Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #223


__ADS_3

Nat terus mengajak Liam berbincang ringan dan bercanda ria sembari menonton televisi. Dari sudut dapur, Jane merasa sangat cemburu saat melihat Liam terlalu dekat dengan Nat bahkan saat Liam tertawa karena berbincang dengan Nat. Lain hal nya saat Liam berbincang dengan dirinya, Liam sering kali terlihat kesal dan bahkan selalu berdebat dengan dirinya. Jane merasa iri karena justru orang lain yang bisa membuat suaminya tertawa lepas dibandingkan saat bersama dirinya. Dahulu dia merasa seperti menjadi simpanan saat dia tinggal di apartement Liam, dan sekarang justru dia merasa menjadi istri tua yang sudah tidak diperhatikan lagi oleh suaminya karena dia lebih memilih bersama dengan istri keduanya (ku menangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku). Jane kemudian menghampiri mereka berdua untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap, dan mereka bertiga lalu berjalan menuju ke ruang makan.


Jane yang mengikat rambutnya tersebut lalu dengan gerak - geriknya secara halus bisa menunjukkan kepada Nat mengenai tanda kepemilikan yang dibuat oleh Liam. Sebuah bekas di leher Jane yang bewarna keunguan berhasil membuat Nat mendidih, dan pertarungan sesungguhnya akan segera dimulai karena Jane sudah mengibarkan bendera merah untuk memulai pertarungan diantara mereka berdua. Selesai menyajikan hidangan di piring Liam, Jane lalu mengusap pipi Liam sembari memperlihatkan senyuman manisnya. Liam lalu menyantap hidangan makan malam miliknya sembari memperhatikan Jane yang juga menikmati hidangan miliknya sendiri. Saat di pertengahan dia menyantap hidanganya, tiba - tiba saja Jane melihat ada nasi yang menempel di pipi suaminya itu dan dengan cepat Jane langsung mengambil tissue lalu menghilangkan nasi yang menempel di pipi Liam. Beberapa jam kemudian Jane sedang duduk sendirian di balcony kamarnya sembari menikmati pemandangan langit malam karena ditinggal pergi Liam yang sedang mengantar Nat ke mini market. Jane sudah lama menunggu Liam pulang namun Liam tidak kunjung pulang. Disisi lain Liam dan Nat sedang berbincang di cafe yang tidak jauh dari mini market.


"Apa benar kamu mencintainya?" tanya Nat penasaran.


"Tentu saja aku mencintainya bahkan aku sangat mencintainya," ucap Liam dengan yakin.


Nat menghela nafasnya "syukurlah jika seperti itu, aku sempat khawatir jika kamu menikahinya hanya karena terpaksa."


"Dahulu aku memang setuju untuk menikah dengannya karena takut jika aku tidak setuju maka daddy tidak akan memberikan hampir semua harta warisan kepadaku, tetapi semakin lama aku mengenalnya serta tinggal bersamanya membuat rasa cinta itu tumbuh secara perlahan."


"Sudah pernah tinggal dengannya sebelum menikah?"


"Pernah bahkan sering, kami tinggal di unit apartement yang sama."


"Oh, hampir mirip saat aku tinggal bersamamu di villa bukan?"


"Iya namun kalian berdua mempunyai sifat serta kepribadian yang sangat bersebrangan hingga membentuk ciri khas kalian masing - masing."


Nat menyeruput coffe latte miliknya "benarkah seperti itu?"


"Tentu saja. Kamu merupakan wanita yang humoris serta mandiri namun Jane merupakan wanita yang ceria, dan manja, akan tetapi dia juga bisa berubah menjadi wanita yang dewasa dan mandiri."


"Hemm sepertinya kamu sudah sangat mengerti sifat aku dan dia ya?" tanya Nat menggoda.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Tidak apa - apa hehe. Mmm apa kamu tidak tertarik untuk menjadikanku istri kedua kamu?"


"Tidakk, aku tidak ingin menduakannya.!!"


"Wah kamu sedang berusaha untuk menjadi pria yang setia ya? padahal dahulu pacarmu sangat banyak dan terletak di negara yang berbeda - beda."


"Ba-bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Liam gugup.


Nat tertawa "dahulu aku pernah memeriksa handphone milikmu saat kamu tertidur di villa, maka dari itu aku sempat ragu untuk menerimamu menjadi suamiku eh ternyata sekarang kamu malah sudah mempunyai istri."

__ADS_1


"Mereka bukan pacarku namun hanya teman dekatku saja saat sedang clubbing di bar, lagipula aku tidak menginginkan wanita yang aku temui di bar untuk menjadikannya sebagai istriku."


"Dasar munafik! apa sekarang kamu masih berhubungan dengan mereka?"


"Sudah lama aku tidak berhubungan dengannya lagi semenjak aku memilih untuk menjadi seorang workaholic."


"Baguslah, apa kamu pernah berhubungan lebih dengan mereka? maksudku kamu taulah apa yang aku maksud."


Liam menggelengkan kepalanya "tidak pernah sama sekali dan jika aku tidur dengan mereka, aku tidak melakukan apapun selain tidur."


"Oh begitu."


"Sama saat aku tidur denganmu maupun tidur dengan Jane."


"Jadi setiap malam kalian tidak melakukan hal itu?"


"Dulu waktu sebelum menikahinya aku memang tidak melakukan hal itu namun sekarang sudah, yakali aku tidak melepas keperjakaanku."


"Oh aku kira, lalu dia bagaimana?"


"Dia masih aman, sama sepertiku."


"Kita berdua sudah tau, dan itu sifatnya rahasia."


"Kenapa begitu?"


"Masalah ranjang tidak boleh diceritakan kepada orang lain dan hanya boleh diketahui oleh kita berdua saja, karena itu sifatnya privasi."


"Hmm baiklah."


"Tolong jangan rusak rumah tanggaku, aku ingin rumah tanggaku bisa harmonis."


Nat tersenyum "iya lagipula aku sudah merasa lega karena kamu sudah menemukan pasangan hidupmu sendiri yang membuatmu merasa bahagia, berbahagialah kalian berdua dan jangan lupa berikan aku seorang keponakan."


Liam tertawa "itu bisa diatur."


"Ya sudah mari kita pulang! kasihan istrimu sudah terlalu lama menunggu, pasti dia merasa khawatir karena dia mengira bahwa aku membawamu kabur ke New York."

__ADS_1


"Benar juga."


Sebelum pulang Liam mengambil pesanan minuman serta makanan favorite Jane untuk dibawa pulang. Sesampainya dirumah Liam langsung berlari menuju ke kamarnya sembari membawa bingkisan untuk Jane. Liam langsung menghampiri Jane yang sedang duduk termenung di balcony kamar mereka. Liam kemudian meletakkan bingkisan tersebut dia atas meja dan memeluk Jane dari samping.


"Aku membawakan kamu camilan kesukaanmu," ucap Liam antusias.


Jane menatap Liam "aku kenyang, kamu saja yang memakannya."


"Apa kamu marah kepadaku karena aku terlalu lama pergi dengan Nat? kalau begitu aku minta maaf."


"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti jika kamu sudah lama tidak bertemu dengannya jadi kamu merindukannya."


"Bukan begitu Jane, tetapi aku dan dia tadi hanya..." Liam belum menyelesaikan ucapannya karena langsung dipotong oleh Jane.


"Hanya berjalan - jalan dengannya sembari berhaha hihi iya? aku disini merasa sangat kesepian saat kamu tinggal pergi berhaha hihi dengannya diluar sana."


"Sayang, aku kan sudah pulang sekarang jadi kamu bisa berbincang denganku agar kamu tidak merasa kesepian lagi."


"Aku benci tinggal disini, lebih baik dulu kita tinggal dirumahmu atau dirumahku saja."


"Jangan begitu sayang, aku bekerja keras untuk membangun rumah ini dan kita bisa menghabiskan waktu bersama di rumah ini."


"Sudah lupakan saja, aku lelah dan ingin segera beristirahat karena besok aku ada jadwal pemotretan." Jane lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


Liam ikut membaringkan tubuhnya dan memeluknya dari samping "aku merindukanmu saat kamu jauh dariku."


"Bullshit. Aku merasa sesak karena pelukanmu."


Liam lalu melepaskannya "maaf."


"Nah begitu lebih baik."


"Kamu tidak meminta night kiss dariku?"


"Sedang tidak nafsu."


Liam langsung mencium Jane "tapi aku ingin."

__ADS_1


Jane menampar Liam "kan aku sudah berkata jika aku sedang tidak ingin!!"


"Ma-maaf."


__ADS_2