Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #156


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Liam langsung dilarikan ke UGD agar segera mendapatkan perawatan karena luka Liam yang sangat parah. Mr Robinson hanya bisa terdiam lemas saat melihat putranya tersebut terbaring lemah tidak sadarkan diri karena kecelakaan yang baru saja dia alami. Mr Robinson terduduk di lantai sembari menggaruk kepalanya karena merasa frustasi, dan dia belum berani menghubungi istrinya karena takut jika itu akan membuatnya merasa sedih. Dio kemudian duduk di samping Mr Robinson begitu dia sampai di rumah sakit, dan kemudian Dio mencoba untuk menguatkan Mr Robinson yang sedang merasa sangat sedih. Melihat Dio duduk di sampingnya, Mr Robinson lalu menyuruh Dio untuk pulang saja karena sudah larut malam namun Dio menolaknya karena hatinya juga merasa tidak tenang jika harus meninggalkan sahabatnya tersebut yang saat ini sedang berada diantara hidup dan mati.


Dio kemudian pergi ke cafetaria untuk membeli dua gelas teh yang akan diberikan kepada Mr Robinson. Dia sangat paham akan perasaan sakit hati yang dialami seorang ayah ketika melihat putranya sedang terbaring sekarat di ranjang rumah sakit, apalagi melihat putranya yang berlumuran darah hampir di sekujur tubuhnya. Walaupun hubungan mereka berdua terbilang tidak begitu baik seperti anak dan ayah pada umumnya namun terlihat dari mata Mr Robinson bahwa dirinya saat ini merasa sangat sedih bahkan hampir ingin menangis saat dirinya terus - menerus menatap pintu ruang UGD. Dia membayangkan bahwa putranya saat ini sedang merintih kesakitan karena rasa sakit itu hampir membunuhnya. Mr Robinson kemudian memberanikan dirinya menghubungi istrinya yang mungkin saja sedang cemas menunggu dirinya serta putranya pulang ke rumah.


Tiba - tiba terdengar sebuah suara teriakan dari orang yang menghampirinya "mana putraku? mana Liamku?"


Sontak Mr Robinson dan Dio berdiri dari tempat duduknya setelah mendengar suara teriakan yang terdengar tidak asing di telinga Mr Robinson. Ya, suara tersebut merupakan suara dari seorang ibu yang merasa frustasi setelah mendengar kabar buruk mengenai anaknya. Mrs Robinson langsung menghampiri pintu UGD dan ingin membukanya namun perbuatannya tersebut langsung dicegah oleh Mr Robinson.


Mr Robinson memeluk istrinya tersebut "hon tenang, Liam pasti akan baik - baik saja di dalam sana karena dokter sudah menanganinya."


"Bagaimana jika Liam tidak baik - baik saja hon?" tanya Mrs Robinson dengan mata yang berkaca - kaca.


"Ssttt Liam pasti akan baik - baik saja," ucap Mr Robinson sembari memeluk dan mengusap punggung istrinya itu.


Mrs Robinson menangis langsung sejadi - jadinya di pelukan suaminya itu "aku tidak ingin kehilangan putraku lagi."


"Iya aku paham akan perasaanmu hon, dokter pasti sudah berusaha dengan maksimal mungkin untuk menyelamatkan putra kita."


"Tuhan, tolong selamatkan putraku," ucap Mrs Robinson sembari menangis tersedu - sedu.


"Dad, Liam tidak akan baik - baik saja kan?" tanya Rosie memeluk Mrs Robinson.


"Iya, kakakmu pasti akan baik - baik saja dan akan bisa kembali berkumpul bersama kita semua."


Setelah hampir 2 jam kemudian dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri Mr Robinson.


"Dengan orang tuanya Liam?"


"Ya saya daddynya, bagaimana kondisi putra saya dok?"

__ADS_1


"Operasinya berjalan dengan lancar dan kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan namun...." Dokter itu sepertinya tidak sanggup melanjutkan kata - katanya.


"Namun apa dok? putra saya kenapa?" teriak Mrs Robinson.


"Hon sssttt," ucap Mr Robinson mencoba menenangkan istrinya kembali.


Pak dokter menghela nafasnya "kemungkinan Liam akan mengalami kelumpuhan karena kakinya terkena benturan keras saat kecelakaan, tetapi sepertinya itu hanya sementara dan jika setelah itu Liam menjalani terapi pasti dia akan sembuh seperti sedia kala."


Mrs Robinson kembali menangis di pelukan suaminya "hon, Liam hon."


"Tenang hon, nanti aku pasti akan mencarikan dokter terapi terbaik untuk membuat Liam kembali bisa berjalan seperti sedia kala."


"Aku tidak bisa membayangkan jika hati putraku itu pasti akan terasa sangat hancur ketika dia mengetahui yang sebenarnya."


"Berapa lama kira - kira Liam bisa kembali berjalan dengan normal?"


"Saya kurang tau mengenai hal tersebut namun jika semakin rutin dia menjalani terapi dan semakin menunjukkan perubahan yang baik maka bisa dipastikan dia akan semakin cepat untuk pulih."


"Tetapi saya menyarankan agar anda bisa fokus untuk kesehatan mental putra anda terlebih dahulu karena biasanya seperti itu akan mengalami shock pasca kecelakaan."


"Baik dok, terima kasih."


"Sama - sama Mr Robinson, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu."


"Baik dok, tetapi apakah saya bisa melihat putra saya?"


"Silahkan."


Mrs Robinson langsung buru - buru memasuki ruang ICU setelah Liam dipindahkan dari ruang UGD walaupun masih dalam pemantauan secara intensif. Mrs Robinson mengusap lembut rambut Liam sembari menangis karena melihat putra kesayangannya itu saat ini sedang terbaring lemah belum sadarkan diri karena efek obat bius yang diberikan oleh dokter. Merasakan kesedihan yang dirasakan oleh istrinya tersebut Mr Robinson kemudian mengusap - usap punggung istrinya itu secara berulang kali untuk menguatkannya. Dio juga menenangkan Rosie yang terus menangis di depan ruang ICU padahal sebenarnya Dio juga merasa sangat sedih karena Liam adalah sahabatnya dan keluarganya pun juga sudah sangat membantu banyak saat dia sedang kesulitan. Malam semakin larut dan keluarga Liam masih terus terjaga untuk ikut memantau perkembangan Liam selanjutnya, bahkan tidak ada seorang pun anggota keluarganya yang bisa tertidur karena terus memikirkan Liam.

__ADS_1


Mr Robinson menghampiri istrinya yang sedang duduk termenung di ruang ICU "hon, makan siang dulu yuk karena daritadi kamu belum makan apa - apa lho."


"Kamu makan saja dahulu, aku akan menjaga Liam disini."


"Ayo hon makan dulu, nanti kalau kamu ikut sakit siapa yang akan menjaga Liam heum?"


"Aku akan baik - baik saja."


"Hon.."


"Jonathan! kamu bisa diam tidak?" bentak Mrs Robinson sembari menatap suaminya tersebut dengan matanya yang masih sembab.


Mr Robinson menghela nafasnya "hah, baiklah hon jika itu keinginanmu."


"Dari awal memang ini semua kesalahanmu Jo, kalau saja kamu tidak memaksa Liam untuk bekerja terlalu keras mungkin ini semua tidak akan terjadi."


"Kok aku sih hon?"


"Iya, semua gara - gara kamu! dahulu kakaknya Liam juga pergi dari rumah itukan gara - gara kamu, dan sekarang Liam menjadi seperti ini juga gara - gara kamu yang terlalu keras kepada anak - anakmu."


Rosie kemudian datang melerai kedua orang tuanya tersebut yang sedang bertengkar "mom sudah jangan bertengkar terus dengan daddy, kasihan daddy jika terus disalahkan oleh mommy."


"Sampai kapan kamu akan memisahkan aku dengan anak - anakku seperti ini," ucap Mrs Robinson yang kembali menangis.


Mr Robinson kemudian memeluk Mrs Robinson "maaf hon, aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini."


"Kamu tau tidak jika aku sangat menderita ketika aku terpisah dari anak - anakku? kamu tau tidak!"


"Hon sssttt, iya aku paham perasaanmu."

__ADS_1


"Kalau paham kenapa kamu masih bersikap seperti itu saat aku berusaha untuk mengingatkanmu?"


"Maaf karena aku tidak mendengarkanmu, hon."


__ADS_2