
Mereka bertiga memakan semua jajanannya sampai habis, dan setelah itu mereka berdua lalu kembali membeli jajan yaitu jasuke. Mr Robinson hanya menggelengkan kepalanya pelan karena merada terheran dengan kelakuan kedua putra kembarnya itu, belum lagi ditambah putri bungsunya yang paling gemar jajan. Baru dua anak saja sudah habis 40 ribu, belum lagi ditambah kalau ada Rosie pasti sudah lebih dari 40 ribu dan bahkan belum ada 30 menit mereka ada disana.
Mr Robinson membiarkan kedua putranya itu membeli makanan sesuka hatinya karena jarang sekali dia bisa seperti ini dengan kedua putranya. Bukannya Mr Robinson pelit namun jarang yang dimaksud adalah, Mr Robinson jarang sekali menemani anak - anaknya membeli makanan seperti ini alias jarang jajan bersama karena terlalu sibuk mengurus beberapa perusahaan dan lain sebagainya. Mr Robinson juga langsung ikut membeli jasuke karena tergoda setelah melihat milik kedua putranya itu, dan setelah itu mereka bertiga memakannya bersama sembari melanjutkan perbincangannya kembali.
Mungkin nanti sampai rumah Mr Robinson akan diam saja dan tidak akan memberitahukan kepada istrinya jika dia habis jajan bersama anak - anaknya di pedagang kaki lima, karena pasti nanti istrinya akan memarahinya jika ketahuan jajan sembarangan. Dahulu istrinya sempat marah dan melarang semua anggota keluarganya untuk jajan sembarangan ataupun jajan di pedagang kaki lima, setelah Liam terkena penyakit thypus dan harus di rawat di rumah sakit selama seminggu lebih akibat jajan minuman di pasar malam.
Saat sore hari mereka bertiga lalu kembali ke kantor untuk mengambil semua barang miliknya masing - masing dan pulang ke rumah. Seperti biasa sesampainya di rumah Mr Robinson selalu disambut oleh istrinya yang sedang membaca sebuah buku di ruang tengah. Di meja sudah tersedia secangkir teh hangat untuk diminum olehnya, sedangkan Lian langsung pergi ke kamarnya untuk tidur.
"Hai Jo, baru pulang?" tanya Mrs Robinson menutup lembaran bukunya.
"Iya hon, tadi sedang pergi keluar bersama anak - anak."
"Anak - anak? anak - anak siapa?" tanya Mrs Robinson menatap suaminya.
"Anak - anak kita berdualah hon, Lian dan juga Liam."
"Oh aku fikir siapa."
"Ya memang mereka adalah anak - anakku termasuk Rosie, bukan?"
"Iya Jo, mereka bertiga anak - anak kita. Hmm tumben sekali kamu pergi keluar dengan kedua putra kita, tidak ada masalah apapun kan?" tanya Mrs Robinson merasa curiga.
"Tentu saja tidak, kita bertiga hanya pergi keluar untuk jajan sembari berbincang saja kok."
"Hmm baguslah, sering - seringlah begitu."
"Iya hon, aku juga berusaha untuk menebus dosaku kepada mereka karena bersikap seperti telah menyia - nyiakan mereka berdua."
"Iya," ucap Mrs Robinson mengusap pipi suaminya.
"Eh Rosie kemana, tumben sekali belum kelihatan?" tanya Mr Robinson mengedarkan matanya mencari Rosie.
"Rosie sedang pergi dengan teman - temannya hon," ucap Mrs Robinson menjelaskan.
"Sejak kapan?"
"Sejak tadi siang."
"Sampai sekarang belum pulang?" tanya Mr Robinson menginterogasi istrinya.
"Belum hon, mungkin sebentar lagi pulang."
"Hmm cepatlah di hubungi, masa dari tadi siang sampai sore hari belum pulang."
"Ckckck jangan, mungkin sebentar lagi dia juga akan pulang kok tidak perlu merasa cemas."
__ADS_1
"Ya sudah biar aku saja yang akan menghubunginya."
Mr Robinson kemudian mengambil handphone dari saku jas miliknya, dan setelah itu dia mulai menekan nomor Rosie. Namun tiba - tiba saja....
"Ya dad, kenapa?" tanya Rosie dari depan pintu utama rumahnya.
Melihat bahwa putrinya sudah berada di depan pintu dan berjalan masuk ke dalam rumah, Mr Robinson langsung mematikan teleponnya.
"Kenapa menghubungiku dad?" tanya Rosie.
"Darimana saja kamu?" tanya Mr Robinson dengan tegas.
Mrs Robinson lalu menepuk paha suaminya.
"Hon."
"Aku dari mall bersama teman - teman setelah mengerjakan tugas kelompok."
"Oh begitu, ya sudah sana mandi dulu."
"Iya dad," ucapnya lalu melenggang pergi ke kamarnya.
"Ckckck jangan begitu dengan anak - anak, tanya saja dengan pelan - pelan pasti mereka akan langsung menjawabnya dan tidak perlu sampai mengeluarkan otot segala."
Mrs Robinson tersenyum.
"Aku yakin tidak akan hon, anak - anak kita juga sudah sangat pandai memilih - milih teman agar tidak terjerumus ke pergaulan bebas."
"Kenapa kamu sangat yakin sekali mengenai hal tersebut?" tanya Mr Robinson menatap tajam istrinya itu.
Mrs Robinson langsung tersenyum sembari menatap suaminya dengan tatapan teduh.
"Karena dia anak - anakku juga, aku yang merawatnya sendiri dari kecil hingga sampai sekarang jadi aku sudah sangat hafal mengenai karakter mereka bertiga."
"Hmm baiklah, kamu ini selalu saja bisa seperti ini."
"Seperti ini bagaimana Jo?"
"Setiap aku menatapmu dengan tatapan tajam pasti kamu selalu menatapku dengan tatap teduh sembari tersenyum, berbeda dengan para anak buahku yang langsung menunduk ketakutan saat aku menatapnya dengan tatapan seperti itu."
Mrs Robinson lalu kembali membuka bukunya dan membaca setiap kata yang terdapat di buku tersebut.
"Untuk apa aku membalasmu dengan tatapan yang sama? itu sama saja dengan halnya aku menuangkan bensin di dalam kobaran api, maka semuanya akan semakin memburuk karena telah membakar apapun."
"Oh."
__ADS_1
"Sudah sana mandi sayangku, apa badanmu tidak gatal heum?"
"I-iya hon."
Mr Robinson langsung berjalan ke kamarnya, dan dia tidak berani berbuat hal yang lainnya selain menuruti ucapan istrinya jika dia sedang dalam mode seperti itu. Disisi lain Liam saat ini sedang menggendong baby Ace dan duduk di balcony kamarnya sembari menunggu makan malam selesai dimasak. Liam menyanyikan beberapa lagu serta bercerita kepada baby Ace mengenai dongeng yang dahulu dia pernah dengar dari Mrs Robinson. Tidak lama kemudian Jane datang menghampiri mereka berdua dan langsung duduk di samping Liam.
"Hubby," panggil Jane setelah mencium pipi Liam.
"Ya sayang, kenapa?" tanya Liam menatap Jane.
"Mmm aku boleh bertanya sesuatu tidak denganmu?" tanya Jane ragu.
"Silahkan, memangnya kamu ini ingin bertanya apa denganku heum?"
"Apa tadi kamu berada di sebuah cafe yang di dekat perempatan lampu merah itu?"
"Jam berapa kira - kira?"
Jane berfikir sejenak.
"Jam 2 an mungkin."
"Oh iya, aku memang berada di cafe tersebut bersama temanku."
"Mmm maaf sebelumnya, kalau boleh tahu apa temanmu itu seorang wanita? tadi rasanya aku melihatmu berbincang dengan seorang wanita di cafe tersebut."
"Iya sayang, tadi aku berbincang dengan temanku di cafe yang kamu maksud."
"Oh begitu rupanya," ucap Jane lesu.
"Memangnya kenapa sayang?"
"Tidak apa - apa kok hubby."
Liam lalu bertanya - tanya mengenai sikap istrinya itu.
"Eh wanita yang kamu maksud itu adalah temanku, dan dia partner bisnis ku saja kok tidak lebih."
"Mmm aku hanya bertanya saja kok hubby, tidak bermaksud apa - apa."
"Maka dari itu aku berusaha untuk meluruskannya agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita berdua."
"Iya hubby, terima kasih sudah menjelaskannya."
"Iya."
__ADS_1