
Saat malam hari seperti biasa, Liam sedang bersantai di balcony kamarnya sembari membaca buku. Liam sangat tenang dan fokus saat sedang membaca, dan bahkan nyamuk pun menjadi enggan untuk mendekati Liam karena takut mendengar auman singa. Kali ini Liam sedang membaca buku yang berjudul misteri ruang bawah tanah. Itu menceritakan tentang sebuah ruang bawah tanah yang memiliki sebuah misteri serta cerita kelam yang dialami oleh pemilik sebelumnya, sehingga membuat penghuni baru rumah tersebut berusaha untuk memecahkan teka - teki agar dirinya tidak diganggu oleh penunggu rumah tersebut.
Saat dia sedang serius mengikuti alur cerita yang sangat menegangkan, tiba - tiba saja Jane mengejutkan Liam dari belakang hingha membuat bukunya terlempar jatuh sampai ke halaman belakang rumah. Untung saja bukunya tidak tercebur ke kolam renang, karena di bawah kamar Liam adalah kolam renang jadi Liam bisa dengan leluasa mengintip Jane saat berenang hehe. Liam kemudian bergegas turun ke bawah dan tidak menghiraukan kedatangan Jane hingga membuatnya merasa kesal.
Sesampainya di halaman belakang, Liam langsung mencari keberadaan bukunya itu. Setelah menemukannya dia lalu duduk di tepi kolam renang untuk melanjutkan membaca cerita tersebut. Liam menceburkan kakinya ke dalam kolam renang serta sesekali menganyun - ayunkan kakinya saat dia merasa tegang. Jane berdecak kesal melihat suaminya yang justru asyik di tepi kolam renang sembari membaca buku, alhasil dia lalu turun kebawah dan menghampirinya. Jane duduk di samping Liam dan menyandarkan kepalanya di bahu Liam.
"Hubby kenapa kamu hari ini sangat cuek sekali denganku, apa aku membuat kesalahan yang tidak ku sengaja sehingga membuatmu bersikap seperti ini kepadaku?"
"Tidak sayang, aku sekarang sedang fokus membaca buku jadi maaf ya jika aku terkesan bersikap cuek kepadamu."
"Hmm iya hubby."
Liam mencubit hidung Jane.
"Jangan ngambek, kamu jelek kalau ngambek."
"Hih hubby, sakit!!" teriak Jane.
Liam lalu meletakkan bukunya di atas meja.
"Sini, aku ingin memelukmu!"
Jane semakin mendekat ke arah Liam.
"Peluk, sama cium juga."
"Dih kok ngelunjak?"
"Hhmpp ya sudah."
Liam memeluk Jane dengan sangat erat dan menciuminya seperti seekor burung pelatuk yang mematuk pohon. Apa yang dilakukan oleh Liam itu berhasil membuat Jane tertawa terbahak - bahak karena merasa geli, apalagi tangan Liam yang sudah mulai jahil menjelajahi beberapa bagian sensitif Jane.
"Ihh hubby, jangan mulai nakal deh!!" ucapnya memperingatkan Liam.
"Aku tidak nakal, aku anak baik namun tanganku yang nakal."
"Hih sama saja itu."
"Benarkah?"
"Heem."
"Tumben sekali malam ini tidak hujan, biasanya jam segini sudah hujan."
"Benar hubby, lagipula langitnya juga cerah dan banyak bintang - bintang."
"Iya, sangat indah saat mereka memenuhi dan menghiasi langit malam."
"Sama seperti dirimu yang selalu berhasil membuatku tertawa dengan leluconmu disaat hariku sedang buruk."
"Tidak juga," ucap Liam menyangkalnya.
__ADS_1
"Meskipun kamu menyangkalnya, tapi bagiku kamu memang seperti itu kok."
"Tidak Jane, aku hanya selalu membuatmu menangis saja. Aku heran mengapa kamu masih selalu ingin bersamaku padahal aku banyak kurangnya, apa yang kamu harapkan dari pria sepertiku?"
"Kenapa kamu selalu berfikir seperti itu? apa kamu masih merasa minder denganku heum?"
"Tidak juga, aku ini sebenarnya memang tidak pantas untuk siapapun."
"Apa aku pensiun saja menjadi model, sehingga kamu akan berhenti untuk berfikir seperti ini heum?"
"Ja-jangan, nanti aku dimarahi oleh banyak orang jika kamu pensiun."
"Tidak akan ada yang memarahimu hubby."
"Pokoknya jangan! huftt jangan terlalu bergantung kepadaku," ucapnya lesu.
"Memangnya kenapa begitu? aku ini istrimu, tentu saja aku selalu bergantung kepadamu karena kamu suamiku."
"Kalau misalnya tiba - tiba aku pergi lebih cepat darimu, aku takut kamu tidak bisa berdiri sendirian dan maka dari itu aku ingin kamu tidak selalu bergantung denganku."
"Hubby, kenapa kamu berkata seperti itu? kan sudah kubilang berapa kali kalau jangan pernah berkata seperti itu!!"
Liam menghela nafasnya.
"Hmm anyway, kamu jelek kalau sedang sedih seperti itu dan aku tidak suka."
Seketika Jane langsung menarik hidung mancung Liam.
"Ihh kamu menyebalkan sekali, pasti selalu saja seperti itu. Kamu yang membuatku sedih, eh kamu juga yang membuatku tertawa."
"Iya deh iya, ya sudah mari kita tidur."
"Baiklah."
"Gendong aku hubby!"
Liam lalu menggendong Jane ke kamarnya, dan saat di perjalanan menuju kamar Jane membaca buku Liam karena dia merasa sangat penasaran. Setelah itu diletakannya buku novel di atas meja dan tidur. Keesokan harinya Jane berpindah posisi menjadi tidur di atas Liam. Bukannya merasa berat atau bagaimana, justru Liam malah memeluk Jane dengan sangat erat.
"Morning kittenku," ucap Liam mengusap rambut Jane.
"Hubby, kenapa rasanya dingin sekali?" tanya Jane dengan matanya yang masih terpejam.
Alih - alih mengambil remote AC untuk mematikannya, justru Liam malah memulai aksinya. Liam mencium bibir Jane sembari menepuk - nepuk pantatnya, dan setelah itu dia melepas piyama Jane secara perlahan. Jane yang menikmati ciuman tersebut lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Liam dan mengikuti setiap alur permainan Liam. Tangannya menangkup salah satu bukit sembari terus menciumi bibirnya. Jari jemarinya sangat lihai memainkannya hingga Jane dibuat terbang melayang sampai ke langit ke 7.
"Hubby!!"
"Sstt, sebentar lagi."
1 setengah jam kemudian Liam lalu melepaskan Jane dan dia mencium kening Jane sebagai akhir dari permainannya.
"Hmm sudah tidur lagi saja," ucap Liam.
__ADS_1
"I-iya hubby."
"Sudah merasa hangat?"
"Sudah."
*Beberapa jam kemudian.*
"Eomma, lama sekali aku tidak kemari jadi maafkan aku."
"Iya eomma bisa memakluminya karena kamu juga sudah mempunyai keluarga sendiri, apalagi mempunyai seorang anak."
"Iya eomma, bagaimana selama ini heum?"
"Ya begitulah eomma."
"Begitu bagaimana heum?" tanyanya sembari mengusap rambut Jane.
"Kadang bahagia, kadang tidak."
"Kenapa begitu?"
"Liam selalu membuatku kesal, aku jadi malas sekali dengannya."
"Oh begitu."
"Namun walaupun begitu Liam tetaplah pria yang baik karena dia selalu membantuku mengurus pekerjaan rumah tanpa diminta."
"Baguslah jika seperti itu, eomma merasa senang."
"Iya eomma."
"Kalau liburanmu kemarin bagaimana?"
"Sangat menyenangkan, aku diajak bermain jetski dan berjalan - jalan di sekitar pantai sembari melihat langit senja di sore hari."
"Bersama baby Ace juga?"
"Tentu dong eomma, Liam tidak ingin pergi tanpa baby Ace namun saat naik jet ski baby Ace dipegang oleh Pak Kang."
"Oh begitu, sangat menyenangkan sekali kelihatannya."
"Iya eomma."
"Eh Liam kemana?"
"Nah itu Liam eomma," ucapnya menunjuk ke pintu utama.
"Hai eomma, bagaimana kabarnya?" tanya Liam sembari menjabat tangan ibu mertuanya.
"Eomma sehat Liam, habis darimana?"
__ADS_1
"Oh tadi Liam baru dari supermarket membeli beberapa bahan makanan karena Liam ingin membuat steak."
"Oh begitu."