
Selama diperjalanan Jane terus menerus memikirkan Liam yang sedang sakit. Kenapa jadwalnya dimajukan disaat yang tidak tepat? dirinya merasa sangat tidak enak dengan Liam karena harus meningglkannya untuk pergi syuting sehingga dirinya tidak bisa mengurus suaminya yang sedang sakit itu. Selama diperjalanan Jane hanya duduk termenung di kursi penumpang sembari melihat ke luar kaca. Pak Kang lalu menawarkan kepada Jane untuk putar balik saja setelah melihat Jane sedang merasa gelisah, akan tetapi Jane langsung berkata tidak karena dia sudah berjanji bahwa dia akan datang ke studio. Sesampainya di sana Jane lalu di dandani oleh penata riasnya, dan setelah itu dia mulai syuting. Selama di lokasi alias studio shuting, Jane hanya diam saja dan selalu memeriksa handphone miliknya setiap saat jika misalnya ada panggilan telepon dari Liam,
"Kenapa dari tadi hanya diam saja, apa kamu sedang sakit?" tanya salah satu staff.
"Tidak," ucap Jane saat menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa diam saja? biasanya kamu yang paling banyak bicara di antara kita semua."
"Aku hanya merasa sedikit khawatir saja dengan suamiku."
"Memangnya ada apa dengan suamimu?"
"Dia sedang sakit demam, tetapi tidak terlalu parah sih dan mungkin sekarang dia sedang beristirahat di rumah."
"Oh karena itu tadi kamu berdebat di telepon bersama manager-nim?"
"Ya begitulah, jika bukan karena itu pasti aku akan langsung berangkat ke studio dan tidak perlu berdebat dengan manager-nim terlebih dahulu."
"Benar sih, kamu itu kan yang selalu datang on time dari kami semua saat ada jadwal kegiatan."
"Jika bukan karena Liam yang menyakinkanku untuk pergi ke studio, pasti aku akan lebih memilih untuk di rumah saja merawat suamiku."
"Aku juga akan seperti itu jika aku mempunyai suami hahaha."
"Makanya cepatlah menikah eonni."
"Ya besok."
"Kamu ini selalu berkata besok, besok, dan besok setiap ditanya seperti itu."
"Hahaha, eh kapan kamu akan mengenalkan suamimu kepada kami semua?"
"Bukankah aku sudah memgenalkannya kepada kalian semua?"
"Kamu belum mengenalkannya secara resmi, dan kamu hanya menceritakan tentangnya saja kepada kami semua."
"Lain kali aku akan mengenalkannya kepada kalian semua secara resmi."
"Kalau begitu bagaiamana jika kita BBQ an saja dirumahmu?"
Jane lalu menggaruk rambutnya.
"Mmm aku akan menanyakannya kepada Liam terlebih dahulu."
__ADS_1
"Baiklah, dan jangan lupa untuk memberitahu kami dua hari sebelumnya."
"Okay eonni."
Disiai lain Liam yang sedang dirumah justru malah asyik bermain game hingga dia ketiduran di atas sofa ruang tengah. Saat jam makan siang bibi kemudian membangunkan Liam karena masakannya sudah tersaji di atas meja. Setelah itu dia pergi berkumpul bersama dengan teman - temannya di cafe dengan menaiki motor sport miliknya yang sudah berdebu. Namun sebelum pergi ke cafe Liam memutuskan untuk pergi ke tempat cuci motor serta pergi mengganti oli. Sekitar 50 menit kemudian Liam telah sampai di cafe langganannya. Disana sudah ada Dio dan Chicko yang sedari tadi menunggu kedatangan Liam. Mereka bertiga lalu berbincang - bincang sembari menunggu kedatangan Ricko dan Josh, eh tetapi tiba - tiba saja ada Mr Robinson yang mengunjungi cafe tersebut untuk membeli ice coffe kesukaannya. Liam langsung menunduk di bawah meja agar tidak ketahuan.
"Eh ada daddy kamu tuh," ucap Chicko.
"Iya aku tahu, makanya diam saja."
"Hahaha kamu pasti sangat takut jika nanti ketahuan bolos kerja oleh daddymu."
"Aku bukan bolos kerja namun aku izin karena sakit," jawab Liam berbisik.
"Lho, kalau kamu sakit kenapa mengiyakan untuk datang kemari?" tanya Dio heran.
"Aku bosan jika hanya berbaring di rumah, seperti sedang sekarat saja."
Dio tertawa.
"Lah apa kamu tidak ingat bahwa sudah dua kali kamu berbaring lemah dirumah sakit saat koma?"
"Sudah gitu kamu kesini naik motor dasar, kalau sampai pingsan di jalan bagaimana?" tanya Chicko menambahkan.
"Itu beda bodoh, saat itu aku memang sedang koma tetapi sekarang kan aku hanya sakit demam saja dan kalaupun tiba - tiba pingsan ya sudah tidak apa - apa."
"Dia ada jadwal pemotretan dadakan, padahal dia yang memaksaku untuk tidak pergi bekerja eh dia malah pergi sialan."
"Kamu tidak menahannya untuk pergi?"
"Tidak Dio, biarkan saja dia pergi lagipula aku jadi bebas pergi kemanapun."
"Oh begitu."
Tiba - tiba saja ada yang menepuk bahu Liam dengan diiringi suara gelak tawa dari kedua teman - temannya. Sontak Liam langsung merasa terkejut hingga membuat kepalanya terbentur meja dengan sangat keras. Setelah itu Liam kembali duduk dengan posisi awal sembari tersenyum meringis.
"Eh daddy tumben kesini, ada apa?" tanya Liam basa basi.
"Justru daddy yang harusnya bertanya kepadamu, kenapa kamu kesini?"
"A-aku sedang bermain bersama teman - teman dad."
"Tadi Jane menelepon daddy dan mengatakan jika kamu sedang demam, lalu kenapa malah pergi ke cafe?"
__ADS_1
"Bosan dirumah terus, apalagi Jane sedang pergi."
"Memangnya Jane pergi kemana?"
"Ada jadwal dadakan."
"Oh begitu."
"Jadi aku boleh main kan dad?" tanya Liam dengan mata berbinar - binar.
Mr Robinson yang awalnya ingin marah namun seketika dia mengurungkan niatnya dan menghela nafasnya saat melihat tingkah putranya tersebut.
"Iya boleh, bawa uang jajan tidak?"
"Bawa sih bawa, tetapi jika daddy memberinya lagi juga tidak masalah hehe."
Mr Robinson mengambil dompet di saku belakang celananya dan langsung membuka dompetnya yang terlihat sangat tebal itu. Dio dan Chicko langsung melongo ketika melihat isi dari dompet Mr Robinson yang di dalamnya terdapat banyak kartu kredit premium hingga black card, serta beberapa gepok uang ratusan ribu. Mr Robinson lalu mengitung uang miliknya dan memberikannya kepada Liam.
"3 juta cukup?" tanya Mr Robinson saat memberikan uang tersebut kepada Liam.
"Cukup dad, thank you."
"Your welcome," jawab Mr Robinson sembari mengusap rambut Liam.
"Kalau kita dapat uang jajan tidak om?" tanya Dio sembari cengengesan.
Mr Robinson kembali menghitung uangnya yang berada di dalam dompet dan memberikannya kepada mereka berdua.
"Ini untuk kalian, masing - masing 500 ribu."
"Makasih om," ucap mereka berdua serentak.
"Iya, kalau begitu daddy akan kembali ke kantor."
"Okay dad."
Liam lalu kembali menghitung uang yang diberikan oleh Mr Robinson, sedangkan Dio dan Chicko memasukkan uang pemberian Mr Robinson ke dalam saku celana mereka masing - masing Setelah menghitung uang itu Liam lalu tersenyum bahagia sembari memasukkannya ke dalam dompet pribadinya. Karena sudah merasa lapar, Liam lalu ke meja kasir dan memesan beberapa makanan untuk dirinya sendiri serta milk tea. Setelah itu dia kembali ke mejanya dan berbincang - bincang kepada teman - temannya.
"Keren sekali daddymu, dompetnya selalu tebal dan tidak pernah kosong."
Liam tertawa.
"Hahaha dia memang selalu begitu."
__ADS_1
"Btw makasih ya."
"Iya santai saja."