Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #404


__ADS_3

Istrinya sembari mengehela nafasnya kasar. Berulang kali Mr Robinson mencoba untuk mengendalikan emosi serta egonya agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Mr Robinson takut jika nanti dia justru akan mencelakai istrinya yang paling dicintainya. Mr Robinson kembali berfikir jika misalnya dia pergi meninggalkan istrinya, lalu dia akan bersama dengan siapa selain dirimya? secara istrinya itu adalah seorang wanita yang yatim piatu bahkan kerabatnya saja sudah tidak ingin tahu - menahu mengenainya.


Kemarin dia juga sudah berjanji kepada kedua orang tua istrinya bahwa dia akan selalu menjaganya sekaligus mencintainya sampai kapanpun. Mrs Robinson lalu bersandar di bahu suaminya dengan masih menangis sesenggukan. Mr Robinson lalu memeluk istrinya itu dan mengusap punggungnya. Berulang kali Mr Robinson mendengar ucapan permintaan maaf dari istrinya, dan tentunya itu membuat dirinya semakin merasa tidak enak dengan istrinya karena sifatnya yang terlalu cemburuan.


Harusnya Mr Robinson bisa mempercayai bahwa istrinya itu tidak akan berpaling darinya, dan tentunya bisa menjaga hatinya. Namun justru Mr Robinson malah berbuat seperti itu karena egonya serta rasa cemburunya yang sudah menguasainya. Untungnya Mr Robinson bisa mengendalikan itu semua sebelum semuanya terlambat dan bahkan terjadi hal yang lebih parah dari itu semua. Mr Robinson menatap wajah istrinya serta mata sembabnya karena sedari tadi dia terus menangis sembari menjelaskan semuanya.


"Maafkan aku karena telah bersikap seperti ini kepadamu," ucap Mr Robinson.


"Justru aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu."


"Tidak hon, memang seharusnya aku bisa bersikap lebih dewasa serta tidak cemburuan seperti tadi."


"Seharusnya aku juga bisa menjaga perasaanmu sebagai suamiku, sehingga hal seperti ini tidak mungkin terjadi."


"Mungkin aku yang terlalu sensitif karena aku terlalu lelah memikirkan pekerjaanku yang akhir - akhir ini sangat banyak sekali."


"Na-nanti aku akan memijat kepalamu jika kamu menginginkannya."


"Tentu saja aku menginginkannya, mana mungkin aku tidak ingin kepalaku dipijat oleh istri yang paling aku cintai. Sudah jangan menangis lagi ya?"


Mrs Robinson mengangguk.


"Iya hon."


"Sudah sana ganti baju dulu, aku juga akan ganti baju."


"Baik."


Mrs Robinson lalu mengganti bajunya dan setelah selesai dia kemudian memberikan sebuah baju ganti untuk suaminya.


"Ini bajumu."


"Terima kasih," ucap Mr Robinson tersenyum.


"Ganti di kamar mandi!"


"Tidak mau, disini saja kan tidak apa - apa."


Setelah itu Mr Robinson berbaring di atas ranjangnya, sedangkan Mrs Robinson sedang mengurus pakaian kotor tadi. Tidak lama kemudian Mrs Robinson menghampiri suaminya dan langsung memijat kepalanya.


"Rencananya Liam dan Jane akan pergi berlibur ya?" tanya Mr Robinson.


"Iya hon, tapi hanya sebentar saja kok."

__ADS_1


"Tadi Liam meminjam private jet untuk pergi berlibur, dan aku langsung mengizinkannya daripada nanti mereka berdua ribet apalagi Ace juga diajak berlibur."


"Benar hon, tidak apa - apa."


"Ribet kalau berlibur bawa anak kecil, seperti dulu saat kita membawa 3 anak sekaligus."


"Meskipun begitu namun menurutku itu sangatlah seru."


"Kenapa seru? kamu tidak ingat dulu selalu saja ada yang berteriak daddy, daddy terus saat aku sedang ingin bersantai sebentar."


"Namanya juga sudah menjadi risiko mempunyai banyak anak, sudah tahu begitu kamu malah ingin menambah lagi."


"Tidak apa - apa hon, aku ingin lagi satu."


"Haisss tidak hon, sudah cukup 3 anak saja."


"Hmmm baiklah. Aku penasaran mengapa dahulu kamu ingin sekali mengadopsi Rosie padahal kita bisa membuatnya sendiri?"


"Aku sangat menginginkan anak perempuan, dan aku takut gagal memiliki anak perempuan jika kita membuatnya sendiri."


"Kenapa begitu? pasti akan bisa."


"Sudah cukup kita memiliki dua anak kembar laki - laki, lagipula aku sangat menyukai Rosie yang masih bayi karena dia sangat lucu sekali."


"Tapi nanti kalaupun misalnya orang tua Rosie datang ingin mengambilnya, kita bagaimana?" tanya Mrs Robinson khawatir.


"Tetap mereka tidak akan bisa mengambilnya meskipun mereka adalah orang tua kandungnya, karena kita sudah memiliki surat - surat adopsi dan sudah diuruskan ke pengadilan juga."


"Oh begitu."


"Sudah jangan khawatir, tidak ada yang bisa mengambil Rosie kita selama aku yang memegang kendali atas semua ini."


"Iya."


"Lagipula kita yang sudah membesarkannya dan juga memberikan kehidupan yang layak untuknya, masa mereka datang seenaknya untuk mengambil Rosie kita. Jika terjadi seperti itu maka aku akan menantang mereka untuk mengganti semua biaya yang sudah aku keluarkan untuk Rosie selama ini," ucap Mr Robinson kesal.


"Hon tidak boleh seperti itu, kan kita sudah berjanji untuk ikhlas merawat Rosie hingga seperti ini."


"Iya sih, tapi aku berkata seperti itu jika ada orang yang ingin mengambil Rosie dari kita."


"Ya sudah mari kita beristirahat."


"Baiklah."

__ADS_1


Disisi lain Liam yang sedang sikat gigi di kamar mandi, tiba - tiba saja Jane menghampirinya serta menepuk punggungnya hingga membuatnya terkejut. Jane yang tampak lelah itu lalu bersandar di bahu Liam, setelah itu Liam meraih pinggulnya agar mendekat kepadanya. Jane lalu meraih sikat gigi dan pasta gigi secara bersamaan dan setelah itu dia menyikat giginya agar bersih sebelum tidur, ya itu juga untuk menanggulangi jika terjadinya hal - hal yang diluar dugaan. Jane lalu memperhatikan Liam serta rambutnya yang warnanya terlihat berbeda dari apa yang selama ini dia lihat.


"Aku perhatikan ternyata rambutmu terlihat sedikit kecoklatan, bukan pure bewarna hitam."


Liam lalu melihat ke cermin.


"Oh kamu menyadarinya?"


"Iya, jujur aku baru menyadarinya dan kupikir rambutmu pure bewarna hitam namun ternyata terkesan seperti golden brown."


"Ya apalah namanya aku tidak tahu."


"Pasti dari daddy kamu?"


"Benar, dari daddy aku tapi kalau Rosie di blonde sendiri rambutnya di salon."


"Rosie aslinya hitam?"


"Yupss tapi menurutku jika rambutnya hitam akan terkesan aneh, dan dia lebih cantik kalau rambutnya di blonde karena bisa balance dengan warna kulitnya."


"Balance bagaimana maksudmu?" tanya Jane bingung.


"Kulit Rosie bewarna putih bersih, jadi dia sangat cok jika rambutnya bewarna blonde dan terkesan lebih bersih saja sih."


"Oh begitu," ucap Jane mengiyakan padahal dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh suaminya.


"Rosie cantik, tapi sayang dia menyebalkan sekali karena tukang ngadu."


Jane tertawa.


"Apa kamu menyukai Rosie?"


"Aku menyukainya namun hanya sebagai adikku saja, dan jika kamu berfikir aku menyukai Rosie lebih dari seorang adik kakak maka dugaanmu itu salah."


"Maaf karena aku telah berfikir seperti itu."


"Tidak apa - apa haha, banyak yang berfikir seperti itu apalagi kita berdua sangat dekat sekali."


"Iya hubby, awalnya aku juga berfikir seperti itu namun semakin lama semua fikiranku tentang itu telah hilang."


"Iya sayang, jangan khawatir karena aku tidak akan seperti itu."


"Iya hubby."

__ADS_1


__ADS_2