
Setelah itu Liam kembali berfikir - fikir kembali mengenai sikapnya kepada Jane selama ini, jika difikir kembali bukankah Jane sudah sangat baik kepadanya dan sudah dengan sukarela membantunya keluar dari rasa trauma yang dimilikinya selama ini. Jane juga sangat baik kepadanya hingga dia rela meluangkan waktunya untuk mengurusnya serta merubah penampilannya selama ini. Setelah merenungkan itu semua Liam kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya karena 10 menit lagi dia harus pergi meeting. Beberapa jam kemudian saat dia sudah menyelesaikan meeting bersama client, Liam lalu mengirimkan pesan kepada Jane untuk mengajaknya makan siang.
Liam langsung pergi menemui Yunna dan memintanya untuk mereservasi sebuah restaurant karena dia akan makan siang bersama dengan Jane. Setelah mendengar perintah dari atasannya, Yunna langsung memilih - milih restaurant untuk Liam dan Yunna berharap dia sudah mengerti apa kesalahannya. Yunna kemudian memilih sebuah restaurant yang kekinian dan cocok untuk pasangan kekasih pada umumnya. Yunna lalu memberitahu Liam mengenai lokasi restaurant tersebut, dan dengan cepat Liam mengirimkannya kepada Jane. Sembari menunggu jam makan siang suaminya, Jane memilih - milih pakaian yang cocok untuk dipakainya nanti. Entah mengapa kali ini Jane merasa bersemangat sekali, padahal ini bukan kencannya yang pertama kali bersama Liam.
Setelah memilih pakaian yang cocok, Jane lalu merias diri agar menarik perhatian suaminya itu dan kali ini dia terlihat tampak feminim seperti tipe idaman suaminya. Walaupun Liam tidak memberitahu secara terang - terangan bahwa tipe idamannya seorang wanita yang feminim namun beberapa kali dia menunjukkan bahwa dia lebih suka jika Jane berpenampilan feminim. Seperti saat Jane memakai dress pendek, Liam langsung mengomentarinya dengan kata - kata manis, apalagi saat Jane menggerai rambutnya dan ditambah dengan aksesories rambut yang lucu - lucu. Sekitar jam setengah 12 siang, Jane langsung berangkat menuju ke restaurant yang sudah diberitahu oleh Liam sebelumnya.
"Reservasi meja atas nama Liam Gerard di sebelah mana ya?" tanya Jane sesampainya di restaurant tersebut.
"Mari nyonya biar saya antarkan ke meja Mr Liam."
"Okay."
Liam lalu berdiri dan mencubit pipi Jane untuk menyambutnya ketika dia datang menghampiri mejanya.
"Hai sayang," ucapnya menyapa Jane.
"Hai, tumben sekali kamu mengajakku untuk pergi makan siang di tengah - tengah kesibukanmu saat ini."
"Mmm itu karena...."
"Karena?"
"Karena aku merindukanmu hehe."
"Kamu merindukanku?"
"Tentu saja sayang, ayo pesanlah makanan yang kamu inginkan!"
"Okay."
Jane kemudian memilih - milih menu makanan yang dia inginkan, dan begitu juga dengan Liam. Setelah itu mereka berdua berbincang ringan sembari menunggu pesanannya siap disajikan. Liam terus memandangi Jane yang kali ini mengenakan dress pendek tanpa lengan yang bewarna merah serta rambutnya yang diikat pony tail.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini," ucap Liam dengan pipi yang sudah memerah.
"Thank you."
"Your welcome."
__ADS_1
"Jadi katakanlah!"
"Apa?"
"Aku tahu kamu mengajakku untuk makan siang di restaurant yang terbilang mewah ini hanya untuk mengatakan sesuatu hal yang penting bukan?"
"Ti-tidak, aku mengajakmu kemari hanya untuk makan siang saja karena sudah lama kita tidak makan siang bersama diluar."
"Memangnya kita pernah makan siang diluar selama ini?" tanya Jane menyindir Liam.
"Sepertinya tidak hehe, maaf ya jika aku seringkali tidak meluangkan waktu untukmu dan juga kurang memberimu kasih sayang. A- aku tahu bahwa aku ini pria bodoh yang tidak romantis sama sekali seperti kebanyakan pria lainnya, dan aku hanyalah seorang pria biasa yang menginginkan untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seorang wanita secara tulus."
Seketika Jane menjadi merasa tidak enak dengan Liam.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu sama sekali."
"It's okay," ucapnya menundukkan kepala karena merasa malu.
Tidak lama kemudian makanan mereka berdua telah disajikan di atas meja dan mereka langsung menyantapnya. Suasana menjadi terasa canggung diantara mereka berdua dan ditambah dengan Liam yang terus menundukkan kepalanya saat sedang makan. Liam hanya diam merangkai kata - kata yang ingin dia ucapkan kepada Jane sebagai kata permintaan maaf atas kelakuannya selama ini.
"Aku minta maaf yang sebesar - besarnya kepadamu karena aku selalu melontarkan kata - kata yang sedikit kasar serta melukai hatimu, aku sadar bahwa selama ini aku salah."
"Iya Li tidak apa - apa aku sudah memaafkanmu dari dulu, lagipula aku lihat kamu juga sudah mulai belajar untuk menjadi seorang pria yang romatis serta penuh perhatian."
Liam langsung mendongakkan kepalanya.
"Ba-bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Aku selalu memperhatikanmu bahkan sampai setiap detail kecil yang sering kamu lakukan belakangan ini kepadaku, bagaimana cara kamu memandangku, bagaimana caramu memelukku, bagaimana kamu menyentuhku, dan lain sebagainya. Oh ya dan satu lagi, kamu juga selalu memperhatikan setiap detail kecil yang ada pada diriku."
"Bukankah itu terlalu berlebihan?"
"Tidak Liam, itu tidak berlebihan sama sekali. Aku senang kamu bisa mulai berubah secara perlahan mulai dari yang jarang sekali senyum menjadi sering tersenyum, dari yang dulunya jarang berbicara dan hanya sepatah dua patah kata saja sekarang menjadi sering berbicara bahkan setiap malam kamu selalu mengajakku untuk deeptalk, dan aku menyukai semua usahamu untuk berubah menjadi lebih baik."
"Aku hanya berusaha untuk mengikutimu, dan jika diibaratkan oleh sesuatu maka kamu itu ibarat sebuah arus air sedangkan aku ini sebuah batang kayu."
"Kenapa begitu?" tanya Jane dengan posisi tangan menopang dagunya yang berarti bahwa dia mulai tertarik dengan pembicaraan Liam.
__ADS_1
"Karena aku yang batang kayu ini akan pasrah terbawa oleh arus air kemanapun kamu akan mengalir jika sudah jatuh ke dalam dirimu."
"Hmmm sepertinya kata - katamu yang kamu rangkai itu belum sempurna."
"Sepertinya begitu, mungkin karena aku sedikit nerveous."
"Nerveous kenapa?"
"Nerveous karena dilihat oleh wanita cantik yang berada di depanku."
Jane tersenyum.
"Biasanya kamu tidak merasa nerveous seperti ini."
"Aku biasanya juga nerveous seperti ini namun aku tidak memperlihatkannya."
"Kenapa begitu heum?"
"Malu jika nanti kamu mengejekku."
"Aku tidak akan mengejekmu, Liam."
"Kamu pasti bohong."
"Tidak, aku tidak berbohong."
Jane semakin memperhatikan Liam hingga semakin terang - terangan menunjukkan bahwa dia tertarik dengan obrolan Liam kali ini. Jane merasa iba jika Liam sampai merasa bahwa pembicaraannya terasa sangat membosankan apalagi ini awal yang bagus untuk Liam yang mulai membuka diri kepadanya. Jane pernah mendengar bahwa pembicaraan Liam tidak pernah didengar, dan oleh sebab itu Liam mulai menjadi seseorang yang jarang berbicara panjang lebar kepada seseorang. Tiba - tiba saja tangan Liam ingin mengusap pipi Jane namun seketika niatnya dia urungkan. Jane lalu menyentuh tangan Liam dan mendaratkan tangan Liam di pipinya.
"Tidak apa - apa, jangan sungkan."
"Tolong jangan pergi dan tetaplah berada disisiku."
"Iya hubby, aku tidak akan pergi dan akan selalu berada disisimu."
"Terima kasih."
"Sama - sama."
__ADS_1