Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #235


__ADS_3

Mrs Robinson lalu duduk di sofa, sedangkan Jane bergegas membuatkan teh hangat untuk ibu mertuanya tersebut. Liam berbincang sebentar dengan mommy nya itu sebelum dia pergi mandi, dan tidak sampai 5 menit Jane datang membawa secangkir teh hangat untuk Mrs Robinson. Nat lalu memperkenalkan dirinya sebagai sahabat dekat Liam sewaktu tinggal di Australia dan bercerita mengenai bagaimana awal mula dia bisa mengenal Liam hingga menjadi sahabat dekatnya sekarang. Mrs Robinson yang tadinya sempat merasa shock sekaligus kecewa sekarang dia bisa bernafas lega karena ternyata itu hanyalah sebuah prank saja. Mrs Robinson juga sempat berfikir ingin mencoret putranya itu dari daftar ahli waris namun seketika dia mengurungkan niatnya tersebut setelah mengetahui yang sebenarnya. Ternyata putranya itu masih tetap menjadi putranya yang sangat baik dan setia. Justru Mrs Robinson, Jane, dan Nat malah semakin asyik berbincang mengenai fashion serta beberapa topik mengenai kecantikan.


Nat dahulu sempat mengira jika Mrs Robinson adalah orang yang sangat tegas, dan oleh sebab itu dia selalu saja menghindar saat berkali - kali Liam ingin memperkenalkannya dengan mommy nya. Namun kenyataannya dia adalah wanita yang ramah dan mudah bergaul dengan orang lain, tapi sayang sekali dia sudah terlambat sehingga Mrs Robinson lebih sayang serta akrab dengan Jane. Mungkin karena itu juga Mrs Robinson sangat menginginkan Liam untuk segara menikahi Jane. Semakin lama mereka bertiga terlihat sangat akrab (klop) sekali saat Liam memperhatikannya dari tangga rumahnya hingga membuatnya merasa bersyukur sekaligus merasa bahagia. Liam kemudian pergi ke dapur membuat minuman serta camilan untuk dinikmati bersama sembari berbincang di ruang tengah rumahnya. Liam datang dengan membawa beberapa camilan untuk mereka berempat, dan Liam kemudian duduk di tengah - tengah antara Jane dengan mommy nya.


"Tumben sekali Rosie tidak ikut mommy."


"Dia sedang pergi hangout bersama teman - temannya," jawab Mrs Robinson.


Liam menganggukkan kepalanya.


"Oh begitu rupanya."


"Bagaimana rumahnya? tidak ada kendala kan?" tanya Mrs Robinson memastikan.


"Tidak mom aman - aman saja, iya kan Jane?"


Jane mengangguk setuju.


"Iya mom aman kok."


"Kalau ada kendala jangan sungkan menghubungi mommy atau daddy kamu."


"Iya mom santai saja," ucap Liam sembari mengambil kue kacang.


"Oh ya mommy tadi membawa camilan untuk kalian, jangan lupa dimakan ya?"


"Siap mom."


"Liam, nanti mommy ingin membicarakan sesuatu denganmu empat mata saja bisa?"


"Bisa mom, ingin sekarang atau nanti?"


"Sekarang saja."


"Okay. Aku tinggal sebentar ya Jane, Nat."


"Iya hubby."


"Okay Li, lagipula aku juga akan menghabiskan kue kacang ini hehe."


"Huuu," ucap Liam bersorak kepada Nat.

__ADS_1


Liam kemudian membawa Mrs Robinson ke rooftop rumahnya untuk berbincang empat mata. Liam merasa sangat penasaran perihal yang ingin dibicarakan oleh Mrs Robinson kepadanya, dan sepertinya ini mengenai masalah yang sangat serius karena tidak biasanya Mrs Robinson mengajaknya untuk berbicara empat mata saja.


"Ada apa mom?" tanya Liam sembari mendudukkan dirinya di sofa.


"Mommy dan daddy sudah bertemu dengan kakakmu, Lian."


Liam merasa terkejut dengan pernyataan Mrs Robinson.


"Benarkah mom? dimana?"


"Waktu itu mommy bertemu dengannya di sebuah restaurant tempatnya bekerja, dan mommy juga sempat berbincang - bincang dengannya di cafe untuk memintanya kembali pulang ke rumah."


"Lalu dia menjawab apa?"


"Dia ingin mempertimbangkannya terlebih dahulu."


Liam berdecak.


"Ck sudahlah mom, jika dia tidak ingin kembali maka ihklaskan saja lagipula dia juga kan yang menginginkannya?"


Mrs Robinson menghela nafasnya.


"Liam tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu mom namun mommy juga tidak perlu sampai terlalu keras membujuknya jika dia tidak ingin kembali."


Mrs Robinson menyandarkan kepalanya di bahu Liam hingga tidak terasa air matanya mulai menetes secara perlahan.


"Mommy merasa tidak tega dengannya apalagi setelah melihat kondisinya yang menyedihkan, badannya kurus kering dan dia juga tidak tinggal di hunian yang layak seperti kalian berdua. Momny hanya ingin dia juga merasakan kehidupan yang layak serta berkecukupan seperti kalian sayang."


"Iya mom, Liam paham. Mmm bagaimana kalau besok aku akan mencoba untuk mencarinya serta berbincang dengannya, demi mommy."


"Tidak perlu sayang, itu cukup akan menjadi urusan daddy dan mommy saja."


"Mom, itu masih urusan Liam juga sebagai putra mommy. Mau bagaimanapun Liam sekarang bahkan Liam sudah berkeluarga, mommy ini kan tetap menjadi mommy Liam."


Mrs Robinson mencubit pipi Liam.


"Iya sayang, terima kasih ya."


"Sama - sama mommy."


Keesokan harinya Liam masih menjalani hari - harinya yang sangat sibuk dengan jadwalnya yang masih padat. Tiba - tiba saja Mr Robinson datang ke ruangannya, dan disaat itulah dia langsung bertanya kepada Mr Robinson dimana restaurant tempat kakaknya tersebut bekerja. Mr Robinson lalu memberitahu Liam dimana tempat putra sulungnya alias kakaknya itu bekerja, dan saat makan siang Liam langsung bergegas pergi menuju ke restaurant yang tadi dikatakan oleh Mr Robinson. Sesampainya di restaurant tersebut Liam lalu menemui manager restaurant tersebut agar dapat dipertemukan oleh seseorang yang bernama Lian Gerald. Liam maupun Lian merasa terkejut setelah melihat penampakan satu sama lain karena perbedaannya yang mereka alami. Yang satu memakai setelan jas rapi nan mewah serta memakai kacamata, sedangkan yang satu hanya memakai kemeja putih serta dasi kupu - kupu yang merupakan seragam waiters restaurant tersebut. Liam lalu melepas kacamatanya dan berjalan menghampiri Lian.

__ADS_1


"Lian," ucapnya lirih.


"Se-sedang apa kamu disini?" tanya Lian ketus.


"Aku ingin menemuimu dan berbincang sebentar denganmu sembari makan siang bersama."


"Maaf aku sibuk."


"Aku sudah berbicara kepada manager restaurant ini agar menggantikanmu sementara selama satu jam."


"Apa semua ini karena mommy lagi?"


Liam mengangguk.


"Iya, sejujurnya aku merindukanmu."


"Aku kira kamu sudah lupa denganku dan bahkan merayakan pesta kepergianku."


"Untuk apa?"


"Karena otomatis kamu yang akan menjadi ahli waris utama keluarga Robinson," ucapnya sembari menunjuk - nunjuk dada Liam.


"Aku bukan orang yang seperti itu, jika kamu memintanya maka aku akan memberikannya semua warisan itu untukmu karena kamu yang lebih berhak menerimanya sebagai putra sulung."


"Tetapi sayangnya mereka sudah membuangku serta tidak menganggapku sebagai putra sulung, hanya kamulah yang tertulis sebagai putra sulung di silsilah keluarga Robinson."


"Maka dari itu kembalilah ke rumah, pasti daddy akan memberikan semua hak milikmu yang sebenarnya itu tidak pantas untuk aku terima."


"Jangan munafik, aku tahu jika kamu sedang menikmati puncak kejayaannmu sebagai presiden direktur serta memiliki istri yang cantik yang seharusnya itu semua milikku."


Darah Liam sudah mulai naik.


"Jangan bersikap seolah - olah itu semua kesalahanku karena itu semua adalah salahmu yang tidak bisa bersikap dewasa Lian!!"


"Jika bukan karena daddy menganakemaskan kamu, aku tidak akan keluar dari rumah itu!!"


"Daddy memperlakukan semua anaknya itu secara adil bahkan dengan Rosie juga."


"Benarkah? tetapi kenapa daddy selalu membebaskan semua hal kepadamu, sedangkan daddy selalu melarang aku melakukan ini itu dan bahkan selalu menyuruhku untuk pergi les setiap harinya setelah pulang sekolah."


"Karena kamu putra sulung yang akan memegang 80% semua perusahaan daddy, maka dari itu daddy menyuruhmu untuk belajar dengan giat agar perusahaan keluarga bisa semakin berkembang saat kamu yang memegangnya. Jam makan siangku sudah habis, kita bicara lain kali."

__ADS_1


__ADS_2