
Liam lalu melepas jas yang tadi dia pakai dan memakan mie instan yang sudah dibuatkan oleh Jane sembari menemani Seojun bermain dengan mobil - mobilannya di teras rumah. Sejujurnya Liam tidak terlalu suka dengan anak kecil, namun saat dia melihat Seojun rasanya dia ingin mencubit pipinya karena merasa gemas sekali dengan tingkahnya tersebut. Tadinya dia merasa sangat lelah karena dia harus bekerja lembur namun tiba - tiba saja rasa lelah tersebut seketika hilang saat dia bertemu dengan Jane dan bermain bersama dengan Seojun, apakah ini pertanda jika sebenarnya Liam sudah diminta menikah oleh semesta? hahaha author hanya bercanda. Sekarang Seojun sedang bermain di pangkuan Liam sembari memainkan permainan susun menyusun angka, sedangkan Jane hanya melihat mereka berdua bermain bersama. Jane merasa heran kenapa Seojun merasa sangat akrab sekali dengan Liam padahal dia baru pertama kali bertemu dengannya, biasanya Seojun tidak bersikap seperti itu kepada orang yang baru pertama kali dia temui. Tidak hanya sekedar bermain, rupanya Liam juga mengajarkan Seojun untuk menulis angka satu sampai sepuluh hingga menulis huruf abjad. Liam juga mengajarkan Seojun untuk membaca perkata sedikit demi sedikit dari buku dongeng miliknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan Liam harus segera pulang karena takut jika Mrs Robinson akan mencarinya, namun Seojun memeluk Liam dengan sangat erat karena tidak ingin Liam pulang dan Seojun masih ingin bermain dengannya. Jane juga ikut membujuk Seojun agar melepaskan Liam namun tetap saja dia menolaknya dan dia mulai menangis. Liam kemudian berdiri sembari menggendong Seojun untuk menenangkannya agar tidak menangis lagi dan mengusap punggung Seojun. Jane tersenyum dan berfikir jika sebenarnya Liam sudah cocok untuk menjadi seorang ayah apalagi setelah dia melihat Liam yang dengan sigap menggendong Seojun saat mulai menangis, namun seketika Jane menjadi minder dan berfikir jika Liam terlalu baik untuknya. Seharusnya pria sepertinya pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya, begitulah kira - kira yang Jane fikirkan saat ini. Tiba - tiba saja Seojun tertidur di gendongan Liam, lalu Liam berjalan menghampiri Jane dan memberikan Seojun yang sedang tertidur kepada Jane untuk menidurkannya di kamarnya. Setelah itu Liam membereskan mainan Seojun dan membawa mangkuk serta cangkir yang tadi dia pakai ke dalam rumah Jane, lalu dia berpamitan untuk pulang.
Sesampai di rumah Liam kemudian menemui bibi yang bekerja di rumahnya "bi, tolong bersihkan piano di ruang utama ya."
"Baik tuan muda, anda baru saja pulang?"
"Iya bi, tadi kerjaan banyak sekali dan langsung mampir ke rumah teman sebentar."
"Oh begitu rupanya, tuan muda sudah makan malam?"
"Sudah bi, tadi dibuatkan mie instan oleh temanku."
"Tuan muda ingin makan lagi?"
"Tidak bi terima kasih, kalau begitu aku ingin mandi terlebih dahulu."
Bibi tersenyum "baik tuan muda."
Liam lalu berjalan menuju kamarnya untuk mandi, lalu saat bibi sedang membersihkan debu yang menempel pada piano tersebut tiba - tiba Mrs Robinson menghampiri bibi dan bertanya "bi, Liam sudah kelihatan pulang belum ya?"
"Oh sudah nyonya, sekarang tuan muda sedang mandi."
"Oh begitu, tumben sekali bibi membersikan pianonya."
"Tadi saya diminta oleh tuan muda untuk membersihkannya, mungkin akan dimainkan oleh tuan muda."
"Tumben sekali Liam mau memainkannya, sudah lama sekali dia tidak memainkannya."
"Iya nyonya, mungkin saja suasana hati tuan muda sedang baik atau mungkin tuan muda sedang jatuh cinta."
__ADS_1
Mrs Robinson tertawa "bibi ini, kok bisa mengetahui hal seperti itu darimana?"
"Saya juga pernah muda nyonya, jadi saya tau hal seperti itu apalagi akhir - akhir ini tuan muda sering tersenyum sendiri saat menatap layar handphonenya."
"Benarkah?"
"Iya nyonya, akhir - akhir ini auranya terlihat beda saja."
"Beda bagaimana bi?"
"Dahulu tuan muda sering terlihat murung namun sekarang tuan muda terlihat sangat bahagia dan merubah penampilannya, kalau bukan karena sedang jatuh cinta mana mungkin bisa sampai hampir berubah total seperti itu apalagi sekarang setiap weekend tuan muda tidak pernah tidur di rumah."
"Benar juga sih bi."
"Saya sebenarnya ingin bilang dari kemarin tentang sesuatu hal nyonya, namun saya tidak enak dengan nyonya apalagi jika terdengar sampai ke telinga tuan."
"Tidak apa - apa bi, katakan saja."
Mrs Robinson seketika terkejut mendengar cerita dari bibi "benarkah bi?"
"Iya nyonya, saya tidak bohong."
Tiba - tiba Mr Robinson datang menghampiri istrinya yang sedang berbincang dengan asisten rumah tangganya "kalian sedang membicarakan apa? kelihatannya serius sekali."
"Tidak kok hon, bibi hanya sedang membicarakan tentang harga bahan makanan yang sedang naik."
"Apa karena itu uang belanjanya jadi kurang?"
"Cukup kok," ucap Mrs Robinson dengan senyum yang terpaksa.
"Oh begitu, kalau kurang katakan saja padaku nanti akan aku tambah uang belanja bulanannya."
__ADS_1
"Iya hon."
Mrs Robinson lalu memberi kode kepada bibi untuk tidak menceritakannya kepada Mr Robinson, bukan apa - apa namun Mrs Robinson takut jika suaminya itu akan kembali menghukum Liam dengan memukulinya sampai babak belur. Maka dari itu Mrs Robinson akan menyembunyikannya dari suaminya tersebut sembari menyelidikinya secara diam - diam sampai dia menemukan kebenarannya. Mr Robinson lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum, sedangkan bibi dan Mrs Robinson juga ikut pergi menyelesaikan aktivitas masing - masing. Beberapa menit kemudian Liam datang menghampiri piano miliknya yang berada di ruang tamu dan mulai memainkan tuts piano tersebut sembari menyanyikan sebuah lagu, di sisi lain Mrs Robinson kemudian menyelinap ke kamar Liam dan langsung menghampiri keranjang baju kotor Liam. Benar saja, ternyata Mrs Robinson juga mencium aroma parfume wanita di jas dan kemeja Liam yang baru saja dia pakai hari ini.
"Mommy sedang apa di kamar Liam?" tanya Rosie yang melihat Mrs Robinson baru saja keluar dari kamar Liam.
"Tadi mommy hanya memeriksa suplemen yang biasa kakakmu minum apakah sudah habis atau belum," ucap Mrs Robinson berbohong.
"Oh begitu, mom tumben sekali Liam memainkan pianonya sembari menyanyi."
"Mungkin kakakmu sedang bosan dan ingin refreshing setelah bekerja lembur."
"Bisa jadi."
Di sisi lain Mr Robinson menghampiri Liam yang baru saja menyelesaikan sebuah lagu, dan Mr Robinson langsung memegang leher belakang Liam dengan sangat kencang sembari berbisik di telinga Liam "aku tau apa yang sudah kamu lakukan dengan Jane, jika kamu melakukannya kembali atau melakukan yang lebih dari itu maka aku tidak segan - segan untuk langsung memotong lehermu!"
"Ba-baik dad," ucap Liam menahan sakit sembari menelan ludahnya.
"Sedang apa hon?" tanya Mrs Robinson dari atas tangga dan sedang memperhatikan mereka berdua.
Mr Robinson kemudian melepaskan tangannya dari leher Liam "aku hanya sedang memberitahu Liam cara bermain piano yang baik dan benar."
"Oh begitu, baiklah."
Setelah Mrs Robinson pergi, Mr Robinson lalu kembali berbisik kepada Liam "awas saja jika kamu berani melakukan hal itu kembali, dasar membuat malu saja!"
"Maaf dad," ucap Liam sembari menahan tangis karena masih merasa kesakitan.
"Jangan sampai mommy kamu tau tentang masalah ini, mengerti?"
"Mengerti dad."
__ADS_1