Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #66


__ADS_3


Mereka kembali terdiam satu sama lain sembari menghabiskan burger dan cola miliknya masing - masing. Setelah itu pak Kang meminta izin kepada Jane untuk pergi ke kamar mandi, sedangkan Jane memutuskan untuk pergi ke kamarnya menonton acara televisi kesukaannya. Di sisi lain, Liam yang ingin bertemu Jane lalu pergi ke rumahnya dengan mengendarai motornya. Saat sampai di depan pintu gerbang kediaman keluarga Kim, Liam tidak di perbolehkan masuk oleh security rumah. Liam juga sudah mengatakan jika dia teman Jane tetapi tetap saja security tersebut tidak mengizinkannya masuk karena dia adalah security baru jadi tidak ingin menanggung risiko.


Akhirnya Liam memarkirkan motornya di depan gerbang dan berjalan melihat kamar Jane. Saat melihat ada satu kamar yang jendelanya masih terbuka dan lampunya masih hidup, Liam lalu melepar kerikil ke jendala itu sembari berteriak. Liam berusaha menganggil tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Liam kemudian memutuskan untuk memanjat ke jendela itu, maklum Liam anaknya sangat nakal jadi begitulah. Di mohon untuk tidak meniru adegan tersebut di rumah ataupun rumah orang lain. Saat Liam memanjat ke jendela, tiba - tiba security tadi memergoki Liam, dan security itu langsung memarahi Liam dan memaksa agar Liam turun.


Security itu langsung memegang tangan Liam "hei mau maling ya?"


Liam berusaha melepaskan tangannya "tidak, memangnya wajah aku terlihat seperti maling apa?"


"Mana ada maling yang mengaku, kemari kamu awas saja aku laporkan ke boss aku."


Liam menyangkalnya "sudah aku bilang, aku bukan maling kok tidak percaya."


"Kalau bukan maling kenapa memanjat jendela?"


"Habisnya bapak tidak memperbolehkan aku masuk ya sudah aku panjat saja jendelanya, lebih baik memanjat jendela pak daripada panjat sosial hayo."


"Sudah diam kamu! sini ikut aku," ucapnya sembari menarik tangan Liam secara paksa.


"Buat apa aku maling pak lagipula itu haram dan tidak berkah."


"Sudah ikut saja."


"Bapak tidak lihat tadi aku bawa martabak manis? masa aku mau maling bawa martabak pak."


"Itu akal - akalan kamu saja kan?"


"Astaga bapak ini masih tidak percaya sama aku, bapak masih muda dan ganteng deh dan gantengnya melebihi aku hehe."


"Ih najis, sudah diam saja kamu."


Security itu langsung menghubungi atasannya jika ada seseorang yang manjat jendela dan di curigai sebagai maling "iya ini pak ada yang mau maling."


"Bapak mau motor aku tidak? kalau mau ambil saja nanti aku bisa membelinya lagi, tapi jangan martabaknya."


"Benarkah? tapi pasti itu motor bagus hasil curian kan?"


"Sembarangan kalau berbicara, itu hasil kerja keras aku pak dan bapak boleh mengambilnya asalkan saya di perbolehkan masuk ke rumah ini."


"Tidak, saya tidak mau."


Setelah mereka berdua sampai di depan gerbang, Sudah ada pak Kang yang menunggu mereka berdua karena mendapat laporan dari security itu. Security itu lalu menyerahkan Liam kepada pak Kang "ini pak, malingnya."

__ADS_1


"Pak aku bukan maling, sumpah."


Setelah pak Kang melihat wajah Liam lalu merasa terkejut "lho tuan muda?"


Security itu juga terkejut "tuan muda?"


Jane yang mendapat laporan dari pak Kang, langsung berlari ke depan gerbang "mana pak malingnya?" tanya Jane.


"Bukan maling nona, tetapi tuan muda." Jelas Pak Kang.


Jane lalu menghampiri Liam "kamu kenapa sih sampai dituduh maling oleh security aku?"


"Baiklah aku mengakui jika aku maling, tetapi maling hati kamu maksudnya hehe," ucap Liam bercanda.


Jane langsung memukul bahu Liam "bisa saja si Chicken."


Security itu lalu bergumam "dasar pria buaya, sukanya merayu."


"Aku masih bisa mendengarnya pak," ucapnya merasa kesal.


"Kamu kenapa datang ke sini?" tanya Jane.


"Mau mengajak kamu untuk menemaniku memakan martabak manis dong, biar pipi kamu tambah chubby."


Liam lalu mengambil martabaknya lalu dia melemparkan kunci motornya ke security tadi, dan security itu langsung menangkapnya "motornya jadi buat saya tuan muda?"


"Tidak jadi, masukkan motor saya awas aja kalau sampai lecet!"


"Baik tuan muda," ucap security itu sembari berjalan menghampiri motor Liam.


Liam lalu berlari sembari membawa martabak manis yanh tadi dia beli dan menyusul Jane yang masuk ke dalam rumahnya. Saat Jane ingin mengajak Liam untuk pergi ke dalam kamarnya, Liam langsung menolak dan memilih untuk di ruang tamu saja tetapi Jane memaksa Liam untuk ikut dengannya. Akhirnya Liam menurut saja kepada Jane. Sesampainya di kamar Jane, Liam langsung duduk di sofa kamar lalu meletakkan martabak manis itu. Liam lalu membuka kardus martabak tersebut dan mulai memakannya. Martabaknya manis itu sangat lezat dan bahkan cokelatnya sangat banyak dan lumer di mulut. Kulit martabaknya itu sangat lembut sekali dan tentunya masih hangat.


"Duduklah di sini!" pinta Jane.


"Tidak aku di sofa saja, nanti ranjangmu kotor jika aku memakannya di sana."


Jane lalu menghampiri Liam yang sedang asik makan martabaknya dan duduk di pangkuan Liam "sepertinya lezat."


"Makanlah! aku ke sini kan ingin mengajakmu makan martabak."


"Tidak, lebih baik aku memakannya siang saja atau pagi hari."


Liam tertawa "mana ada abang jualan martabak di pagi dan siang hari, rata - rata mereka menjualnya mulai sore hari. Aku tau pasti kamu takut berat badanmu naik kan?" ucapnya menggoda Jane.

__ADS_1


"Iya, lagipula aku tadi sudah memakan burger bisa - bisa pipi ku bertambah chubby."


Liam lalu mengambil sepotong martabak itu dan menyuapkannya kepada Jane "tidak apa - apa, walaupun nanti pipi kamu bertambah chubby aku masih menyukaimu karena kamu sangat menggemaskan."


Jane lalu memakan martabak tersebut "baiklah, satu saja tidak apa - apa."


Liam menyuapi Jane "bagaimana, lezat bukan?"


Jane mengangguk "iya benar, sepotong lagi mungkin tidak apa - apa."


Liam tertawa "mungkin setelah memakan sepotong lagi kamu akan berkata jika sepotong lagi tidak apa - apa sampai martabak itu kamu habiskan dengan kardusnya juga sekalian."


Jane memanyunkan bibirnya "kamu itu selalu menggodaku dan mengejekku."


"Habisnya kamu sangat menggemaskan sekali."


"Oh ya mau minum apa?"


"Air putih saja."


Liam lalu melihat - lihat seisi kamar Jane yang terususn rapi dengan nuansa pink putih. Beberapa menit kemudian Jane kembali ke kamarnya "ini, air putihnya."


Liam menoleh ke arah Jane "terima kasih. Ini bola apa?" tanyanya sembari menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Oh itu gym ball, kenapa?"


"Bisa untuk sepak bola di dalam kolam renang?"


"Ya tidak bisa bodoh," ucap Jane mengejek Liam.


"Terus cara pakainya bagaimana?"


Jane lalu menghampiri gym ball tersebut untuk mempraktikkannya di depan Liam, sedangkan Liam kembali duduk di sofa untuk meminum air putih tadi. Liam merasa terkejut saat melihat Jane mempraktikkannya "hei sudah cukup aku melihatnya saja ngeri, apa badanmu tidak patah saat seperti itu?"


Jane menghampiri Liam dan kembali duduk di pangkuannya "tidak, aku sudah biasa melakukannya."


"Oh begitu. Ya sudah, aku mau pulang."


Jane lalu memeluk Liam "jangan pulang sekarang nanti saja pulangnya," ucapnya dengan manja.


Liam menghela nafasnya "baiklah."


Notes: jangan lupa like di setiap episodenya ya, terima kasih

__ADS_1


__ADS_2