
Jane memegang tangan Liam dan meletakannya di atas perutnya saat Liam duduk di sebelahnya. Raut wajah Liam nampak kebingungan mengapa tiba - tiba istrinya itu meletakkan tangan Liam di atas perutnya, lalu Jane berkata jika janin yang berada di kandungannya sedang ingin bermain dengan daddy nya alias Liam sendiri. Liam langsung tersenyum tipis setelah mendengar pernyataan dari Jane karena sebenarnya dia tahu bahwa Jane hanya ingin menghibur perasaannya saja. Liam sudah berulang kali berusaha untuk menunjukkan bahwa dia juga bisa merawat Jane dengan baik, akan tetapi Mr Kim selalu saja bertanya seperti itu kepada Jane seolah - olah Liam tidak bisa merawatnya dengan baik (halah baperan amat lu Li wkwkwkw).
Terlihat dari raut wajah Mr Kim yang terlihat masih kurang sreg dengan Liam karena dia masih saja merasa khawatir jika putrinya itu tidak diperlakukan dengan baik oleh suaminya, apalagi sekarang dia sedang mengandung untuk yang pertama kalinya. Bukannya merasa tidak suka jika suami putrinya itu adalah Liam namun hanya saja Mr Kim masih merasa was - was jika suatu saat Liam berulah kembali. Hal itu berbanding terbalik dengan Mrs Kim yang sudah merasa sangat yakin dengan feelingnya bahwa Liam akan menjadi suami yang baik untuk putrinya serta bisa merawatnya dengan sangat baik, hal itu memang terbukti bahwa sedari tadi Liam terlihat sangat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang mungkin saja Jane butuhkan mulai dari mengganti botol serta mengisinya dengan air yang baru, membeli beberapa macam buah untuk Jane dan juga sesekali dia memijat bahu Jane.
"Liam sudah makan?" tanya Mrs Kim yang berniat untuk memulai pembicaraan dengan Liam karena sedari tadi Liam hanya diam saja.
"Sudah eomma, tadi siang Liam sudah makan siang bersama dengan Jane."
"Oh begitu."
"Tadi Liam yang memasakkan Jane makan siang serta dessert eomma," ucap Jane sembari menyandarkan kepalanya di bahu Liam.
"Oh ya? masak apa?" tanya Mrs Kim penasaran.
"Steak salmon dan juga oreo pudding."
"Wah kelihatannya sangat lezat."
"Memang sangat lezat eomma, bahkan semua masakan Liam sangat lezat sekali."
"Yang dikhawatirkan jika tidak bisa merawatnya dengan baik malah selalu memasakkannya dengan makanan yang sangat lezat dan bergizi, sedangkan yang mengkhawatirkannya malah santai - santai saja dan dulu sering sibuk bekerja. Aku fikir itu sangat aneh, bukankah begitu Jane?" tanya Mrs Kim menyindir suaminya.
Jane tertawa.
"Mmm sepertinya begitu eomma hahaha."
Melihat Jane dan Mrs Kim tertawa, lantas Liam juga ikut tertawa. Menyadari jika istri, putrinya dan menantunya menertawakannya Mr Kim langsung merasa sedikit geram.
"Oh kamu sudah berani menertawakanku, Liam? awas saja kamu, nanti aku akan memecatmu sebagai menantuku."
Seketika Liam langsung berhenti tertawa.
"Maaf," ucap Liam menunduk.
"Appa jangan seperti itu dengan Liam!!" peringat Jane.
"Memangnya kenapa ha?"
"Tidak boleh!! Liam sudah berusaha untuk menjaga serta merawatku, jadi appa ingin Liam melakukan apa lagi ha? salto serta kayang?"
"Tentu saja, cepat kamu salto dan kayang jika bisa!" teriak Mr Kim dengan tegas.
"Appa ini apa - apaan sih aneh saja," ucap Jane menggerutu.
"Cepat Liam!! aku sedang ingin melihatmu salto serta kayang di depanku."
__ADS_1
"Tidak usah dilakukan hubby, appa memang sangat aneh."
"Jangan begitu hon," ucap Mrs Kim.
"Aku sedang mengidam, cepat lakukan!!" perintah Mr Kim.
"Yang sedang mengandung itu aku, kenapa yang mengidam malah appa?"
"Ssstt terserah aku."
"Baik appa," ucap Liam pasrah.
Liam yang sudah merasa pasrah lalu berdiri dan bersiap untuk melakukan salto berkali - kali, lalu setelah itu dia juga melakukan gerakan kayang agar bapak mertuanya itu merasa senang. Begitu selesai melakukan gerakan tersebut Liam kembali duduk di sebelah Jane sembari beristirahat sebentar. 2 bulan kemudian Jane saat ini sedang pergi konsultasi ke dokter bersama Pak Kang karena Liam sedang sangat sibuk menangani beberapa proyek besar sehingga tidak bisa mengantarkan Jane pergi ke dokter. Jane pergi ke dokter sekalian USG karena merasa penasaran dengan jenis kelamin calon anaknya tersebut. Beberapa menit kemudian Jane sudah keluar dari ruangan tersebut dan sedang duduk di bangku depan bersama dengan Pak Kang.
"Perut nona semakin besar seiring bertambahnya usia kehamilan nona, pasti janin yang dikandung oleh nona bertumbuh kembang dengan baik di dalam perut nona."
"Benar Pak Kang," ucap Jane sembari mengusap perutnya.
"Apa jenis kelaminnya?"
"Jenis kelaminnya adalah mmm..."
"Apa nona?" tanya Pak Kang semakin penasaran.
"Rahasia hahaha."
"Besok saja Pak Kang, aku masih belum ingin memberitahukannya kepada semua orang haha."
"Baik nona."
"Huftt sayang sekali Liam tidak bisa menemaniku ke dokter hari ini, pasti dia sangat senang melihat calon anaknya."
"Benar nona sayang sekali tuan tidak bisa ikut."
"Yah mau bagaimana lagi? Liam sedang sangat sibuk hari ini sehingga tidak bisa meninggalkan kantor."
"Iya nona."
Jane lalu menepuk Pak Kang.
"Ayo kita makan siang di restaurant A, sudah lama sekali aku tidak pergi kesana."
"Baik nona, mari saya bantu anda untuk berdiri."
"Tidak perlu Pak Kang, aku bisa sendiri."
__ADS_1
"Oh baik nona."
Belum sempat pergi tiba - tiba saja Pak Kang menepuk Jane.
"Lho bukankah itu teman anda?"
"Siapa Pak?" tanya Jane menatap Pak Kang.
"Istrinya Ricko."
"Maksud Pak Kang, Gita?"
"Benar nona."
"Mana?"
"Masuk ke dalam ruangan persalinan yang di sana," ucap Pak Kang menunjuk sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka.
Jane kemudian melangkahkan kakinya secara perlahan bersama Pak Kang untuk menghampiri Ricko yang terlihat sedang berdiri di dekat pintu ruangan persalinan.
"Hai Ric, Gita sudah mau lahiran ya?" tanya Jane menyapa Ricko.
"Eh Jane, iya Gita hendak lahiran."
"Oh mudah - mudahan semuanya selamat ya, Gita maupun anakmu."
"Iya terima kasih Jane, mmm Liam kemana?"
"Liam sedang sibuk di kantor, jadi hari ini aku check ke dokter kandungan bersama Pak Kang."
"Oh begitu."
Tidak lama kemudian orang tua Ricko dan juga orang tua Gita datang menghampiri Ricko untuk bertanya mengenai keadaan Gita, akan tetapi Ricko belum bisa memberikan penjelasan apapun karena dokter sedang menanganinya di ruang persalinan. Setelah itu orang tua Ricko juga sempat berbincang dengan Jane dan bertanya mengenai kehamilannya juga sebelum dia berpamitan untuk pulang. Jane berniat untuk pulang namun tiba - tiba saja dia ingin menunggu sampai dokter memberitahu mengenai kondisi Gita serta anaknya. Beberapa jam kemudian saat sore hari Liam menghampiri Jane yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Jane, aku pulang."
"Iya hubby, aku sudah membuatkan kamu secangkir teh hangat."
"Terima kasih sayang. Mmm bagaimana kondisi Gita tadi?"
"Gita dan anaknya selamat. Anaknya juga terlahir dengan kondisi yang sehat hubby."
"Hah syukurlah, tadi sebenarnya aku ingin langsung ke rumah sakit saar kamu memberitahuku namun pekerjaanku tidak bisa ditinggal."
"Tidak apa - apa hubby, nanti kita pergi menjenguknya."
__ADS_1
"Okay Jane."