
Liam justru malah kembali tidur karena masih mengantuk, sedangkan Ricko hanya berbaring di samping Liam sembari memainkan handphonenya. Entah mengapa dari dulu Liam selalu saja merasa damai saat menginap di rumah Ricko, sehingga mama Ricko sudah hafal dengan makanan kesukaan Liam karena sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ricko adalah anak tunggal jadi mama Ricko tidak masalah jika banyak teman Ricko yang menginap di rumah agar Ricko tidak merasa kesepian, asalkan tidak mengganggu tetangga sekitar. Saat jam 7 pagi Liam kembali terbangun dan langsung memeriksa handphone miliknya yang sedang diisi baterai. Ternyata terdapat banyak pesan yang dikirimkan oleh Jane serta terdapat banyak panggilan yang tidak dijawab.
Ricko yang berbaring di samping Liam lalu mengintip layar handphone Liam karena merasa penasaran apa yang membuat ekspresi teman dekatnya menjadi seperti itu. Saat Ricko mengetahui bahwa dia di boom pesan oleh Jane, Ricko hanya bisa menertawakan Liam serta menakut - nakutinya jika dia akan dimarahi habis - habisan oleh Jane. Pandangan Ricko beralih ke pantat Liam yang terlihat sem*k karena Liam hanya memakai celana kolor saja. Ricko yang merasa gemas dengan pantat Liam, dia langsung menepuk - nepuk pantat Liam seperti sedang menabuh gendang dengan tertawa. Liam berbalik memukul Ricko serta berusaha menyingkirkan tangan Ricko dari pantatnya. Tidak berselang lama tiba - tiba saja mama Ricko membuka pintu kamar putranya itu untuk memeriksa mereka berdua, dan setelah mengetahui bahwa mereka berdua sudah bangun lalu mama Ricko mengajaknya untuk sarapan.
"Ayo sarapan dulu, mama sudah memasak banyak makanan special untuk kalian berdua."
"Iya mah sebentar," ucap Ricko.
"Ya." Mama Ricko lalu pergi dan menutup pintu kamar.
"Ric sakit ah," ucap Liam merasa risih.
"Pantat mu sangat sem*k seperti seorang penyanyi dangdut saja hahaha."
"Ya sudah aku besok jadi penyanyi dangdut saja dan goyang ngeborr," ucapnya bercanda.
Ricko tertawa.
"Ingin jadi saingannya mbak Inul ha?"
"Kalau bisa kenapa tidak? siapa tahu aku nanti dapat banyak saweran hahaha."
"Dih lagipula orang stress mana yang mau nyawer kamu?"
Tiba - tiba Liam bernyanyi.
"I love you and me dancing in the moonlight, nobody can't see it's just you and me tonight. look at you now look at me you bleblebleble."
"Kamu nyanyi apa kebleblek (tenggelam) di air? dasar tidak jelas."
"Yeee aku nyanyi, tetapi aku lupa lirik selanjutnya jadi aku hanya mengasal saja."
"Memangnya lagu mana yang kamu nyanyikan?"
Liam menggeleng pelan.
"Tidak tau judulnya, aku hanya sering mendengar Jane menyanyikannya saat sedang mandi ataupun saat sedang memasak."
"Dih jangan - jangan kamu sering mengintip Jane saat sedang mandi ya? awas lho nanti mata kamu timbilan hahaha," ucap Ricko menuduh Liam.
"Sembarangan kalau ngomong, aku tidak pernah mengintip Jane saat sedang mandi namun..."
"Namun apa?"
"Namun pernah berendam bersama di jacuzzi hahaha."
"Haisss dasar b*jingan tengik," ucap Ricko ingin memukul Liam.
__ADS_1
Liam lalu menutupi kepalanya agar tidak di pukul eh Ricko.
"Hahaha tidak apa - apa, lagipula dia yang awalnya menggodaku."
"Dasar kamu ini terlalu jujur denganku."
"Hanya kamulah yang aku percaya karena kita bestie, iya bukan?"
"Tidak!!"
"Haiss kamu ini menyebalkan sekali."
"Ayo kita sarapan!" ajak Ricko.
"Okay."
Liam kemudian berjalan mengikuti langkah Ricko menuju meja makan untuk sarapan pagi. Di ruang makan sudah ada papa dan mama Ricko, lalu setelah itu mama Ricko mengambilkan mereka berdua masing - masing nasi, sayur, dan lauk yang lumayan banyak (porsi kuli). Mereka berdua lalu memakannya sembari berbincang ringan bersama mama dan papa Ricko. Liam sudah dianggap seperti keluarganya sendiri bahkan tak jarang Liam malah bercanda bersama dengan papa Ricko sembari memainkan wayang - wayang koleksinya. Karena kehangatan di rumah tersebut Liam menjadi sangat betah di rumah Ricko dan terkadang rumah itu menjadi rumah pelarian dikala Liam sedang merasa stress. Pintu rumah keluarga mereka akan senantiasa terbuka untuk Liam pulang tidak peduli mau siang, sore, malam, bahkan tengah malam sekalipun pintu rumah itu akan selalu terbuka untuk Liam.
"Bagaimana pekerjaanmu baru - baru ini Li?" tanya papa Ricko.
"Lumayan om, lumayan membuat pusing hahaha."
Papa Ricko tertawa.
"Memangnya kamu sedang menangani proyek besar?"
"Iya om, tetapi untung saja ada Yunna yang sangat kompeten dalam membantu urusan pekerjaanku."
"Iya tante, Yunna sekretaris baruku."
"Oh sudah ganti sekretaris?"
"Sudah lumayan lama tan, sekitar 1 tahunan lebih sepertinya."
"Oh begitu."
"Om katanya semalam Ricko sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan Gita," ucap Liam mengadu kepada papa Ricko.
"Sssttt."
Seketika papa dan mama Ricko langsung tertawa.
"Maklum sudah lama Ricko mengincar Gita," ucap papa Ricko menggodanya.
"Pah, jangan begitu ah."
"Kenapa memangnya, bukankah itu benar?"
__ADS_1
"Iya sih tapi...."
"Bagaimana menurut om mengenai Gita?" tanya Liam.
"Dia anaknya baik serta yang paling penting seiman dengan Ricko, jadi menurut om ya tidak masalah."
"Kalau menurut tante bagaimana?"
"Menurut tante asalkan Ricko bahagia ya tante tidak apa - apa, tante percaya dengan pilihan Ricko."
Liam langsung menyenggol lengan Ricko. Setelah sarapan Ricko langsung pergi mandi, sedangkan Liam menunggu Ricko di dalam kamarnya sembari bermain PS. Tiba - tiba saja bel pintu rumah Ricko berbunyi, dan mama Ricko langsung membukanya.
"Siapa ya? sepertinya saya pernah melihatmu."
"Saya sedang mencari Liam tante, apa Liamnya ada disini?" tanya Jane.
"Oh kamu istrinya Liam ya? mari silahkan masuk, maaf sedikit berantakan."
"Tidak apa - apa tante, sama saja dengan tempat saya kok."
"Ingin minum apa? sudah sarapan belum? kalau belum mari sarapan terlebih dahulu, tadi saya sengaja masak banyak karena ada Liam."
"Eh tidak perlu repot - repot tan."
"Haiss tidak apa - apa kok, sebentar saya panggilkan Liam di kamarnya."
"Iya tan."
Beberapa menit kemudian.
"Liam baru mandi, tetapi aku sudah berkata kepada Ricko jika kamu mencarinya."
"Terima kasih tante, maaf jadi merepotkan tante."
"Eh merepotkan apa? saya justru malah senang jika Liam sering bermain kemari karena Ricko jadi mempunyai teman bermain serta tidak akan merasa kesepian."
"Iya tan."
"Liam dari dulu sering menginap disini hingga rumah ini seperti rumah kedua baginya, dan saya sudah menganggap Liam seperti putra saya sendiri."
"Terima kasih tante."
"Sama - sama Jane."
Papa Ricko lalu menghampiri mereka berdua di ruang tamu dan kemudian mama Ricko memberi tahu kepada suaminya jika wanita yang sedang mencari Liam adalah istrinya Liam. Jane kemudian memperkenalkan diri ke papa Ricko, dan setelah igu mereka bertiga berbincang bersama. Tidak lama kemudian Liam menghampiri Jane.
"Ini pakaian gantimu," ucap Jane sembari menyerahkan sebuah paper bag.
__ADS_1
"Okay, aku ganti dulu."
"Iya."