
Mereka bertiga melanjutkan berkeliling di sekitar toko tersebut sembari melihat - lihat barang lainnya yang mungkin dibutuhkan oleh mereka berdua untuk calon anaknya. Setelah semuanya selesai, mereka berdua lalu memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah restaurant steak terkenal yang lokasinya tidak terlalu jauh dari toko tersebut. Mereka berdua lalu berbincang mengenai beberapa pakaian yang baru saja dia beli untuk calon anaknya. Liam kemudian berkata kepada Jane jika dia ingin mendesign sendiri kamar yang akan ditempati oleh calon anaknya, termasuk mengecat serta melukis dinding kamar tersebut. Setelah berfikir sejenak Jane langsung menyetujui keinginan Liam tersebut dengan catatan bahwa kegiatan tersebut hanya dilakukan saat senggang saja.
Jane merasa tidak suka jika Liam terlalu memaksakan kehendaknya apalagi melukis dinding butuh ketelatenan serta sangat menguras fikiran. Jane tidak ingin jika nanti Liam merasa kelelahan jika terlalu dipaksakan. Selesai makan malam mereka berdua lalu pulang ke rumahnya, dan saat hendak melewati toko cat Liam meminta Pak Kang untuk berhenti sebentar di toko cat itu karena dia ingin membeli beberapa cat tembok. Pak Kang lalu menepikan mobilnya dan berhenti di depan toko cat itu. Liam memilih - milih beberapa cat yang paling bagus dan terutama bewarna biru langit dan putih untuk awan - awannya. Liam lalu membeli sekitar 2 pill (2 ember besar) cat warna biru langit serta 1 galon cat bewarna putih, karena sepertinya tidak terlalu membutuhkan banyak cat untuk melukis awan - awan kecil. Setelah itu dia mereka berdua pulang ke rumahnya untuk beristirahat karena kegiatannya yang sangat padat pada hari itu.
Hari demi hari, dan minggu demi minggu telah mereka lalui bersama untuk menanti lahirnya buah hati mereka berdua. Setiap sepulang kerja dan saat sedang tidak merasa lelah Liam selalu menyempatkan untuk melanjutkan sebuah projeknya membuat kamar yang nyaman untuk calon anaknya. Dia sangat telaten melukis setiap awan demi awan yang memenuhi sebagian dinding kamar tersebut, sedangkan Jane menyiapkan beberapa peralatan yang masih dirasa kurang. Jane berfikir akan sesayang apa Liam dengan anaknya tersebut saat dia sudah lahir, karena saat masih di dalam kandungannya saja Liam sudah sesayang itu kepada anaknya apalagi sampai rela meluangkan waktu serta tenaganya untuk merenovasi kamar sebelah agar anaknya merasa nyaman. Liam juga membeli beberapa hiasan - hiasan kecil sebagai pemanis di kamar tersebut.
"Ayo istirahat dulu hubby, sudah hampir tiba waktunya makan malam."
"Okay sayang," ucapnya lalu turun dari tangganya.
"Hemm sayangku ini sangat perhatian sekali dengan calon anaknya karena sampai bersusah payah melukis secara manual padahal ada wallpaper dinding."
"Aku maunya yang ada awan - awannya."
"Iya hubby, di toko wallpaper dinding ada yang seperti itu dan tinggal ingin meminta berapa jumlahnya."
"Oh begitu."
"Mmm tetapi dengan melukis secara manual seperti itu mungkin saja feel nya lebih terasa bukan?"
"Iya benar sekali," ucap Liam mengangguk.
"Kamu itu pria yang tulus sekali jika berbuat sesuatu."
"Hahaha tidak juga, tergantung suasana hati saja sih."
"Setelah ini kamu bersih - bersih dulu lalu kita makan malam bersama."
"Okay."
Setelah itu Liam pergi mandi, sedangkan Jane pergi ke dapur untuk menemui bibi yang sedang sibuk memasak.
"Hai bi, masih lama?" tanya Jane.
"Tidak nyonya sebentar lagi sudah jadi," ucap bi Ijah sembari membolak - balikkan spatulanya.
"Masak apa hari ini bi?"
"Hari ini menunya ada ayam goreng kecap nyonya, seperti masakan kesukaan tuan."
Jane banyak sekali bertanya kepada bibi saat bibi sedang sibuk memasak menyiapkan hidangan makan malam, dan terlihat seperti seorang juri di acara lomba masak master chef.
"Mmm baunya harum sekali dan kelihatannya sangat lezat."
"Iya nyonya, dan ini sudah jadi serta tinggal menuangkannya di atas piring."
__ADS_1
"Okay bi."
Bi Ijah lalu menyiapkan segala sesuatu di atas meja makan dengan dibantu oleh Bi Melati. Sesekali bibi juga bertanya - tanya mengenai kehamilan Jane, dan Jane juga meminta saran dari Bi Ijah saat sedang mengandung apalagi usianya kandungannya sudah mulai menginjak 8 bulan. Bi Ijah dengan senang hari memberikan beberapa wejangan kepada Jane mengenai kehamilannya, dan tidak lama kemudian Liam menghampiri Jane.
"Maaf menunggu lama," ucap Liam setelah mencium pipi Jane.
"Tidak apa - apa hubby, mari makan."
"Okay. Bi ayo makan malam."
"Baik tuan."
"Oh iya Jane, besok mungkin aku akan pulang terlambat karena harus membantu temanku."
"Temanmu yang sedang mengerjakan tugas kelulusan?" tanya Jane sembari mengunyah makanannya.
"Iya, tidak apa - apa kan? lagipula hanya sebentar kok."
"Ya sudah deh, tetapi jangan sampai larut malam."
"Kenapa memangnya?"
"Ya tidak apa - apa."
"Kenapa lama sekali mengerjakan tugasnya? seperti tidak pernah selesai tugasnya, atau jangan - jangan tugas kelulusan itu hanya alibi saja?"
"Maksud kamu?" tanya Liam menatap Jane.
"Ah lupakan saja." Jane lalu kembali menyantap hidangan makan malamnya.
"Ini memang tugas kelulusan sayang, mereka memiliki tugas mendesign pakaian jadi membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakannya."
"Oh."
Setelah itu mereka berdua lalu bersantai di rooftop rumah mereka sembari menghirup udara malam. Liam mengusap perut Jane dan menciuminya.
"Tolong jangan salah sangka kepadaku sayang, aku memang membantu mereka untuk mengerjakan tugas itu dan bukannya beralibi untuk berselingkuh."
"Siapa juga yang mengatakan bahwa kamu ini selingkuh berkedok tugas kelulusan," ucap Jane ketus.
"Ya tidak ada namun siapa tahu kamu tadi menduga bahwa aku menyelingkuhimu, aku hanya sedang menduganya saja. Jujur aku tidak berniat untuk melakukan hal seperti itu bahkan terfikirkan hal seperti itu apalagi saat kamu sedang hamil besar mengandung anakku."
"Iya."
"Jangan bete seperti itu dong sayang, aku kan sudah menjelaskan yang sebenarnya terjadi agar kamu tidak salah paham kepadaku."
__ADS_1
"Iya hubby, sudah ah jangan dibahas bikin kesal saja."
"Okay sayang," ucap Liam mencium bibir Jane sekilas.
"Masih lama selesainya?" tanya Jane tiba - tiba.
"Apanya? tugas kelusan milik temanku?"
Jane menggeleng.
"Bukan hubby sayang, tetapi projek kamar anak kita yang sedang kamu kerjakan."
"Sepertinya begitu? apalagi aku ingin melukis sebuah astronout yang besar di dinding atas tempat tidur."
"Oh begitu."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kamu tidak merasa lelah melakukan hal seperti itu apalagi setiap pulang kerja pasti kamu selalu melakukannya?"
"Tentu tidak sayang, aku melakukan hal seperti ini karena aku sangat menyayangi calon anakku."
"Kalau denganku bagaimana, sayang tidak?"
Liam langsung mencium pipi Jane.
"Tentu saja aku sangat menyayangimu dong, masa tidak."
"Benarkah?"
"Iya Jane sayang. Ayo kita ke kamar untuk beristirahat."
"Okay hubby."
Mereka berdua lalu berjalan bersama menuju ke kamarnya dan langsung bersiap - siap untuk tidur.
"Tidur ya nak, eomma sudah lelah setelah seharian mengajakmu bermain serta menyanyikanmu beberapa lagu."
"Iya tuh dengerin kata eomma."
"Mmm hubby, kamu jadi akan menamai anak kita dengan nama Ace?"
"Tentu saja, sesuai kesepakatan kita di awal."
"Okay."
__ADS_1