
Jane merasa geram kepada Liam karena dia telah menyia - nyiakan kesempatan untuk memohon kepada bintang jatuh. Jane lalu menuangkan kembali wine di gelasnya serta di gelas Liam, dan mereka berdua lalu menengguknya secara bersamaan sembari melihat pemandangan malam hari di kota tersebut. Ini pertama kalinya mereka berdua meminum wine bersama bahkan sampai habis satu botol wine. Malam semakin larut dan mereka terus asyik berbincang sembari meminum wine di lounge itu. Walaupun pengunjung silih berganti namun mereka berdua tetap betah berada di sana menghabiskan wine yang mereka beli. Bahkan mereka berdua sampai tidak terasa hampir habis dua botol wine, dan sekitar jam 1 malam mereka berdua pulang ke hotel dengan keadaan mabuk. Mereka berdua saling menopang tubuh mereka masing - masing agar tidak terjatuh saat berjalan menuju ke kamarnya, dan untung saja ada seorang karyawan hotel yang membantu mereka berdua untuk menemukan mereka.
Karyawan itu mengantar sampai ke dalam kamar mereka dan setelah itu dia menutup pintunya sebelum meninggalkan kamar tersebut. Tidak lupa karyawan tersebut juga memasang tanda DND di depan pintu kamar mereka agar tidak ada layanan kamar ataupun orang lain yang mengganggu mereka berdua. Liam kemudian mendorong tubuh Jane ke atas ranjang, lalu dia menciumi pipi serta bibir Jane karena merasa gemas saat Jane dalam keadaan mabuk apalagi saat Jane meracau tidak jelas selama perjalanan pulang. Dipagi harinya saat terbangun dari tidurnya Jane merasa terkejut karena dia tidak memakai apapun dan hanya terbungkus oleh selimut saja. Dia lalu membuka selimut Liam dan menemukan hal yang sama bahwa Liam juga tidur dengan keadaan tanpa mengenakan apapun, dan Jane langsung menendang tubuh Liam sampai terjatuh dari atas ranjang namun anehnya Liam justru masih tertidur lelap. Jane lalu mengingat - ingat apa yang terjadi semalam namun dia hanya ingat bahwa mereka berdua pergi minum wine di sebuah lounge, dan setelah itu dia tidak ingat apapun.
Jane lalu melihat ke bawah ranjangnya "kenapa dia tidak terbangun walaupun jatuh dari atas ranjang? heyy hubby, bangun!!"
"Nnggg."
Jane menepuk - nepuk pantat Liam "bangun hubby!!!"
Liam lalu membuka matanya dan berdiri "ada apa Jane?"
"Pagi - pagi aku malah sudah disuguhi dengan pemandangan naga terbang," ucap Jane sembari tertawa.
"Maksudnya?"
"Itu," ucap Jane sembari menunjuk ke arah bawah.
Liam lalu melihat ke arah yanh ditunjuk oleh Jane, dan dia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya "ja-jangan tertawa seperti itu, dasar tidak tau malu."
Jane tertawa "siapa yang tidak tau malu heum?" tanya Jane menarik selimut Liam.
"Jangan ditarik!!"
"Kalau kamu menariknya terus, aku juga tidak dapat selimut itu yang otomatis membuat tubuhku juga kelihatan."
"Ya sudah ambillah," ucap Liam melempar selimut itu ke tubuh Jane.
Jane lalu merentangkan tangannya "kemari hubby sayang."
"Tidak mau, nanti kamu akan berbuat yang aneh - aneh lagi kepadaku."
"Bukannya justru malah kebalikannya heum?" tanya Jane sembari menaik turunkan alisnya.
"Ti-tidak, aku bukan pria yang seperti itu."
Jane lalu menarik tangan Liam "haiss kemarilah hubby."
Tarikan Jane membuat Liam terjatuh tepat di samping Jane "aduhh, sakit Jane."
"Sakit? sini - sini."
Liam lalu naik ke pangkuan Jane dan memeluknya "aku lelah."
"Aigoo, tubuhmu berat sekali."
"Memangnya tadi malam kita melakukan apa selain minum wine?"
"Tidak tau, aku juga lupa hubby."
__ADS_1
"Oh. Aku tidur lagi ya?"
"Iya hubby," ucap Jane sembari mengusap - usap rambut Liam dengan lembut, dan saat melakukan hal tersebut Jane merasa ada yang mengganjal di kepala belakang Liam.
"Sepertinya ada yang aneh dengan kepalamu bagian belakang."
"Oh itu hanya bekas luka saja kok."
"Sepertinya bukan bekas luka biasa, kok kamu bisa sampai seperti ini bagaimana ceritanya?" tanya Jane penasaran.
"Mmmm kamu ingat ceritaku yang waktu itu aku pernah dipukuli oleh orang yang tidak dikenal bukan?"
"Iya aku mengingatnya, eh jangan bilang jika ini gara - gara kejadian itu?"
Liam mengangguk "benar Jane, ini karena kejadian itu."
Jane langsung memeluknya serta mencium pipinya "maaf ya aku sudah bertanya tentang hal yang tidak ingin kamu ingat - ingat lagi."
"Tidak masalah sayang, lagipula kan sekarang aku sudah ada kamu sebagai penangkal mimpi burukku."
"Memangnya aku ini dukun?"
Liam tertawa "iya. Hoamm aku mengantuk."
"Ya sudah, tidur lagi."
"Kamu keberatan tidak?"
"Hmm sudah kuduga."
Jane lalu menarik selimut tersebut sampai menutuoi tubuhnya dan tubuh suaminya itu dan Liam kembali tertidur, sedangkan Jane malah menonton televisi sembari mengusap - usap rambut Liam. Bahkan sesekali Jane juga menciumi rambut serta pipi Liam karena Jane merasa tidak tahan jika tidak mengganggu Liam sedetik saja. Jane merasa senang saat sudah tidak ada batasan lagi antara dirinya dengan Liam hingga bisa sampai seperti ini. Walaupun agak berat menopang tubuh Liam yang kekar namun Jane merasa tidak keberatan sama sekali.
Disisi lain, Chicko yang sedang berada di sebuah cafe tiba - tiba saja bertemu dengan Rosie yang juga berada di cafe tersebut untuk mengerjakan tugas. Chicko kemudian berniat untuk menghampiri Rosie setelah dia memesan camilan serta minuman di cafe tersebut. Chicko langsung menghampiri Rosie dan mengejutkannya.
"Baa," ucap Chicko sembari menepuk bahunya.
"Ihh kamu membuatku terkejut saja."
Chicko tertawa "hahaha sorry. Eh btw (by the way) kenapa kamu sendirian di cafe?"
"Aku sedang mencari suasana baru untuk mengerjakan tugas, itu saja."
"Oh begitu, aku kira kamu sedang ada janji temu dengan kekasihmu."
Rosie tertawa "kekasih? aku belum mempunyai kekasih."
"Kenapa begitu? padahal kamu kan cantik."
"Aku diminta Liam untuk fokus kuliah."
__ADS_1
"Oh, sepertinya dulu kamu dekat dengan Jindan bukan?"
"Iya itu dulu, sekarang tidak lagi yah tau sendirilah Liam bagaimana orangnya."
Chicko tertawa "iya, benar juga. Mmm mau temani?"
"Memangnya kamu tidak sibuk?"
"Haha aku bukan orang yang sibuk, apalagi jika diminta untuk menemanimu."
"Oh begitu rupanya, tapi aku hanya tidak ingin membuat kekasihmu cemburu karena kamu menemaniku."
"Aku tidak mempunyai kekasih, Rosie."
"Lalu bagaimana dengan Diah?"
"Dia hanya teman dekatku karena kita sering satu kelompok, itu saja."
"Oh."
"Jadi bagaimana?"
"Silahkan saja," ucap Rosie tersenyum.
Tiba - tiba waiters datang membawa pesanan Chicko "Silahkan, selamat menikmati."
"Terima kasih."
"Oh iya kak bisa sekalian minta tambah cheese cake tidak?" tanya Rosie.
"Bisa kak, ada lagi tambahannya?"
"Tidak kak, oh ya untuk pembayarannya langsung atau bagaimana?"
"Nanti saja tidak apa - apa kak, saat saya mengantarkan pesanannya."
"Oh baik, terima kasih kak."
"Sama - sama kak." Waiters itu langsung kembali ke tempatnya.
"Mmm Rosie."
"Kenapa Chic?" tanya Rosie menoleh ke arah Chicko.
"Tidak apa - apa, tidak jadi hehe."
"Aneh sekali."
"Mmm kamu mau tidak jalan denganku setelah ini?"
__ADS_1
Rosie berfikir sejenak "boleh deh, setelah aku selesai ya?"
"Iya."