
1 bulan kemudian saat cuaca tidak terlalu cerah dan terkesan mendung pada hari itu, tak menyurutkan niat Liam untuk pergi ke sebuah lokasi pembangunan cafe miliknya. Kali ini dia pergi mengawasi proyek pembangunan cafenya sendiri dan tidak ditemani oleh Yunna maupun oleh Jane. Setelah dipertimbangkan secara matang serta meminta saran dari beberapa pihak, akhirnya Liam menerima suntikan dana dari kedua orang tuanya sekaligus Liam sudah diberikan tanah oleh Mr Robinson untuk membangun cafe miliknya.
Waktu itu Mr Robinson langsung mencari sebuah tanah melalui relasinya yang sesuai dengan permintaan Liam tersebut, setelah Liam mengatakan kriteria tanah yang sedang dia cari. Mr Robinson memberikan itu semua sebagai hadiah karena Liam telah berkontribusi penuh untuk memajukan perusahaannya, serta dapat memberinya seorang cucu. Namun Mr Robinson merahasiakannya dari Lian agar tidak muncul pertikaian lagi dengan Liam, karena mereka dulu sempat bertengkar mengenai hal tersebut apalagi Lian selalu menuntut hak nya sebagai putra sulung keluarga tersebut.
Namun tentu saja Mr Robinson tidak akan pernah melihat hal tersebut dari urutan sebuah anak, akan tetapi dari seberapa besar kontribusi anaknya untuk perusahaan keluarga. Intinya Mr Robinson akan memberikan jatah warisan yang lebih banyak untuk Liam karena dia sudah membantu perusahaan keluarga meskipun dia hanyalah anak kedua, sedangkan Mr Robinson akan memberikan jatah yang lebih sedikit untuk Lian karena dia sempat kabur dari rumah selama beberapa tahun serta melepas nama marganya.
Bahkan nantinya jatah Lian akan lebih sedikit daripada jatah Rosie meskipun Rosie hanyalah anak adopsi. Mungkin beberapa orang menilainya secara tidak adil namun ternyata hal tersebut justru sangatlah adil menurut Mr Robinson. Setelah Liam berada di sana selama 1 jam, Liam kemudian kembali ke kantornya dan duduk di bangku taman dekat kantornya. Liam berbaring di bangku taman sembari menatap langit abu - abu yang disertai rintikan hujan yang mulai menetes di wajahnya.
"Astaga sudah gerimis saja, padahal aku sedang ingin bersantai disini karena memiliki banyak waktu senggang."
Liam kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung perusahaannya namun tiba - tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang menawarkan buah manggis.
"Dibeli mas, manggisnya."
"Berapa harganya bu?" tanya Liam memegang satu plastik manggis yang dibawa oleh wanita itu.
"20 ribu saja mas satu plastiknya."
"Oh begitu."
"Mmm ya sudah 15 ribu saja mas, tidak apa - apa."
"Eh baiklah bu, aku akan membeli semuanya saja."
"Benarkah?" tanya wanita itu merasa terkejut.
"Benar bu, sudah hitung saja semuanya ya."
"Iya mas sebentar."
10 menit kemudian.
"Semuanya jadi 300 ribu mas," ucap wanita itu.
"Oh ini uangnya bu."
"Eh tapi ini kelebihan mas."
"Tidak apa - apa bu, ambil saja."
"Terima kasih ya mas."
"Sama - sama bu."
__ADS_1
Liam lalu kembali berjalan ke kantornya sembari membawa 2 kantong plastik besar yang berisi manggis. Tiba - tiba saja dia bertemu dengan Yunna.
"Eh Liam kemana saja? aku tadi mencarimu."
"Oh aku tadi sedang berada di taman untuk menenangkan diri."
"Oh, eh itu kamu membawa apa?" tanya Yunna penasaran.
"Ini isinya manggis, dan nanti aku akan membagikannya kepada karyawan kantor saja."
"Kenapa kamu membeli banyak sekali manggis?"
"Tadi ada wanita paruh baya yang menawariku manggis, karena aku merasa kasihan akhirnya aku memborongnya saja deh."
Yunna menggelengkan kepalanya.
"Ckckck aku merasa heran sekali denganmu, kenapa kamu selalu saja seperti ini?"
"Ya karena aku suka berbuat seperti ini, karena aku yakin di setiap rezeki yang aku dapatkan pasti terselip rezeki milik orang lain juga."
"Mantap," ucap Yunna saat mengacungi jempol untuk Liam.
"Ya sudah mari kita kembali ke kantor, sepertinya hujan sudah mulai deras."
Liam lalu memberikan satu kantong plastik kepada Yunna, dan sesampainya di kantor Liam langsung membagikannya kepada semua karyawan kantornya. Dia lalu memberikannya juga kepada Yunna serta menyisakan 3 plastik untuk dibawa pulang, karena dia juga akan memberikannya kepada bibi serta pak satpam juga.
"Hujannya sekarang sudah sangat deras ya Liam?" tanya Yunna saat menghampiri Liam yang sedang berdiri menatap keluar.
"Benar, hufttt rasanya aku jadi mengantuk jika seperti ini."
"Ya sudah sana tidur saja, lagipula sudah tidak ada kerjaan lagi kok."
"Malas, aku sedang ingin melihat hujan."
"Oh baiklah."
"Kamu pernah tidak merasakan bahwa semakin lama hidupmu terasa hampa seperti sayur sop tidak ada sayurnya?"
Yunna tertawa.
"Kalau sayur sop tidak ada sayurnya, namanya bukan sayur sop namun namanya kuah kaldu hahaha."
"Haiss aku ini serius ingin bertanya kepadamu, eh tapi kamu malah tertawa."
__ADS_1
"Habisnya kamu aneh sekali."
"Ckckck jadi kamu pernah merasakan hal itu tidak?" tanya Liam kembali.
Yunna berfikir sejenak.
"Pernah namun tidak berlangsung lama karena aku sudah mempunyai kesibukan, sehingga aku sudah tidak pernah sempat untuk memikirkan hal itu lagi."
"Aku sudah mempunyai kesibukan namun masih saja berfikir seperti itu, apakah aku orang yang aneh jika selalu berfikir seperti itu heum?"
"Tidak juga, mungkin semua itu karena sugestimu sendiri. Andai saja kamu tidak pernah berfikir bahwa hidupmu terasa hampa serta menyedihkan, pasti tidak akan pernah terfikirkan hal seperti itu lagi."
"Benarkah?"
Yunna mengangguk.
"Coba saja mulai sekarang kamu mensugesti dirimu sendiri dan mengatakan bahwa hidupmu selalu bahagia bersama orang - orang terkasih, pasti kamu tidak akan pernah merasa seperti itu lagi. Menurutku semua itu terjadi karena sugesti kita sendiri sih, ibaratnya jangan berekspetasi terlalu tinggi terhadap apa yang sedang kamu kerjakan jika kamu tidak ingin merasa sangat kecewa."
Liam langsung merenungkan perkataan Yunna.
"Mungkin benar juga semua ucapanmu itu bahwa semua yang aku alami ini adalah hasil dari sugestiku sendiri."
"Nah mulai sekarang coba kamu mensugesti dirimu sendiri dengan kata - kata yang baik seperti, aku selalu merasa bahagia dengan hidupku serta aku selalu merasa bersyukur terhadap apa yang sudah Tuhan berikan kepadaku."
"Boleh juga, besok aku atau nanti aku akan mencobanya."
"Sip."
"Terima kasih atas semua saran serta nasehat yang kamu berikan untukku," ucap Liam tersenyum.
"Iya sama - sama."
Saat jam pulang kantor, Liam langsung mengendarai mobilnya pulang ke rumah serta mencoba mengatakan hal yang tadi dikatakan oleh Yunna. Begitu sesampainya di rumah, Liam langsung memeluk Jane dengan senyuman dan setelah itu meminta Jane untuk membagikan semua manggis itu kepada yang lainnya.
"Tolong kamu bagikan kepada bibi, Pak Kang, dan juga kepada pak satpam."
"Okay hubby, dan ini teh hangatnya diminum dulu."
"Iya, dan kalau kamu ingin mencicipi manggis itu maka sisakan saja untuk dirimu sendiri."
"Iya hubby, dan kamu juga ingin manggis ini tidak?"
"Tidak."
__ADS_1