Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #422


__ADS_3

Liam langsung cemberut dan kembali memakan mie tersebut namun tiba - tiba Yunna mencubit pipi Liam yang sudah mulai chubby seperti milik Jane karena merasa gemas. Meskipun begitu Liam masih cemberut dan hanya diam saja, dan karena itu Yunna langsung memulai percakapan kembali agar Liam tidak terus menerus marah seperti itu. Yunna sangat paham sekali bahwa Liam itu sifatnya serta kelakuannya terkadang masih seperti anak kecil, jadi dia selalu mengalah setiap hal seperti itu agar tidak mengganggu pekerjaannya.


Setelah itu mereka berdua lalu kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing - masing. 1 jam kemudian tiba - tiba saja ada seorang karyawan yang menghampiri Yunna untuk bertanya mengenai berbagai hal karena dia adalah anak baru di perusahaan itu. Liam yang sedang mengamati mereka berdua langsung seketika merasa panas dan cemburu. Karyawan baru itu juga terlihat seperti sedang mendekati Yunna, dan setelah itu Liam langsung menutup semua jendela ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Tidak lama kemudian Liam kembali membuka jendelanya karena merasa sesak dan otaknya tidak bisa bekerja secara maksimal. Disisi lain setelah Yunna menyelesaikan pembicaraanya kepada karyawan baru itu, dia kembali duduk dan menatap layar laptopnya. Yunna lalu menatap Liam yang sedang menatapnya sembari melamun. Yunna langsung masuk ke dalam ruangan Liam karena dia mengira bahwa dia sedang membutuhkan bantuannya.


"Ada apa pak?"


"Tidak ada apa - apa, memangnya kenapa?"


"Aku fikir kamu memanggilku," ucap Yunna bingung.


"Tidak, aku tidak memanggilmu."


"Oh aku kira begitu, soalnya tadi kamu menatapku terus."


"Mungkin saja aku sedang melamun, masa tidak boleh melamun."


"Bu-bukan begitu, maksudku tadi...."


"Sudahlah, lebih baik kembali saja ke ruanganmu!"


"Sebenarnya kamu ini kenapa?" masih marah kepadaku karena tadi?" tanyanya berusaha meluruskan.


"Tidak, aku tidak marah karena tadi."


"Benarkah? tapi sepertinya kamu sedang marah kepadaku."


"Tidak, aku tidak marah kepadamu."


"Lalu kenapa kamu bersikap seperti ini kepadaku heum?"


"Aku biasa saja, mungkin kamunya yang sedang sensitif."


"Apa karena kamu cemburu jika aku dekat dengan karyawan baru tadi?" tanyanya berusaha menebak.


Liam langsung membalikkan kursinya membelakangi Yunna.


"Hmm sudah kuduga," ucap Yunna tersenyum.


"Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka kamu dekat - dekat dengannya!"


"Kenapa begitu? aku tidak terikat dengan siapapun, jadi aku bebas bergaul dengan siapa saja."


"Ya sudah terserah."


"Jangan marah seperti ini kebiasaan, cemburu tidak jelas."


"Hmmm baiklah."


Yunna langsung meninggalkan Liam dan pergi keluar untuk pergi ke toilet. Liam lalu memanggil bagian HRD untuk datang menemuinya, dan setelah mendengar hal tersebut karyawan bagian HRD langsung menemui Liam di ruangannya. Yunna merasa heran mengapa tiba - tiba Liam memanggil bagian HRD ke ruangannya, padahal Liam jarang sekali bersikap seperti itu.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin kamu menyingkirkan karyawan baru!" perintah Liam.


"Ta-tapi kenapa pak?"

__ADS_1


Liam langsung menggebrak meja.


"Sudah jangan membantah atau kamu akan ku pecat juga!!" teriak Liam.


"Baik pak maaf."


"Sudah sana lakukan perintahku!"


"Baik pak, saya permisi."


Karyawan tersebut langsung bergegas keluar dari ruangannya untuk melaksanakan perintah atasannya. Yunna yang baru keluar dari toilet secara tidak sengaja mendengarkan perbincangan karyawan lain.


"Benar, sepertinya si karyawan baru itu akan benar - benar dipecat oleh Pak Liam."


"Kenapa begitu?"


"Aku juga tidak tahu, soalnya tadi Pak Liam memanggil HRD untuk menemuinya diruangannya."


"Oh begitu, apa jangan - jangan karena karyawan itu akhir - akhir ini terlihat dekat dengan Yunna?"


"Eh memangnya ada masalah dengan itu?"


"Ada, apa kamu belum mendengar desas - desus yang sudah tersebar di kantor ini jika sebenarnya Yunna itu dekat dengan Pak Liam? ya istilahnya anak kesayanganlah."


"Eh aku belum pernah mendengar hal itu, tapi apa benar seperti itu mereka berdua? bukankah Pak Liam juga sudah menikah dan mempunyai seorang anak dengan model terkenal itu?"


"Benar, tapi bisa saja begitu jika di kantor."


"Mungkin sih, kalau di kantor dengan Yunna dan di rumah dengan Jane begitukan?"


"Apalagi Yunna sekarang tampilannya sangat berbeda dari waktu saat dia masih menjadi karyawan baru."


"Benar, aku juga memikirkan hal yang sama denganmu."


Setelah mendengar perbincangan itu, Yunna langsung pergi meninggalkan mereka berdua dan kembali ke ruangannya. Hati Yunna terasa sangat sakit saat mendengar ucapan mereka yang menuduhnya sebagai wanita simpanan atasannya, padahal dia bisa akrab dengan atasannya karena dia sudah bekerja lumayan lama untuknya. Tanpa tersadar air mata Yunna langsung menetes membasahi pipinya, dan tiba - tiba saja Liam datang memberikan sapu tangannya.


"Are you okay?" tanya Liam merasa khawatir.


"I-iya aku tidak apa - apa."


Liam lalu jongkok di depan Yunna.


"Kenapa menangis heum? apa aku terlalu keras memarahimu ataukah ada hal lain?"


Yunna menggeleng.


"Ti-tidak, bukan itu."


"Lalu kenapa? oh apa jangan - jangan ada yang berbicara tidak - tidak mengenaimu?"


Yunna hanya terdiam saja.


"Haisss dasar b*jingan!! siapa yang membicarakan hal jelek tentangmu?"


"Aku resign saja ya?"


"Jangan!! aku tidak mengizinkamu untul resign, kalau kamu resign nanti aku yang repot mencari penggantimu."

__ADS_1


"Liam, aku tidak mau nanti semua berita itu sampai ke istrimu hingga membuat rumah tangga kalian berdua hancur."


"Jangan, aku bilang jangan ya jangan!!!"


"Kalau begitu, jangan pecat karyawan baru itu agar berita ini tidak semakin menjadi - jadi."


"Baiklah, akan kulakukan hal papun agar kamu tidak jadi resign."


"Terima kasih."


"Iya sama - sama."


Setelah itu Liam memerintah seorang mata - mata kepercayaannya untuk menyelidiki seseorang yang berani menyebarkan berita gosip itu, dan juga untuk memutus berita itu. Beberapa jam kemudian saat sore hari, Liam sedang berkendara menuju ke rumahnya. Liam menyempatkan waktunya sebentar untuk pergi ke mini market karena Jane meminta Liam untuk membelikan sesuatu hal. Setelah dia mendapatkan barang tersebut Liam langsung pergi ke kasir, dan kasir itu hanya tersenyum melihat Liam yang membeli hal seperti itu. Tidak lama kemudian Liam telah sampai di rumahnya.


"Jane, aku pulang!!" teriak Liam.


"Iya sayang, selamat datang."


Liam langsung memberikan tas plastik kepada Jane.


"Ini pesananmu."


"Oh terima kasih hubby."


"Iya sama - sama, sekarang sudah masuk tanggalnya?"


"Sudah, mulai dari tadi pagi sudah."


"Oh begitu, ingin sesuatu hal lainnya?"


"Tidak ada hubby."


"Ya sudah," ucap Liam sembari duduk di sofa.


"Diminum dulu teh hangatnya."


"Iya terima kasih."


Jane lalu memeriksa isi di dalam tas plastik itu.


"Eh kenapa ada camilan juga?"


"Iya itu untukmu, aku sengaja membelikannya sebagai teman menonton film."


"Wah terima kasih banyak hubby."


"Iya sama - sama, mmm aku sedang heran."


"Heran kenapa?"


"Ada gosip yang tersebar di kantor jika Yunna itu wanita simpananku, dasar sialan."


"Eh."


"Sumpah demi Tuhan aku tidak berbuat seperti itu."


"Iya aku percaya kepadamu hubby."

__ADS_1


__ADS_2