Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #127


__ADS_3

Mereka bertiga lalu duduk di tangga teras rumah Jane sembari berbincang bersama sampai larut malam, mereka membicarakan berbagai hal mulai dari tentang negara asal Jane yaitu Korea Selatan, negara Liam yaitu Australia sampai negara Indonesia. Mereka bertiga tampak sangat akrab sekali, bahkan Jane sampai dibuat tertawa oleh tingkah Liam dan Ricko yang selalu bercanda di setiap pembicaraan mereka. Jane tidak menyangka jika dia akan mengenal dua orang pria yang dapat membuatnya tertawa lepas karena tingkah laku dan candaan mereka berdua. Dua orang pria yang bersahabat dengan latar belakang yang berbeda, tingkah laku mereka yang juga berbeda, hingga cara berfikir mereka yang juga sangat bersebrangan, namun itu semua tidak membuat mereka lantas membenci satu sama lainnya saat sedang berbeda pendapat tetapi justru itu membuat mereka lebih berfikir bersama untuk menyatukan pendapat mereka berdua masing - masing menjadi satu pendapat.


Ricko yang cenderung berfikir sedikit lebih dewasa daripada Liam namun dia justru memilih untuk mendengarkan kata hatinya, sedangkan Liam yang dengan tiba - tiba bisa mengeluarkan kata - kata bijaknya secara ajaib di setiap kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya karena dia memilih untuk mendengarkan otaknya daripada hatinya. Jane yang cenderung menjadi pendengar seketika mengetahui sifat mereka berdua hanya dari cara mereka mengemukakan pendapat, bahkan ada seseorang yang mengatakan "jika kalian ingin mengetahui sifat seseorang maka ajaklah orang itu untuk duduk di sebuah ruangan yang sama dan ajaklah mereka untuk berbicara bersama, karena kamu bisa menebak sifat seseorang dengan melihat caranya berbicara." Mereka berdua adalah sahabat yang saling melengkapi bahkan saat Liam mulai berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain maka Ricko akan mulai menepuk bahu Liam dan menggelengkan kepalanya untuk memperingatkannya tanpa mempermalukan seseorang yang dia peringatkan.


"Kamu katanya akan bertunangan dengan Gita bukan?" tanya Jane secara tiba - tiba.


"Ditunda karena tiba - tiba aku belum siap saja."


"Belum siap apanya Ric?" tanya Jane kembali.


"Mentalnya dan terlebih lagi biayanya hahaha," ucap Ricko bercanda.


"Kamu kan banyak uang Ric, kalau soal mental memang benar sih harus disiapkan terlebih dahulu karena pernikahan itu bukan untuk main - main apalagi kamu nanti pasti akan menjadi kepala rumah tangga," ucap Liam sembari memegang bahu Ricko.


"Iya benar sekali Li, maka dari itu lebih baik ditunda terlebih dahulu untuk mempersiapkan mental dan rencana di masa depan karena tidak mungkin kita akan terus menerus mengalir seperti air mengikuti arus sungai."


"Benar sekali, waktu masih lajang kita mungkin akan bersikap santai mengalir seperti air namun waktu menikah kita tidak mungkin seperti itu lagi apalagi kita juga akan menjadi kepala rumah tangga dan juga kita akan menghidupi anak orang," ucap Liam menambahkan.


"Jane, sepertinya Liam sudah siap nih menjadi kepala rumah tangga dan suami yang baik untuk kamu," ucap Ricko bercanda sembari menunjuk - nunjuk Liam


"Sok tahu! aku juga belum siap untuk menikah anjir," ucap Liam menyangkal pernyataan Ricko.


Jane tersenyum sembari menyelipkan rambut di telinganya "aku sangat yakin jika sebenarnya Liam sudah siap untuk menikah namun dia hanya malu untuk mengatakannya kepada kita."


"Benar apa kata Jane karena aku melihat dari sifatnya sebenarnya dia sudah jauh lebih dewasa," ucap Ricko sembari tangannya berakting seperti peramal yang sedang menerawang Liam.


"Itu tidak benar, sifatku masih labil dan kekanak - kanakan."


Jane lalu mengusap rambut Liam dengan lembut "Liam ini sebenarnya sangat dewasa dan gentle man sekali, dahulu dia pernah berjanji kepadaku jika aku menjadi istrinya maka dia akan mengajakku pergi keliling dunia berdua."

__ADS_1


Liam langsung salah tingkah setelah mendengar ucapan Jane itu "i-itu tidak benar."


Ricko tertawa melihat Liam yang merasa salah tingkah untuk pertama kalinya "aku terkejut karena melihat kamu merasa salah tingkah seperti ini untuk pertama kalinya, wajahmu langsung memerah seperti kepiting rebus."


Liam lalu menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya "wajahku tidak seperti kepiting rebus, jadi berhenti mengejekku."


Ricko tertawa semakin keras "jangan ditutupi begitu dong, aku kan masih ingin melihat wajahmu yang seperti kepiting rebus."


"Tidak mau!" ucap Liam sembari masih menutup wajahnya.


Jane lalu membawa Liam ke dalam dekapannya "ya sudah sini aku bantu untuk menutup wajahmu, atau kamu perlu tas plastik kresek juga untuk menutup wajahmu saat pulang nanti heum?"


"Lebih baik Liam kamu kasih karung beras saja agar seluruh badannya sekalian tertutupi," ucap Ricko bercanda.


"Ide bagus, nanti sekalian aku meminta Pak Kang untuk memasukkan Liam ke dalam karung beras lalu mengantarkannya ke rumah Liam."


"Jangan dong, nanti kasihan mommy pasti histeris kalau melihat putranya seperti itu padahal kan cuma bohongan," ucap Liam masih di dalam dekapan tubuh Jane.


Ricko tertawa "iya juga sih, eh tapi kalian berdua terlihat sangat cocok sekali dan kenapa kalian tidak menikah saja?"


"Besok saja kalau aku dan Jane sudah siap untuk menikah."


"Aku tunggu undangannya."


"Aku ingin pulang tapi aku sudah terlanjur nyaman begini," ucap Liam memeluk Jane dengan erat.


"Ayo pulang, ini sudah sangat larut malam."


"Sebentar."

__ADS_1


"Mau sampai kapan kamu terus begitu Li? mau sampai subuh?"


"Satu abad lagi aku akan melepaskannya."


"Astagfirullah."


Akhirnya Ricko pun mengalah dan menunggu Liam sampai puas memeluk Jane, dan sekitar 10 menit kemudian Liam lalu melepaskan pelukannya. Ricko langsung mengucap syukur sembari memegang dadanya karena dia sudah bertahan sejauh ini melihat kemesraan Liam dan Jane pada malam itu. Ricko dan Liam kemudian berpamitan kepada Jane untuk pulang, lalu setelah itu mereka berdua memakai helm masing masing. Jane kemudian melambaikan tangannya sebelum mereka berdua pulang dari rumahnya dan mengucapkan hati - hati di jalan. Sesampainya di rumah Liam langsung meletakkan gitarnya dan bersiap untuk tidur. Saat di pagi hari sebelum sarapan Liam menyempatkan diri untuk berbincang santai bersama dengan Mrs Robinson di meja makan sembari Liam melihat mommy nya itu membuatkan roti untuk dirinya.


"Mom?"


"Iya sayang, ada apa?"


"Jika semakin diperhatikan ternyata Jane cantik juga."


Mrs Robinson tertawa "kan Jane memang sudah cantik dari dulu sayang, kamunya aja yang dulu sangat membencinya jadi kamu tidak menyadari bahwa Jane memang cantik."


"Benar juga sih, Liam ingin mempunyai istri yang cantik seperti Jane."


"Kenapa kamu tidak menikah saja dengan Jane, apalagi mommy perhatikan jika akhir - akhir ini kalian berdua sangat dekat seperti sepasang kekasih."


"Kapan - kapan saja aku menikah dengannya karena Liam belum siap menanggung tanggung jawab yang besar seperti itu apalagi itu juga menyangkut tentang anaknya orang."


Mrs Robinson tersenyum "Liam benar sekali, tetapi pada dasarnya semua wanita itu sangat cantik dan tinggal bagaimana kita melihatnya saja.


"Mommy benar."


"Yang terpenting itu cantiknya dari dalam karena kecantikan wajah akan menghilang seiringnya dengan waktu, namun kecantikan hati akan semakin terpancar seiringnya dengan waktu."


"Iya mom."

__ADS_1


__ADS_2