Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #333


__ADS_3

Karena anak Ricko menangis, dia lalu berdiri untuk menenangkan anaknya sembari menepuk - nepuk pantatnya secara pelan. Tidak lama kemudian anak Liam juga menangis dengan keras karena mungkin saja Ace mendengar Ibra menangis. Liam juga langsung menenangkan Ace yang sedang menangis. Jane dan Gita akhirnya turun tangan untuk membantu menenangkan anaknya masing - masing serta menggendongnya karena mereka berdua tidak kunjung berhenti menangis. Irene yang belum mempunyai pasangan serta mempunyai seorang anak, dia langsung merasa ingin mempunyai anak karena melihat kedua pasangan tersebut saat sedang mengurus anaknya.


Namun sayang kekasihnya yang super cuek serta tidak peka dan bahkan cueknya melebihi Liam, sepertinya belum menginginkan menikah karena ingin fokus membangun kariernya. Berbeda dengan Liam maupun Ricko yang sudah mempunyai perusahaan keluarga, kekasih Irene hanyalah seorang karyawan di perusahaan orang lain dan oleh sebab itu dia ingin fokus kepada kariernya untuk membangun perusahaan miliknya sendiri. Setelah semuanya tenang Jane yang masih menggendong Ace itupun lalu duduk di samping Irene untuk sedikit menghiburnya.


Jane mengetahui semuanya bagaimana hubungan Irene dengan kekasihnya itu karena setiap ada hal apapun Irene pasti selalu bercerita kepadanya. Jane tahu bahwa sahabatnya itu merasa iri dengannya karena memiliki suami yang baik, sudah mapan bahkan terbilang sangat kaya raya, dan sekarang sudah mempunyai seorang anak. Irene ingin sekali mengalami hal seperti itu namun apa daya? kekasihnya justru tidak kunjung menikahinya sejak 2,5 tahun lalu. Setiap Irene bertanya pasti jawabannya selalu diminta untuk menunggu karena dia masih ingin fokus membangun kariernya. Jane kemudian memberikan baby Ace kepada Irene dan memintanya untuk menggendongnya sebentar.


"Eh apa ini Jane?" tanya Irene bingung.


"Aku ingin kamu menggendongnya sebentar," jawab Jane.


"A-aku tidak bisa Jane, dan aku takut jika melakukan kesalahan."


"Tidak apa - apa pelan saja."


Jane lalu mengajari Irene untuk menggendong baby Ace.


"Dia terlihat sangat imut sekali," ucap Irene sembari tersenyum.


"Iya Irene, semoga saja kamu bisa ketularan untuk segera mempunyai momongan."


"Bagaimana aku cepat mempunyai seorang anak kalau kekasihku saja tidak kunjung melamarku."


"Apakah kamu sudah menanyakannya lagi kepadanya?"


"Sudah, akan tetapi jawabannya selalu sama seperti sebelum - sebelumnya."


"Memangnya dia menjawab apa?" tanya Liam merasa penasaran.


"Dia selalu berkata jika masih fokus untuk membangun kariernya dan blablabla."


"Sudah berapa lama?"


"Mungkin sekarang sudah jalan sekitar 4 tahunan."


Liam menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik tinggalkan saja pria seperti itu, dia tidak berniat untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius denganmu."


"Apakah iya?" tanya Irene merasa ragu.

__ADS_1


"Sini ya aku beri tahu, pria yang selalu beralasan hal yang sama setiap kali ditanya mengenai kepastian sebuah hubungan maka dia hanya ingin bermain denganmu saja."


"Masa sih begitu?"


"Iya Irene, tanya saja dengan Ricko dan lagipula mana ada seseorang yang selalu beralasan hal seperti itu selama 4 tahun ketika diberi pertanyaan seperti itu?"


Jane lalu mencubit pinggang Liam.


"Hubby, ssttt."


"Aduh! hei aku berkata yang sebenarnya karena aku juga seorang pria dan aku tidak ingin sahabatmu itu terus terjebak dalam hubungan yang seperti itu, iya kan Ricko?" tanya Liam menatap Ricko.


Ricko mengangguk mengiyakan ucapan Liam.


"Iya dan menurutku seorang pria sejati yang benar - benar menyayangi wanitanya pasti akan cepat memberikan kepastian mengenai hubungannya lebih lanjut agar tidak terkesan menggantungnya."


"Bahkan jika dia benar mencintaimu pasti dia akan langsung datang ke rumahmu untuk menemui orang tuamu," ucap Liam menambahkan.


"Tetapi saranku lebih baik kamu tanyakan mengenai kepastian hubungan kalian berdua sekali lagi, dan jika jawabannya masih sama maka terserah kamu ingin lanjut serta terjebak ke hubungan yang seperti itu ataukah memberanikan untuk lepas dari hubungan yang seperti itu."


"Nah benar kata Ricko, lagipula masih banyak pria di luar sana yang mungkin saja mencintaimu lebih baik daripada dia. Jangan membuang - buang waktu untuk selalu berharap kepada orang yang seperti itu karena kita bukan anak remaja lagi yang terlibat cinta monyet."


"Iya Irene jangan takut untuk keluar dari itu semua karena jika dia memang jodoh kamu pasti dia akan selalu kembali kepadamu, dan jika belum jodoh maka jangan takut saat belum menemukan jodohmu karena Tuhan sudah menciptakan umatnya berpasang - pasangan."


"Oh iya benar juga," jawab Irene mulai berfikir mengenai hubungannya dengan kekasihnya.


"Tetapi saranku apapun keputusanmu tolong selesaikan secara baik - baik dengannya agar tidak ada yang mengganjal lagi."


"Iya Ricko terima kasih sarannya, dan terima kasih juga Liam."


"Yupss sama - sama."


Liam lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman soda untuk dirinya dan juga Ricko, sedangkan Irene masih memikirkan mengenai ucapan dari mereka berdua sembari bermain dengan Ace. Mungkin benar ucapan mereka berdua jika dirinya harus bertanya sekali lagi kepada kekasihnya untuk mendapatkan sebuah kepastian, dan jika kembali seperti itu maka dirinya juga harus mulai mempertimbangkan untuk mengakhirinya. Liam dan Ricko lalu kembali melanjutkan bermain PS bersama karena sepertinya sudah lama mereka berdua tidak bermain PS bersama. Josh lalu datang menghampiri mereka berdua yang sedang asyik bertanding sepak bola di PS, dan setelah itu Josh menghampiri adik perempuannya untuk bertemu dengan keponakannya juga.


"Eh Irene, kamu datang ke Indonesia?" tanya Josh.


"Iya Josh, aku kemari untuk bertemu dengan keponakanku."


"Oh begitu. Eh ini Ibra?"

__ADS_1


"Iya Josh ini Ibra," ucap Gita.


"Hai Ibra, udah lumayan besar ya ututu."


"Iya Josh sudah menginjak sekitar 5 bulanan."


"Oh begitu, katanya ingin di adu dengan Ace hahaha."


"Entahlah dasar kelakuan bapak - bapak absurd."


Josh tertawa, dan setelah itu dia mencium Jane.


"Bagaimana setelah menjadi seorang ibu, adikku?" tanya Josh dengan nada mengejek.


"Ya begitulah, sekarang lebih sering begadang walaupun terkadang tukaran shift dengan Liam hehe."


"Tidak apa - apa masih mending Liam bisa diajak kompromi dalam hal seperti itu," ucap Josh mengusap rambut Jane.


"Iya oppa, untung saja begitu."


"Ututu keponakanku yang tampan seperti uncle nya, aku ingin menggendongnya."


"Dia tampan seperti daddynya dan bukan seperti unclenya," ucap Liam.


"Ssstt berisik!"


"Yeee dasar Josh tidak jelas," ucap Liam mencibir Josh.


"Kamu ini juga tidak jelas, bukannya mengurus anak malah bermain PS."


"Tidak apa - apa oppa karena semalam Liam hampir tidak bisa tidur karena mengurus baby Ace," ucap Jane membela Liam.


"Hmm begitu."


"Iya."


Josh mencium baby Ace.


"Ututu keponakannku sangat menggemaskan sekali hingga rasanya ingin aku culik."

__ADS_1


"Jangan begitu dong oppa."


"Aku hanya bercanda Jane."


__ADS_2