Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #243


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Liam yang masih berada di kantor tiba - tiba dikirimi pesan dari Ricko yang berisi gambar berbagai macam motor beserta spesifikasinya. Ricko mengirimkan hal tersebut karena waktu itu Liam pernah bercerita kepada Ricko bahwa dia ingin membeli sebuah motor baru. Liam awalnya menginginkan model motor trail namun tiba - tiba saja dia berubah fikiran setelah melihat motor vespa keluaran terbaru yang bentuknya sangat lucu apalagi yang bewarna biru langit. Saat Liam mengirimkan pesan kepada Ricko jika dia ingin memilih motor vespa saja dengan alasan Jane akan lebih mudah menaikinya, Ricko justru mengirimkan emoji tertawa kepada Liam. Ricko tertawa karena tiba - tiba saja dia mengingat bahwa waktu itu dia pernah melihat Jane yang kesulitan saat menaiki motor Liam yang lumayan tinggi, sehingga Liam harus turun dari motornya dan menggendong Jane sembari mengoceh untuk menaiki motornya karena tubuhnya yang mungil.


Liam kemudian mengirimi Jane pesan gambar motor yang dia ingin beli agar dia tidak perlu repot - repot lagi menggendong Jane saat dia ingin membonceng dirinya, sekaligus meminta izin untuk membeli sebuah motor. Dengan secepat kilat Jane lalu membalas pesan Liam dan berkata terserah dia saja sembari memberikan emoji senyum. Liam lalu juga mengatakan kepada Jane bahwa dia ingin memotong uang bulanannya sebagai tambahan untuk membeli motor itu, yah walaupun Liam tidak berniat demikian dan hanya bercanda saja kepada Jane. Setelah percakapan tersebut Liam kemudian pergi bersama Yunna untuk meeting di sebuah restaurant. Beberapa jam kemudian saat sore hari Liam yang sedang mengendarai mobilnya masuk ke dalam halaman rumahnya, tiba - tiba saja ada sebuah mobil pick up yang parkir di depan rumahnya. Supir tersebut lalu bertanya kepada Pak Kang namun Pak Kang malah pergi masuk ke dalam rumah.


"Sudah datang," bisik Pak Kang di telinga Jane.


"Oh sudah?"


"Iya nona."


"Okay. Hubby, ada yang mencarimu."


"Siapa?" tanya Liam saat meletakkan tas serta jas yang tadi dia pakai ke sofa.


"Sudah, ikut Pak Kang saja."


Liam kemudian melangkah keluar rumah mengikuti Pak Kang.


"Ada urusan apa mencari saya?" tanya Liam tegas.


"Atas nama bapak Liam Gerard Robinson?"


"Iya saya sendiri."


Supir tersebut lalu menyodorkan sebuah kertas tanda terima kepada Liam.


"Silahkan tanda tangan disini!"


"Untuk apa?"


"Untuk pengiriman sebuah motor."


"Lho saya kan tidak membeli motor, salah kirim mungkin."


"Benar kok alamatnya dan juga nama pemesannya, bahkan sudah dibayar secara cash."


Tiba - tiba saja Jane menghampiri mereka.


"Sudah Pak langsung turunkan saja motornya!"


"Waitt!! kamu beli motor?" tanya Liam terkejut.


"Iya, katanya ingin beli motor baru."


"I-iya, tetapi aku sendiri yang membelinya dan tadi aku hanya meminta izin kepadamu saja kok malah langsung dibelikan? padahal masih wacana beberapa bulan yang akan datang."


"Kelamaan, sudah pak turunkan saja!"


"Baik bu, ini kertas tanda terima nya."


"Kamu serius membelikan aku motor, ini mahal lho?"


"Iya serius hubby, bahkan duarius."

__ADS_1


"Terima kasih sayang."


"Iya sama - sama. Itu sesuai dengan apa yang kamu inginkan sekaligus warna kesukaanmu, suka tidak?"


Liam langsung full senyum.


"Aku sangat menyukainya."


"Jangan buat balapan, awas sampai buat balapan!!"


"Tidak kok sayang hehe."


Setelah motor tersebut diturunkan dari bak mobil pick up, Liam langsung melihat - lihat body motor tersebut dengan perasaan bahagia karena ini yang dia inginkan. Siapa sih yang tidak senang jika pulang kerja dalam keadaan lelah tiba - tiba saat sesampainya pulang ke rumah malah datang motor baru dibelikan oleh seseorang. Liam kemudian melakukan uji coba mengendarai motor tersebut sembari berfikir bahwa ternyata dia tidak rugi mengesampingkan egonya dan menikah dengan Jane karena dia mendapatkan istri yang cantik, sexy, pintar, dan juga kaya raya. Liam pernah tidak sengaja mengetahui bahwa penghasilan Jane bisa mencapai 2-3 milliar dalam sekali menandatangi kontrak kerja sama sebuah brand yang akan dia promosikan.


"Ayo Jane, kita jalan - jalan sore sebentar menggunakan motor ini!" ajak Liam.


"Iya, eh ini helmnya jangan lupa dipakai karena aku sudah membelikannya juga untuk kita berdua."


"Okay," ucap Liam sembari menggunkan helm.


"Ayo!!" ucap Jane dengan sangat antusias.


"Kenapa kamu membelikan aku motor?" tanya Liam sembari mengendarai motornya.


"Agar uang bulananku tidak dipotong olehmu hahaha."


"Kamu ini sebenarnya bodoh atau bodoh?" tanya Liam bercanda.


"Aku memang sengaja membelikan kamu motor yang kamu inginkan karena aku sayang kepadamu, hubby."


"Benarkah?"


Jane semakin mengeratkan tangannya di perut Liam.


"Iya hubby, aku sayang kepadamu!!" teriak Jane saat dijalan.


Liam langsung menaikkan kecepatan motornya.


"Sssttt kamu itu teriak - teriak seperti itu nanti disangka orang gila."


"Masa bodoh, aku kan memang sudah gila karenamu."


"Apa kamu terkena penyakit siput gila ha?" tanya Liam bercanda.


Jane memukul pelan punggung Liam.


"Kamu ini."


"Baiklah, aku akan menyembuhkan penyakit siput gila yang kamu derita itu."


"Bukan terkena penyakit siput gila, melainkan aku sudah tergila - gila kepadamu."


"Apa yang membuatmu tergila - gila dengan pria brengsek sepertiku?"

__ADS_1


"Perhatianmu serta setiap sentuhanmu ditubuhku. Mmm pokoknya semua tentangmu aku sangat menyukainya."


"Kalau begitu akan membuatmu semakin tergila - gila kepadaku."


Liam semakin melajukan motornya berkeliling kota sembari terus berbincang ringan dengan Jane. Ternyata rasanya sangat menyenangkan jika bisa berkeliling kota di sore hari bersama dengan orang yang kita cintai sembari berbincang ringan serta bercanda ria bersama. Untuk kali ini Liam kembali bisa merasakan perasaan yang sangat bahagia hingga rasanya seperti terbang ke angkasa bahkan sampai ke planet neptunus. Tidak hanya berbincang ataupun bercanda ria, tetapi mereka berdua juga bernyanyi bersama saat menaiki motor tersebut. Jane semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di punggung Liam. Mereka berdua lalu berhenti di sebuah taman untuk beristirahat sebentar karena kebetulan mereka melewatinya.


"Lelah tidak?" tanya Liam sembari menyelipkan rambut Jane di telinganya.


Jane menggeleng sembari tersenyum.


"Tidak, justru aku merasa sangat bahagia."


"Kenapa begitu?"


"Karena kita bisa menghabiskan waktu berdua dengan sangat mengasyikkan dan juga akhirnya aku bisa melihatmu tertawa lepas seperti itu, sering - seringlah tertawa lepas seperti itu karena aku juga akan merasa bahagia jika kamu bisa seperti itu."


Liam langsung memeluk Jane dari samping dan mencium keningnya.


"Terima kasih karena kamu telah membuatku kembali merasa sangat bahagia."


"Iya hubby."


"Mau ice cream?"


"Mau."


"Sebentar, aku akan membelikannya untuk kita berdua."


"Okay."


"Jangan pergi kemana - mana!"


"Iya hubby."


Tidak lama kemudian Liam kembali sembari membawakan dua buah ice cream, sedangkan Jane masih duduk di tempat yang sama sembari menunggu Liam kembali.


"Ini ice cream kesukaanmu," ucap Liam sembari memberikannya kepada Jane.


"Terima kasih."


"Sama - sama."


"Ayo kita berfoto bersama," ucap Jane mengeluarkan handphone dari saku celananya.


"Okay."


Waktu telah berlalu dan mereka berdua berencana untuk pulang namun tiba - tiba saja kaki Jane terkilir. Dengan sigap Liam langsung menangkap Jane dan menggendongnya di belakang punggungnya.


"Sakit hubby."


"Nanti kita obati saat sampai dirumah."


"Iya hubby."

__ADS_1


__ADS_2