
Kemudian Jane menarik tangan Liam menuju sofa. Setelah itu Jane meminta Liam untuk menceritakan sebab mengapa dia terlihat seperti itu dan sebenarnya Liam mempunyai urusan apa sehingga dia terlihat buru - buru pergi. Tetapi berulang kali Liam menolak untuk menceritakannya kepada Jane. Kemudian Jane hanya terdiam dan dia melanjutkan menonton film. Liam yang merasa bahwa dirinya di diamkan oleh Jane, akhirnya dia mulai menceritakan apa yang terjadi di cafe dekat apartement. Jane tersenyum penuh kemenangan karena ternyata cara yang digunakannya telah berhasil membuat Liam berbicara.
Sembari menatap Liam "oh jadi kamu diberi undangan reuni oleh orang yang kamu benci?"
"Iya, dan aku malas sekali jika datang ke acara reuni itu."
"Kenapa? bukannya acara reuni itu justru menyenangkan? terlebih lagi jika kamu sudah sukses dan mempunyai banyak harta."
Liam merasa keheranan dengan pernyataan dari Jane "maksud kamu?"
"Iya menyenangkan karena kamu bisa memamerkannya kepada teman - teman kamu, terlebih lagi kepada musuh kamu. Mereka pasti akan kepanasan jika dia melihat kalau kamu sekarang lebih kaya darinya."
Menggeleng tak percaya "kamu ini ya, kalau soal pamer pasti pintar sekali. Apakah kamu sebenarnya lulusan S3 jurusan kepameran?"
"Ya namanya juga wanita, pasti punya jiwa pamer dan gibah. Maka jangan heran kalau setiap pertemuan geng para wanita pasti isinya cuma pamer dan gibah, setelah itu makan - makan."
"Benarkah? sepertinya Rosie tidak begitu kalau aku perhatikan."
"Ya itu karena dia kalau bertemu dengan teman - temannya selalu diluar atau kalau dia mengundang teman - temannya dirumah pasti kamu selalu sibuk di kantor lembur, lembur dan lembur."
Liam memegang dagunya "iya juga ya, aku selalu saja lembur di kantor."
Kemudian Jane memutar bola matanya malas "dasar pria workaholic pantas saja tidak mempunyai pasangan, karena kamu saja sukanya lembur terus. Apa tidak bosan mendedikasikan sepanjang waktu kamu untuk bekerja atau bahkan lembur?"
Liam tertawa mendengar kritikan dari Jane "ya bagaimana, aku bekerja juga untuk masa depan, untuk menghidupi diri sendiri ataupun anak dan istri hahaha."
Jane tersenyum nakal kepada Liam "wah jadi kamu sudah mempunyai niat untuk merubah prinsip kamu untuk melajang seumur hidup heum?"
"Tidak, maksud aku anu itu mmm. Itu cuma typo aja tadi jangan dianggap ucapanku yang tadi."
Menepuk punggung Liam lalu merangkulnya "hei jika memang sebenarnya bukan sekedar typo dan memang benar tidak apa - apa kok Chicken, aku pasti akan menunggu undangan dari kamu hahaha."
Kemudian Liam menyingkirkan tangan Jane dari bahunya "apaan sih singkirkan tanganmu dari bahu ku yang suci ini. Undangan apa? itu memang benar kok kalau aku tadi cuma typo saja, karena teman - temanku sering membicarakan hal tersebut jadi aku ikutan berbicara seperti itu tanpa menyaringnya terlebih dahulu."
"Dasar pria yang tidak jelas. Jadi bagaimana, kamu jadi akan datang atau tidak?"
__ADS_1
"Bagaimana ya? aku malas sekali tidak ada patner untuk datang bersama."
Jane tertawa dengan keras sembari menepuk - nepuk punggung Liam "hahaha bilang saja kamu mau memberi kode aku untuk menemanimu iya kan? sebenarnya kalau kamu mengatakan yang sejujurnya tanpa harus memberi kode tidak apa - apa kok."
"Ihh percaya diri sekali anda nona. Siapa juga yang mau mengajakmu? mata kamu aja bengkak karena dari tadi menangis terus, nanti mereka kira aku melakukan KDRT terhadapmu hahaha. Aku sebenarnya mau mengajak Kiko, bukan mengajakmu."
Lalu Jane melipat kedua tangannya "ihh kan mulai deh dasar pria menyebalkan."
Liam hanya tertawa melihat Jane yang sedang marah kepadanya karena menurutnya Jane kalau sedang marah begitu sangat lucu seperti anak kecil. Kemudian Liam berjalan menghampiri Kiko yang sedang duduk di tempat tidurnya. lalu Liam mengusap bulu Kiko yang lembut sembari tersenyum melihat Kiko yang sedang tertidur pulas. Jane tersenyum melihat perlakuan Liam terhadap Kiko, karena menurutnya Liam juga menyayangi Kiko.
"Kiko besok ikut daddy ke acara reuni ya? besok daddy akan membelikan baju yang bagus dan mahal untukmu."
Jane keheranan melihat tingkah laku Liam "apa, daddy? sejak kapan dia menjadi anak kamu Liam? dia hanya akan menjadi anak aku, bukan anak kamu."
"Hei dia mulai sekarang akan aku angkat menjadi anak aku, ingat itu."
"Tidak, dia akan tetap menjadi anak aku saja."
Kemudian mereka berdua tertawa bersama, dan Liam kembali duduk di samping Jane. Setelah itu, Liam kembali bercerita kepada Jane dan meminta Jane untuk menemaninya pergi ke acara reuni tersebut, dan Jane menyetujuinya. Kemudian Liam menawarkan kepada Jane jika dia akan mentransfer sejumlah uang untuk membeli sejumlah gaun atau perlengkapan lain yang dia butuhkan untuk acara reuni tersebut tetapi Jane menolaknya karena menurutnya Liam sudah mengeluarkan banyak uang untuk menghidupinya selama dia tinggal di apartementnya, bahkan dia juga mempercayakan apartement mewah milik Liam kepadanya. Liam hanya mengangguk setuju.
"Lalu kamu mau bagaimana?"
"Baguslah kalau begitu. Besok kita akan berangkat jam setengah 9 bagaimana?"
"Tidak apa - apa. Oh ya, terima kasih ya."
"Untuk apa?"
"Untuk semua fasilitas yang kamu berikan kepadaku, bahkan sebenarnya tidak apa - apa jika kamu hanya memberiku izin untuk tinggal di apartement ini tanpa perlu kamu memberikan aku semua makanan, minuman, bahkan seorang supir untuk mengantarku kemana pun aku mau dan seorang asisten untuk melayani kebutuhan hidup aku."
"Hei tidak apa - apa. Lagipula aku tau kok kalau kamu sebenarnya tipe wanita yang memang seharusnya diperlakukan begini dan manja karena kamu adalah anak bungsu dari orang terkaya no 2 se Asia, dan pasti kamu akan merasa kewalahan jika harus tinggal dan mengurusi dirimu sendiri tanpa bantuan dari seorang asisten."
"Sebenarnya juga tidak apa - apa sih karena suatu saat aku akan hidup sebagai ibu rumah tangga yang akan sibuk mengurusi anak dan suamiku. Tidak mungkin kan jika besok anak dan suamiku akan di urus oleh sorang asisten secara keseluruhan?"
"Ya kamu benar. Sebenarnya sadar tidak kalau kita itu sama - sama sedang belajar?"
Jane merasa penasaran dengan ucapan Liam "belajar? maksudnya belajar bagimana?"
__ADS_1
"Iya belajar. Belajar untuk menjadi orang sesuai dengan kodratnya masing - masing."
"Maksudnya? sumpah aku belum paham dengan apa yang kamu bicarakan."
Kemudian Liam menjitak kepala Jane "dasar otak lemot. Kebanyakan ngebucin sih."
"Aww sakit, apaan sih Chicken. Cepat jelasin secara mendetail biar aku paham."
"Jadi begini. Kamu sadar tidak kalau sebenarnya dibalik peristiwa ini Tuhan sedang meminta kita belajar sesuai kodrat masing - masing. Seperti kamu yang belajar menjadi selayaknya kodrat seorang wanita yaitu mengurus rumah tangga atau suami dan anak, sedangkan aku yang belajar menjadi selayaknya kodrat seorang pria yaitu harus bertanggung jawab menafkahi seorang istri. Sepertinya begitu."
Kemudian Jane berfikir sejenak "sepertinya begitu. Oh karena hal tersebut kamu menjadi mengganti prinsip mu yang kamu akan melajang seumur hidup itu?"
"Sepertinya begitu, aku jadi berfikir lagi jika sebenarnya aku mendedikasikan waktu aku selama ini untuk bekerja lembur secara terus menerus untuk apa jika di masa depan bukan untuk menafkahi anak dan istri. Sebenarnya ini simulasi sih jika suatu saat aku akan menafkahi wanita yang mempunyai hobi shopping sepertimu dan aku menjadi tau berapa kira - kira yang harus aku keluarkan per bulan jika mempunyai istri yang seperti itu hahaha."
"Ya maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu."
"Hahaha aku hanya bercanda, lagipula tidak tau mengapa aku senang aja jika aku mengeluarkan uang aku untuk membuat orang merasa senang."
"Karena kamu anak sulung orang terkaya no 1 se Asia, dan pasti harta kamu tidak akan habis jika mempunyai seorang istri yang matre sekalipun. Tapi aku merasa penasaran apakah sebenarnya orang tua kita saling bermusuhan dan berkompetisi dalam bisnis atau tidak ya?"
Liam berfikir sejenak "mmm sepertinya tidak, tapi aku juga tidak tau soal hal tersebut, karena aku belum melihat orang tua kamu dan orang tua aku duduk berbincang dalam satu meja."
Menganggukkan kepalanya "tapi jika sebenarnya mereka bermusuhan dan saling berkompetisi apa kamu akan ikut membenciku juga?"
Tersenyum kepada Jane "tidak."
"Kenapa begitu?"
"Karena menurutku itu hanya permasalahan orang tua saja dan aku tidak mau membenci anaknya yang tidak tau apa - apa soal hal itu hanya karena permasalahan orang tuanya."
Bangkit dari sofa "benar juga sih. Aku mengantuk dan aku akan pergi ke kamar untuk tidur."
Ikut bangkit dari sofa "oke goodnight and sweet dream Kitten."
"You too Chicken."
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kamar masing - masing untuk tidur karena sudah larut malam. Setelah itu Liam bukannya langsung tidur tetapi pergi menuju balcon nya untuk menikmati suasana kota dari tempatnya tersebut sembari berfikir tentang apa yang dia ucapkan tadi. Kemudian Liam pergi ke walk in closet nya untuk mempersiapkan setelan jas nya yang akan dia kenakan untuk acara reuni besok beserta dari dan sepatunya. Dia menggantungnya di pegangan pintu kamarnya agar dia tidak lupa untuk menyetrika nya besok karena sudah lama tidak dia kenakan. Setelah itu Liam berbaring di ranjangnya dan tidur agar bisa bangun pagi.
__ADS_1
Note: Maaf ya tidak ada yang istimewa walaupun bertepatan dengan hari ulang tahun saya kemarin 😸