Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #266


__ADS_3

Liam masih saja terus menciumi Jane hingga membuat Jane tertawa karena merasa geli, apalagi sekarang kumis Liam sudah mulai memanjang lagi. Ciuman Liam semakin turun dan berfikir bahwa hasrat Liam sudah mulai memuncak. Jane hanya bisa pasrah dengan perbuatan Liam tersebut apalagi saat Liam mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Sekarang Jane sudah tidak kaget lagi dengan perbuatan Liam itu dan selalu hafal jika setiap weekend pasti Liam selalu meminta jatah kepadanya. Liam beralih menciumi leher Jane karena baunya sangat harum, oleh sebab itu mengapa dia selalu suka menciumi leher Jane dan pasti setelah itu Liam juga selalu meninggalkan bekas ungu kemerahan di leher Jane. Sesekali Jane mengusap rambut Liam serta menjambaknya karena merasa keenakan dibuatnya. Disaat - saat itulah Jane juga terkadang mengukur rambut Liam apakah sudah waktunya dipotong atau belum, karena suaminya itu tidak mempunyai kesadaran untuk pergi potong rambut sendiri. Setiap rambutnya sudah dirasa panjang maka Jane akan langsung mengajak Liam pergi ke salon untuk potong rambut. Beberapa menit telah berlalu dan mereka berdua masih saja asyik bercinta hingga lupa waktu.


Saat dirasa sudah mencapai kepuasan satu sama lain, mereka berdua akan pergi beristirahat sembari berbincang ringan untuk mencairkan suasana. Terkadang mereka berdua juga tidak lupa untuk saling melempar pujian satu sama lain agar menambah keharmonisan di dalam hubungan mereka berdua. Liam memeluk Jane dan mengusap pantatnya sembari mendengarkan cerita dari Jane karena Jane belum mengantuk. Berbeda dengan Liam yang selalu mengantuk setelah melakukan hal tersebut, justru Jane malah tidak merasa mengantuk sama sekali dan terasa sedikit bersemangat walaupun lumayan melelahkan. Karena hal tersebut Liam lalu menemani Jane berbincang sebentar sembari bermanja ria kepada istrinya. Saat sedang berbincang, sesekali tangan Jane mengusap pipi Liam dengan lembut serta menciuminya karena Liam menenggelamkan wajahnya ke dalam leher Jane. Sebenarnya Jane mengetahui bahwa Liam sudah sangat mengantuk namun biarkan saja dia seperti itu menemaninya begadang, lagipula itu semua juga karena perbuatan Liam.


"Hubby, kamu tidak tidur kan?" tanya Jane melirik ke arah Liam.


*Hoam.* Liam menguap.


"Tidak, aku dari tadi mendengarkan ceritamu kok."


"Kalau begitu bagaimana menurut hubby?"


Liam berfikir sejenak.


"Jadi ceritanya temanmu si Irene itu sudah sangat lama menjalin hubungan dengan pacaranya kira - kira 3 tahun an dan sekarang sudah hampir 4 tahun, lalu dia tiba - tiba mulai merasa jenuh karena tidak kunjung dilamar oleh pacarnya, begitu?" tanya Liam memastikan.


Jane mengangguk sembari menggigit jarinya.


"Heem."


"Lalu dia meminta saran kepadamu mengenai bagaimana dia langkah selanjutnya?"


"Benar, kalau menurutku sih lebih baik ditinggalkan. Lalu bagaimana menurut hubby?"


"Kalau menurutku sih coba dia meminta kejelasan terlebih dahulu kepada pacarnya itu bagaimana kedepannya, karena kasihan kalau langsung ditinggalkan dan mencari yang baru."


"Kenapa begitu?" tanya Jane keheranan.


"Kalau misalnya pacarnya temanmu itu bersikap seperti itu seolah - olah tidak ada kejelasan mengenai lebih lanjut karena diam - diam sedang berjuang mengumpulkan biaya pernikahan bagaimana? kamu tahu sendiri kan biaya pernikahan itu tidaklah murah, belum lagi ada tuntutan dari orang - orang terdekatnya agar melaksanakan acara pernikahan yang mewah."


Jane berfikir sejenak sembari merenungkannya.


"Memangnya dulu apa ada yang menuntut hubby agar menggelar acara pernikahan dengan sangat mewah seperti itu?" tanya Jane tiba - tiba.


"Mmm aku mengantuk, mari tidur."


"Hubby, jangan mengalihkan pembicaraan!!"


"Baiklah, apa yang ingin kamu dengar heum?" tanya Liam sembari merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.


"Ceritakan semuanya apa yang tidak aku ketahui!"


"Aku sangat suka sekali mencium bau tas plastik kresek hitam yang masih baru."


"Jangan bercanda hubby."


"Aku tidak bercanda, aku serius Jane."

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat menyukainya padahal aromanya sangat tidak enak sekali?"


"Entahlah, enak saja aromanya."


"Iyuhh dasar menjijikkan," ucap Jane sedikit menjauhi Liam.


Liam langsung meraih pinggul Jane yang duduk di sebelahnya sembari tertawa.


"Kemarilah, kenapa tiba - tiba kamu menjauh seperti ini?"


"Kamu pasti mempunyai fetish terhadap kresek hitam ya?" tanya Jane merasa curiga.


"Tidak sayang, mana mungkin aku seperti itu."


"Oh aku kira kamu seperti itu."


"Eh ini sudah jam berapa?"


Jane lalu mengambil handphone miliknya yang berada di meja samping ranjang untuk melihat jam.


"Sudah jam setengah 3 pagi hubby."


Liam langsung merasa terkejut.


"Lho kok cepat sekali sih, tiba - tiba sudah jam setengah 3 pagi saja."


"Benar, jadi mau bagaimana?" tanya Liam menatap Jane.


"Sebentar lagi tidurnya, kita lanjutkan saja perbincangan kita."


"Memangnya kamu tidak mengantuk?"


"Tidak, rasa kantukku tiba - tiba hilang begitu saja sejak tadi."


"Oh begitu."


Jane kemudian menguncir rambutnya dan mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka sembari bercanda ria. Liam lalu meminta Jane untuk menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut agar tidak masuk angin, apalagi pada saat itu Liam menyalakan AC. Mereka baru mulai tidur saat jam 3 pagi, dan keesokan harinya Jane terbangun lebih awal dari Liam. Namun bukannya langsung pergi mandi atau melakukan hal produktif lainnya, Jane justru mengambil handphone miliknya dan menjelajahi media sosial. Hari itu adalah hari minggu, jadi dia bisa lebih santai serta bangun siang karena suaminya tidak pergi bekerja. Jane lalu menatap suaminya yang tengah tertidur pulas sembari mengusap rambutnya, dan merasa suaminya sekarang lebih jinak daripada sebelumnya.


"Jane," panggil Liam lirih.


"Iya hubby, ada apa?"


"Aku fikir kamu pergi, ternyata kamu masih disini."


"Aku tidak pergi kemana - mana hubby, aku sedang malas bepergian."


"Kenapa begitu?"

__ADS_1


"Aku lelah karena semalam."


"Oh, mmm aku ingin pergi ngegym."


"Dimana?"


"Dirumah."


"Badanmu sudah besar seperti ini masih saja pergi ngegym," ucap Jane sembari menepuk - nepuk punggung Liam.


"Biar lebih kuat lagi menggendongmu hahaha."


"Badanmu sangat lengket, apa tidak ingin mandi dulu?"


"Nanti saja sekalian, malas mandi berkali - kali."


"Ya sudah kalau begitu, ingin minum apa?"


"Kopi."


"Okay, nanti aku buatkan."


Sebelum pergi ke ruangan gym, Liam masih asyik berguling - guling di kasur, sedangkan Jane kembali menjelajahi media sosial miliknya. Liam lalu memeluk Jane dari samping dan menciumi leher Jane.


"Jane sayang," panggil Liam dengan manja.


"Apa hubby, sudah merasa lapar heum?" tanya Jane mengusap pipi Liam.


"Belum. Hari ini kita tidak akan pergi kemana - mana kan?"


"Sepertinya tidak, memangnya kenapa?"


"Aku ingin bermain game, bolehkan?"


"Iya boleh, eh tapi bukankah tadi kamu ingin ngegym?"


"Iya setelah ini."


"Oh. Apa besok setelah kita punya anak kamu akan berhenti bermain game?"


"Tidak, justru aku akan mengajarinya cara bermain game yang baik dan benar."


"Kalau mengajari anak itu membaca, menulis, menggambar, atau pendidikan budi pekerti eh kamu malah ingin mengajari anakmu bermain game."


"Ya tidak apa - apa sebagai selingan saja, dan sisanya masih mengajari semua hal yang kamu sebutkan tadi."


"Oh begitu."

__ADS_1


__ADS_2