
Grandma langsung pergi ke kamar mereka berdua untuk memastikan keberadaan semua cucunya, dan setelah itu grandma meminta kedua cucunya itu untuk pergi berjalan - jalan sebentar di luar atau pergi ke rumah Liam terlebih dahulu. Grandma melakukan itu semua karena mereka berdua tidak ingin bahwa mereka mendengar ataupun menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Meskipun mereka berdua sudah terlihat cukup dewasa namun grandma tidak ingin jika nanti mereka berdua mencontoh kelakuan kedua orang tuanya.
Sama sepertinya saat tengah bertengkar dengan suaminya, pasti mereka akan memilih bertengkar di rumahnya yang lain ataupun di dalam sebuah kamar kedap suara. Rosie dan Lian yang masih bingung dengan sikap grandma itu, mereka lalu pergi ke rumah Liam tanpa berkomentar apapun. Disepanjang perjalanan Rosie bertanya - tanya mengenai alasan mengapa grandma menyuruhnya dan juga kakaknya untuk pergi dari rumah, begitupun juga dengan Lian yang juga berfikir hal yang sama.
Sesampainya di rumah Liam, mereka lalu masuk ke dalam rumahnya karena Rosie memiliki kartu untuk membuka pintu rumah Liam. Dahulu Liam memang sengaja memberikan satu kartu kunci agar Rosie bisa dengan bebas keluar masuk rumahnya. Mereka berdua terkejut karena melihat Liam yang sedang bermesraan di gazebo rumahnya, dan seketika mereka berdua langsung membalikkan badannya agar tidak mengganggu Liam.
"Maaf, kami tidak tahu jika kalian berdua sedang seperti itu."
"Haisss sialan, kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Liam kesal.
"Rosie yang mempunyai akses ke lift rumah ini, jadi kita tidak mengetuk pintu."
"Oh begitu, lalu kenapa tumben sekali kalian kemari?" tanya Liam.
"Tidak tahu, grandma yang meminta kami berdua kemari."
"Berbaliklah kalian berdua! aku tidak melakukan hal apapun dengan Jane," ucap Liam.
"Okay," ucap mereka berdua serempak dan langsung membalikkan badan.
"Kalian sudah makan belum?" tanya Jane sembari mengusap rambut Liam.
"Sudah eonni, tapi kalau eonni ingin memberikan camilan juga tidak apa - apa hehe."
"Kalau ingin camilan kamu bisa mengambilnya sendiri di kulkas."
"Okay eonni," ucap Rosie yang kemudian melenggang pergi ke dapur.
Lian lalu duduk di samping Liam.
"Kemana baby Ace?"
"Baby Ace sudah tidur," jawab Jane.
"Oh begitu."
"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah hingga kalian berdua diminta grandma kemari?" tanya Liam penasaran.
"Sepertinya daddy dan mommy sedang bertengkar, tapi tidak tahu juga sih yang sebenarnya karena aku hanya berusaha menebaknya saja."
"Bisa jadi, karena setiap daddy dan mommy bertengkar pasti grandma langsung mengajak kita bertiga pergi keluar rumah."
"Benar Liam, sepertinya begitu namun aku tidak tahu mereka berdua bertengkar mengenai hal apa."
"Iya sih."
"Bagaimana Jane, sangat menyebalkan bukan tinggal dengan pria seperti dia?" tanya Lian menggoda Jane.
"Hahaha dia memang menyebalkan namun jika aku tidak bertemu dengannya, aku justru sangat merindukannya."
"Mantap, langgenglah kalian berdua dan jangan kebanyakan bertengkar."
"Seperti daddy dan mommy?" tanya Liam bercanda.
__ADS_1
Lian tertawa.
"Benar hahaha, aku saja sampai tidak habis fikir dengan orang tuamu."
"Eh mereka berdua juga orang tuamu, Lian."
"Iya juga sih," ucap Lian menggaruk kepalanya.
"Wah kulkas di rumah Liam memang sangatlah keren, banyak sekali makanan lezat yang aku temukan disana."
"Aku kan memang membeli semua makanan itu untukmu juga Rosie," ucap Jane.
"Benarkah eonni?" tanya Rosie yang merasa tidak percaya dengan ucapan Jane.
"Iya, dan sebenarnya Liam yang memintaku untuk membeli banyak camilan agar kamu bisa memakannya juga."
"Dasar si Liam dari dulu selalu memanjakan Rosie."
"Tidak apa - apa Lian, aku senang jika bisa memanjakan Rosie."
Rosie lalu meletakkan semua camilan serta minuman dingin di depan mereka agar mereka dapat ikut memakannya juga. Sejak dahulu mereka bertiga memang suka berbagi satu sama lain, dan itu merupakan hal yang sejak dulu ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Meskipun orang tuanya terlihat sangat sibuk namun mereka masih mengurus serta mengajarkan hal yang baik - baik kepada anak - anaknya. Mereka berempat memakan camilan itu bersama sembari berbincang.
"Kata grandma kalian berdua akan pergi liburan ke Bali ya?" tanya Rosie.
"Benar, aku dan Jane akan pergi liburan ke Bali."
"Tumben sekali, memangnya ada acara apa?"
"Oh begitu."
"Liam sekarang terlihat manja sekali dengan Jane padahal dahulu kalian berdua selalu bertengkar," ucap Lian.
"Benar Lian, dahulu mereka berdua juga sering bertengkar saat awal pertemuan mereka."
Jane tersenyum.
"Sekarang Liam rewelnya melebihi baby Ace jika sedang ingin dimanja."
"Wah wah dasar Liam," ucap Lian sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku kan hanya seorang pria biasa yang selalu ingin dimanjakan oleh istrinya," ucap Liam memeluk Jane dari samping."
"Lalu kamu kapan menyusul Lian?" tanya Rosie.
"Aku besok saja kapan - kapan setelah kamu hehe."
"Dasar aneh, seharusnya kakak tertua yang menikah lebih dahulu eh ini malah minta jadi yang terakhir menikah."
"Masalahnya aku belum siap hehe."
"Dahulu aku juga sama," ucap Liam.
"Nikah itu enak tidak?" tanya Lian penasaran.
__ADS_1
Liam dan Jane langsung saling bertatapan.
"Ya ada enaknya dan ada tidaknya, tergantung bagaimana kamu menjalaninya."
"Oh begitu."
"Nanti kalian berdua menginap saja disini " ucap Jane.
"Memangnya tidak apa - apa?" tanya Lian.
"Tidak apa - apa, santai saja."
"Baiklah."
Disisi lain Mrs Robinson masih saja ribut dengan suaminya serta menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Hon, peecayalah kepadaku."
"Aku harus percaya bagaimana lagi ha? pantas saja selama ini kamu selalu merasa risih saat aku sedang berada di dekatmu, dan ternyata ini penyebabnya?"
"Tidak hon, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Selama ini aku juga sudah memenuhi kebutuhan biologismu dan juga memberikanmu dua putra sekaligus, yang artinya aku memang sudah benar - benar mencintaimu."
"Bullshit!! kamu pasti melakukan itu semua karena permintaan dari mommy bukan?" tanya Mr Robinson kesal.
"Tidak hon, ini semua karena keinginaku sendiri."
"Sudahlah aku ingin pergi saja, disini rasanya tidak nyaman sekali."
Mrs Robinson langsung menggenggam erat tangan suaminya serta berlutut dikakinya.
"Kumuhon jangan pergi hon, ini sudah malam dan kamu akan pergi kemana?"
"Terserah aku akan pergi kemana, urus saja urusanmu sendiri!!"
"Maafkan aku hon."
"Aku sangat mencintaimu dengan tulus namun mengapa kamu berbuat seperti ini kepadaku heum?" tanya Mr Robinson mengusap rambut istrinya.
"Semua yang kamu fikirkan itu salah hon karena semenjak kita akan mempunyai dua orang anak, aku sudah benar - benar tulus mencintaimu."
"Apa yang membuatmu sangat mencintaiku?"
"Semua perjuanganmu untuk mendapatkanku serta membahagiakan aku."
Mr Robinson lalu berusaha untuk menurunkan egonya.
"Sudah jangan menangis seperti itu, maaf jika aku membuatmu menangis."
"Tapi hon."
"Sudah bangunlah! kita jangan bertengkar lagi seperti ini, aku tidak mau kehilanganmu karena dahulu aku sangat sulit sekali mendapatkanmu jadi maaf jika aku terlalu posesif kepadamu."
"I-iya hon."
__ADS_1