
Mr Robinson lalu mengajak para pria untuk bermain golf bersama di halaman belakang rumah, sekalian berbincang bersama. Mr Kim dengan semangat lalu mengiyakan ajakan Mr Robinson itu, dan setelah itu mereka semua berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya. Mereka lalu mengambil stick golf masing - masing dan mulai pemanasan, berbeda dengan Liam yang hanya menonton mereka saja karena sedari dulu dia tidak pernah tertarik untuk bermain golf.
Liam bermain golf hanya saat sedang melakukan perjanjian bisnis atau fun match bersama para kliennya saja, karena meskipun dia tidak tertarik namun Liam sangatlah pandai bermain golf. Liam dahulu sering diajari oleh Mr Robinson untuk bermain golf dan Mr Robinson selalu mengatakan bahwa meskipun dia tidak tertarik dengan golf, akan tetapi dia harus dipaksa bisa bermain golf untuk fun match bersama kliennya suatu hari nanti. Mungkin karena itu Liam menjadi ingin belajar bermain golf meskipun dengan keadaan terpaksa.
Dibandingkan bermain golf, Liam lebih tertarik bermain skateboard ataupun bermain bola, akan tetapi sekarang Liam sudah jarang bermain skateboard karena selalu kelelahan setelah pulang kerja. Liam kemudian duduk di kursi dan mengamati mereka semua yang sedang bermain golf. Suasana di sore hari menjelang malam itu semakin ramai, dikala para bodyguard keluarga Robinson mulai menyalakan lampu lapangan atas perintah tuan besar grandpa.
Para wanita beserta para asisten rumah tangga datang ke lapangan tersebut sembari membawa beberapa hidangan makan malam yang telah dimasak oleh chef pribadi untuk di santap bersama. Grandma yang mengetahui bahwa Liam sedang duduk sendirian di tepi lapangan, dia langsung menghampiri Liam karena dikira Liam sedang dicueki oleh mereka semua. Sekarang grandma sudah mulai semakin berhati - hati dengan Liam setelah mendengar semua penjelasan dari menantunya mengenai kondisi cucunya itu.
"Liam kenapa tidak ikut bermain golf bersama mereka?" tanya grandma sembari mengusap rambut Liam.
"Aku malas grandma, dari dulu aku tidak suka bermain golf karena aku hanya menyukai bermain skateboard saja."
"Nanti kakimu patah lagi jika bermain skateboard seperti dulu."
"Iya sih, tapi tetap saja itu tidak membuatku tertarik untuk bermain golf."
"Bukankah kamu sangat pandai bermain golf?"
"Aku ingin belajar serta bermain golf karena tuntutan pekerjaanku saja."
"Ya sudah kalau begitu, ayo makan saja."
"Nanti grandma, nunggu yang lain."
"Oh begitu, ya sudah."
Setelah itu grandma pergi kembali ke meja makan untuk mengamati para asisten rumah tangganya menyiapkan makan malam, sedangkan Liam memilih untuk bermain game.
"Ayo letakkan semua makanan ini dengan benar!" perintah grandma.
"Baik nyonya besar," ucap para asisten itu secara serempak.
Setelah itu mereka semua lalu bergegas menata semua hidangan di atas meja dengan baik sesuai arahan dari grandma.
"Liam kenapa mom?" tanya Mrs Robinson.
"Liam sedang malas bermain golf karena dia tidak tertarik dengan itu, dan dia berkata bahwa dia lebih tertarik bermain skateboard."
"Oh begitu, aku kira Liam kenapa sendirian seperti itu."
"Padahal dari dulu kakinya selalu patah karena permainan itu, dan itu membuatku tidak habis fikir mengapa dia masih sangat menyukai permainan itu."
"Namanya juga Liam, kalau diberi tahu ini itu masih saja akan tetap dilakukannya, dan dia akan berhenti sendiri ketika sudah bosan."
"Benar, hanya rasa bosannyalah yang bisa menghentikannya. Jane, Liam masih sering bermain skateboard?"
"Tidak grandma, dia sekarang sibuk bermain game dan juga bermain bersama baby Ace."
__ADS_1
"Oh begitu baguslah."
"Mom aku ingin roti ini," ucap Rosie yang tiba - tiba datang di samping Mrs Robinson.
"Ambil saja sayang," ucap grandma tersenyum.
Rosie lalu mengambil dua buah roti dan pergi menghampiri Liam.
"Ini roti untukmu, kalau tidak mau sih ya tidak apa - apa nanti aku akan memakan semuanya."
"Tidak usah, makan saja semuanya."
"Eh benarkah?" tanya Rosie ragu.
"Iya, aku sedang tidak berselera untuk makan."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah malas, hiduppun aku juga sudah tidak semangat."
"Haisss jangan begitu, ayolah semangat untuk menjalani hari - harimu yang suram hehehe."
Liam lalu menatap Rosie.
"Kamu ini ingin menyemangatiku atau justru membunuhku?"
Rosie tertawa.
"Ku kira kakak kesayanganmu itu Lian."
"Tidak mungkin, kakak kesayanganku itu adalah Liam Gerard Robinson yang paling tampan."
"Iya deh iya."
"Ayo makanlah aaaaa," ucap Rosie menyuapi Liam.
Liam lalu membuka mulutnya.
"Nom nom nom, sangat lezat."
Grandma dan juga Mrs Robinson sangat senang melihat interaksi antara kakak beradik itu, karena sedari dulu interaksi mereka berdua sama sekali tidak pernah berubah sedikitpun. Setelah itu Grandma memanggil para pria untuk makan malam bersama, dan mereka semua langsung bergegas untuk menuju ke meja makan. Semua hidangan itu sangat lezat dan dalam jumlah yang banyak karena beraneka jenis hidangan yang tersedia disana mulai dari appetizer, soup, main course, dessert, and coffe or tea yang telah dibuat oleh para chef pribadi. Setelah itu mereka semua menikmati hidangan itu sembari berbincang bersama.
"Hmm ini sangat lezat," ucap Rosie.
"Kamu selalu mengatakan bahwa semua makanan itu sangatlah lezat sampai aku tidak pernah mendengarmu mengatakan bahwa makanannya rasanya buruk," ucap Liam mengejek Rosie.
"Hmmm mungkin memang kebetulan semua makanan yang aku makan rasanya sangat lezat, jadi aku mengatakan hal seperti itu."
__ADS_1
"Hmm begitukah?"
"Hehe iya."
"Ckckck dasar si doyan makan."
Rosie lalu memukul lengan Liam.
"Dasar kamu ini."
"Sudah kalian berdua ini selalu saja ribut seperti ini," ucap Mrs Robinson.
"Iya mom," ucap mereka berdua serempak.
Liam kemudian melanjutkan memakan hidangan tersebut, dan begitu juga dengan Rosie yang ikut memakan hidangannya sendiri.
"Apa kamu sudah mempunyai kekasih, Rosie?" tanya Josh.
"Hei Rosie belum boleh pacaran dan aku tidak akan menyetujuinya," ucap Liam menyela pembicaraan mereka.
"Kenapa sih kamu sangat poesesif sekali?" tanya Rosie heran.
"Lebih baik kamu kuliah yang benar dulu, baru kamu boleh pacaran."
"Iya," ucap Rosie malas.
"Hubby tidak memakan sup?" tanya Jane.
"Tidak, aku sedang tidak ingin memakannya Jane."
"Dari dulu sampai sekarang masih saja memanggil dengan nama, sekali - sekali memanggil dengan panggilan kesayangan gitu."
"Panggilan kesayangan apa? aku tidak mempunyai panggilan kesayangan Josh."
"Liam itu orangnya pemalu jadi dia jarang mengumbar kemesraan di depan publik," jawab Rosie.
"Lagipula untuk apa mengumbar kemesraan di depan publik segala?"
Rosie lalu menatap sesuatu.
"Liam sukanya bermain secara diam - diam, siapa tahu dia lebih lihai jika sedang berduaan saja hahaha."
"Iya sih benar, buktinya saja sekarang sudah mempunyai anak satu."
"Tutorial dong Liam," ucap Josh.
"Tutorial apa? kamu saja belum menikah malah minta tutorial."
__ADS_1
"Aku saja sampai kalah," ucap Lian menambahkan.
"Dasar kalian semua," ucap Liam.