
Karena jam makan siang sudah hampir selesai, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali ke kantor mereka masing - masing. Saat jam pulang kerja Liam tidak langsung pulang ke rumahnya namun dia tetap berada di kantor untuk bekerja lembur karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan untuk rapat besok pagi. Liam sangat fokus mengerjakan semua pekerjaannya dengan ditemani oleh secangkir kopi agar dia tidak mengantuk saat bekerja. Saat dia mulai lelah kemudian dia membuat rangkaian kata untuk menyemangati dirinya sendiri seperti, "ayo Liam semangat agar bisa menikahi Jane secepatnya karena jika kamu bermalas - malasan maka darimana kamu akan mendapatkan uang untuk membuat pesta resepsi yang mewah." Begitulah kira - kira kata - kata penyemangat untuk dirinya sendiri karena dahulu biasanya saat lembur seperti ini dia selalu mengatakan "ayo kembali bekerja, jika semakin banyak kamu bekerja maka kamu akan semakin mendekati ajalmu dan kamu tidak akan susah - susah lagi untuk memikirkan bagaimana kedepannya lagi (jangan dicontoh ya kakak - kakak semuanya). Setelah berbicara seperti itu kemudian menyeruput secangkir kopi miliknya dan kembali bekerja dengan semangat yang baru. Liam semakin fokus mengerjakan semua pekerjaannya, tiba - tiba saja dia teringat oleh Jane dan kemudian dia mengirimkan sebuah pesan kepada Jane. Selesai mengirimkan pesan untuk Jane kemudian dia memandangi wallpaper di layar handphone miliknya yang bergambar foto dirinya dan Jane saat sedang pergi ke bukit waktu itu.
Liam kemudian berjalan ke belakang kursi kerjanya dan berdiri di sana sembari melihat pemandangan luar gedung dari atas sana. Dinding ruangan kerja Liam hampir 80% terbuat dari kaca dan sangat luas jadi Liam bisa mengamati pemandangan di luar gedung atau melihat langit dari ruangan kerjanya tersebut. Mr Robinson sengaja merenovasi semua ruangan kerja Liam yang berada di kantor Australia maupun di kantor Indonesia karena Liam tidak terlalu menyukai ruangan yang sempit, dan dia lebih menyukai semua ruangan yang mempunyai dinding kaca karena menurutnya itu membuatnya bisa bernafas dengan lega. Dia orang yang sangat membenci ruangan sempit dan apalagi semua barangnya tidak tersusun dengan rapi, karena dari dahulu dia bisa dikatakan sebagai orang yang sangat perfeksionis. Liam memandangi lampu - lampu jalan yang menerangi setiap sudut kota dan hiruk pikuk kota pada malam hari dari ruangan kerjanya. Liam juga memandangi semua kendaraan di jalan raya tersebut yang silih berganti, dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dengan segera Liam kemudian kembali duduk ke kursi kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya yang masih tersisa sedikit. Sekitar 30 menit kemudian Liam telah menyelesaikan pekerjaannya, setelah itu dia membereskan semua barang - barang miliknya untuk pulang ke rumahnya namun tiba - tiba dia memilih pergi ke rumah Jane untuk melihat senyuman manisnya itu sebentar sembari mengucapkan selamat malam untuknya.
Liam kemudian memarkirkan mobilnya di depan pintu pagar kediaman keluarga Kim. Setelah itu dia turun dan menyapa Pak Kang yang sedang berjaga "selamat malam Pak Kang."
"Selamat malam tuan muda Robinson, kenapa tidak langsung masuk ke halaman saja?"
"Saya hanya sebentar kok pak."
"Baiklah kalau begitu," ucap Pak Kang lalu dia membuka pintu pagar.
Jane kemudian berlari menghampiri Liam "sudah menunggu lama?"
"Tidak, baru saja sampai."
"Oh begitu, kok pakai jas? mau pergi ya?"
Liam menggeleng "aku baru saja pulang dari kerja lembur di kantor, kamu sudah ingin tidur ya kok sudah memakai piyama?"
"Tidak. Oh ya, sudah makan?"
"Tadi siang sudah."
"Kalau malam ini?"
"Belum, nanti setelah pulang aku akan langsung makan dan mandi."
Jane kemudian mencubit pipi Liam "kan sudah aku bilang jangan terlalu over bekerja sampai melupakan makan malammu sayang, mau aku buatkan makan malam di rumah heum?"
"Tidak perlu, aku merasa tidak enak dengan keluargamu."
Liam kemudian melirik security yang terlihat sedang menguping pembicaraan mereka berdua "jangan menguping, nanti telinganya bisa tuli mendadak kalau suka menguping pembicaraan orang lain."
"Siapa yang menguping? aku hanya sedang memeriksa pagar saja," ucap security tersebut.
"Dasar," ucap Liam.
__ADS_1
Jane lalu ikut melihat ke arah security tersebut dan memberinya isyarat untuk meninggalkan mereka berdua "pak."
"Baik nona, maaf."
"Aku ingin memelukmu, boleh kan? tanya Liam dengan sangat manja.
"Iya boleh sayang, sini."
"Hah rasa lelahku telah hilang," ucap Liam sembari masih memeluk Jane.
Tiba - tiba ada seorang anak laki - laki yang menghampiri mereka berdua dan menarik - narik gaun piyama milik Jane "aunty, dia siapa?"
Jane lalu melepaskan pelukannya "dia itu uncle Liam, temannya aunty."
"Oh begitu," ucap anak laki - laki itu yang masih bersembunyi di belakang kaki Jane.
"Dia anakmu?" tanya Liam.
"Bukanlah, dia keponakanku lagipula mana mungkin aku sudah memiliki seorang anak."
Jane kemudian menutup mulut Liam "ssttt, jangan berbicara seperti itu di depan anak kecil."
Liam kemudian berjongkok dan kemudian menyapanya "hai, namanya siapa?" tanya Liam dengan ramah.
"Seojun," ucap anak itu dengan masih bersembunyi di belakang kaki Jane.
Jane kemudian mengusap rambut Seojun "ayo sayang, sapa uncle Liam."
"Seojun takut, karena badannya besar seperti raksasa."
Liam tertawa "tenang aja, uncle tidak akan menggigitmu Seojun."
"Ayo sayang, Seojun kan anak baik."
Liam kemudian berjalan membuka pintu mobilnya, lalu dia kembali menghampiri Jane dan memberikan sebuah coklat untuk Seojun "ini untukmu."
"Terima kasih," ucap Seojun dengan imut.
__ADS_1
Liam kemudian menggendong Seojun "tetapi Seojun harus janji, jangan sekarang makan coklatnya.
"Memangnya kenapa uncle?"
"Karena nanti gigimu bisa berlubang kalau makan coklat malam - malam, memangnya Seojun mau kalau giginya jadi ompong?"
Seojun menggeleng "tidak mau, jadi makan coklatnya kapan?"
"Besok siang, okay?"
"Okay," ucap Seojun sembari tersenyum.
Jane kemudian ingin mengambil Seojun dari gendongan Liam namun Seojun menolaknya dan malah merangkul leher Liam. Berulang kali Seojun seperti itu saat Jane ingin membawanya pulang karena dia harus tidur. Akhirnya Jane menyerah membujuk Seojun untuk tidur, lalu Jane mengajak Liam untuk ke teras rumahnya agar Seojun bisa bermain dengan Liam. Sesampainya di teras rumah kemudian Seojun masuk ke dalam rumahnya dan mengambil beberapa mainannya untuk dimainkan bersama dengan Liam. Sebenarnya Jane ingin Liam agar cepat - cepat pulang karena dia belum makan ataupun beristirahat sama sekali, apalagi Liam juga belum mandi dan pastinya badannya sekarang sangat lengket terkena keringat. Jane kemudian masuk ke dalam rumahnya dan berinisiatif untuk membuatkan Liam mie instan, karena merasa kasihan padanya pasti perutnya sangat lapar.
"Sedang apa Jane?" tanya Mrs Kim.
"Aku sedang membuatkan Liam mie instan karena dia baru pulang kerja lembur dan belum makam malam sama sekali, apalagi saat dia ingin pulang Seojun selalu menahannya."
Mrs Kim lalu pergi ke teras rumahnya "Seojun, ayo tidur karena sudah malam."
"Tidak mau, aku masih ingin bermain dengan uncle."
"Tidak apa - apa tan."
"Tetapi pasti kamu lelah Li, bukankah kamu pulang kerja?"
"Iya tan, tetapi tidak apa - apa kok daripada nanti dia malah menangis."
"Baiklah kalau begitu kamu makan dulu ya, karena Jane sudah membuatkanmu mie instan."
"Baik tante, terima kasih."
Jane lalu datang membawakan semangkuk mie instan dengan secangkir teh hangat untuk Liam "ini, silahkan diminum dan dimakan."
"Terima kasih Jane."
"Sama - sama," ucap Jane sembari mengusap pipi Liam.
__ADS_1