
Agar Rosie tidak marah secara berkepanjangan, Liam kemudian mengajak Rosie untuk makan siang di sebuah restaurant yang dia sukai. Liam sangat tahu betul bahwa adiknya itu sangat suka sekali makan, dan oleh sebab itu dia langsung mengajaknya untuk makan siang. Liam lalu mengendarai mobilnya menuju ke tempat yang Rosie pilih, dan begitu sesampainya disana Rosie langsung memesan menu kesukaannya. Liam hanya menurut saja kepada adiknya itu agar dia merasa senang serta tidak marah lagi.
Liam kemudian berbincang dengan Rosie mengenai tugas kuliahnya jika ada yang belum dia mengerti. Rosie merasa bahwa ternyata sangat menyenangkan sekali ketika mempunyai kakak yang jenius, karena jika ada tugas yang sulit pasti dia bisa membantunya mengerjakan tugas tersebut. Meskipun Liam sedikit galak dan tegas namun Rosie sangat senang jika diajari oleh Liam, karena hanya dengan kakaknyalah dia bisa dengan mudah memahaminya. Mereka berdua lalu menyantap hidangan tersebut sembari bercerita mengenai event di kampusnya yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini.
Rosie mengatakan bahwa akan ada pameran dari berbagai jurusan dan nanti sebagian hasilnya akan disumbangkan untuk orang - orang yang membutuhkan. Pameran itu boleh dihadiri oleh orang liar, jadi Rosie menginginkan jika Liam dan Jane bisa hadir untuk melihat pameran tersebut. Tanpa basa basi Liam langsung mengiyakan ajakan Rosie itu dan hal itu membuatnya merasa senang. Selesai makan siang mereka berdua lalu kembali ke kantor, dan Rosie masih berada di ruangan Liam untuk melihatnya bekerja.
Rosie nantinya akan ditempatkan untuk mengurus restaurant keluarga setelah lulus kuliah, jadi mulai sekarang dia harus mau belajar sedikit mengenai hal itu. Liam juga dengan senang hati mengajari Rosie tentang perusahaannya, jadi Rosie bisa belajar dari ahlinya. Diam - diam Liam juga berhasil mendapat berbagai gelar ataupun penghargaan sebagai pengusaha muda yang paling berpengaruh versi majalah F, jadi tidak heran jika dia sudah sangat paham mengenai hal itu.
"Wah sedang apa ini adik - adikku?" tanya Lian yang masuk ke dalam ruangan Liam.
"Rosie sedang ingin belajar mengenai bisnis dan juga pengelolaan perusahaan."
"Yupss benar, aku belajar dari ahlinya haha."
"Keren, besok katanya kamu ingin ditempatkan untuk mengurus restaurant ya Rosie?"
"Iya kak, kata daddy yang ringan saja agar aku bisa belajar juga."
"Bagus itu, kalau Liam sudah ditempatkan disini dan nantinya akan memegang penuh perusahaan ini setelah daddy pensiun."
"Bukankah kamu yang akan ditempatkan disini Li?" tanya Liam heran.
"Tidak, daddy lebih ingin kamu berada disini. Kalau aku mungkin tidak akan mendapatkan hak lagi."
"Eh kenapa begitu?" tanya Rosie penasaran.
"Aku sudah melepas nama Robinson sebagai nama belakangku, jadi mungkin saja daddy menjadi enggan memberikan sedikit bisnisnya untukku."
Liam menepuk bahu Lian.
"Hei jangan berfikir begitu, mungkin daddy juga akan memberikan kamu jatah juga apalagi kamu anak tertua di keluarga ini."
"Benar yang Liam katakan, jadi jangan sedih."
"Mungkin besok akan dibahas lagi mengenai hal itu jika ada perubahan."
"Bisa jadi."
"Kak, cara buat dedek bayi itu bagaimana?" tanya Rosie kepada Lian.
"Mmm maksudmu buat anak?" tanya Lian menegaskan ucapan Rosie.
"Iya, caranya bagaimana?"
Liam langsung memberi kode kepada Lian agar dia tidak menjawab pertanyaan Rosie itu.
"Aku juga tidak tahu, aku kan belum menikah. Coba tanya kakakmu yang satunya, dia kan sudah menikah dan mempunyai anak."
"Liam tidak mau memberitahuku, katanya besok kalau aku sudah menikah."
__ADS_1
Lian lalu mengusap rambut Rosie.
"Memang sebaiknya seperti itu, memangnya kenapa kamu bertanya mengenai hal itu?"
"Tadi di kampus sedang ramai membicarakan temanku yang cuti lama tapi ternyata dia sedang mengandung anak pacarnya."
"Oh begitu."
"Maka dari itu Li, aku langsung memperingatkan Rosie agar tidak sepertinya."
"Iya Liam, memang seharusnya kita lebih ketat menjaga adik kecil kita yang satu ini agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas."
"Benar Lian."
"Kamu sudah punya pacar belum di kampus?" tanya Lian bercanda.
"Belum, tidak diizinkan pacaran dengan Liam."
"Sudah jangan pacaran, lebih baik kamu belajar yang benar di kampus."
"Benar apa kata Liam, sebaiknya kamu seperti itu."
"Okay. Kak nanti aku akan ikut Liam pulang."
"Kamu ingin menginap di rumahnya Liam?"
"Iya kak, boleh kan?" tanya Rosie memastikan.
"Iya boleh, jangan merepotkan kakakmu yang satu itu."
"Siapp. Aku nanti ingin bermain bersama baby Sce juga."
"Iya, nanti baby Ace kamu ajak main saja."
"Iya Liam."
Lian lalu kembali bekerja, sedangkan Liam masih mengajari Rosie sembari bekerja. Saat sore hari, mereka berdua lalu pulang ke rumah dan sudah di sambut oleh teh hangat buatan Jane. Rosie lalu pergi ke dapur untuk mencari camilan, sedangkan Liam berbincang dengan Jane sembari meminum teh hangat buatannya. Liam memberitahu Jane bahwa di kampus Rosie akan mengadakan pameran dan Rosie mengajak dia juga untuk menghadiri acara pemeran tersebut. Tentunya Jane merasa senang dan langsung mengiyakan ajakan Liam itu. Setelah itu Jane memijat bahu suaminya. Tiba - tiba saja Rosie menghampiri mereka berdua yang tengah berbincang di ruang tengah.
"Eonni, aku mau tanya."
"Tanya apa Rosie?"
"Sudah jangan menanyakan itu terus!! kamu masih kecil dan jangan bertanya mengenai hal seperti itu!" ucap Liam memperingatkan.
"Hmpp Liam ini sangat menyebalkan sekali, masa aku bertanya itu saja tidak boleh."
"Memang tidak boleh Rosie."
"Memangnya Rosie ingin menanyakan hal apa?" tanya Jane penasaran.
__ADS_1
"Masa Rosie selalu menanyakan hal mengenai membuat dedek."
"Oh itu," ucap Jane tersenyum.
"Eonni cepat katakan!!"
"Haiiss kenapa kamu selalu bertanya hal itu?"
"Aku penasaran hehe."
Jane lalu berbisik kepada Liam.
"Apa Rosie benar - benar sepolos itu hubby?"
"Sepertinya antara iya dan tidak, mmm maksudku dia sedikit paham hal seperti itu namun dia tidak mengetahui caranya secara mendetail ekekeke."
"Kalian berdua kenapa tertawa?" tanya Rosie bingung.
"Kami berdua sedang berunding," jawab Liam tersenyum.
"Berunding apa?"
"Itu mmm anu, sudahlah aku mau mandi."
"Iya hubby, sana mandi badanmu sudah bau."
"Iya sayang," ucap Liam mencium pipi Jane.
"Aku tinggal ke kamar baby Ace dulu ya?"
"Oh okay eonni."
Jane lalu pergi ke kamarnya untuk mengurus baby Ace dan memberinya susu. 3 jam kemudian saat ini mereka tengah makan malam bersama.
"Masakan eonni dan bibi sangat lezat sekali," ucap Rosie dengan mulutnya yang penuh makanan.
"Rosie, kalau mulutmu penuh makanan jangan sembari berbicara!"
"Iya Liam."
"Jane, mungkin 1 bulan lagi cafe ku sudah selesai dibangun dan mungkin nanti aku akan sedikit sibuk untuk mencari perlengkapan cafe."
"Iya tidak apa - apa hubby, nanti jika sempat aku akan membantumu."
"Iya terima kasih."
"Rosie, habiskan saja semuanya."
"Siapp eonni," ucap Rosie bersemangat.
__ADS_1