Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #141


__ADS_3

Liam kemudian berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam. Jane lalu menatap kepergian Liam sampai mobilnya menghilang dari pandangannya, dan setelah itu Jane langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya karena besok dia akan mengalami perjalanan yang panjang. Saat Jane sedang tertidur lelap tiba - tiba dia memimpikan seseorang tengah mengalami kejadian buruk, namun dia tidak bisa melihat siapa wajah orang tersebut yang mengalami kecelakaan itu. Hal itu membuat Jane terbangun dan menarik panjang nafasnya sembari memijat dahinya. Jane kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya, setelah itu dia berjalan menuju balcony kamarnya untuk mencari udara segar. Jane bersandar di pagar balcony miliknya sembari menatap langit malam yang sedang dipenuhi oleh bintang - bintang. Memang kebetulan malam itu langitnya sangat cerah dan tidak turun hujan seperti biasanya, sehingga bintang - bintang bermunculan di langit malam dengan ditambah munculnya bulan sabit yang ikut menyinari langit malam itu.


Hatinya saat ini sedang gelisah karena memikirkan tentang mimpi itu, dia hanya takut jika sesuatu buruk menimpa orang - orang terdekatnya dan perasaannya semakin kuat bahwa akan ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Hati kecilnya terus berdoa bahwa semoga saja perasaannya itu tidaklah benar dan tidak akan ada sesuatu hal buruk yang menimpa orang - orang terdekatnya. Fikiran Jane kemudian beralih ke sesuatu hal yang lain yaitu tentang janji Jane yang akan menerima Liam sebagai tunangannya atau bahkan lebih dari itu. Awalnya Jane hanya berusaha untuk menenangkan Liam namun tiba - tiba saja ucapan itu terlontar dengan sendirinya dari mulut Jane. Siap tidak siap dia harus bersedia melakukan pertunangan itu jika suatu saat Liam benar - benar menemui dirinya di Korea Selatan di saat hari ulang tahunnya. Jane tidak bisa mengelak lagi karena dia sudah berjanji, dan janji harus ditepati bagaimanapun caranya, bahkan suka atau tidak suka. Tiba - tiba saja terdengar suara dering telepon hingga membuyarkan lamunan Jane, dan Jane langsung bergegas mengangkat telepon tersebut. Terlihat senyuman yang terukir di bibirnya saat Jane melihat siapa yang menghubunginya pada malam selarut itu seolah - olah dia mengetahui bahwa hatinya sedang gelisah.


"Kamu memang sedang terbangun atau kamu terbangun karena aku menghubungimu saat ini?"


"Aku memang sedang terbangun."


"Kenapa?"


"Aku tadi mengalami mimpir buruk, jadi aku terbangun karena itu."


"Apa karena aku sering tidur denganmu jadi mimpi buruknya berpindah kepadamu?"


"Mimpi buruk bukan termasuk penyakit menular, Liam."


"Siapa tau itu penemuan terbaru."


"Dasar ada - ada saja."


Liam tertawa "pantas saja dari tadi kamu terlihat sangat gelisah."


"Padahal aku sudah berusaha menutupinya dengan senyuman, tapi ternyata tetap terlihat ya?"


"Tentu saja karena aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan walaupun aku sedang tidak bersamamu."


"Rayuan buayamu itu tidak mempan untukku."


"Sebenarnya aku itu dukun dari Australia jadi saat aku sedang tertidur tiba - tiba ada yang berbisik kepadaku jika kesayanganku sedang gelisah, lalu aku memutuskan untuk menghubungimu."


"Mengada - ngada saja kamu ini, eh jadi saat ini kamu juga sedang terbangun?"


"Tidak, aku memang belum tidur karena aku sedang bermain game bersama teman - temanku."


"Jangan terlalu sering bermain game sayang, nanti rabun jauh kamu semakin bertambah."


"Aku tidak sering bermain game, aku hanya bermain selama 6 jam dalam sehari kecuali saat kamu bersamaku."


"6 jam sehari itu sudah termasuk waktu yang sangat lama untuk bermain game, apalagi selama 8 jam sehari kamu juga terus - terusan menatap layar laptopmu untuk bekerja."


"Kalau begitu bagaimana jika aku berhenti bekerja untuk bermain game?"

__ADS_1


"Jangan konyol Liam, apa kamu akan kenyang jika hanya bermain game saja tanpa makan dan minum jika suatu saat kamu tidak mempunyai uang karena tidak bekerja?"


"Sepertinya begitu karena aku selalu melewatkan jam makan harianku ketika aku sibuk bermain game."


"Kamu bisa terkena penyakit lambung jika terus - menerus seperti itu."


"Kamu ini pasti akan menjadi tipe istri yang cerewet."


"Itu benar, dan jika kamu benar - benar menjadi suamiku maka aku akan langsung menjewer telingamu jika kamu terus sibuk bermain game."


"Jahat sekali."


"Memang harus, kalau tidak kamu akan seperti ini seumur hidupmu."


"Bukankah itu sangat keren?"


"Tidak keren sama sekali," jawab Jane ketus.


"Oh ayolah dukung aku untuk sekali saja," ucap Liam memohon.


Jane menggeleng "tidak untuk yang satu ini karena aku tidak suka apalagi tentang kata - kata kasar yang kamu lontarkan ketika sedang bermain game."


"Kamu sangat menyebalkan."


"Oh ya, aku mungkin akan jadi menemuimu ke Korea saat hari ulang tahunmu untuk menagih janjimu."


"Janji apa?"


"Jangan pura - pura lupa."


"Iya aku tidak melupakannya, baiklah kita akan bertunangan secara resmi saat di hari ulang tahunku."


Liam tersenyum "yess, kamu ingin dibawakan apa sebagai kado ulang tahun sekaligus kado pertunangan."


"Terserah kamu saja."


"Rumah, villa, supercar, yatch, helikopter atau apa?"


"Bukankah itu terlalu mahal jika sebagai kado pertunangan?"


"Tidak, itu biasa saja."

__ADS_1


"Ah aku lupa jika calon tunanganku ini sangatlah kaya raya."


"Setelah itu aku akan mengajakmu untuk pergi ke Australia menemui grandpa dan grandma."


"Aku takut."


"Kenapa takut? tenang saja mereka pasti akan dengan senang hati menerimamu sebagai calon istriku."


"Semoga saja."


Mereka berdua terus berbincang mendiskusikan tentang hubungan mereka kedepannya serta impian mereka masing - masing di masa depan hingga tiba - tiba suara Liam tidak terdengar lagi dan hanya terdengar suara mendengkur dari handphone Liam. Mendengar hal tersebut Jane lalu mematikan teleponnya dan kembali tidur. Di pagi harinya Jane terbangun saat alarm dari handphone miliknya berbunyi. Jane langsung meregangkan tubuhnya dan pergi ke ruang makan untuk menikmati sarapan pagi bersama anggota keluargannya. Setelah itu Jane pergi keluar rumah untuk jogging sebentar agar tubuhnya tetap bugar. Saat hari mulai panas Jane memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan berbincang kepada Mrs Kim.


"Eomma?" panggil Jane.


"Ada apa sayang?"


"Bagaimana jika aku benar - benar menerima Liam dan kita resmi bertunangan?"


"Itu bagus, tetapi apakah kamu sekarang benar - benar mencintainya?"


"Sepertinya begitu, tetapi sejujurnya aku takut tentang sesuatu hal setelah itu."


"Apa itu sayang?"


"Liam berkata jika dia akan membawaku ke Australia untuk menemui grandpa dan grandma nya Liam, aku takut jika mereka berdua tidak menerimaku sebagai menantu cucunya."


"Jangan merasa takut terhadap hal yang kemungkinan belum terjadi dan lebih baik fokus terlebih dahulu tentang rencana pertunangan kalian berdua."


"Sepertinya eomma benar, tapi bagaimana jika Liam maupun anggota keluarganya tidak menyukai pekerjaanku dan memintaku untuk berhenti menjadi model padahal itu merupakan hal yang aku sukai?"


"Maka kamu harus mendiskusikan hal tersebut kepada Liam dan membuat beberapa kesepakatan."


"Tapi Liam tidak menyukai perjanjian semacam itu."


"Coba saja terlebih dahulu, siapa tau Liam mau menerimanya."


"Tapi eomma."


Mrs Kim lalu mengusap lembut rambut Jane "sssttt, jangan terlalu merasa khawatir hingga membebani fikiranmu seperti ini."


"Maklum, karena Jane kan baru pertama kali menghadapi hal semacam ini."

__ADS_1


"Jangan terlalu overthinking, itu tidak baik Jane."


"Iya eomma."


__ADS_2