
Selesai menyuapi Jane, Liam kemudian membereskannya dan kembali menarik Jane ke dalam pangkuannya. Mereka berdua lalu kembali melanjutkan menonton film bersama. Jane semakin di buat nyaman di pangkuan Liam hingga secara tak sadar dia memeluk perut Liam saat sedang menonton film bersama. Entah kenapa Liam selalu saja berhasil membuat dirinya luluh denganya bahkan ketika dirinya sedang sangat marah sekali kepada Liam. Semua perlakuan Liam kepadanya selalu saja membuat jantungnya berdetak dengan cepat dan tidak beraturan. Di dalam fikirannya, Jane selalu saja bertanya "apakah aku mulai memiliki perasaan khusus kepadanya atau perasaan itu hanya sebatas karena sebuah hubungan persahabatan saja? terkadang ketika dia menatapku dengan sangat dalam tiba - tiba saja jantungku berdetak dengan sangat cepat apalagi saat dia memeluk aku untuk menenangkan aku, jantungku juga berdetak dengan sangat cepat." Sejujurnya saat Liam berusaha mengurus Jane sewaktu Jane mengalami patah hati, sikap dari Liam itulah yang membuat rasa benci Jane kepada Liam berubah menjadi rasa suka walaupun waktu itu hanya sebatas rasa suka sebagai seorang teman atau mungkin sebagai seorang sahabat.
Pantas saja Liam menjadi incaran para wanita karena sikapnya yang baik dan manis tersebut walaupun sebenarnya jika dari wajahnya saja sudah membuat para wanita menggila ketika bertemu dengannya. Liam itu tipe seorang pria yang selalu bersikap manis apalagi ucapannya yang semanis madu ketika berusaha merayu seorang wanita hingga siapapun bisa terlena dengan rayuan mautnya tersebut. Pantas saja jika putri para pengusaha lainnya selalu mengharapkan kedatangan Liam di pertemuan akbar para pengusaha, dan Jane juga selalu mendengar sebuah rumor jika ada beberapa penyanyi wanita maupun para aktris yang berusaha mendapatkan hati Liam untuk dijadikan sebagai seorang kekasih. Tetapi Liam selalu berusaha untuk menutup rapat - rapat kehidupan pribadinya dan tidak ingin ada yang mengusik kehidupan pribadinya walapun ada beberapa oknum yang berhasil mengungkap sedikit kehidupan pribadinya termasuk media sosialnya hingga membuat Liam jarang sekali bermain media sosial.
Tetapi sekarang justru Jane lah yang berada di pangkuan Liam bahkan Liam sampai memeluknya dan memainkan rambut milik Jane saat ini. Para wanita lain yang berusaha mengejar Liam justru tidak mendapatkan perlakuan seperti ini darinya, sedangkan Jane yang dari awal tidak pernah berfikir atau bahkan tidak memiliki niat untuk mengenal Liam justru malah mendapatkannya. Terkadang semesta itu sangat aneh, ketika kita berusaha mengejar sesuatu bahkan sampai mati - matian mengejarnya namun kita tidak pernah mendapatkan apa yang kita kejar, sedangkan sesuatu hal yang kita tidak pernah mengejarnya sama sekali atau bahkan ada dalam fikiran kita justru kita malah mendapatkanya secara tidak terduga. Jika sudah begitu bisa dipastikan jika Tuhan tidak mengabulkan apa yang sedang kita minta atau usahakan karena bisa saja Tuhan sedang mempersiapkan dan ingin memberikan yang lebih baik dari apa yang kita minta saat ini, seperti kata orang - orang.
"Liam." Jane memanggil Liam dengan pelan.
Liam lalu menatap Jane "ada apa Jane, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Liam sembari mengusap rambut Jane dengan lembut.
"Perutku masih sakit."
"Mau aku antarkan ke dokter?"
"Tidak perlu, nanti pasti akan sembuh dengan sendirinya."
"Kalau begitu kamu menginginkan apa?"
"Mau kamu mengusap perutku."
Liam terkejut "apa kamu benar menginginkannya?"
Jane mengangguk "iya. Apa kamu tidak mau menuruti permintaanku?"
"Aku akan menuruti permintaanmu, tetapi apakah jangan - jangan kamu sedang mengandung anakku?" tanya Liam setengah bercanda.
Jane lalu memukul kepala Liam "tidak bodoh, perutku terasa tidak enak saja karena sedang datang bulan."
Liam menghela nafasnya "syukurlah, aku kira kamu sedang mengandung anakku." Liam kemudian tertawa.
__ADS_1
"Kalau itu benar terjadi apa kamu akan langsung meninggalkanku atau memintaku untuk menggugurkanya?"
"Tidak bodoh, aku pasti akan bertanggung jawab jika otu benar terjadi dan aku tidak akan memintamu untuk menggugurkannya karena dia berhak untuk hidup. Aku terkadang merasa heran saja jika ada orang yang ingin mengugurkan anaknya karena terjadi di luar nikah padahal setiap bayi berhak untuk hidup dan melihat keindahan yang berada dunia ini. Jika mereka berkata itu menyimpang, lalu kenapa mau melakukannya? lalu apa mereka berharap akan mendapatkan sebuah kulkas atau doorprize jika melakukan hal itu?"
"Memangnya bisa mendapatkan doorprize?"
"Mana mungkin ada kulkas di dalam perut seorang wanita kalau bukan bayi, dasar aneh. Kalaupun ada benda asing pasti dia mendapatkan santet ilmu hitam dari seorang dukun."
"Memangnya bisa?"
"Aku juga bingung mengenai hal tersebut tetapi ada beberapa orang yang percaya itu bisa terjadi dan bahkan aku dengar ada beberapa orang yang terkena santet."
"Kenapa itu bisa terjadi?"
"Bisa saja dilandasi karena rasa benci terhadap seseorang atau mungkin persaingan bisnis."
Jane mengangguk paham "oh begitu."
"Aku ingin kamu mengusap perutku." Pinta Jane.
"Baiklah." Liam lalu mulai mengusap pelan perut Jane yang sedang terasa sakit.
"Nanti aku mau makan yang waktu itu aku makan bersama Gita saat kamu pergi ke New York."
"Nama makanannya apa?"
"Lupa, tapi rasanya enak sekali dan setelah ini mau jalan - jalan."
"Masa aku harus tanya Gita terlebih dahulu untuk mengetahui nama makannya?"
"Please."
__ADS_1
"Baiklah aku akan tanya kepada Gita, tetapi jika kamu menginginkan jalan - jalan aku hanya membawa motorku."
"Tidak apa - apa, aku suka jalan - jalan naik motor."
"Sebentar aku akan menghubungi Gita untuk menanyakan nama makanannya."
"Iya."
Liam kemudian menghubungi Gita untuk menanyakan nama makanan yang Jane maksud sembari terus mengusap perut Jane, sedangkan Jane kembali menonton film. Setelah mengetahui sikap Liam yang seperti ini kepadanya, Jane ingin sekali menerima ajakan Liam tadi pagi namun tiba - tiba tidak jadi dia utarakan karena Jane masih takut kepada Nat. Lebih tepatnya Jane takut jika tiba - tiba Liam berpaling darinya dan memilih untuk hidup bersama dengan Nat, jadi Jane lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk menjawabnya sembari mengenal Liam lebih dalam lagi agar suatu saat dia tidak merasa menyesal karena telah menerima ajakan dari Liam maupun sebaliknya. Liam terus mengusap perut Jane dengan lembut sembari berbincang dengan Gita di telepon. Setelah mengetahui nama makanan tersebut, Liam kemudian menepuk dahinya dan menyalahkan Gita karena sudah mengajak dan mengenalkan Jane dengan makanan tersebut. Setelah itu Liam menutup teleponnya, sedangkan Jane malah menemukan sebuah benda asing milik Liam yang berada di atas mejanya dan mengambilnya.
"Ini benda apa Li?"
Liam lalu melihat ke arah benda tersebut "ah itu rokok elektrik, dan aku baru membelinya setelah mencoba milik Dio."
"Kamu merokok?"
"Aku jarang sih, mungkin saat sedang stress saja aku baru merokok dan saat tidak memiliki ide untuk melukis."
Jane kemudian memutar bola matanya setelah mendengar ucapan dari Liam "terserah, tetapi jangan di dalam apartement jika ingin merokok karena aku tidak suka dengan asap dan baunya."
"Baiklah Jane, aku akan menuruti ucapanmu."
"Jika ingin menuruti ucapanku maka jangan merokok."
"Akan aku fikirkan kembali. Apa kamu tidak menyukainya?"
"Tidak sama sekali, itu bisa merusak paru - parumu dan itu tidak baik untuk kesehatan. Jika aku istrimu maka aku sudah membuangnya."
"Baiklah. Jadi pergi?"
Jane mengangguk "jadi dong. Aku akan mandi terlebih dahulu."
__ADS_1
"Kalau begitu aku juga akan mandi."