
Liam lalu melangkahkan kakinya menuju ke sofa dan membaringkan tubuhnya di sana untuk beristirahat sebentar sembari menikmati hari Minggu. Dengan senyumannya yang cerah secerah matahari bersinar pada pagi itu, Jane mendekati Liam kembali lalu memijat kakinya. Selesai memijat kakinya, Jane lalu berpindah memijat kepalanya sampai Liam tertidur. Jane mengusap pipi Liam dengan lembut dan terus menatap wajahnya. Saat sedang menatap wajah Liam, tiba - tiba saja tangan Jane ditarik oleh Liam hingga dia berbaring di sampingnya. Dengan cepat Liam langsung memeluk Jane dan kembali tertidur. Jane awalnya hanya menemani Liam sembari mengusap - usap rambutnya dan memainkan beberapa helai rambut Liam namun ternyata dia juga malah ikut tertidur hingga sore hari. Mereka tertidur saling memeluk satu sama lain di sofa ruang tengah rumah mereka.
Disisi lain Pak Kang yang sedang berjaga di pos satpam rumah Liam bersama dua satpam lain, tiba - tiba dihampiri oleh beberapa orang yang menanyakan mengenai Liam. Namun karena tadi Liam meminta Pak Kang untuk tidak menerima tamu dari luar, akhirnya Pak Kang memilih untuk tidak memberikan jawaban serta berkata bahwa boss nya sedang tidak ingin diganggu. Pak Kang juga meminta mereka untuk datang lain kali saja saat boss nya sedang senggang. Setelah mendengar jawaban dari Pak Kang, mereka semua lalu pergi dan meminta Pak Kang untuk menyampaikan jika mereka semua akan datang lain kali. Pak Kang lalu kembali menutup pintu gerbang serta menggemboknya dari dalam. Setelah itu dia memberikan sebuah buku catatan kepada dua security baru itu yang berisi beberapa nomor plat kendaraan yang langsung diizinkan masuk saat mereka datang ke rumah serta beberapa nomor extension di dalam rumah utama untuk memberitahu jika ada orang yang ingin menemui boss nya.
"Oh ya kenapa tadi anda tidak langsung menelepon tuan jika ada orang yang ingin menemuinya?" tanya salah satu security itu karena merasa penasaran.
"Tadi tuan berkata kepadaku jika dia sedang tidak ingin diganggu, jadi aku tidak berani untuk menghubunginya."
"Tetapi kenapa kemarin anda langsung membukakan pintu gerbang saat mobil kemarin datang?"
"Nah mobil kemarin itu milik boss besar alias milik orang tua nyonya, jadi ketika mereka datang langsung kamu bukakan saja pintu gerbangnya dan jangan bertanya - tanya."
"Baik pak."
"Aku sudah mencatatnya di buku ini dan beberapa nomor plat khusus beserta pemiliknya."
"Oh iya."
"Jangan lakukan kesalahan fatal yang membuat tuan marah, beberapa nomor yang aku garis bahwahi ini merupakan kolega penting jadi mungkin mereka akan sering keluar masuk ke rumah ini untuk berkunjung."
Mereka berdua mengangguk paham "baik pak."
"Misalnya jika ada sesuatu kejadian di rumah ini saat aku sedang tidak ada, maka ada beberapa orang yang menggantikanku untuk membantu kalian."
Mereka berdua langsung mengedarkan matanya melihat ke segala penjuru halaman itu "dimana?"
"Kalian tidak perlu tahu, yang penting selalu ingat jika ada beberapa orang yang akan selalu mengawasi rumah ini selama 24 jam termasuk kalian berdua."
"Oh begitu."
Salah satu security itu lalu menepuk bahu Pak Kang "eh ada tuan di depan pintu utama yang sedang mengawasi kita bertiga."
"Ssstt sudah jangan takut, lebih baik kita fokus saja."
"Siap."
Tiba - tiba Liam menghampiri mereka bertiga saat mereka sedang sibuk mempelajari beberapa trik dari Pak Kang "sepertinya kalian bertiga sangat sibuk sekali. Bagaimana Pak Kang, apa semuanya aman?"
__ADS_1
"Aman tuan."
"Baguslah," ucap Liam melihat sekeliling halamannya.
"Tetapi tadi ada beberapa orang yang sedang mencari anda."
"Siapa?"
Pak Kang kembali mengingat - ingat namanya "kalau tidak salah namanya adalah Chicko dan Dio."
"Kenapa tidak dibukakan gerbangnya? dia teman dekatku."
"Maaf tuan, saya hanya mengikuti perintah anda."
"Ya sudah tidak apa - apa."
Karena hari menjelang malam, Liam kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya dan dia bersiap untuk memasak hidangan makan malam namun tiba - tiba saja Jane sudah hampir selesai memasak hidangan makan malam untuk mereka berdua. Liam kemudian menghampiri Jane dan memeluknya dari belakang serta mencium lehernya. Liam menemani Jane yang sedang sibuk memasak sembari masih memeluknya dari belakang hingga rasanya ingin sekali mencipratkan minyak panas ke wajah Liam yang tampan itu. Makan malam sudah selesai dimasak dan Jane langsung menyajikan hidangan tersebut di piring Liam terlebih dahulu, baru miliknya. Saat malam hari Liam kembali ke rooftop rumahnya untuk berendam di jacuzzi sembari merileks kan tubuhnya sebelum tidur, dan tidak lupa dia juga memutar lagu - lagu santai sebagai teman berendam.
"Enak tidak?" tanya Jane sembari memijat kepala Liam.
"Aku akan menebus kesalahanku kemarin malam."
"Terserah," ucap Liam dingin.
Jane lalu menceburkan dirinya ke dalam jacuzzi "aku akan menemani hubby berendam disini."
"Hmm."
Jane mulai mencium bibir Liam, dan Liam langsung memengang pantat Jane serta menikmati ciuman tersebut. Namun tiba - tiba saja Liam melepaskannya "aku sedang tidak ingin melakukannya."
"Kenapa hubby?"
"Aku tidak mau jika tiba - tiba ada telepon yang mengganggu kita saat aku sedang berada di puncak."
"Aku jamin tidak akan ada yang mengganggu kita saat sedang seperti ini lagi."
"Yang benar?" tanya Liam ragu - ragu.
__ADS_1
"Iya hubby."
Jane kemudian memegang pipi Liam dan mulai mencium bibirnya kembali dengan ganas, sedangkan Liam memegangi pantat Jane yang sintal itu sembari menikmati permainan Jane. Tidak lama kemudian Liam membawa Jane ke sofa dan melanjutkan aktivitasnya, dan benar saja tiba - tiba handphone Jane berbunyi.
Liam menghentikan aktivitasnya "nah kan apa kubilang, pasti ada saja yang menelepon saat kita sedang seperti ini."
"Sudah abaikan saja hubby, sekarang aku hanya ingin bersamamu."
"Baiklah."
Liam kembali melanjutkan aktivitasnya dan beralih menciumi leher Jane namun handphone Jane kembali berbunyi.
"Sudahlah matikan saja," ucap Jane mengambil handphone miliknya dan mematikannya.
"Tumben."
Jane meraih leher Liam dan mencium bibirnya "ssttt aku sekarang hanya ingin bersamamu," ucapnya disela - sela ciuman mereka.
"Ini baru wanitaku," ucap Liam kegirangan.
Beberapa menit kemudian mereka berdua beristirahat sejenak sembari berbaring disofa menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang - bintang. Liam lalu mengambil pool towel untuk menyelimuti dirinya dan Jane agar tidak kedinginan karena terkena udara malam.
"Aku tidak menyangka jika aku berhasil membuat rumah impianku sendiri dengan hasil jerih payahku selama ini dan sekarang dihuni bersama denganmu sebagai istriku."
Jane memiringkan tubuhnya menghadap Liam "kamu sangat hebat dan sebagai istrimu, aku merasa bangga kepadamu."
Liam memeluk Jane dan mengusap rambutnya "terima kasih."
Jane tersenyum "aku masih ingat bagaimana kamu selalu menceritakan tentang rumah ini sebelum kamu tidur setiap malamnya serta keinginanmu untuk membangun keluarga kecilmu sendiri."
"Aku juga masih ingat saat kamu memberitahuku tentang keinganmu yang ingin memiliki keluarga kecil yang harmonis dan selalu bahagia."
"Ayo kita wujudkan keinginan kita?" tanyanya, lalu dia mencium Liam kembali.
"Kita pindah ke kamar saja."
Jane mengangguk "okay hubby."
__ADS_1