Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #115


__ADS_3

Mereka berdua lalu pergi menuju kasir untuk membayar buku yang telah mereka pilih, dan sesuai dengan kesepakatan tadi pagi bahwa Jane yang akan membelikan Liam buku komik sebanyak yang Liam inginkan. Setelah itu mereka berdua kembali ke apartement karena cuacanya sangat panas jadi mereka berdua malas untuk pergi ke tempat lain. Liam lalu pergi ke dapur untuk mengambil air es di kulkas, sedangkan Jane duduk di ruang tengah sembari menonton acara televisi. Liam lalu membaringkan tubuhnya di pangkuan Jane dan membaca buku komik yang tadi baru dibelinya, sedangkan Jane melakukan aktivitas yang biasa dia lakukan saat Liam berbaring di pangkuannya, yaitu bermain - main dengan rambut Liam yang cepat sekali memanjang dan sangat lebat. Sesekali Jane memperhatikan Liam yang sedang asyik membaca buku komiknya. Liam menjadi lebih pendiam ketika dia sudah terhanyut ke dalam cerita yang sedang dia baca, karena biasanya jika tidak sedang membaca dia akan menjadi seseorang yang sangat jahil. Mungkin jika tidak berbuat jahil sehari saja tangannya atau pantatnya akan merasa sangat gatal sekali. Di atas meja masih ada setumpuk komik dan beberapa novel yang tadi dibeli oleh Liam, mungkin sekitar 25 buah buku yang masih tersegel rapi dan belum dibuka sama sekali. Disisi lain Jane sempat tidak mengira jika dirinya akan berkata seperti itu kepada Liam walaupun niatnya yang sebenarnya agar Liam tidak tertarik kepada wanita lain terutama wanita tadi.


Apalagi setelah itu dia melihat jika Liam membawa setumpuk buku ke meja kasir dengan jumlah yang tidak manusiawi, dan dia harus membayar semua buku itu karena dia sudah berjanji kepadanya untuk membelikannya buku. Tetapi saat dia melihat jika Liam memang bersungguh - sungguh ingin membaca semuanya maka dia tidak bisa menolak Liam untuk tidak membelikannya, apalagi setelah keluar dari toko buku dia tersenyum lebar dan merasa puas sembari membawa buku - bukunya pulang ke apartement. "Sungguh pria yang unik," begitu yang kira - kira dipikirkan oleh Jane saat ini melihat sisi lain Liam yang kutu buku. Liam terlihat jika dia sudah selesai membaca salah satu buku komiknya, lalu dia meletakannya di atas meja dan mengganti posisinya yaitu memeluk perut Jane. Liam lalu mulai tertidur dengan posisi itu, sedangkan perhatian Jane menjadi tertuju kepada wajah Liam yang terlihat seperti seorang anak kecil saat sedang tertidur. Ketika Jane melihat wajah Liam, dia merasa bahwa wajah Liam seperti sangat familiar sekali dengan seseorang namun Jane tidak bisa mengingat siapa orangnya maupun namanya karena Jane sudah sangat lama sekali tidak bertemu dengannya, lagipula sekarang keberadaannya juga tidak diketahui. "Aneh sekali kenapa jadi memikirkannya," gumam Jane kembali. Jane lalu diam - diam mencium pipi Liam saat sedang tertidur, lalu setelah itu dia pergi ke dapur untuk membuat lemon tea.


Jane yang melihat Liam berjalan menghampirinya di dapur kemudian dia bertanya "kenapa terbangun?"


"Karena ditinggal olehmu."


"Ah maaf, aku tadi merasa haus jadi aku ke dapur untuk membuat lemon tea."


"Oh begitu," ucapnya sembari mengangguk lalu dia kembali membaca buku komiknya yang berbeda.


"Kamu mau aku buatkan jus alpukat kesukaanmu?"


"Iya boleh."


Jane lalu mengambil buah alpukat dari dalam kulkas dan langsung membuat jus alpukat kesukaan Liam. "Kamu membeli buku sebanyak itu memangnya kamu akan membaca semuanya?" tanya Jane menggoda Liam.


"Tentu saja, aku bisa membaca 10 buah buku komik ini selama seharian penuh."


"Baguslah jika seperti itu."


"Memangnya kenapa? apa kamu akan membelikanku buku komik lagi?"


"Tidak! lebih baik kamu habiskan dulu tumpukan buku yang berada di atas meja baru aku akan membelikannya lagi."


"Benarkah?"


Jane mengangguk "iya Liam. Ini jus alpukatnya," ucap Jane sembari meletakkan segelas jus alpukat di atas meja.


Liam kemudian melatakkan buku komiknya tersebut dan meminum jus alpukat buatan Jane "wah ini sangat enak sekali, terima kasih."


"Sama - sama Liam," ucap Jane sembari mengusap lembut pipi Liam.


"Oh iya, aku mau bertanya sesuatu."

__ADS_1


"Kamu ingin bertanya masalah apa?"


"Kalau kita sudah menikah kamu ingin tinggal di apartement ini atau di sebuah rumah?"


"Haruskah aku menjawabnya sekarang?"


"Iya."


"Terserah dan semampu kamu saja Liam, mau tinggal di apartement ini atau di rumah kamu tidak masalah."


"Oh begitu. Tetapi kalau di apartement ini sepertinya tidak efisien karena jarak menuju ke kantor lumayan jauh apalagi kita harus naik turun lift."


"Iya juga sih, lalu kamu maunya bagaimana?"


"Tinggal di rumah sajalah karena menurutku lebih nyaman di rumah daripada di apartement."


Jane tertawa kecil "baiklah Liam, terserah kamu saja. Sekarang gantian aku yang bertanya."


"Baiklah."


"Keluargaku tidak masalah mengenai itu, karena bisa saja itu hilang akibat dari jatuh dari sepeda atau aktivitas lain bukan?"


"Iya benar."


"Apa punyamu sudah hilang?" tanya Liam setengah bercanda?"


"Sepertinya belum, karena aku belum pernah melakukan hal tersebut tetapi aku juga tidak tau. Aku bertanya itu untuk mengantisipasi jika misalnya keluargamu seperti itu."


"Oh begitu. Keluargaku juga tidak mempunyai waktu untuk mengurusi hal tersebut karena mereka terlalu sibuk dengan uruasan mereka masing - masing, lagipula jika misalnya keluargaku mengurusi hal seperti itu aku akan mencari cara untuk membantumu."


"Terima kasih."


"Iya," ucap Liam sembari mencubit pipi Jane.


Liam kemudian mengambil buku komik miliknya dan dia membacanya kembali, sedangkan Jane mengangkat teleponnya yang tiba - tiba berbunyi. Liam yang tidak ingin mengganggu Jane berbincang dengan temannya di sambungan telepon kemudian dia pergi membawa buku komiknya dan jus alpukatnya ke balcony unit apartement miliknya. Liam melakukan hal tersebut karena agar Jane juga bisa lebih leluasa berbincang dengan temannya walaupun dia tidak bisa mengerti Bahasa Korea. Sekitar 1 jam kemudian Jane menghampiri Liam yang sedang bersantai di balcony apartement dan memeluknya dari belakang. Setelah itu Jane duduk di pangkuan Liam dan ikut membaca buku komik yang sedang Liam pegang.

__ADS_1


"Ingin aku buatkan jus alpukat lagi?" tanya Jane saat melihat gelas Liam yang sudah kosong masih berada di atas meja.


"Tidak perlu," ucap Liam dengan matanya yang masih tertuju pada lembaran buku komiknya.


Jane mengangguk "baiklah."


"Kamu sudah selesai berbincang di telepon?" tanya Liam secara tiba - tiba.


"Sudah, memangnya kenapa?"


"Tidak apa - apa."


"Kamu merasa cemburu?"


"Tidak, kenapa aku harus merasa cemburu padahal kamu bukan siapa - siapanya aku dan begitu sebaliknya?"


"Siapa tau kamu merasa cemburu karena tiba - tiba saja kamu pergi ke balcony."


"Aku hanya tidak ingin mengganggumu dan aku hanya ingin kamu lebih leluasa berbincang dengan temanmu di telepon, itu saja."


Jane tersenyum "oh begitu, kalau begitu beri aku ciuman!"


Liam menggelengkan kepalanya "tidak mau."


"Kenapa?"


"Takut jika nanti tiba - tiba melanggar batas."


"Tidak akan," ucap Jane sembari mengusap lembut pipi Liam.


"Besok saja jika kita sudah menikah, aku akan memberimu ciuman setiap hari."


Jane memanyunkan bibirnya "menyebalkan."


Liam tertawa keras "sudah hentikanlah!"

__ADS_1


__ADS_2