Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #84


__ADS_3


Jane lalu berbaring di ranjang Liam karena dia sudah merasa sangat mengantuk sekali, sedangkan Liam meletakkan kotak hadiah dari Jane di atas mejanya dan menyelimuti tubuh Jane lalu kembali tidur. Di pagi harinya Jane terbangun dengan perasaan yang bahagia entah apa penyebab sebenarnya mengapa dia sangat bahagia sekali dari biasanya. Jane lalu meregangkan semua anggota tubuhnya sembari mengucek kedua matanya. Jane kemudian mengambil handphone miliknya dan melihat semua foto yang dia ambil tadi malam menggunakan kamera handphonenya. Jane bersandar di headboard ranjang Liam sembari mengamati semua foto yang dia ambil saat bersama Liam tadi malam. Jane melihat jam digital yang berada di atas meja dan terlihat masih pukul 7 pagi. Karena kebetulan hari ini hari Minggu, jadi Jane bisa bersantai dan menonton acara televisi kesukaannya. Mata Jane beralih memandang Liam yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Liam mengalami perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, oleh sebab itu dia bisa tertidur dengan sangat pulas.


Jane terus memandangi wajah Liam yang sedang tertidur sangat pulas dan awalnya dia hanya bisa memandangi wajahnya melalui layar handphonenya, namun sekarang dia bisa memandanginya secara langsung bahkan mengusap rambutnya. Menurut Jane terkadang tingkahnya sangat menyebalkan sekali, tetapi saat melihat dia tertidur terlihat dari wajahnya yang terasa sangat damai dan tentram sekali. Sepertinya Jane mulai menyukai memandang wajah Liam saat sedang tertidur pulas hingga ingin memandanginya secara terus menerus. Jane terus mengusap rambut Liam dengan lembut sembari menonton acara kesukaannya. Liam yang sangat mengenali aroma wangi parfume Jane lalu memilih untuk tetap tertidur karena menurutnya entah mengapa terasa sangat damai sekali jika Jane berada di dekatnya. Saat Jane ingin beranjak dari ranjangnya, tiba - tiba tangan Liam menahan Jane untuk pergi dan dia ingin jika Jane tetap di tempatnya untuk beberapa saat sebelum dia benar - benar ingin bangun.


Jane kemudian menuruti Liam dan tetap diam mengusap rambut Liam sembari menonton acara televisi kesukaannya. Saat menjelang siang Jane kemudian beranjak dari ranjang Liam dan membereskan semua barang di atas meja Liam termasuk kue yang tadi malam. Jane lalu membawa kue tersebut ke dapur dan meletakannya kembali ke dalam kulkas jika Liam ingin memakannya kembali, dan setelah itu Jane memasak untuk makan siang. Jane lalu pergi ke kamarnya untuk mandi begitu dia selesai memasak. Liam yang sudah bangun dari tidurnya dan sudah mandi lalu pergi ke dapur karena perutnya merasa lapar, terlihat Jane yang sedang menyiapkan makan siang di meja makan lalu Liam menghampiri Jane. Liam lalu memeluknya dari belakang dengan mode manjanya yang sedang on dan mencium aroma wangi parfume yang berada di tubuh Jane. Jane tersenyum lalu menoleh ke arah Liam dan mengusap pipinya.


"Jane aku lapar," ucap Liam yang masih memeluk Jane dari belakang.


"Kalau begitu duduklah dan makan karena aku sudah memasak untuk makan siang kita."


Liam lalu melepaskan pelukannya "baiklah, wah sepertinya enak sekali dan aku sangat rindu dengan masakan rumah."


Jane kemudian menyajikan makanan di atas piring Liam dan bertanya "memangnya kamu selalu makan di luar?"


"Tentu saja, itu membuatku merasa bosan."


Jane lalu duduk di kursinya "kalau begitu makanlah yang banyak!"


"Aku justru berniat untuk menghabiskan semuanya." Liam mulai menyantap makanannya.


"Bagaimana masakanku?" tanya Jane sembari menyantap makanannya juga.


Liam tersenyum lebar "masakanmu selalu menjadi yang terbaik, aku sangat merindukannya saat berada di New York."


"Terima kasih."


"Aku sangat menyukai masakan yang di buat dengan tulus dan kasih sayang daripada masakan yang dibuat karena sebuah gaji."


"Aku akan memasak lagi untukmu jika kamu menginginkannya."


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? padahal aku sangat menginginkan memakan masakanmu setiap hari, jadilah istriku agar aku bisa memakan masakanmu setiap saat."


"Jadi kamu ingin menikahiku hanya karena kamu ingin memakan masakanku heum?"

__ADS_1


"Itu salah satu alasanku, karena aku menginginkan istri yang pandai memasak masakan yang enak setiap hari."


"Kan sekarang bisa pesan secara online, jadi kalaupun tidak bisa masak kita bisa memakan masakan yang enak tanpa pergi kemanapun dan langsung di antar di rumah."


"Kalau kamu yang membuka restaurant dan memasaknya sendiri aku pasti akan membelinya setiap hari."


Jane tertawa "tidak mungkin aku membuka sebuah restaurant karena terkadang jadwalku sangat padat untuk melakukan pemotretan dan syuting iklan."


"Kalau begitu jadilah istriku saja agar tidak perlu repot - repot membuka restaurant."


"Akan aku pikir - pikir lagi."


"Walaupun aku mempunyai banyak uang, tetapi tipe wanita yang ingin aku jadikan seorang istri sangatlah mudah yaitu seorang wanita yang sangat pandai memasak makanan enak setiap hari dengan bumbu kasih sayang."


"Hanya itu saja?"


"Yang imut, cantik, dan seksi menyatu menjadi satu sekaligus seperti dirimu hehe."


"Itu namanya tidak mudah tetapi sangat sulit."


"Agar tidak sulit mencari kesana kemari jadi aku berusaha untuk terus memintamu menjadi istriku."


"Kalau begitu aku akan menunggumu sampai kamu mau menikah denganmu."


"Aku tidak ingin menikah denganmu."


"Kenapa begitu, apa yang aku miliki sekarang kurang cukup untukmu?"


"Tidak bukan begitu, hanya saja kamu tidak termasuk ke dalam tipe pria idamanku."


Liam lalu meraih kedua tangan Jane dan menggenggamnya dengan erat "kumohon Jane, jadilah istriku!"


"Maaf tidak bisa Liam."


Liam kemudian berdiri dan berlutut kepada Jane hingga membuat Jane merasa terkejut karena sikap Liam tersebut. Liam terus memohon kepada Jane untuk menjadi istrinya namun Jane menolaknya. Jane berfikir jika dia masih belum siap untuk menikah dan menjadi seorang istri dalam waktu dekat apalagi dia juga masih berfokus membangun karier modelnya yang lebih tinggi lagi walaupun sekarang dia juga sudah terbilang model yang sangat terkenal. Menurutnya tanggung jawab sebagai seorang istri itu sangat sulit apalagi mempunyai suami nakal yang banyak tingkah dan keras kepala seperti Liam. Jane hanya menginginkan satu pernikahan saja sekali seumur hidupnya dan itu harus membutuhkan sebuah pikiran yang benar - benar sangat matang untuk menentukan calon suami di masa depan.

__ADS_1


"Bangunlah Li! aku tidak mau kamu seperti ini."


"Tapi Jane"


"Aku bilang berdiri sekarang juga!" teriak Jane kepada Liam.


"Tidak mau."


Jane lalu mengusap lembut rambut Liam "Liam anak baik kan?"


Liam mengangguk "iya."


"Kalau begitu turuti kata - kata Jane sekarang!"


Liam lalu berdiri "sudah."


"Kemarilah!"


"Ada apa?" tanya Liam sembari mendekati Jane.


Jane kemudian tersenyum dan memeluk Liam "aku begini bukan karena langsung menolakmu, tetapi aku masih membutuhkan waktu untuk berfikir ini semua Li."


"Sampai kapan kamu akan berfikir mengenai ini?"


"Aku tidak tau. Ya sudah, aku akan membereskan dan mencuci semua peralatan ini."


"Aku mau membantu."


"Tidak perlu Li."


"Liam anak yang baik jadi Liam ingin membantu Jane."


"Ya sudah kalau itu maumu, kamu ini terkadang manja seperti seorang anak kecil."


"Aku kan anakmu."

__ADS_1


Jane tertawa "baiklah, tetapi syaratnya Liam harus menjadi anak yang baik dan menuruti semua kata - kata aku."


"Iya."


__ADS_2