
Liam terbangun dari tidurnya dan mencium aroma parfume yang bukan miliknya yang berasal dari selimut Jane. Liam kemudian duduk di sofa tersebut sembari merenung sebentar, lalu Jane menghampiri Liam dan memberikan secangkir teh hangat untuk Liam. Saat Liam sedang meminum teh nya, bel pintu berbunyi. Dengan segera Jane berjalan menghampiri pintu tersebut karena pak Kang mengantarkan baju yang tadi sedang di laundry dan membawa laundry bag ke ruang tengah.
"Kamu habis laundry?" tanya Liam.
"Iya baju yang tadi aku beli dan aku meminta express laundry karena nanti mau aku pakai. Ini punya kamu yang tadi," ucap Jane sembari mengeluarkan pakaian Liam dari laundry bag.
"Thank you, padahal bisa di laundry besok."
"Your welcome. Eh nanti mau tidak kamu mengantarkan aku pulang ke rumah utama?"
"Boleh sih, mau kapan?"
"Sekarang bagaimana? tapi aku mau mengganti pakaianku terlebih dahulu."
"Oke deh, aku juga mau mengganti pakaianku juga."
Liam kemudian berjalan membawa laundry bag miliknya dan pergi ke kamar, begitu juga dengan Jane. 30 menit berlalu, kemudian Liam dan Jane berjalan bersama menuju basement lalu berangkat menuju rumah Jane. Sesampainya di rumah Jane, mereka berdua disambut oleh ahjumma yang sedang menyiapkan makan malam. Tak lama kemudian ada seorang wanita paruh baya yang sedang menuruni tangga sembari menyapa mereka berdua dengan sangat ramah. Jane langsung berlari dan memeluk wanita paruh baya tersebut.
"Eomma, Jane kangen dengan eomma." Peluk Jane erat.
"Eomma juga kangen dengan Jane. Eh itu siapa?" Mrs Kim lalu menoleh ke arah Liam.
Jane kemudian melepas pelukannya lalu berjalan ke arah Liam "dia Liam eomma, teman Jane."
"Iya tante nama saya Liam Gerard," ucapnya sembari menjabat tangan Mrs Kim.
Mrs Kim tersenyum kepada Liam "silahkan duduk Liam. Mau minum apa?"
"Tidak perlu repot - repot tan, tadi saya sudah meminum teh hangat."
"Oh begitu. Rumahnya mana?"
"Rumah saya di Perumahan Grand."
"Oh begitu."
"Oh iya Oppa mana eomma? kok tidak kelihatan batang hidungnya?"
"Tadi katanya oppa pergi mau mencari barang untuk prepare mau pergi mendaki gunung bersama teman - temannya."
"Oh tumben."
"Iya katanya karena diajak dengan si Ricko."
Jane merasa terkejut dengan ucapan eomma nya "lho Ricko?"
"Ada apa? kamu kenal dengan Ricko?"
"Bukannya Ricko itu teman kamu Li? yang waktu itu kita bertemu di acara reuni kamu?"
"Hehe iya."
__ADS_1
"Berarti besok kamu juga ikut pergi mendaki gunung dong?"
"Iya aku ikut Jane."
"Wah jadi Josh juga teman kamu ya Liam?"
"Iya tante hehe."
Tiba - tiba ada seorang pria paruh baya yang menghampiri mereka di ruang tengah lalu memeluk dan mencium Jane.
"Kamu tidak rindu dengan appa heum?"
"Tidak karena appa terus memaksaku untuk mau menerima perjodohannya."
"Tapi ini kan juga demi kebaikan kamu, daripada kamu terus - menerus disakiti oleh pria yang brengsek."
"Tapi aku kan tidak suka."
Melirik ke arah Liam "eh this is your boyfriend?"
"No, just my friend."
Liam kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu menyapa Mr Kim dengan ramah. Mr Kim membalas sapaan Liam dengan ramah dan menjabat tangan Liam.
"Nama saya Liam om."
"Oh look like a gentleman. Namanya Liam siapa?"
"Liam Gerard om."
"Oh begitu."
"Kamu ini anggota boygrup dari agensi mana?"
"Saya om? saya bukan anggota boygrup om, saya hanya seorang karyawan hehe."
"Oh aku kira kamu anggota boygrup karena penampilan kamu terlihat seperti anggota boygrup termasuk tinggi badan kamu juga."
"Bukan kok om, lagipula saya juga tidak pandai bernyanyi hehe."
"Dia berbohong appa, sebenarnya suara dia bagus sekali kok."
"Benarkah? kalau kamu mau, kamu bisa aku masukkan di daftar calon anggota boygrup karena wajah dan tinggi kamu memenuhi standar untuk menjadi idol."
"Tidak perlu om hehe."
"Memangnya tinggi kamu berapa?"
"Tinggi saya 198 cm tante."
"Wah pantas saja Jane terlihat sangat mungil ketika berdiri disamping kamu hahaha. Kalau umur kamu berapa tahun?"
"Umur saya 25 tahun tan."
__ADS_1
(Mengangguk paham) "berarti masih lebih tua Jane satu tahun ya."
"Kan apa aku bilang, aku lebih tua dari kamu."
"Iya terserah."
"Tidak apa - apa kok kalau misalnya menikah yang perempuan lebih tua satu tahun bahkan ada yang lebih."
"Maksud eomma?"
Mr Kim dan Mrs Kim kemudian saling menatap saru sana lain sembari tersenyum yang tentu saja membuat Jane dan Liam merasa kebingungan dan bertanya - tanya. Alhasil Jane dan Liam hanya terdiam dan melanjutkan memakan hidangan mereka. Setelah selesai makan malam, kemudian Mr Kim dan Liam duduk di ruang tengah sembari berbincang, sedangkan Mrs Kim dan Jane sedang berada di dapur untuk menyiapkan camilan.
Liam yang awalnya merasa gugup karena merasa jika Mr Kim pasti rival daddy nya Mr Robinson, seketika kegugupan itu luntur seketika karena ternyata Mr Kim sangat ramah terhadapnya, bahkan sedari tadi mereka berdua sudah berbincang panjang lebar membicarakan banyak hal walaupun sesekali mereka berdua bercanda bersama. Mr Kim merasa satu frekuensi dengan Liam ketika sedang berbincang dengannya, bahkan sudah seperti berbincang dengan sahabatnya sendiri atau bahkan sudah dianggapnya seperti putranya sendiri.
"Gaya bicara kamu sampai gesture bicara kamu mengingatkan aku pada sahabat aku."
"Benarkah om?"
"Iya benar. Atau jangan - jangan kamu putra sahabat om? hahaha."
"Hahaha om bisa saja. Saya dengar om ini juga seorang arsitek yang handal?"
"Ya bisa dibilang begitu. Kamu kalau butuh seorang arsitek untuk membangun rumah milik kamu, bisa langsung hubungi om saja hahaha."
"Wah planning saya begitu om, tapi waktu itu saya hubungi perusahaan om ternyata sedang penuh dan tidak bisa menerima kembali, jadi saya terpaksa menyewa arsitek dari perusahaan lain."
"Wah sungguh sangat disayangkan ya? tapi ya sudah mau bagaimana lagi, mungkin itu sudah rencana Tuhan. Tapi bagaimana, apa sudah jadi atau baru proses?"
"Ya sudah jadi om, cuma tinggal memikirkan dan mencicil furniture nya saja yang belum."
"Bagus itu, syukurlah. Kalau membangun rumah itu harus pelan - pelan saja semampunya terutama hati - hati juga biar tidak ada kesalahan apalagi membangun sebuah rumah tangga."
"Iya benar om. Saya juga baru merencanakan furniture yang bagus bagaimana dan sesuai dengan rumah saya."
"Nah begitu juga tidak apa - apa."
Liam lalu mengeluarkan handphone nya dan membuka galeri handphonenya. Setelah itu Liam beralih mendekati Mr Kim dan duduk disampingnya untuk menunjukkan rumahnya yang sudah selesai dibangun sembari meminta saran dari Mr Kim. Liam juga menjelaskan kepada Mr Kim design awal rumah itu dan Mr Kim mencermati gambar - gambar yang ditunjukkan oleh Liam.
"Bagus itu, saya suka design nya terlihat mewah dan modern."
"Iya om ini sebenarnya saya yang memikirkan design nya sesuai apa yang saya inginkan."
"Oh begitu. Kamu membangun rumah dari hasil menabung gaji kerja atau bagaimana?"
"Kebetulan ini hasil dari jerih payah saya menabung dari uang gaji kerja lembur setiap hari om."
"Nah begini yang saya suka, kerja keras terus punya gaji ditabung untuk membangun rumah dan bukan hasil dari merengek kepada orang tua. Saya suka pria seperti kamu ini."
"Om bisa saja hehe. Kalau rumah saya sudah jadi 100% boleh kok om dan tante main kerumah saya."
"Wah tentu saja hahaha."
Tidak lama kemudian Mrs Kim dan Jane datang menghampiri mereka berdua di ruang tengah sembari membawa camilan dan es sirup saat Mr Kim dan Liam sedang asik berbincang bersama.
__ADS_1
Note : Jangan lupa like episode ini ya ☺