
Liam lalu mencium Jane sembari menarik tali yang mengikat piyama Jane, dan setelah itu dia melepas piyama Jane hingga semua bagian tubuhnya terekspose dengan sangat jelas hingga membuat Liam merasa kagum dengannya. Liam memandangi sebentar tubuh Jane dan setelah itu barulah dia melancarkan aksinya. Malam masih panjang sehingga mereka berdua semakin leluasa untuk melakukan hal tersebut, dan untungnya baby Ace sudah ditidurkan di kamar yang berbeda jadi sudah aman. Jane mengalungkan kedua tangannya di leher Liam sembari merasakan sensasi dari setiap ciuman Liam yang sudah mulai mengganas.
Cahaya rembulan yang menerobos masuk ke dalam kamar mereka berdua melalui jendela, membuat kamarnya menjadi sedikit terang karena memang sedari awal lampu kamar tersebut sudah dimatikan oleh Liam. Mereka melakukan hal tersebut dengan bermandikan cahaya rembulan. 2 jam kemudian Liam sudah berbaring di samping Jane sembari memeluknya dengan sangat erat. Terasa sangat jelas bahwa tubuhnya sudah lengket karena mandi keringat, bahkan Jane juga sama seperti itu. Jane lalu menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka berdua, dan setelah itu dia ikut menyusul Liam tidur.
Sebenarnya Jane ingin sekali berbincang dengan suaminya namun dia sudah terlanjur tidur nyenyak, jadi Jane tidak tega untuk membangunkannya karena memang sepertinya dia terlihat sangat lelah sekali. Jam 3 pagi tiba - tiba Jame terbangun karena merasa haus, dia lalu meraih sebuah botol minum yang berada di atas meja samping ranjangnya. Saat itu juga ternyata Liam ikut terbangun, lalu Jane memberikan botol minumannya kepada dia karena mengira bahwa suaminya itu merasa haus juga. Liam lalu meminum air yang diberikan oleh Jane, dan setelah itu dia kembali memeluk Jane sembari menciumi lehernya sebagai tanda bahwa dia ingin melakukannya kembali.
Jane yang sudah terbujuk oleh rayuannya langsung mengiyakan permintaannya tersebut, dan setelah itu Liam kembali menyerang Jane. Keesokan harinya Jane sudah terbangun dari tidurnya. Dia lalu merasakan sesak karena memang suaminya tertidur di atasnya, setengah menindih badannya. Jane menyingkirkan badan suaminya secara perlahan agar dia tidak membangunkannya, dan setelah itu dia memeriksa handphone miliknya karena mendapat pesan berantai dari kakaknya.
*Tring.*
"Ya oppa, kenapa?" tanya Jane melalui sambungan telepon.
"Kamu sedang berada di Bali ya bersama keluarga kecilmu?" tanyanya dari seberang telepon.
"Benar oppa, memangnya kenapa?"
"Tidak apa - apa, aku hanya memastikan bahwa kamu baik - baik saja disana bersama dengan keponakanku."
"Iya, aku dan baby Ace baik - baik saja kok oppa. Mmm kenapa tidak bertanya mengenai Liam juga?"
"Haiss pria brandalan itu sudah bisa menjaga dirinya sendiri, jadi rasanya seperti membuang - buang waktu saja untuk bertanya mengenai keadaannya."
Jane tersenyum.
"Liam bukan pria brandalan oppa, dia pria baik - baik kok."
"Hahaha dia memang pria baik namun tampang dan tingkahnya diluar sama seperti seorang brandalan, sering kebut - kebutan di jalan dan juga selalu mabuk - mabukan."
"Dia sekarang sudah jarang mabuk - mabukan setelah beberapa kali aku marahi," ucapnya membela suaminya.
"Haisss kamu sekarang selalu membela Liam, sampai membuatku merasa heran denganmu."
"Liam itu kan suamiku, jadi aku harus tetap menbelanya haha."
"Nggg," ucap Liam.
Jane lalu mengusap pipi suaminya.
"Ssttt."
"Liam kenapa? masih tidur dia?"
__ADS_1
"Masih oppa, dia masih tertidur nyenyak."
"Oh begitu, kebiasaan selalu bangun siang meskipun sedang liburan."
"Tidak apa - apa oppa, lagipula ini juga masih terlalu pagi untuk berjalan - jalan apalagi baby Ace juga belum bangun."
"Iya juga sih, eh btw kamu dibawa menginap dimana?"
"Di villa milik keluarganya Liam."
"Oh tidak di hotelnya? aku dengar - dengar keluarga Liam juga mempunyai bisnis perhotelan disana."
"Tidak oppa, semalam Liam menawarkan agar pindah ke hotel jika aku menginginkannya namun aku memilih untuk tetap tinggal di villa saja."
"Kenapa begitu?"
"Di villa kita berdua bisa lebih leluasa serta lebih private, jadi aku tetap memilih untuk tinggal di villa saja."
"Oh begitu."
"Tapi semalam Liam mengajakku dan Pak Kang untuk dinner di restaurant hotelnya, dan ternyata hotelnya sangat mewah sekali karena memang hotel bintang 5."
"Benarkah? wah hebat sekali ternyata keluarga Liam."
"Iya deh iya, sekarang adikku ini sudah sangat bucin sekali dengan suaminya."
"Hehe ya begitulah, Liam selalu membuatku merasa nyaman meskipun dia terkadang menjengkelkan."
"Aneh sekali."
"Terkadang aku merasa risih serta sedih dengan perlakuan Liam namun jika aku menjauh darinya justru aku semakin sedih karena aku merasa rindu, bukankah hubungan seperti itu sangat aneh?"
"Memang sangat aneh sih seperti kamu meminum racun karena merasa haus hahaha, tapi ya sudahlah tetaplah dengan Liam saja karena aku tidak ingin adikku ini menjadi seorang janda."
"Iya oppa, aku akan selalu bersama Liam."
"Ya sudah aku tutup teleponnya, salam untuk Liam jika dia sudah bangun."
"Iya oppa."
Setelah Josh menutup teleponnya, Jane lalu meregangkan tubuhnya dan kembali berbaring di samping Liam. Jane kembali berfikir mengenai ucapan dari kakaknya tadi yang mengatakan bahwa suaminya juga suka kebut - kebutan di jalan. Namun setelah itu Jane mengalihkan fikirannya dan memeluk suaminya yang masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Hoamm pagi Jane," sapa Liam sembari membuka kedua matanya.
"Pagi hubby sayang."
"Semalam rasanya sangat nikmat sekali, kapan - kapan aku akan memintanya lagi darimu."
"Boleh hubby," jawab Jane sembari tersenyum.
"Oh ya kamu terlihat sangat cantik sekali meskipun baru bangun tidur."
"Benarkah?"'
"Benar, dan itu sebabnya aku menjadi betah tidur bersamamu."
"Nanti kita sarapan dimana hubby?"
"Terserah kamu saja sayang, aku ikut."
"Oh baiklah."
"Kemarilah! aku masih menginginkannya," ucapnya sembari memeluk Jane dengan sangat erat.
"Besok lagi saja hubby, nanti kamu akan sangat kelelahan sebelum kita pergi berjalan - jalan."
"Oh baiklah."
Setelah itu Liam menciuma leher Jane, dan kemudian dia menatap tanda kepemilikannya alias daerah kekuasaannya di leher Jane. Sesekali jari jemari Liam juga sangat nakal hingga membuat Jane merasa heran dengannya. Jane lalu pergi ke kamar mandi dan berniat untuk mandi namun tiba - tiba saja Liam mengikutinya dari belakang dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. 1 jam kemudian Jane sedang membuat kopi di dapur untuk suaminya dan juga Pak Kang. Di pagi hari itu mereka berbincang bersama sembari meminum kopi, dan setelah itu mereka berempat pergi mencari sarapan pagi.
"Hoamm aku masih mengantuk sekali," ucap Liam sembari menggendong baby Ace.
"Ya sudah nanti tidur saja setelah ini."
"Tidak mau Jane, aku masih ingin mencari pie susu."
"Oh begitu."
"Eh ada yang jual ikat kepala, aku ingin membelinya."
"Okay. Pak Kang juga mau beli juga?"
"Iya nyonya, saya juga ingin membelinya."
__ADS_1
"Oh baiklah."