
Satu minggu telah berlalu, mereka berdua semakin dekat satu sama lain namun tanpa status dan ibaratnya seperti jalani saja dahulu. Liam juga menjadi sangat rutin mengunjungi apartement miliknya bersama dengan Jane dan menginap setiap akhir pekan jika mereka berdua tidak mempunyai urusan lain. Jane juga sering memasakkan Liam makanan jika Liam sedang mengunjungi apartement untuk bertemu dengannya. Hanya Rosie, Ricko, dan Gita lah yang mengetahui jika sebenarnya mereka berdua sudah lama tinggal di unit apartement yang sama, mereka bertiga sudah berjanji jika tidak akan memberitahu hal tersebut kepada siapapun termasuk keluarga mereka masing - masing atau lebih tepatnya Liam sedikit mengancam mereka untuk tidak memberitahu hal tersebut walaupun sebenarnya tanpa ancaman pun mereka juga tidak akan memberitahu hal tersebut kepada orang lain. Liam sangat sibuk untuk mengumpulkan pundi - pundi uang guna membeli semua perabotan rumah barunya, memang Liam sudah mempunyai banyak uang dari hasil kerja kerasnya namun sepertinya dia butuh lebih banyak lagi karena dia tau jika barang - barang tersebut tidaklah murah apalagi Liam sangat menginginkan barang dengan kualitas terbaik. Liam bisa saja memberitahu Mr Robinson daddynya jika dia sangat membutuhkan pemasukan namun Liam enggan memberitahunya karena Liam ingin berjuang sendiri dengan keringatnya sendiri. Liam adalah pria yang sangat ambisius, jadi dia akan tetap berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya tersebut bahkan saat ini dirinya juga sedang berusaha untuk menaklukan hati Jane dan menjadikannya sebagai istrinya.
Entah kenapa Liam merasa ada hal yang berbeda dari diri Jane yang tidak dimiliki oleh wanita lain manapun, oleh sebab itu Liam sangat berjuang keras untuk menaklukannya. Sebenarnya Liam juga sangat tergila - gila dengan senyuman yang dimiliki oleh Jane, yaitu gummy smile miliknya yang manis seperti seribu ton gula pasir, gula jawa, gula bubuk alias gula halus, dan gula batu. Senyuman yang dimiliki oleh Jane berhasil mengalihkan dunia Liam hingga pandangan mata Liam tidak bisa berhenti menatap Jane yang sedang tersenyum maupun tertawa. Hari ini adalah hari Jumat dan Liam telah menyelesaikan pekerjaannya, karena jam pulang kerja masih lama Liam lalu bersantai di ruang kerjanya sembari memainkan handphone miliknya. Liam mengirimkan pesan kepada Jane jika dia mungkin akan pulang ke rumah terlebih dahulu lalu setelah itu dia baru pergi ke apartement karena ada suatu urusan. Setelah itu Liam menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menghela nafasnya. Tidak lama kemudian Yunna mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Liam sembari membawa dua gelas kopi yang sebelumnya telah Liam pesan. Yunna kemudian memberikan ice cappucino kepada Liam dan duduk di kursi yang berada di depan Liam. Yunna kemudian meminum kopi miliknya dan begitu juga dengan Liam. Karena melihat raut wajah Liam yang terlihat sayu kemudian Yunna bertanya kepada Liam untuk memastikan apakah dia baik - baik saja atau tidak. Liam hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan Yunna dan memilih untuk mengajak Yunna pergi ke rooftop kantor sembari membawa kopi mereka masing - masing.
Liam menghela nafasnya dengan kasar "saat ini aku sedang merasa sangat lelah sekali."
"Jika anda lelah mengapa anda tidak tidur saja di ruangan anda? lagipula pekerjaan anda semuanya juga sudah selesai."
"Yang sedang aku alami itu bukan lelah fisik, tetapi lelah hati dan fikiran."
"Apa ini tentang nona Jane lagi?" tanya Yunna berusaha menebak.
"Ya begitulah. Semakin lama semakin lelah saja jika kita terus seperti ini, tidak tau arah tujuannya ingin dibawa kemana."
"Apa anda sudah menanyakannya kembali kepada nona Jane tentang hal ini?"
"Sudah, bukan hanya sekali namun sudah berkali - kali aku menanyakannya tetapi tetap saja jawabannya selalu sama. Orang - orang mungkin mengira jika hanya pihak wanita sajalah yang membutuhkan suatu kepastian namun faktanya pihak pria juga sangat membutuhkan suatu kepastian, jadi kita bisa memutuskan apakah akan tetap dipertahankan atau tidak."
"Anda benar sekali. Kita mungkin akan kehabisan waktu jika kita terus mengejar sesuatu yang tidak pasti seperti halnya jika kita mengejar bulan hanya dengan berlari menggunakan kaki telanjang."
"Ya kamu benar. Jika dia tidak ingin bersama denganku memulai hidup baru setidaknya katakanlah, jangan hanya diam seperti kamu akan hidup selama 1000 tahun jadi kamu bisa bersantai seperti di pantai. Hidup itu sebenarnya sangat singkat jadi kita harus bisa menggunakan waktu kita sebaik mungkin untuk hal - hal yang berguna dan tentunya untuk membahagiakan diri sendiri sebelum kita pergi dari dunia fana ini."
"Atau anda coba tanyakan sekali lagi kepada nona Jane siapa tau kali ini dia menerima anda," ucap Yunna mencoba memberi saran lain kepada Liam.
__ADS_1
"Baiklah aku akan mencoba menanyakannya sekali lagi, tetapi jika jawabannya sama bagaimana?"
"Ya itu terserah anda, apakah anda ingin tetap memperjuangkan cinta nona Jane atau memilih untuk menyerah sampai disini saja."
"Nanti aku tanyakan sekali lagi. Terima kasih telah menjadi teman cerita aku saat berada di kantor."
"Sama - sama Liam."
Liam dan Yunna kemudian berjalan bersama menuju ruangan mereka masing - masing untuk mengambil barang - barang pribadi mereka, lalu setelah itu mereka berdua absen pulang. Saat di perjalanan pulang tiba - tiba terlintas sebuah ide di fikiran Liam, lalu Liam melajukan mobilnya menuju toko bunga terdekat dan yang satu arah agar sekalian melewatinya tanpa berputar arah. Liam kemudian meminta satu bouquet bunga daisy dan satu bunga tulip bewarna biru. Beberapa menit kemudian Liam lalu pergi ke apartement miliknya hanya untuk mampir sebentar, dan setelah itu Liam menghampiri kamar Jane untuk memberikan bouquet bunga daisy kepada Jane. Liam kemudian menghampiri ranjang Jane dengan bouquet bunga tersebut berada di belakang punggungnya agar Jane tidak tau.
Seketika Jane terkejut mengetahui kehadiran Liam di kamarnya saat dia sedang bersantai "lho katanya kamu nanti malam pulang ke apartement?"
"Sebenarnya aku hanya mampir saja setelah pulang kerja."
"Coba tebak apa yang sedang aku bawa."
"A baby?" ucap Jane berusaha menebak yang disertai dengan mengandung unsur candaan.
Liam tertawa "kamu pikir seorang bayi bisa disembunyikan seperti ini?"
"Ya siapa tau kamu memang bisa menyembunyikannya seperti itu."
"Seharusnya kamu juga bisa berfikir darimana aku bisa mendapatkan seorang bayi Kitten, mana mungkin aku mengandung dasar aneh."
__ADS_1
"Iya juga sih."
"Kalau kamu yang mengandung aku percaya, coba kalau aku yang mengandung mungkin orang lain tidak akan percaya bahkan katak sekalipun juga tidak akan mempercayainya."
Jane tertawa "lalu itu apa?"
Liam lalu memberikan sebuah bouquet bunga daisy kepada Jane "ini untukmu, tadi aku hanya iseng saja membelinya karena kebetulan melewati toko bunga."
Jane tersenyum memperlihatkan gummy smile miliknya yang manis "terima kasih Chicken. Kamu mau makan atau mau minum sesuatu?"
"Nanti saja," ucap Liam sembari duduk di samping Jane.
"Kalau begitu lebih baik kamu mandi terlebih dahulu saja."
"Nanti, aku masih merasa lelah."
"Kalau kamu mandi kan menjadi segar dan rasa lelahnya hilang," ucap Jane sembari mengusap rambut Liam.
"Baru malas."
"Dasar jorok."
"Terserah aku."
__ADS_1
"Ya sudah."