
Liam kembali membaca beberapa berkas dokumen yang akan dia tandatangani, dan juga ada beberapa berkas dokumen yang nantinya akan menjadi bahan materi di meeting. Setelah itu Liam pergi berjalan - jalan di sekitar ruangannya sembari melihat beberapa perabotan maupun dekorasi yang ingin dia singkirkan dan diganti dengan yang baru agar tampilannya lebih fresh. Liam lalu berhenti di depan dinding kaca untuk melihat suasana di luar gedungnya, meskipun dia hanya bisa melihat beberapa orang serta kendaraan yang berlalu - lalang seperti sedang melihat beberapa kawanan semut karena terlihat kecil dari atas sana. Ruangan kerja Liam terletak di lantai 18, jadi wajar saja jika orang - orang dibawah sana terlihat seperti kawanan semut.
Semakin lama Liam mulai terhanyut ke dalam lamunannya hingga dia tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan setengah 10 pagi, yang artinya sebentar lagi Liam akan pergi ke restaurant untuk menghadiri meeting dengan klien. Terdengar suara pintu terbuka dari ruangan Liam, dan ternyata yang membukanya adalah Yunna. Liam kemudian juga mendengar sebuah suara yang memanggil namanya dan tidak berselang lama ada sebuah tangan yang menepuk bahunya. Seketika Liam menoleh ke belakang dan dia langsung bergegas untuk merapikan barang bawaannya sembari berbincang dengan Yunna. Setelah itu Liam dan Yunna berangkat ke sebuah restaurant yang telah disampaikan tadi pagi oleh Yunna.
Liam mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar karena jaraknya tidak terlalu jauh dari gedung perusahaannya, apalagi Liam juga sudah mengerti sifat dari kliennya yang sering sekali terlambat saat menghadiri meeting bersamanya meskipun Liam juga sudah dengan sengaja datang mepet. Benar saja, saat mereka berdua telah sampai sebuah meja yang telah dia booking masih kosong yang artinya kliennya itu belum sampai. Liam kemudian berbincang sebentar dengan Yunna sembari menunggu kliennya datang. 15 menit kemudian dia baru datang ke retaurant tersebut dan langsung menunduk untuk meminta maaf kepada mereka berdua dengan alasan jalanan sedang macet.
Sebuah alasan klasik yang selalu dia ucapkan di depan Liam saat dia selalu telat datang untuk meeting hingga membuat Liam selalu saja dibuat geram dengan tingkahnya itu. 1,5 jam kemudian mereka telah selesai meeting dan mereka berdua lalu pergi ke sebuah warung makan untuk makan siang.
"Wah sepertinya semua menunya sangat lezat," ucap Liam saat melihat daftar menunya.
"Iya memang semua menunya sangat lezat," jawab Yunna yang masih sibuk memilih menu yang akan dia pesan.
Liam berfikir sejenak sembari matanya terus membaca semua menu yang ditempel di dinding.
"Aku jadi bingung."
"Bu, saya ingin sup iga satu sama es jeruk satu."
"Baik mbak akan saya siapkan, kalau mas nya ingin pesan apa?" tanya ibu yang menjaga kasir.
"Mmm kalau saya ingin tongseng kambing satu porsi dan es tehnya juga satu."
"Baik mas, mbak tunggu sebentar ya."
"Baik bu," ucap mereka serempak.
"Oh ya bu, tambah sate kambingnya satu porsi juga."
"Baik mas, kalau mbaknya ada tambahan juga tidak?"
"Tidak bu, sudah cukup."
"Baik saya ulangi pesanannya ya? sup iga satu, tongseng kambing satu, sate kambing satu, es jeruk satu, dan es teh satu."
"Benar bu, jadi berapa ya semuanya?" tanya Liam.
"Jadinya Rp68.000 mas."
"Ini uangnya bu," ucap Liam sembari menyerahkan selembar uang 100 ribuan kepada ibu tersebut.
"Ini kembaliannya Rp32.000, mohon ditunggu."
__ADS_1
"Terima kasih bu."
"Sama - sama."
Liam dan Yunna kemudian duduk di sebuah meja yang kosong namun tiba - tiba saja handphone Liam berbunyi.
"Ya? kenapa sayang?" tanya Liam saat menjawab panggilan telepon itu.
"Sedang dimana?" tanya Jane dari seberang telepon.
"Aku sedang di warung masakan kambing dan sapi, kenapa?"
"Oh begitu, aku hanya bertanya saja kok."
"Oh."
"Kamu suka makan kambing?"
"Suka, tetapi tidak terlalu sering karena takut kolesterol hahaha."
"Ya sudah selamat makan siang, aku tutup teleponnya."
"Okay bye."
"Pasti dicariin oleh Jane ya Li?" tanya Yunna.
"Ya begitulah hahaha."
"Eh kemarin katanya kamu ingin mulai masuk kerja eh ternyata tidak jadi, ada apa?"
"Oh itu kemarin aku sakit, makanya aku beristirahat seharian di rumah mommy."
"Kenapa harus dirumah mommy?"
"Agar aku tidak menulari baby Ace, dan juga aku tidak ingin merepotkan Jane karena dia sudah sangat sibuk mengurus baby Ace seharian."
"Memangnya kamu tidak pernah membantu Jane mengurus baby Ace?"
"Pernah sih namun hanya sebentar saja."
"Oh begitu rupanya."
__ADS_1
Tidak lama kemudian ibu yang tadi menjaga kasir mengantarkan beberapa pesanan milik Liam dan Yunna, lalu setelah itu dia kembali ke tempatnya. Liam mulai mencicipi satu tusuk sate kambing dan ternyata Yunna tidak berbohong saat dia mengatakan semua menu di tempat ini rasanya lezat sekali, karena memnag begitulah kenyataannya. Setelah mencicipi sate kambing Liam lalu memakan tongseng dengan nasi agar dia semakin kenyang, sedangkan Yunna memakan sup iga yang tadi dia pesan. Namun tiba - tiba saja Yunna mengambil satu tusuk sate kambing milik Liam karena dia juga ingin mencicipinya serta merasa tergoda dengan baunya yang sangat lezat. Melihat hal itu Liam hanya tersenyum sembari mengunyah tongseng kambing miliknya.
"Aku rasanya malas sekali setiap ingin meeting dengan Pak Parjo," ucap Yunna tiba - tiba.
"Pasti karena dia hobi sekali datang terlambat bukan?" tanya Liam berusaha menebak.
"Iya sih itu termasuk namun yang lebih menyebalkan adalah saat dia berbicara pasti air liurnya selalu muncrat kemana - mana, maka dari itu aku selalu menghindari untuk duduk di dekatnya atau bahkan di depannya."
Mendengar hal tersebut Liam langsung tertawa.
"Hahaha iya sih memang sangat menjijikkan iyuhh, maklum dia sudah tua jadi ya seperti itulah. Eh tapi grandpa aku juga sudah tua namun dia tidak seperti itu."
"Ya mungkin saja berbeda, karena setiap orang pasti selalu berbeda - beda sifat serta perilakunya."
"Benar."
"Mmm sate milikmu sangat lezat sekali."
"Ambil saja kalau kamu menginginkannya lagi dan kalau perlu habiskan saja, nanti aku akan memesannya lagi."
"Tidak perlu repot - repot Liam, aku hanya meminta satu lagi dan setelah itu sudah."
"Ingin beli untuk dibawa pulang?"
"Tidak, ini sudah cukup kok nanti pasti rasanya akan aneh jika aku memakannya saat malam hari."
"Kenapa begitu?" tanya Liam penasaran.
"Sudah merasa eneg."
"Oh begitu."
"Eh aku ingin sekali main ke rumahmu untuk melihat baby Ace."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak pergi ke rumahku?"
"Aku belum tahu alamat rumahmu."
Liam merasa terkejut sekaligus terheran.
"Lho bukankah kamu sering sekali datang ke rumahku saat masih tanah kosong hingga sudah jadi dalam wujud rumah yang sebenarnya, bahkan kamu juga yang memilihkan beberapa perabotan rumahku bukan?"
__ADS_1
"Oh iya ya, aku lupa hehe."