Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #276


__ADS_3

Liam lalu pergi ke dapur untuk mencari cookies buatan Mrs Robinson. Tangannya lalu meraih sebuah toples kaca yang berada di atas meja mini bar, begitu sesampainya di dapur. Dia lalu memakannya satu persatu sembari menonton bola di televisi yang berada di mini bar hingga cookies itu tersisa seperempat toples saja, padahal sebelumnya cookiesnya terisi penuh di dalam toples tersebut. Mata Liam sangat fokus memperhatikan permainan dari tim jagoannya, dan sesekali dia juga berteriak - teriak saat salah satu pemainnya itu menggiring bola hampir di kotak pinatly karena merasa gemas. Namum sayang ternyata dia tidak bisa memasukkan bola ke dalam gawang lawan karena terjatuh, dan Liam langsung berteriak semakin kencang sembari memegang kepalanya. Bi Ijah hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Liam yang seperti itu karena Bi Ijah sudah hafal dengan sikap Liam saat sedang menonton bola.


Jika tadi Liam sedang menonton bola sembari menghabiskan hampir setoples cookies, berbeda dengan Jane yang lebih memilih untuk berendam di bathub kamar mandi. Jane berendam di dalam bathtub untuk bersantai sembari melepaskan rasa lelahnya setelah seharian bekerja di studio. Sekitar 30 menit kemudian Jane telah selesai mandi dan dengan masih memakai bathrobe, sekarang dia sedang memilih pakaian yang akan dipakainya. Setelah memakainya Jane lalu berdandan dengan riasan yang tidak terlalu mencolok agar Liam tidak mengejeknya seperti tante - tante G. Pandangan Liam menjadi teralihkan karena melihat Jane sedang berjalan menghampirinya dengan tampilan yang lumayan sexy. Walaupun berulang kali Liam mengatakan bahwa di tidak terlalu suka jika Jane mengenakan pakaian sexy namun kali ini Liam tidak bisa membohongi tentang perasaannya yang sebenarnya. Liam hanyalah pria biasa yang terkadang matanya bisa melotot saat melihat seorang wanita cantik nan sexy.


"Oh ternyata hubby sedang menonton bola rupanya," ucap Jane sembari memeluk Liam dari belakang serta merangkulkan kedua tangannya ke leher Liam.


"Yupss, kenapa memangnya?" tanya Liam yang mulai panas dingin.


"Eh ternyata badanmu masih panas? kalau begitu ayo makan dulu lalu minum obat."


"Aku sudah sembuh Jane, hanya saja....."


"Hanya saja apa hubby?"


"Anu itu mmm...."


Di dalam hatinya, Jane menyeringai karena dia berhasil menggoda Liam hingga panas dingin. Agar Liam semakin tergoda, Jane kemudian mencium pipi Liam secara perlahan dan mengusap pipinya.


"Itu apa heum?" tanya Jane menggoda Liam.


Bibi kemudian pergi meninggalkan mereka berdua karena rasanya tidak nyaman saja jika dirinya masih di dapur. Bibi lalu pergi ke halaman belakang untuk menyapu daun - daun kering yang berjatuhan di halaman rumah serta menjaring daun - daun di kolam renang.


"Ayo mandi dulu, sudah sore nanti keburu dingin."


"I-iya."


"Kamu kenapa gugup sekali?"


"Ti-tidak ada."


"Eh pipimu juga memerah ternyata, ada apa sih ini sebenarnya? apa karena kamu sedang sakit jadi seperti ini?"


"Sebenarnya aku...."


"Iya, kenapa?"


"A-aku hanya ingin bilang jika kamu terlihat sangat sexy dan cantik sekali!!! teriak Liam.


"Eh," ucap Jane merasa terkejut.


Liam lalu menggaruk rambutnya.


"Mmm maksud aku, hari ini riasanmu sangat berbeda dan itu membuatmu lebih cantik."


"Oh begitu hahaha."

__ADS_1


"Kenapa tertawa, apa aku terlihat aneh sangat mengatakan hal itu kepadamu?"


"Tidak hubby, hanya saja kamu terlihat sangat menggemaskan saat sedang gugup hingga pipimu memerah. Aku fikir kamu akan memarahiku lagi seperti kemarin."


"Kali ini aku tidak akan memarahimu."


"Kenapa?"


Liam mengehela nafasnya.


"Jujur aku sudah tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, dan aku ingin mengatakan bahwa sebenarnya aku sangat suka saat kamu mengenakan pakaian yang seperti ini."


"Benarkah?"


"Iya, tapi hanya di depanku saja dan bukan di depan orang lain."


"Nyee, iya."


"Mandi dulu sana!!"


"Iya."


"Ingin dimasakkan apa?"


"Terserah kamu saja."


"Okay. Ya sudah aku pergi mandi dulu," ucap Liam mencubit pantat Jane pelan lalu pergi meninggalkan Jane.


"Tumben sekali tidak mencium leherku."


Liam lalu berbalik dan menghampiri Jane.


"Oh iya aku melupakan sesuatu."


"Apa?"


Liam langsung mencium leher Jane.


"Ini, mmm wangi sekali."


"Hahaha, sudah sana keburu malam."


"Iya sayang."


Liam kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk mandi, dan beberapa menit kemudian saat selesai mandi dia mampir ke balcony kamarnya sebentar untuk melihat - lihat lingkungan sekitarnya. Terlihat ada anak - anak yang sedang berlarian di sekitaran jalan, dan ada juga yang bersepeda. Liam juga mendengar suara anak - anak tersebut yang sedang bercanda ria bersama teman - temannya hingga membuat suasana di desa itu menjadi ramai. Melihat anak - anak tersebut dari kejauhan membuat Liam merindukan masa - masa dirinya saat masih anak - anak sampai remaja, masa dimana Liam selalu bebas untuk main kapan saja dan dimana saja walaupun akhirnya nanti bakal dimarahi oleh Mrs Robinson.

__ADS_1


Dahulu hal tersebut sangat dibenci olehnya namun sekarang justru menjadi hal yang sangat dirindukan olehnya, walaupun sekarang dia masih selalu saja dimarahi oleh Jane yang menjadi pengganti mommy nya. Liam heran mengapa Jane sekarang menjadi cerewet seperti mommy nya, padahal dahulu Jane hanya galak saja eh setelah menikah dengannya malah menjadi cerewet juga. Tiba - tiba saja Liam menjadi membayangkan saat dia sudah memiliki seorang anak, pasti sangat mengasyikkan serta anaknya juga bisa dia jadikan sebagai objek uji coba hehe. Jane lalu menghampiri Liam yang sedang termenung di balcony kamarnya.


"Hubby kenapa termenung?" tanya Jane.


"Tidak, aku hanya sedang melihat anak - anak itu bermain di sekitaran jalan."


"Oh begitu."


"Lihatlah mereka sedang bermain petak umpet," ucap Liam sembari menunjuk ke seorang anak yang sedang berjaga di pohon.


Jane langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Liam.


"Iya, sepertinya menyenangkan dan anak - anak itu sangat menikmati permainannya."


"Benar. Aku justru sangat senang melihat anak - anak bermain sepak bola, petak umpet, ataupun kejar - kejar an daripada melihat mereka bermain gadget."


"Aku juga hubby."


Liam bersandar di pagar pembatas.


"Jika aku punya anak nanti, aku tidak akan memberinya gadget saat masih kecil melainkan mengajaknya bermain sesuatu yang menyenangkan seperti main pasir dan mengaduk semen hahaha."


Jane lalu menepuk punggung Liam sembari tertawa.


"Kamu ini ada - ada saja, dia belum kuat mengangkat pacul masa kamu suruh ngaduk semen."


"Nanti pakai cetok dulu, dan jika sudah ahli langsung aku suruh untuk membangun kost - kost an."


Jane semakin tertawa.


"Kenapa harus kost - kost an?"


"Kan lumayan hasilnya jika laku semua kamarnya."


"Oh begitu, sekalian saja ajari dia untuk melukis."


"Pasti dong."


"Eh tapi katanya ingin kamu ajari untuk bermain game agar menjadi pro player?"


"Ya itu sebagai sampingan saja."


"Kalau anak kita perempuan bagaimana?"


"Aku akan mengajaknya untuk main masak - masakan serta menanam tumbuhan."

__ADS_1


"Boleh juga idemu."


"Pasti dong."


__ADS_2