. Perutnya terasa geli karena seperti ada puluhan kupu - kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Liam kemudian duduk sedikit menjauh dari Jane.


"Maaf, tadi aku kelepasan."


"Tidak masalah, seharusnya aku yang meminta maaf karena aku tidak membalas ciumanmu."


"Tetapi jujur saja aku merasa terkejut dengan aksimu, oleh karena itu aku hanya diam membeku dan tidak membalas ciumanmu seperti waktu itu."


"Sssttt! kenapa masih dibahas lagi?" tanya Liam merasa malu.


Jane kemudian duduk mendekati Liam sehingga tidak ada lagi jarak diantara mereka berdua "ayo lakukan lagi!"


"Tidak, sudah cukup! nanti kalau keterusan bisa berbahaya."


"Yah tidak seru," ucap Jane sembari cemberut.


"Kapan - kapan lagi saja kalau kita berdua sudah menikah, okay?"


"Hmm."


Karena sudah larut malam mereka berdua kemudian memutuskan untuk mengkhiri pertemuan tersebut, dan Liam langsung memeluk Jane dengan sangat erat sebelum dia pulang ke hotelnya. Setelah pertemuan pada malam itu keesokan harinya Liam terbang pulang ke Indonesia bersama dengan Mrs Robinson dan mengakhiri masa cuti bekerjanya. Beberapa bulan kemudian Liam menjadi sangat sibuk bekerja menangani proyek - proyek besar sehingga membuat Liam jarang berkomunikasi dengan Jane. Hal tersebut membuat Jane selalu khawatir dengan kesehatan Liam jika dia terus menerus memforsir pekerjaannya, oleh karena itu Jane selalu bertanya kepada Liam apakah dia sudah makan atau belum melalui pesan. Malam itu pada pukul 12 malam Liam telah menyelesaikan pekerjaannya dan saat berada di perjalanan pulang matanya terasa berat sekali. Liam berusaha tetap fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi agar dia segera sampai di rumah namun tiba - tiba saja mobilnya oleng dan langsung menabrak pembatas jalan. Liam masih setengah sadar saat cairan bewarna merah tersebut keluar dari kepalanya.

__ADS_1


"Kemana anak itu, kenapa belum pulang?" gumam Mr Robinson saat tengah mencari Liam bersama supir pribadinya.


"Apakah mungkin tuan muda masih berada di kantor?"


"Mungkin saja, cepat ke kantor!"


"Baik tuan."


Tiba - tiba saja handphone milik Mr Robinson berdering dan dia langsung mengangkatnya "apa? baik - baik aku sudah dekat ke lokasinya dan segera sampai."


"Ada apa tuan?"


"Liam kecelakaan di tol sebelum menuju kantor, cepat susul Liam!"


"Baik tuan."


Begitu sampai di TKP, Mr Robinson langsung menghampiri Dio "mana Liam?"


"Itu Liam, om dan dia sedang dibawa masuk ke ambulance."


"Terima kasih," ucap Mr Robinson yang langsung lari ke dalam ambulance.


"Sama - sama om."


"Liam, kamu harus bisa bertahan okay?"


Dengan tangannya yang sedikit berlumuran darah Liam kemudian melepas gelang yang dia pakai dan memberikannya kepada Mr Robinson "tolong berikan kepada Jane karena sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku kepadanya dad."


Mr Robinson menerima gelang tersebut "pokoknya kamu harus bisa bertahan karena jika tidak, bagaimana daddy akan mengatakan kepada mommy jika dia akan kehilangan salah satu putranya lagi sehingga dia akan kedua putranya?"


Liam tersenyum "maaf dad, Liam belum bisa membuat daddy bangga."


"Hei lebih cepat lagi karena putraku sudah merasa kesakitan!" ucap Mr Robinson sembari menggenggam erat tangan Liam.

__ADS_1


__ADS_2