
Setelah menurunkan Jane dari gendongannya, Jane kemudian pergi untuk membuatkan Liam teh hangat di dapur. Jane lalu meletakkan secangkir teh hangat itu di atas meja sembari memberikan senyuman manisnya hingga membuat rasa teh tersebut semakin manis. Saat Liam meminumnya, dia merasa tidak tahan dengan senyum menggemaskan istrinya itu dan dia lalu mengusap pipi chubby istrinya itu. Jane mengambil jas serta tas milik Liam dan membawanya ke kamar sembari menyiapkan pakaian ganti untuk Liam setelah mandi nanti. Setelah menghabiskan teh yang dibuatkan oleh istri tercintanya itu, Liam kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi sore karena dia sudah berjanji akan memasangkan semua dekorasi rumah yang baru saja dibeli oleh istrinya. Liam lalu menanggalkan semua pakaiannya begitu masuk ke dalam kamar mandi dan setelah itu tangannya memutar kran shower hingha air mulai mengalir membasahi seluruh tubuhnya secara perlahan. Sekitar 10 menit kemudian Liam telah selesai mandi dan berpakaian.
Dia lalu menghampiri Jane yang sedang duduk di atas meja rias kamar sembari sibuk mengetik sesuatu di handphone miliknya. Liam memeluk Jane dari belakang dan mencium pipinya. Jane seakan - akan terbius oleh wanginya aroma tubuh Liam setelah mandi dan membuatnya sangat menyukai setiap kali Liam memeluknya setelah dia mandi. Entah bagaimana bisa tubuh Liam sangat wangi padahal dia hanya menggunakan sabun biasa dan tidak memakai tambahan sabun apapun, berbeda dengan dirinya yang harus menggunakan tambahan body lotion serta parfume agar tubuhnya semakin harum. Jane lalu meletakkan handphone di atas meja untuk mendengarkan bisikan - bisikan kata - kata indah yang Liam ucapkan ditelinganya. Liam lalu beralih memegang rambut Jane dan mengikatnya dengan menggunakan pita yang sedikit panjang bertuliskan merk fashion terkenal dari Paris. Liam sebenarnya juga ahli dalam mengikat rambut bahkan menatanya dengan berbagai macam model karena dia sudah terbiasa mengikatkan rambut adiknya sejak dulu. Saat melihat ke cermin Jane merasa terpukau dengan ikatan rambutnya tersebut karena dia menjadi semakin cantik serta feminim.
"Kamu terlihat semakin cantik babe," ucap Liam memegang kedua bahu Jane.
"Terima kasih hubby," ucapnya tersipu malu.
"Apa kamu tidak merasa keberatan jika aku sering menata rambutmu seperti ini agar semakin cantik?" tanya Liam merasa ragu.
Jane tersenyum memperlihatkan gummy smilenya.
"Aku tidak merasa keberatan sekali hubby, bahkan aku sangat menyukainya."
"Terima kasih sudah menyukainya."
"Aku merasa penasaran mengapa kamu justru lebih rapi mengikat rambutku daripada mengikat rambutmu sendiri waktu pertama kali kita bertemu?"
Liam berfikir sejenak.
"Mungkin karena aku lebih terbiasa mengikat rambut Rosie daripada milikku sendiri, dan sepertinya tidak ada batasan untuk mengikat rambut seorang wanita karena mau diikat bagaimanapun akan tetap cantik."
"Oh begitu."
"Aku pasti akan dicap bukan pria tulen jika aku mengikat rambutku dengan menggunakan pita serta menambahkan hiasan jepit rambut di rambutku, apalagi jika mereka melihat postur tubuhku yang kekar ini."
"Mengapa begitu?" tanya Jane penasaran.
"Kamu pasti taukan jika pria yang memiliki tubuh kekar berotot kebanyakan dicap sebagai pria yang ehem, maka dari itu aku tidak bisa menata rambutku yang panjang seperti menata rambutmu."
"Benar juga, tetapi kamu lebih tampan jika rambutmu pendek seperti ini apalagi tidak ada kumis dan jenggot di wajahmu."
"Benarkah?"
"Iya hubby, wajahmu terlihat lebih bersih dan setiap pergi ke kantor jangan lupa memakai sunscreen karena aku sudah membelikannya untukmu."
"Terima kasih sayang," ucap Liam mencium leher Jane.
"Sama - sama hubby."
"Sepertinya kamu ini tipe wanita yang sangat pintar merawat serta memanjakan suami ya hehe."
__ADS_1
"Tergantung ininya sih," ucap Jane sembari menggosokkan jari jempol ke jari telunjuknya.
Liam mencubit hidung Jane.
"Mmmm kamu pintar sekali jika membicarakan tentang uang."
"Semua wanita itu pasti sangat pintar jika membicarakan tentang masalah uang."
"Tetapi mereka cenderung akan menjadi sangat bodoh jika sudah terjatuh ke dalam sebuah lubang yang bernama cinta," ucap Liam menyambar ucapan Jane.
Jane langsung terdiam.
"Ihh sudahlah, katanya kamu ingin memasang dekorasi yang baru saja aku beli bukan?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Ayo cepat pasang semuanya lalu setelah itu kita makan malam."
"Iya sayang, apa sih yang tidak untukmu."
Liam lalu mengikuti langkah Jane ke ruang tengah, dan setelah itu Liam mengambil kotak peralatan tukang jika nanti dibutuhkan. Jane langsung mengarahkan Liam dimana semua dekorasi itu dipasang, sedangkan Nat hanya melihat dua sejoli itu yang sedang memasang dekorasi sembari meminum kopi. Terkadang Nat juga dibuat tertawa saat melihat dua sejoli itu berdebat kecil mengenai letak ditempatkannya dekorasi tersebut dan menjadi hiburan tersendiri untuknya.
"Hubby ini bagaimana sih? masa itu ditempelkan di dinding, padahal itu rak yang diletakkan di lantai."
"Tetapi tidak ditempelkan di dinding juga, jelas - jelas gambarnya seperti ini."
"Nanti kalau diletakkan disini ruangannya jadi terlihat sempit."
"Tidak hubby, coba saja kalau tidak percaya."
Liam lalu meletakkan rak portable itu di dekat pintu masuk.
"Begini?"
"Nah iya, bagus kan? ini bisa sebagai rak sepatu juga."
"Iya."
Liam lalu melihat ke atas meja ruang tengah.
"Itu kenapa vas kosong berada disana?"
__ADS_1
"Untuk hiasan, nanti aku juga akan membeli seikat bunga untuk diletakkan di vas bunga tersebut agar vas itu semakin cantik."
"Oh."
Liam kembali memukul paku di dinding.
"Kenapa letoy sekali memukulnya? kamu sudah mulai lapar?" protes Jane.
"Cium dulu agar aku bertenaga."
Jane tertawa kecil.
"Dih, bisa - bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Hehe, mau tidak?"
"Ya sudah, kemarilah!"
Liam lalu mendekatkan pipinya agar dicium oleh Jane. Tiba - tiba saja Nat ikut protes.
"Dasar hobinya mengumbar kemesraan didepanku, padahal aku tadi sudah senang saat kalian bertengkar karena rak portable itu."
Liam dan Jane tertawa.
"Jangan seperti itu Nat, nanti aku malah akan semakin mengumbar kemesraanku bersama Jane didepanmu lho."
"Sudah nanti lagi hubby, ayo kita makan malam dulu."
"Okay."
Liam lalu mengemasi peralatan tukangnya kembali ke dalam sebuah box dan dia lalu pergi ke ruang makan bersama dua wanita itu untuk makan malam. Kebetulan sekali bibi sudah selesai menyiapkan makan malam jadi mereka bertiga bisa langsung makan, sedangkan bibi pergi untuk sholat terlebih dahulu sebelum makan karena waktu antara sholat maghrib dengan isya sedikit berdekatan sehingga bibi takut jika nanti waktu maghrib akan habis. Selesai makan Liam langsung pergi meminta izin kepada Jane untuk pergi keluar sebentar, dan sekitar 1 jam kemudian Liam telah kembali ke rumah dengan seikat bunga kesukaan Jane yaitu bunga daisy. Liam lalu meletakannya di dalam vas bunga tersebut agar Jane merasa semakin senang.
"Bagaimana Jane, bagus tidak?"
"Bagus sekali hubby, begini dong baru aku menyukainya."
"Apalagi yang ingin kamu pasang?"
"Besok lagi saja, pasti kamu merasa lelah."
"Ya sudah kalau begitu aku akan beristirahat di kamar."
__ADS_1
"Aku akan memijatmu," ucap Jane mengikuti langkah Liam.
"Okay."