
Karena hari sudah menjelang malam, Ricko dan Gita lalu berpamitan untuk pulang. Jane lalu pergi ke dapur untuk memasak makan malam, dia pun bertanya kepada Liam hidangan apa yang ingin dia makan untuk makan malam namun Liam hanya menjawab "terserah." Jane lalu memasak sesuai dengan bahan yang berada di dalam kulkas saja, dan untungnya Liam tidak protes sekalipun terhadap masakannya. Liam memakan masakan Jane dengan lahap sehingga membuat hati Jane merasa senang sekali. Setelah itu Liam mengunci semua pintu serta semua jendela rumahnya sebelum dia pergi ke kamarnya. Liam kemudian duduk di atas ranjang sembari melihat tablet pintar miliknya untuk memeriksa laporan yang dikirimkan oleh Yunna, sedangkan Jane membuka paperbag belanjaan miliknya tadi dan mengeluarkannya satu - persatu.
Jane kemudian mencoba pakaian yang baru saja dia beli tadi siang san menunjukkannya kepada Liam. Melihat istrinya yang merasa sangat senang ketika mencoba pakaian barunya serta perhiasan miliknya membuat Liam turut bahagia melihatnya, apalagi melihat gummy smile milik Jane yang terukir di bibirnya semakin membuat Liam merasa bahagia. Liam tidak masalah mengeluarkan uang berapapun yang dia miliki asalkan istrinya itu bisa tersenyum bahagia. Jane kemudian meminta tolong kepada Liam untuk menaikkan resleting gaun miliknya agar bisa dicoba olehnya. Tidak hanya itu saja, Jane juga meminta Liam untuk memilihkan anting mana yang cocok dia pakai bersama dengan gaun yang sedang dia pakai. Liam lalu memilih sepasang anting dengan merk Paris terkenal, yang juga menjadi brand ambassador istrinya itu.
Jane lalu melihat ke arah cermin rias, sedangkan Liam langsung memeluknya dari belakang serta menciumi leher Jane itu. Liam lalu melontarkan sebuah pujian kepada istri tercintanya itu hingga membuat istrinya terasa seperti melayang di udara. Liam lalu kembali naik ke ranjangnya dan kembali fokus memeriksa laporan di tablet pintarnya, sedangkan Jane mulai menata perhiasan serta make up miliknya di meja rias. Setelah itu baru Jane menata pakaian, sepatu, dan tas branded miliknya di walk in closet yang sudah disediakan oleh Liam. Ruangan itu bersambungan dengan kamar milik mereka agar Jane lebih mudah menjangkaunya, serta ruangan itu juga sangat luas dengan beberapa rak yang terbuat dari kaca dan khusus untuk memajang koleksi milik Jane. Setelah selesai Jane kemudian menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas ranjang, dan mengambil tablet pintar dari tangannya.
"Hubby jangan bekerja terus, sesekali istrimu ini juga ingin dimanja olehmu."
Melihat istrinya yang cemberut itu membuat Liam merasa gemas, sehingga dia lalu menggendong dan memangkunya "iya sayang, sudah jangan cemberut seperti itu."
"Hubby menyebalkan, karena selalu sibuk bekerja bahkan tega meninggalkanku saat aku baru bangun dari tidurku."
"Aku kan pergi juga untuk bekerja dan mencari nafkah sayang, bukan untuk bertemu dengan wanita lain," ucap Liam berusaha memberi penjelasan kepada istrinya itu sembari mengusap rambutnya.
"Dahulu kamu sering meluangkan waktu untukku dan mengajakku bermain, lalu kenapa sekarang kamu berubah?"
"Aku sekarang sudah menikah dan aku bertanggung jawab penuh untuk menjaga serta menafkahimu, jika aku sering bermain denganmu lalu bagaimana aku mendapat uang kalau tidak bekerja?"
"Kamu sangat menyebalkan," ucap Jane dengan mata berkaca - kaca.
Liam lalu membawa Jane kepelukannya serta mengusap -usap punggungnya "ssttt jangan menangis, kita besok akan pergi berjalan - jalan dan bermain kemanapun yang kamu inginkan."
"Bohong, pasti besok pagi kamu sudah tidak ada."
"Aku tidak bohong, aku janji akan meluangkan banyak waktu untuk bermain dan memanjakan kamu."
"Awas kalau bohong, aku akan pulang ke rumah."
"Kok kamu malah mengancamku sekarang?" tanya Liam sudah mulai sedikit geram.
"Habisnya kamu sangat menyebalkan, kenapa? tidak suka?" tanya Jane dengan berteriak.
Liam lalu berusaha menenangkan Jane "sstt, Jane jangan berteriak sudah malam."
"Masa bodoh."
"Jane diamm!!! kamu ini sangat kekanakan sekali," teriak Liam.
"Kamu menyebalkan," ucap Jane lalu pergi ke kamar sebelah dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Liam lalu mengejar Jane dan mengetuk - ngetuk pintu kamar itu "Jane, buka pintunya sayang."
"Tidak!! aku tidak suka jika kamu berteriak kepadaku dan aku sangat membencinya," ucap Jane sembari menangis.
Liam lalu mencari kunci cadangan kamar itu di lacinya, dan setelah menemukannya diapun masuk ke dalam kamar itu "sssttt kemari," ucap Liam memeluk Jane.
Namun Jane langsung menolak Liam "aku tidak mau, kamu jahat."
"Maafkan aku." Liam lalu tetap menggendong Jane ke kamar utama meskipun Jane meronta - ronta.
"Lepaskan!!" ucap Jane sembari memukul - mukul punggung Liam.
"Tidak, jam segini kamu pasti sudah mengantuk makanya jadi moodyan seperti ini."
"Aku tidak mau tidur denganmu!"
"El kunci pintunya!"
"Kamu berbicara dengan siapa?" tanya Jane bingung.
"Dengan rumah." Langsung pintu itu tertutup dan terkunci dengan sendirinya.
Liam lalu menyelipkan rambut Jane ke telinganya "Jane, aku sayang lho dengan kamu makanya aku bekerja keras agar bisa tetap menghidupimu dengan layak dan berkecukupan."
"Hmmm."
"Tolong kamu mengerti ya?"
"Ya sudah iya."
"Kok begitu respondnya? nanti cantiknya hilang lho," ucap Liam sembari tersenyum.
"Bodo amat."
"Ayo senyum dong."
Jane lalu tersenyum secara terpaksa "sudah kan?"
Liam lalu mencium bibir Jane dan pipi chubby nya itu "jangan mengambek lagi, ayo tidur besok kita jalan - jalan."
__ADS_1
"Hmmm."
"Jane."
"Iya hubby."
Keesokan harinya Liam membangunkan Jane yang masih tertidur dengan posisi membelakanginya sembari mencium pipinya. Jane masih marah kepada Liam sehingga dia tidak ingin bangun, dan membuat Liam harus menggendong Jane ke kamar mandi lalu memandikannya agar Jane bangun dari tidurnya. Setelah itu mereka berdua sarapan bersama lalu perhi berjalan - jalan ke tempat yang sejuk seperti di daerah utara. Semakin lama perasaan Jane semakin membaik dan dia bisa tersenyum kembali. 1 hari kemudian Jane yang baru saja bangun langsung membangunkan Liam dengan sangat bersemangat karena pada hari itu mereka berdua akan pergi honeymoon, dan tujuan pertama mereka adalah ke Paris.
"Good morning hubby," ucap Jane saat mencium bibir Liam.
Liam tersenyum "iya sayang, ini sudah bangun."
Jane lalu merentangkan kedua tangannya "ayo gendong aku ke kamar mandi."
"Iya," ucap Liam saat menggendong Jane ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian mereka berdua telah sampai di bandara dan saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu.
"Hubby aku pergi sebentar ya?"
"Kemana?"
"Beli kopi di setarbucek, mau nitip tidak?"
Liam menggeleng "tidak, perutku sudah penuh dan kalau diisi lagi nanti aku bisa muntah."
"Oh ya sudah, tolong jagain tas aku."
"Iya sayang."
Tidak lama kemudian Jane datang sembari menenteng segelas kopi, lalu dia duduk di samping Liam "kita akan berangkat jam berapa?" tanya Jane sembari menyeruput kopinya.
"Ayo kita pergi sekarang, privat jet ku sudah menunggu."
"Okay."
"Kopermu biar aku bawakan saja, sedangkan kamu membawa tas milikmu itu."
"Terima kasih hubby."
__ADS_1
"Sama - sama sayang."