Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #304


__ADS_3

Mrs Kim kembali berfikir mengenai ucapan Jane tersebut dan mengingat - ingat semua tingkah laku Liam dari saat pertama kali bertemu sampai terakhir kali bertemu dengannya. Setelah dianalisa sepertinya ucapan putrinya itu ada benarnya, memang Liam sedikit berbeda dari kebanyakan pria lainnya dan jika diperhatikan lagi memang Liam sering menunduk saat berbicara atau bahkan sering sekali dia memainkan jarinya. Mrs Kim tiba - tiba ingat akan sesuatu hal saat Mrs Robinson bercerita mengenai Liam yang pemalu serta kejadian sebelum pernikahan, dimana Liam memilih pergi saat disinggung mengenai semua mainan pemberian dari Jane. Kemarin saat dia dan suminya datang ke rumah anaknya, Liam juga lebih sering menunduk dan jarang merespon ucapan darinya.


Tiba - tiba saja panggilan Jane membuyarkan lamunan Mrs Kim yang sedang berfikir mengenai sikap menantunya itu. Setelah itu Mrs Kim mengusap perut putrinya yang sedang mengandung dan kembali berbincang mengenai banyak hal, salah satunya mengenai bagaimana Liam mengurusnya dengan baik selama dia mengandung. Disisi lain Liam yang sedang bersepeda sendirian memilih untuk berhenti sebentar di sebuah taman untuk beristirahat. Liam memandangi suasana sekitar taman tersebut sembari menghirup udara segar. Kemudian dia mengeluarkan sebuah buku catatan yang sering dia bawa kemana - mana di dalam sakunya. Sebuah buku catatan kecil yang sampuknya bewarna biru untuk menuliskan ide, perasaan hatinya saat itu juga, dan terkadang dia juga menggambar di buku tersebut.


Namun kali ini Liam sedang ingin menggambar sesuatu di buku tersebut dan setelah itu dia menuliskan sebuah kalimat yang mendeskripsikan tempat tersebut. Liam langsung melanjutkan perjalanannya saat dia telah selesai menggambar, dan tiba - tiba saja dia salah belok hingga membuatnya tersesat di gang kecil. Saat - saat seperti ini yang dibutuhkan hanyalah ketenangan, karena jika kita panik justru malah akan semakin tersesat. Untung saja tidak lama kemudian dia bertemu dengan seseorang pria paruh baya yang dapat membantunya menunjukkan jalan untuk pulang. Liam yang bahasa korea nya sangat minim, dia berusaha keras untuk memahami ucapan pria tersebut. Setelah itu dia bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat dan dia langsung menertawakan dirinya sendiri karena sering tersesat saat sedang bersepeda di Korea Selatan.


Beberapa jam kemudian Jane yang baru saja pulang dari rumah orang tuanya, dia kemudian menghampiri Liam yang sedang membersihkan rumah.


"Hubby, aku pulang."


"Hei babe habis dari mana?" tanya Liam sembari membersihkan meja.


"Dari rumah eomma."


"Oh begitu, duduklah aku akan mengambilkanmu segelas air."


Jane lalu memengang kedua tangan Liam.


"Hubby sudah jangan seperti itu, aku bisa kok melakukannya sendiri."


"Tidak!! aku tidak apa - apa kok Jane, lagipula aku justru merasa senang bisa melakukan pekerjaan rumah."


"Kamu itu suamiku, masa aku memperlakukanmu seolah - olah kamu ini pembantuku."


"Ya tidak apa - apa, aku kan dari dulu hanya seperti anjing peliharaan keluarga Robinson."


"Siapa yang berani berkata seperti itu kepada suamiku?"


"Orang - orang yang selalu datang di acara pertemuan para pengusaha, sejak saat itu aku memilih untuk tidak menghadiri acara tersebut. Mmm kamu pasti haus kan? aku ambilkan air dulu."


Liam langsung melenggang ke dapur mengambilkan segelas air untuk Jane, sedangkan Jane hanya duduk termenung di ruang tengah.


"Ini minumannya," ucap Liam saat meletakkan segelas air di atas meja.


"Besok, kita pulang saja ke Indonesia!!"


"Eh kenapa begitu?"


"Aku tidak ingin kamu bersikap seperti ini terus menerus, kalau kita di indo kamu tidak akan melakukan semua pekerjaan ini karena sudah ada bibi."


"Tenang Jane," ucap Liam saat memberikan segelas air kepada Jane.


*Prang* Jane membuang gelas tersebut dan setelah itu dia pergi ke kamarnya. Liam lalu memunguti semua serpihan kaca tersebut, dan tidak lama kemudian Pak Kang berlari masuk ke dalam rumah karena takut jika ada sesuatu hal terjadi.


"Ada apa tuan?" tanya Pak Kang merasa khawatir.


"Tidak ada apa - apa Pak Kang, aku hanya tidak sengaja menyenggolnya dan jatuh."

__ADS_1


"Mari saya bantu."


Pak Kang langsung berjongkok dan membantu Liam membersihkan serpihan kaca tersebut.


"Terima kasih Pak Kang."


"Sama - sama tuan, kalau begitu saya permisi."


"Iya."


Setelah itu Liam pergi bersantai di rooftop rumah Jane sembari menenangkan fikirannya. Andaikan saja istrinya itu tidak sedang mengandung, pasti dia sudah memarahinya habis - habisan namun kali ini dia hanya bisa bersabar menghadapi tingkah istrinya itu. 2 bulan telah berlalu dan Liam sudah kembali ke Indonesia bersama dengan Jane. Liam sekarang sedang berada di cafe tempatnya biasa berkumpul bersama teman - temannya. Kali ini Liam sedang berbincang dengan teman - temannya sembari bermain game.


"Eh lihat ada wanita cantik," ucap Dio berbisik.


"Mana?" tanya Liam dengan sangat antusias.


"Itu disana," ucap Dio sembari menunjuk ke suatu arah.


"Tobat Li, istrimu sedang mengandung anakmu astaga," ucap Chicko sembari menatap layar handphone miliknya.


Liam langsung melihat ke arah yang di tunjuk oleh Dio.


"Yeee itu mah istriku, kenapa dia kemari?"


"Mungkin menyuruhmu untuk pulang hahaha," jawab Ricko.


Ricko membalas ucapan Liam.


"Gita tidak pernah seperti itu asalkan aku tidak pulang kemalaman."


"Wuihh enak juga."


"Kalian berdua enak sudah punya istri kalau tidur tidak perlu memakai guling lagi, coba kita berdua."


"Lah bukannya kamu juga sudah punya istri?" tanya Liam.


"Hahaha bukankah istrinya Dio itu guling yang bergambar karakter anime?" ucap Chicko mengejek.


"Nah itu yang baru saja ingin aku katakan."


Mereka bertiga langsung menertawakan Dio.


"Punya istri sama saja sih tidak bisa memeluknya saat tidur, karena dia sedang hamil dan perutnya sudah lumayan besar sehingga tidak ingin dipeluk."


"Benar yang dikatakan oleh Ricko, Jane juga sama seperti itu."


"Hai semuanya," ucap Jane menyapa mereka berempat.

__ADS_1


"Hai Jane," jawabnya secara serempak.


"Tuh Li dijemput oleh bumil kesayanganmu hehe," ucap Dio menggoda Liam.


"Aku kemari bukan untuk menjemput Liam, melainkan aku ingin bertemu dengan Gita di cafe ini."


"Oh, aku kira begitu."


"Ayo Jane," ucap Gita saat menghampiri Jane.


"Eh sudah sampai? ayo."


"Sebentar, aku ingin mencubit hidung Ricko terlebih dahulu."


Jane tertawa.


"Ya sudah."


Gita langsung mendekati Ricko, akan tetapi Ricko malah menghindar.


"Ihh Ric, kemari!!"


"Tidak mau sakit yang," ucap Ricko sembari memegangi hidungnya.


"Baby nya ingin aku mencubit hidungmu."


"Alasan saja."


Chicko lalu menyela pembicaraan mereka berdua.


"Awas lho kalau tidak dituruti nanti anakmu akan ngeces (selalu mengeluarkan air liur).


"Nah benar yang dikatakan oleh Chicko, kamu ingin anak kita nanti menjadi seperti itu?"


"Ya sudah, cubitlah hidungku sesuka hatimu!"


Dengan cepat Gita mencubit hidung Ricko hingga dia berteriak kesakitan.


"Nah sudah, ayo Jane kita pergi!"


"Oh okay Git."


Jane mencium pipi Liam.


"Aku pergi dulu hubby, bye."


"Okay."

__ADS_1


__ADS_2