
Jane lalu kembali ke kamar dan meletakkan segelas air putih di meja dekat ranjangnya, dan dia beralih menatap suaminya yang sedang tertidur pulas. Tidak seperti kebanyakan pria seumurannya yang sangat mementingkan penampilannya, suami Jane masa bodoh dengan itu semua sehingga terkadang dia tampil dengan rambutnya yang acak - acakan, malas sekali mandi serta berdandan, dan saat keluar rumah hanya memakai celana kolor saja. Hal tersebut membuat Jane merasa geram kepadanya sehingga Jane bertekad untuk memperbaiki penampilan suaminya itu. Terkadang Jane juga merasa sedikit geram dengan ucapan orang - orang yang berkata bahwa mengapa suaminya itu tidak terlihat seperti anak orang kaya yang sangat memperhatikan penampilannya, pamer harta orang tuanya ataupun membuat story jalan - jalan keluar negeri padahal mobil Liam di basement rumahnya terlihat seperti showroom mobil mewah dan setiap saat dirinya juga mampu jalan - jalan ke luar negeri dengan menggunakan jet pribadinya.
Saat ditanya oleh Jane, dia hanya menjawab "malas" hanya kata - kata itulah yang keluar dari mulut suaminya. Padahal Jane tau jika sebenarnya Liam lebih memilih bermain game seharian daripada membuang - buang tenanganya hanya untuk sekedar pamer jalan - jalan keluar negeri di media sosial. Kata ibu mertuanya alias Mrs Robinson, kegiatan Liam sehari - hari hanyalah bekerja dari pagi sampai sore dan bermain game dari sore sampai malam. Jika Liam pergi bermain diluar itu mungkin karena diajak oleh teman - teman dekatnya. Jane yang hanya mendengarkan ceritanya sajapun sudah merasa bosan, apalagi menjalaninya secara langsung dan nyata. Jane kemudian membaringkan tubuhnya di samping Liam dan mencium bibirnya sekilas. Tiba - tiba secara tidak sadar tangan Liam yang berotot itu memeluk Jane hingga membuatnya merinding.
"Benda apa ini? sepertinya ini terlalu lembut dan kenyal untuk texture guling di kamarku," gumam Liam dalam hati.
"Arghhh," ucap Jane mengerang.
"Aaaaa." Teriak Liam saat membuka matanya, dan setelah itu dia menghempaskan Jane sampai dia terjatuh dari atas ranjang.
Jane hanya terbaring lemas di bawah ranjangnya "aduh sakit, pasti tulangku remuk."
"Janeeee!!" teriak Liam.
"Hu-hubby," ucap Jane melas.
Liam kemudian melihat Jane dari atas ranjangnya "maaf, sakit tidak?"
"Pakai ditanya sakit atau tidak, dasar bodoh."
Liam turun dari ranjangnya dan menggendong Jane kembali ke atas ranjangnya "maaf sayang, aku tidak sengaja karena aku lupa jika kita sudah menikah."
"Dasar bodoh, bisa - bisanya kamu selalu lupa jika kita sudah menikah."
"Maaf sayang, ada yang sakit?"
"Ada."
"Di daerah mana?"
"Di daerah sini," ucap Jane sembari menunjuk hatinya.
"Ululuh sayang," ucapnya sembari memeluk Jane dan membawa Jane ke pangkuannya.
"Tenangamu sangat kuat sekali, sehingga aku sampai terpental jatuh dari atas ranjang."
"Habisnya aku juga kaget karena aku kira sedang tidur bersama gulingku, ternyata aku justru malah memegang itu mu."
Jane menghela nafasnya "tidak apa - apa, lagipula kamu itu sudah menjadi suamiku jadi tidak masalah."
"Mmmm."
"Mau lagi?" tanya Jane menggoda Liam.
Liam menggeleng "ti-tidak, sudah cukup."
Jane tersenyum licik "yakin?"
"Li kamu sudah bang...." Mrs Robinson tidak jadi melanjutkan ucapannya karena merasa kaget.
"Mommy?"
__ADS_1
"Haiss Li, kan mommy sudah bilang kalau pintunya itu dikunci saja dari dalam." Mrs Robinson kemudian menutup pintu sembari menahan tertawa.
Liam kemudian mengejar Mrs Robinson "i-ini tidak seperti yang mommy fikirkan, aku dengan Jane hanya..."
"Maaf ya mommy mengganggu kalian berdua hehe."
"Mom," ucap Liam kesal.
"Sudah sana lanjutkan, dan jangan lupa pintunya dikunci."
"Melanjutkan apa? daritadi kita berdua tidak melakukan apa - apa."
Melihat putranya itu kesal justru Mrs Robinson semakin tertawa "lagipula pagi - pagi sudah aktif saja."
"Aktif apanya? kan daritadi Liam sudah bilang kalau Liam tidak melakukan apa - apa dengan Jane."
"Iya, mommy percaya kok dengan putra mommy yang paling tampan."
"Nah begitu dong," ucap Liam dengan senyum sumringahnya.
"Sudah sana temani Jane lagi."
"Okay. Eh mom."
"Ya? kenapa sayang?"
"Kira - kira kalau Liam dan Jane ingin menunda memiliki anak dulu selama setahun bagaimana mom?"
Mrs Robinson menghela nafasnya "iya tidak masalah, lalu Jane bagaimana? apa kalian berdua sudah membicarakan tentang masalah ini?"
"Baiklah."
"Mommy benar tidak apa - apa?"
"Iya sayang, kan yang menjalani kalian berdua jadi mommy tidak berhak untuk memaksa kalian harus mempunyai anak sesegera mungkin, lagipula lebih baik ditunda daripada dipaksakan kalau kalian berdua memang belum siap menjadi orang tua karena nanti efeknya juga yang kena anak kalian."
"Iya benar mom, Liam memang berniat memiliki anak dari Jane tapi nanti setelah Liam siap jadi seorang ayah."
"Iya mommy percaya kok sama Liam," ucapnya sembari mengusap rambut Liam.
"Bisa minta tolong bicarakan masalah ini juga kepada daddy?"
"Iya sayang. Oh ya memangnya kenapa Liam ingin menunda memiliki anak?"
"Karena selain belum siap Liam juga masih ingin bebas bermain bersama dengan teman - teman."
"Oh begitu, tapi kamu juga harus ingat ya kalau sekarang kamu sudah menjadi seorang suami sekaligus kepala rumah tangga?"
"Tentu saja mom."
"Jaga Jane baik - baik dengan jiwa dan ragamu."
__ADS_1
"Siap mom."
Jane yang sedari tadi menguping pembicaraan antara Liam dengan Mrs Robinson tersebut hatinya menjadi terenyuh karena dia tidak menyangka bahwa ibu mertuanya akan dengan mudah untuk memberinya izin menunda memiliki anak. Setelah itu Jane langsung kembali ke ranjangnya begitu dia melihat Liam berjalan menuju ke kamar, dan dia berpura - pura sibuk bermain handphone. Tidak lama kemudian Liam masuk ke dalam kamarnya dan mengganggu Jane yang sedang bermain handphone. Liam mengambil handphone Jane dan meletakannya di atas meja, lalu setelah itu dia menciumi leher serta wajah istrinya itu hingha istrinya tertawa karena merasa geli. Mereka berdua bercanda ria dan tidak memikirkan batasan lagi karena sudah tidak ada batas diantara mereka berdua.
"Sudah cukup hubby, aku sudah lelah tertawa."
Liam kemudian menghentikan aktivitasnya "iya sayangku yang cantik," ucap Liam sembari menyelipkan rambut Jane di telinganya.
"Ayo nanti pergi ke supermarket."
"Baiklah, apa yang ingin kamu beli?"
"Rahasia."
Beberapa jam kemudian pengantin baru itu sama - sama pergi ke supermarket. Liam yang bertugas mendorong trolley, sedangkan Jane memilih sesuatu untuk dia beli.
"J, aku ingin mencari sesuatu di sana."
"Oh iya hubby."
Saat Liam sedang mengambil susu di rak atas tiba - tiba ada seseorang yang memegang tangan Liam "ah maaf," ucap wanita itu.
"It's okay."
"Kak Liam?"
"Ah kamu Chika kan?"
Chika mengangguk "Kakak disini sedang mencari apa?"
"Camilan oats."
Tiba - tiba Jane menghampiri Liam dan memeluk pergelangan tangannya "jadi membeli apa hubby?"
Liam menunjukkkan camilannya "mmm Chika, kenalkan ini Jane istriku."
"Salam kenal."
"Salam kenal juga," ucap Jane ramah.
"Kalau begitu aku duluan ya Chik."
"Eh iya kak."
"Oh dia kakak yang sering kamu ceritakan kepada kami waktu itu?" tanya teman Chika.
"Iya."
"Wah dia memang sangat tampan, tapi sayang dia sudah memiliki istri."
"Benar, bahkan istrinya itu merupakan seorang model terkenal bukan?"
__ADS_1
"Memang orang seperti itu seleranya tipe model terkenal."
"Benar."