
Liam lalu mengambilkan Jane nasi, lauk, dan juga sayur dengan porsi yang banyak agar janin yang berada di dalam kandungan Jane cepat berkembang. Pandangan mata Liam tidak bisa lepas dari segala tingkah laku Jane karena Liam harus benar - benar mengawasi istri kesayangannya itu saat sedang mengandung calon anaknya, dan jika diperhatikan dengan saksama aura keibuan Jane terlihat semakin terlihat. Entah mengapa Liam berfikir jika Jane semakin cantik saat mengenakan dress pendek dan juga bando ataupun sebuah pita di rambutnya. Setelah selesai makan malam Liam langsung membereskan semuanya, sedangkan Jane hanya duduk memperhatikan Liam yang sedang sibuk mencuci piring. Awalnya Jane ikut membantu namun Liam langsung menggendong Jane dan mendudukkannya di kursi, lalu setelah itu Liam menyediakan Jane berbagai macam camilan agar Jane bisa diam.
Setelah semuanya selesai Liam lalu mengajak Jane ke kamar agar Jane bisa beristirahat lebih awal serta tidak begadang, sedangkan Liam haeus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Semenjak dia tertahan di Korea Selatan karena istrinya sedang mengandung, semua pekerjaan Liam dikirim melalui milimail agar Liam bisa mengerjakannya di Korea. Jadi setiap malam Liam selalu mengerjakan pekerjaannya, dan untung saja Yunna selalu membantu sebagian pekerjaan Liam agar Liam tidak terlalu terbebani dengan pekerjaan kantor. Namun beberapa hari lagi Liam sudah masuk cuti untuk hari raya, jadi Liam bisa fokus untuk memanjakan istrinya yang sedang mengandung.
Saat tengah malam Liam sedang mengetik di laptopnya, tiba - tiba saja Jane memanggilnya karena dia sedang ingin memakan mandu atau mungkin semacam dimsum. Liam menghela nafasnya, dan dia bergegas untuk mencarikan makanan yang diinginkan oleh Jane karena Mrs Robinson sudah berpesan kepada Liam untuk selalu menuruti keinginan Jane saat tengah mengandung. Liam keluar dari rumahnya dan langsung menemui Pak Kang agar diantarkan ke restaurant yang menjual mandu. Pak Kang lalu mengantarkan Liam menuju ke sebuah restaurant yang menjual mandu, akan tetapi saat sesampainya di sana ternyata sudah tutup. Pak Kang dan Liam lalu mencari ke berbagai restaurant mandu yang masih buka. Untung saja masih ada sebuah restaurant yang masih buka walaupun jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.
"Akhirnya ketemu juga restaurant yang menjual mandu," ucap Liam yang sudah bisa bernafas lega.
"Benar tuan," jawab Pak Kang yang ikut merasa lega.
Liam mulai memesan seporsi mandu dengan berbicara menggunakan bahasa inggris, akan tetapi penjualnya tidak bisa berbahasa inggris. Liam lalu meminta tolong kepada Pak Kang untuk memesankannya seporsi mandu dengan menggunakan bahasa korea.
"Maaf ya pak sudah merepotkan."
"Tidak juga tuan, saya justru merasa senang bisa membantu anda."
"Terima kasih banyak Pak Kang."
"Sama - sama tuan, ini mandunya dan mari kita pulang."
"Okay Pak Kang."
Liam langsung mengunci pintu utama dan berlari ke kamarnya ketika dia sampai dirumah.
*Hosh hosh hosh.*
"Akhirnya aku mendapatkannya Jane."
"Yeayy kamu mendapatkannya dimana hubby?" tanya Jane dengan antusias.
"Disana, jauh dari sini."
"Kamu naik sepeda?"
Liam menggeleng.
"Tidak, aku diantar oleh Pak Kang karena aku tidak mengetahui tempatnya."
__ADS_1
"Oh begitu."
"Makanlah ini, aku harap rasanya seperti yang kamu inginkan."
"Eh memangnya rasanya beda?"
"Mmm mungkin saja begitu karena biasanya setiap restaurant memiliki cita rasa yang berbeda - beda walaupun jenis makanan yang mereka jual sama."
"Benar juga, kalau begitu aku coba ya?"
"Silahkan."
"Kamu ingin mencicipinya?"
Liam menggeleng.
"Tidak, habiskan saja untukmu."
Awalnya Jane sudah merasa tidak ingin memakan sesuatu dan memilih untuk kembali tidur saat Liam tak kunjung kembali, akan tetapi setelah melihat kegigihannya untuk mendapatkan makanan yang diinginkan olehnya jadi Jane harus memakannya agar perjuangan suaminya itu tidak sia - sia.
Jane tersenyum.
"Sangat lezat, ini cicipilah!" ucap Jane hendak menyuapi Liam.
"Tidak, kamu saja yang makan dan kalau perlu habiskan saja tidak apa - apa."
"Aku ingin kamu juga mencobanya hubby, ayo makanlah!"
"Baiklah," ucapnya menerima suapan dari Jane.
"Lezat bukan?"
"Iya benar - benar sangat lezat, mmm ternyata seperti ini rasa pipimu itu."
"Pipiku? maksudnya?"
Liam tertawa.
__ADS_1
"Pipi chubby mu seperti mandu hahaha."
Jane lalu memukul Liam dengan bantal miliknya.
"Ihh hubby menyebalkan sekali."
"Kamu ini kalau ingin memakan sesuatu harus melihat di googlo apakah restaurantnya sudah tutup atau belum agar aku tidak bingung mencari restaurant lain," ucap Liam sembari mengusap perut Jane.
"Daddy ini bagaimana sih, kan diperut eomma tidak ada googlo jadi aku tidak bisa melihat restaurant mana yang masih buka dan sudah tutup karena aku taunya hanya makan saja daddy."
"Benar juga sih, sudah ya habis ini kamu tidur agar eomma kamu juga bisa istirahat."
"Okay daddy," ucap Jane sembari mengusap rambut Liam.
Liam mencium bibir serta kening Jane.
"Tidurlah sayang, kita berbincang lagi besok pagi."
"Iya hubby, kamu juga habis ini langsung tidur!!"
"Siapp nyonya hehe."
Setelah membereskan sisa bekas makanan Jane tadi, Liam langsung menyusul Jane tidur di sampingnya. Beberapa hari kemudian tiba - tiba saja Liam sedang ingin bersepeda sembari mencari inspirasi. Kemudian dia meminta izin kepada Jane untuk pergi bersepeda sebentar dan tanpa fafifu Jane langsung mengizinkannya karena Jane tidak ingin jika Liam terus menerus dirumah saja mengurusnya. Saat Liam pergi bersepeda Jane lalu pergi mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Jane lalu duduk di halaman belakang rumahnya sembari berbincang ringan dengan Mrs Kim.
Berulang kali Mrs Kim mencecar Jane dengan pertanyaan yang hampir sama yaitu, apakah Liam menjagamu dengan baik atau tidak. Ya, pertanyaan itulah yang selalu ditanyakan oleh kedua orang tuanya, kakaknya, serta kedua orang tua Liam juga. Jane sampai berfikir keras mengenai suaminya itu, maksudnya ada apa dengan Liam sampai - sampai mereka semua menanyakan hal tersebut saat bertemu dengannya. Menurut Jane, suaminya itu sudah menjaganya serta merawatnya dengan sangat baik sehingga dia selalu merasa bahagia.
"Eomma, Jane minta tolong jangan membebani Liam dengan ucapan seperti itu seolah - olah Liam tidak bisa mengurusku dengan baik. Sejujurnya Liam itu sudah memperlakukan aku dengan baik bahkan dia selalu mengurus rumah, merawat Jane, serta bekerja saat malam dan mungkin saja jarang sekali ada pria yang bersikap seperti itu kepada istrinya yang sedang mengandung anaknya."
"Iya eomma paham namun eomma masih sedikit khawatir denganmu, sayang."
"Eomma tenang saja, Liam itu pria yang baik kok dan tolong jangan merusak mental Liam yang selama ini berusaha dikuatkan oleh orang tuanya."
"Maksudnya?"
"Memantu eomma itu tidak seperti kebanyakan pria lainnya yang selalu memiliki mental sekuat baja, Liam itu mentalnya sangat lemah namun dia berusaha menutupinya agar tidak semakin dirusak oleh orang lain. Selama ini Liam selalu pergi ke psikiater untuk memperbaiki mentalnya, jadi tolong jangan rusak usaha keluarganya untuk mengembalikan mental Liam."
"Iya sayang, eomma minta maaf."
__ADS_1