
Jane lalu duduk di samping pak Kang yang sedang memperhatikan suasana sekitar untuk memastikan keamanannya. Pak Kang takut jika mereka berdua, lebih tepatnya Jane mengalami sesuatu yang tidak di inginkan apalagi jika Jane sampai terluka bisa - bisa dia langsung di pecat oleh Mr Kim karena dianggap gagal menjalankan tugasnya. Jane yang melihat bahwa ada rumah kaca di taman tersebut, lalu berjalan menghampirinya dengan di ikuti oleh pak Kang yang berjalan di belakangnya.
Sesampainya di depan pintu rumah kaca tersebut, Jane lalu mencoba untuk membuka pintu tersebut. Ternyata pintu tersebut tidak terkunci, dan Jane beserta pak Kang langsung masuk ke dalam rumah itu. Jane berkeliling di sekitar area rumah tersebut, dan saat menemukan kamar mandi Jane langsung meminta kepada pak Kang untuk mengambilkan baju ganti yang selalu dia bawa karena ingin mandi di tempat tersebut. Jane belum sempat mandi karena sehabis bekerja dia langsung pergi mencari keberadaan Liam. Selesai mandi, Jane langsung menemui pak Kang yang sedang duduk di kursi tadi.
Jane duduk di samping pak Kang "apakah dia masih terus di sana?" tanya Jane.
"Masih nona, tuan muda masih duduk di sana sedari tadi dan saya terus memantaunya."
Jane menatap Liam dari kejauhan lalu menghela nafasnya "anak itu, benar yang di bilang oleh tante jika dia sangat keras kepala."
"Lalu bagimana nona, apakah kita pulang saja?"
"Jangan, orang seperti dia harus diperlakukan dengan lemah lembut agar es yang berada di hatinya bisa mencair."
"Baik nona, lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Aku akan menghampirinya kembali, kamu tunggu di sini saja."
"Baik nona."
"Tolong belikan makanan dan minuman, untuk kita bertiga."
"Baik nona, saya permisi."
Pak Kang kemudian pergi untuk membeli makanan, sedangkan Jane kembali menghampiri Liam yang sedari tadi duduk termenung tidak berpindah tempat. Jane lalu berjongkok di depan Liam "masih ingin keras kepala?"
Liam lalu menatap Jane "bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk pergi, kenapa masih berada di sini?"
"Tidak apa - apa, aku hanya ingin melihat - lihat tamanmu saja."
Liam berteriak "pergilah dari sini!"
__ADS_1
Jane kemudian berdiri dan duduk di samping Liam "ah ternyata tamanmu sangat indah, apalagi rumah kaca yang kamu miliki."
"Jangan bilang kalau kamu," ucapannya terpotong.
Jane tersenyum "iya, dan air nya sangat sejuk untuk mandi, jadi aku memutuskan untuk mandi di sana karena kebetulan aku sedang membawa baju ganti di mobilku."
"Dasar wanita yang tidak sopan, seenaknya saja keluar masuk ke rumah orang."
"Memangnya kenapa, bukankah suatu saat ini juga akan menjadi milikku?"
"Apa maksudmu?"
"Bukankah kamu menginginkan jika suatu hari nanti namamu berada di belakang namaku?" tanya Jane menggoda Liam.
"Tidak jadi, aku tidak jadi menginginkannya."
"Kenapa begitu?"
"Aku malas denganmu, lebih baik aku memberikannya kepada Nat."
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanya Liam merasa terheran.
Jane tersenyum "karena aku tidak bersikap seperti anak kecil lagi seperti dirimu."
Liam dan Jane hanya terdiam setelah perbincangan tersebut. Mereka hanya melihat pemandangan sekitar saja. Melihat burung - burung yang berterbangan di langit dan berkicau di ranting - ranting pohon pada sore hari. Suasana sangat sepi dan sunyi karena mereka berdua tidak saling berbincang satu sama lain. Jane berusaha untuk membuat Liam bercerita kepadanya tetapi tetap saja hasilnya nihil. Jane lalu mengusap lembut rambut Liam yang sedang membelakanginya karena tidak ingin melihat Jane. Perlakuan Jane itu semakin lama membuat ego dan hati Liam menjadi luluh kepadanya, lalu Liam membalikkan badannya menghadap Jane.
Liam lalu memeluk Jane "aku bingung," ucapnya setelah berjam - jam memilih untuk memendamnya.
Jane tersenyum sembari memeluk Liam "ada apa?"
"Aku tidak tau harus memutuskan untuk bagaimana," ucapnya masih memeluk Jane.
"Memutuskan untuk?"
__ADS_1
"Memutuskan untuk mengejar yang ada di dalam fikiranku atau yang ada di dalam hatiku."
Jane lalu melepaskan pelukan Liam "kejarlah yang menurutmu itu baik untuk hidupmu selama ke depannya, fikirkanlah saja dulu secara perlahan dan jangan terburu - buru atau nanti kamu akan menyesal ke depannya."
"Aku rasa itu sangat sulit Jane."
"Tidak ada yang sulit selama kamu yakin bahwa kamu bisa menghadapinya pasti akan terasa mudah, percayalah!" ucap Jane sembari tersenyum.
"Apakah benar begitu?"
"Tentu saja. Kamu sudah dewasa Liam, aku yakin kamu pasti bisa memutuskannya mana yang terbaik untuk dirimu sendiri."
"Bagaimana jika aku salah dalam memutuskan lalu aku menyesal di kemudian hari?"
Jane kembali mengusap rambut Liam "yang namanya penyesalan pasti datang terakhir kali, jadi yang bisa kita lakukan adalah belajar dari kesalahan yang sebelumnya. Kita tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan Li."
"Lalu apakah kamu pernah menyesal?"
"Pernah, saat aku memilih untuk tidak mendengar perkataan dari orang tuaku dan memilih untuk bertahan dengan Kyle."
"Lalu setelah itu apa yang kamu lakukan?"
Jane lalu memegang pipi Liam "aku lalu mulai belajar dari kesalahanku dan sekarang aku menjadi sangat berhati - hati dalam memilih seorang kekasih untuk menjadi pendamping hidupku."
Perlakuan Jane kepadanya membuat Liam semakin bimbang dan tidak tau bagaimana mengatakannya. Perasaan Liam sudah campur aduk dan badannya panas karena dia ingin menangis, tetapi Liam merasa malu jika dia sampai menangis di depan seorang wanita apalagi Liam sedang berada di tempat umum. Akhirnya Liam memutuskan untuk berusaha menahan perasaannya agar tidak menangis. Liam hanya terdiam saja dan tidak berani menatap Jane karena takut jika Jane akan mengetahui semuannya. Tetapi itu tidak bertahan lama, air mata Liam hampir tidak bisa terbendung lagi.
Liam lalu melepas tangan Jane dari pipinya "sebentar, tali sepatuku lepas."
"Oh okay," ucap Jane merasa canggung.
Liam kemudian melihat ke bawah dan berpura - pura menali sepatunya agar Jane tidak merasa curiga. Liam lalu meneteskan air matanya hingga membasahi sepatunya, sedangkan Jane yang daritadi memperhatikan Liam menali sepatunya mulai merasa curiga. Jane lalu berjongkok di depan Liam, Jane yang sudah mengetahui jika Liam sedang menangis lalu berdiri dan memeluk Liam kembali. "Hey it's okay."
Liam terus menangis di pelukan Jane, Liam mengeluarkan semua perasaan yang di pendamnya selama ini. Jane terus mengusap lembut rambut Liam sembari memeluknya, Jane jadi mengetahui bagaimana Liam sebenarnya. Liam adalah orang yang selalu tampil kuat dan ceria di hadapan banyak orang tetapi sebenarnya hatinya sangat rapuh. Dia setiap kali ingin menangis tetapi dia malu karena dia selalu berpegang pada prinsip yang salah, yaitu jika seorang pria tidak boleh menangis karena akan di pandang sebagai pria yang lemah.
__ADS_1
Notes: Jangan lupa like di setiap episodenya ya, terima kasih.