Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #339


__ADS_3

Liam mengikuti Jane menuju ke kamar mandi dan setelah itu Liam membantu Jane menyiapkan beberapa perlengkapan yang masih kurang. Setelah itu barulah Jane menceburkan Ace ke dalam bak mandi bayi dan memandikannya secara hati - hati agar airnya tidak masuk ke dalam hidung, mulut, dan telinga. Liam hanya diam memperhatikan Jane memandikan anaknya, dan saat Ace ingin menangis Liam langsung menghiburnya seperti bermain ciluk ba agar tidak jadi menangis. Liam lalu mengambil handuk dan mengalungkannya ke lehernya sembari menunggu Jane selesai memandikan Ace, dan tidak lama kemudian Ace sudah selesai mandi.


Liam membungkus seluruh badan Ace yang mungil itu dengan handuk agar dia tidak menggigil kedinginan. Liam merasa sangat gemas sekali dengan Ace karena seperti sebuah lemper, apalagi handuk Ace saat itu bewarna hijau hahaha. Liam kemudian memotret Ace dan mengunggahnya di media sosial miliknya dengan caption lemper, hal tersebut langsung memancing komentar dari teman - teman dekatnya dan banyak dari mereka yang berkata Ace bukan seperti lemper namun justru mirip seperti arem - arem. Hal itu karena Ace memiliki badan yang sedikit berisi sehingga lebih mirip dengan arem - arem.


Liam kemudian tertawa setelah membaca semua pesan dari teman - temannya, dan ditambah lagi dengan wajah polos anaknya itu saat menatap Liam yang sedang tertawa. Jane menatap Liam dengan heran sembari bertanya - tanya mengapa suaminya itu tertawa saat melihat ke layar handphone miliknya, dan setelah itu Jane merebut handphone Liam karena merasa sangat penasaran. Liam tidak bisa berkutik saat handphone miliknya direbut oleh Jane karena dia takut jika dicubit oleh Jane, sehingga dia hanya bisa menatapnya sembari memanyunkan bibirnya. Jane kemudian melihat semua pesan terbaru di handphone Liam dan setelah selesai membaca semua pesan itu, Jane langsung memukul Liam.


"Aduh, apaan sih Jane?" tanya Liam sembari mengusap tangannya yang habis dipukul oleh Jane.


"Masa kamu menyamakan anakmu dengan lemper dan arem - arem?"


"Kenapa memangnya, bukankah itu lucu? lagipula kamu juga kenapa sih membeli handuk bewarna hijau tua, kan itu terkesan seperti daun pisang."


"Ihh kamu ini ckckck," ucap Jane berdecak.


"Kembalikan handphone ku, ini privasi!"


"Kenapa memakai privasi-privasian segala sih, kan aku ini istrimu dan kita sudah menikah."


"Terserah aku wlee," ucap Liam menjulurkan lidahnya.


Setelah itu Jane mengikat pita yang berada di baju Ace dan langsung mencium pipinya.


"Ihh lucunya putra eomma."


"Hei dia putraku juga ingat itu!" ucap Liam dengan penekanan nada di kata terakhir.


"Iyain aja."


Liam lalu berbaring di samping Ace sembari terus menerus menoel-noel pipi Ace hingga dia merasa risih, dan akhirnya Ace kembali menangis. Melihat anaknya yang menangis karena ulah Liam, Jane kembali memukul tangan Liam dan menggendong Ace untuk menjauhkannya dari Liam.


"Jangan jauhkan aku dari putraku," ucap Liam mulai bertingkah seolah - olah dia sedang bermain film drama.


"Haisss berisik Liam!" teriaknya memperingatkan Liam.


"Kamu ini kenapa berbuat seperti ini kepadaku?"


"Cukup Liam, aku sudah muak."


Liam hanya cengengesan saja.


"Hehe. Jane, nanti kita akan sarapan apa?" tanya Liam menghampiri Jane.

__ADS_1


"Terserah kamu saja nanti aku akan memberitahu bibi jika kamu ingin makan sesuatu."


"Hmm. Jane besok ak berangkat kerja."


"Eh kenapa? bukankah kamu cuti selama sebulan?" tanya Jane saat membalikkan tubuhnya menghadap Liam.


"Iya, tetapi tiba - tiba saja aku berubah fikiran dan ingin cepat berangkat ke kantor."


"Oh begitu."


"Tidak apa - apa kan jika aku tinggal?"


"Tidak apa - apa hubby, lagipula juga ada bibi dan Pak Kang yang bisa membantuku."


"Atau mau aku sewakan baby sitter saja?"


Jane menggeleng.


"Tidak perlu hubby, aku ingin merawat anakku sendiri tanpa bantuan dari baby sitter."


"Okay baiklah jika itu keputusanmu."


Liam kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi, sedangkan Jane masih menggendong baby Ace sembari menyanyikan sebuah lagu untuknya. Setelah itu Liam berbaring di atas ranjang dan memainkan handphone miliknya sampai dia ketiduran. Saat siang hari Liam lalu pergi ke kantor milik Yeji untuk melakukan pemotretan untuk tugas yang ke 4. Sesampainya disana Liam lalu mendekati Yeji yang sedang menatap layar laptop miliknya karena sedamg mengerjakan tugas tambahan. Menyadari bahwa Liam sedang duduk bersandar di bahunya, Yeji kemudian mengusap pipi Liam dan kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya.


"Sedang malas dirumah."


"Sudah makan?" tanya Yeji sembari masih menatap layar laptopnya.


"Hanya sedikit."


"Kenapa begitu? nanti sakit lho."


"Biarin."


"Oh iya, bagimana anakmu? aku lihat anakmu sangat lucu sekali hingga rasanya aku ingin punya sendiri."


"Ya sudah buat sana dengan kekasihmu hahaha."


"Aku tidak mempunyai seorang kekasih."


"Eh kenapa begitu? padahal kamu sangat cantik."

__ADS_1


"Tidak apa - apa, aku sedang malas pacaran saja."


"Oh begitu."


"Aku buatkan mie instan jika kamu masih lapar, atau mau aku pesankan makanan online?"


"Buatkan aku mie instan seperti biasanya saja."


"Okay, sebentar."


Yeji lalu meletakkan laptopnya dan langsung membuatkan Liam mie instan serta es teh. Melihat laptop Yeji yang masih menyala di atas meja, Liam kemudian mengambilnya dan melihat - lihat tugas yang sedang dikerjakan oleh Yeji. 5 menit kemudian Yeji datang sembari membawa semangkuk mie instan dan juga es teh. Liam kemudian memakannya dengan sangat lahap, sedangkan Yeji melanjutkan mengerjakan tugas. Mereka berdua berbincang bersama sembari menunggu semuanya datang, dan akhirnya satu - persatu dari mereka telah datang. Mereka semua lalu memulai pemotretan tersebut sembari sesekali bercanda bersama. 2 jam kemudian mereka telah selesai melakukan pemotretan, dan Liam langsung berbaring di sofa ruang tengah bersama temannya yang lain.


"Besok kalau aku mendirikan kantor distro sendiri, aku ingin kantor kita lebih luas sert lebih nyaman dari ini."


"Kenapa kamu tidak meminta papamu saja untuk menjadi sponsor untuk mendirikan distromu?" tanya teman Yeji.


"Ah papa sangat susah untuk diminta menjadi sponsor karena dia ingin aku fokus untuk kuliahku terlebih dahulu," jawab Yeji.


"Buat distromu sekarang saja secara diam - diam," ucap Liam menyarankan.


"Benar yang dikatakan oleh Liam dan kami pasti akan membantumu mengelolanya," ucap salah satu temannya yang lain.


"Memang bisa ya?" tanya Yeji ragu.


"Bisa saja, belum dicoba kok sudah pesimis seperti itu sih."


"Ya masalahnya aku masih merasa ragu apakah aku bisa mengelolanya atau tidak."


"Kita semua akan membantumu Yeji," ucap mereka semua dengan kompak.


"Benarkah? apa kalian yakin dengan hal itu?"


"Iya."


"Baiklah kita mulai sekarang saja bagaimana?" tanya Yeji dengan sangat antusias.


"Nah begitu dong jika mempunyai ide untuk membuat usaha jangan ditunda - tunda," ucap Liam.


"Iya Li."


"Tetapi mungkin aku hanya bisa membantu kalian semampuku saja karena aku sibuk dengan pekerjaanku dan juga dengan keluargaku.

__ADS_1


"Iya santai saja."


__ADS_2