
Setelah Liam menyelesaikan pembicaraan kepada Jane, Liam langsung pergi ke kantor untuk kembali bekerja karena jam makan siangnya sudah hampir selesai. Selama di perjalanan Liam terus menerus memperlihatkan senyumannya dengan lebar karena sudah merasa lega jika kesalahpahaman diantara mereka berdua sudah berakhir, dan begitu juga dengan Jane yang terus tersenyum sembari memandangi pemandangan diluar kaca jendela. Sesampainya di kantor Liam langsung berjalan memasuki ruangan kerjanya dengan hati yang berbunga - bunga hingga menimbulkan keheranan di antara semua karyawan yang bertemu dengan Liam di dalam kantor. Mungkin mereka semua berfikir jika atasannya itu telah mendapatkan sebuah tender yang besar hingga membuatnya tersenyum lebar seperti itu.
Namun kenyataannya Liam tidak pernah tersenyum lebar seperti itu walaupun berhasil memenangkan sebuah tender yang besar. Satu - satunya yang membuat Liam bisa tersenyum lebar seperti itu adalah karena ulah istri tercintanya. Hati Liam itu ibaratnya seperti sebuah padang yang tandus, dan tiba - tiba saja padang tandus itu disirami oleh hujan hingga mengakibatkan banyaknya bunga - bunga yang mulai tumbuh disana. Bunga - bunga itu sekarang sudah bermekaran hingga membuat padang yang awalnya tandus menjadi padang bunga yang cantik. Saat Yunna melihat Liam dari ruangannya, Yunna berfikir bahwa Liam telah berhasil meminta maaf serta kembali meluluhkan hati Jane karena Liam wajah Liam yang menampilkan aura kebahagiaan.
"Ada hatinya yang sedang berbunga - bunga nih," ucap Yunna menghampiri meja Liam.
"Tidak juga."
"Kalau tidak lalu mengapa kamu sedari tadi terus tersenyum seperti itu?"
"Itu mmm....."
"Hahaha sudahlah jangan disembunyikan seperti itu, semua orang juga sudah tau kalau kamu sedang merasa bahagia."
"Darimana kamu mengetahuinya?"
"Dari aura wajahmu."
"Oh begitu. Eh besok bulan depan aku akan pulang ke Australia."
"Kenapa begitu?"
"Daddy yang memintaku membawa Jane ke Australia, jadi aku minta tolong kepadamu untuk menangani pekerjaanku selama aku pergi pulang kampung hehe."
"Eh tapi Li, ak-aku masih takut jika tidak bisa memenuhi ekspetasimu."
"Ekspetasi apa?"
"Well, semua orang tahu bahwa kamu seorang presdir yang sangat perfectionist dalam hal pekerjaan maupun hal - hal lainnya, jadi aku takut jika aku tidak bisa memenuhi ekspetasimu dan justru malah melakukan kesalahan."
Liam tertawa mendengar pernyataan Yunna.
"Hahaha kamu ini ternyata juga seseorang yang takut akan hal - hal seperti itu, aku fikir kamu adalah seorang wanita yang selalu optimis serta berusaha melakukan semua hal dengan baik namun kenyataannya kamu juga seseorang yang seperti itu."
"Karena aku takut kamu akan memecatku jika aku tidak sesuai dengan keinginanmu."
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal seperti itu kepadamu."
"Kenapa begitu?" tanya Yunna penasaran.
"Karena aku sudah menyayangimu sebagai sekretarisku hahaha."
"Hmmm dasar."
"Kamu ini sebenarnya sudah naik jabatan sejak lama, tetapi karena aku berkata jika aku tidak ingin melepasmu jadi sekarang kamu masih menjadi sekretaris pribadiku."
__ADS_1
"Hei bagaimana bisa? aku sangat ingin naik jabatan!!"
"Kenapa kamu sangat ingin naik jabatan?"
"Ya sudah pasti karena aku ingin mendapatkan gaji yang lebih banyak dari sebelumnya, aku sih realistis saja.
Liam lalu berdiri.
"Ya sudah kalau begitu aku akan berkata kepada daddy jika kamu ingin naik jabatan serta pindah ke bagian lain."
"Nah begitu dong, terima kasih."
"Iya terserah kamu saja. Padahal aku ingin kamu tetap menjadi sekretaris pribadiku namun dengan gaji yang setara dengan jabatan impianmu itu, mmm direktur atau apalah itu."
Yunna yang sedang berjalan menuju ke arah pintu seketika berbalik arah dan menghampiri Liam.
"Eh tunggu, apa?"
"Iya kamu tetap akan menjadi sekretarisku dengan gaji yang sesuai dengan jabatan impianmu sebagai permohonan maafku karena telah menahanmu untuk tetap berada disini, tetapi jika kamu masih menginginkan jabatan tersebut ya sudah sih tidak apa - apa."
"Baiklah aku akan tetap menjadi sekretarismu, asalkan gajiku sesuai dengan yang baru saja kamu janjikan itu."
"Okay setuju, awas saja jika tiba - tiba kamu merengek minta naik jabatan."
"Baiklah, kamu ingin aku bagaimana?"
"Antarkan aku ke sebuah boutique ternama."
"Dengan senang hati, mari kita berangkat sekarang!"
"Eh sekarang? lalu meetingnya bagaimana?"
"Tenang saja, masih ada waktu 2,5 jam."
"Baiklah."
Yunna kemudian bersiap - siap serta mengambil tas miliknya yang tergeletak di atas meja kerjanya, sedangkan Liam mengabari Jane untuk meminta izin kepada terlebih dahulu sembari menunggu Yunna selesai bersiap - siap. Untung saja Jane langsung mengizinkannya namun dengan syarat bahwa Liam tidak boleh nakal, apalagi sampai terlalu dekat dengan Yunna. Setelah itu Liam lalu mengambil kunci mobil pribadinya dan pergi menuju ke sebuah boutique milik kenalannya bersama dengan Yunna. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor, mungkin jarak tempuhnya hanya sekitar 30 menit an saja. Sesampainya di sana, Yunna tidak langsung masuk melainkan menunggu Liam untuk masuk terlebih dahulu.
Tring!!
"Selamat datang," ucap karyawan boutique itu.
"Nah cepat pilihlah semua yang kamu inginkan, dan aku akan duduk disana sembari menunggumu."
"Ih temani aku," ucap Yunna berbisik.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Aku malu karena belum pernah berbelanja di boutique."
"Tidak apa - apa, nanti ada karyawan yang menemanimu."
"Ihh Liam."
"Ck iya deh iya."
Liam menemani Yunna memilih - milih pakaian yang terpajang di boutique tersebut, dan tiba - tiba saja ada seseorang yang menghampiri Liam serta menyapanya.
"Mr Liam," ucap seseorang tersebut.
"Eh kamu."
"Apa kabar? lama kita berjumpa."
"Baik."
"Sedang menemani istrinya berbelanja ya?"
"Eh tidak, dia hanya temanku hehe."
"Oh begitu, baik silahkan memilih - milih terlebih dahulu."
"Okay."
Yunna lalu memilih - milih pakaian yang menurutnya cocok dipakai untuk dirinya dengan ditemani oleh Liam dan juga kenalan Liam yang merupakan pemilik boutique tersebut. Terkadang Yunna juga meminta saran kepada Liam apakah dia sangat cocok memakai pakaian yang dipilihnya atau tidak. Setelah selesai memilih pakaian, Liam lalu menyarankan Yunna membeli beberapa tas untuk menggantikan tas lama miliknya yang sudah kusam dan jelek. Selain itu Yunna juga memilih - milih sepatu yang akan digunakan untuk bekerja atau acara lainnya. 1,5 jam kemudian Yunna selesai membeli semua barang tersebut, dan mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Beberapa jam kemudian sekitar jam setengah 6 sore, Liam lalu menawari Yunna untuk mengantarkannya pulang karena takut jika Yunna akan kerepotan membawa semua paper bag barang belanjaannya. Yah mau bagaimana lagi, akhirnya Yunna menyetujuinya dan Liam langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah Yunna. Sesampainya di rumah Yunna, Liam kemudian membawakan semua barang belanjaan Yunna ke dalam rumahnya.
"Mau minum apa?" tanya Yunna.
"Teh saja."
"Okay, sebentar."
Tiba - tiba seorang wanita paruh baya menghampiri Liam.
"Anda siapa?" tanya wanita tersebut.
Liam langsung berdiri.
"Saya Liam, temannya Yunna."
"Oh begitu."
__ADS_1