Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #259


__ADS_3

Mereka terus berbincang berdua pada malam itu membicarakan tentang banyak hal termasuk keinginan yang ingin diwujudkan bersama di masa depan, dan saat di tengah - tengah perbincangan tiba - tiba saja tubuh Liam merasa sangat lelah sekali. Liam langsung meminta Jane untuk memijat tubuhnya agar rasa lelah itu hilang. Dengan cepat Jane langsung duduk di samping suaminya yang sedang tengkurap untuk melayani permintaannya, yaitu memijat tubuhnya. Jari jemari Jane yang lembut itu dengan lihai memijat punggung suaminya hingga rasa lelahnya hilang. Tidak lupa Jane juga mengoleskan body lotion di tubuh suaminya sembari memijatnya. Untuk mengurangi rasa kecanggungan di antara mereka berdua, Jane lalu mulai membuka pembicaraan dengan suaminya mengenai hobi lain suaminya. Jane bertanya apakah ada hobi lain selain melukis, bermain game, ataupun bermain skateboard? dan suaminya menjawab bahwa dia juga suka balapan, balapan mobil maupun balapan motor dia akan melakukannya saat ada yang mengajaknya.


Bahkan dahulu Arthur, sepupunya pernah mengajak Liam untuk balapan helikopter namun Liam tidak ingin karena jika terjadi sesuatu musalnya lecet biaya reparasinya sangat mahal dan itupun harus mendengar ceramah dari grandma dahulu selama satu jam. Liam lalu beralih menceritakan kejadian - kejadian konyol yang terjadi kepada dirinya saat dahulu sedang bersama dengan Arthur, misalnya leher Liam yang pernah tersangkut di pagar rumahnya di Australia dan Arthur menakut - nakutinya dengan berkata bahwa leher Liam akan dipotong saat para bodyguardnya itu tidak bisa mengeluarkan lehernya. Sontak hal tersebut membuat Jane tertawa terbahak - bahak saat dia berusaha membayangkan kejadian yang dialami oleh suaminya pada saat itu.


Malam semakin larut dan mereka berdua terus berbincang santai. Setelah selesai memijat suaminya, Jane lalu meraih sebuah botol air minum yang berada di meja samping ranjangnya karena dia merasa haus. Tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba - tiba saja Liam menawarkan sebuah pijatan, mendengar hal tersebut Jane berfikir bahwa dia sudah mengetahui endingnya akan bagaimana. Namun walaupun begitu Jane tetap menerimanya dan sekarang dia memposisikan tubuhnya agar mendapat posisi yang nyaman. Liam kemudian mulai memijat Jane secara perlahan, karena merasa sedikit was - was akhirnya setiap menit Jane selalu mengingatkan Liam jika itu hanyalah sebuah pijatan saja dan tidak lebih.


"Malam ini aku hanya ingin dipijat saja, tidak lebih dari itu!!"


"Baik nyonya," ucap Liam sembari memijat punggung Jane.


"Awas saja jika mulai aneh - aneh!!"


"Iya aku tidak akan melakukan hal yang aneh - aneh kok, kamu ini tidak percayaan sama sekali denganku."


"Memang tidak, oleh sebab itu aku selalu memberi peringatan kepadamu."


"Kenapa sih memangnya jika aku meminta hal yang lebih kepadamu, apa kamu sudah merasa bosan kepadaku?" tanya Liam memelas.


"Aku tidak merasa bosan kepadamu, sama sekali tidak pernah merasa begitu namun hanya saja aku sedang lelah dan ingin segera beristirahat."


"Bagaimana kalau hanya satu kali saja?" tanya Liam berusaha menawar.


"Nope, besok saja hubby."


"Ya sudah kalau begitu."


"Heii yang professional dong mijatnya, kamu ini selalu saja seperti ini jika diminta untuk memijatku."


"Hehe."


"Aku merasa sangat heran mengapa kamu menjadi seperti ini sejak menikah padahal dahulu kamu selalu menghindariku serta tidak ingin dekat - dekat denganku, apa sebenarnya sifat aslimu seperti ini dan baru sekarang sifat aslimu itu keluar?"


"Tidak, sebenarnya aku hanya berusaha untuk mengikatmu kepadaku hingga kamu tidak bisa kabur dariku."


"Bukankah kamu sudah mengikatku dengan sebuah pernikahan?"


"Walaupun aku sudah mengikatmu dalam pernikahan tetapi masih ada peluang kamu akan pergi diambil oleh orang lain."


"Benar juga sih."

__ADS_1


"Jujur ini pengalaman pertamaku menjalani kehidupan di pernikahan, dan aku masih merasa bingung apa saja yang harus aku lakukan agar rumah tangga kita bisa berumur panjang."


"Aku juga merasa begitu, tetapi orang pernah berkata jika kunci dalam sebuah hubungan itu adalah saling percaya serta komunikasi."


"So?" (jadi).


"Aku mencoba untuk selalu percaya kepadamu dimanapun kamu berada serta membangun sebuah komunikasi yang baik bersamamu, itu menurutku sih."


"Menarik."


Jane duduk dan mengusap pipi Liam.


"Jangan sungkan untuk menceritakan semua masalahmu kepadaku dan jangan memendamnya sendirian karena aku akan berusaha membantumu untuk mencari sebuah solusi bersama jika kamu mempunyai permasalahan."


"Iya, terima kasih."


"Oh ya sepertinya sekitar 6 bulan lagi aku akan mengikuti sebuah program hamil, bagaimana menurutmu?"


"Kenapa waktunya menjadi maju dari kesepakatan kita di awal?"


"Tidak apa - apa, bukankah lebih cepat lebih baik ya?"


"Iya sih tetapi jangan dipaksakan jika kamu belum sepenuhnya siap untuk menanggung tanggung jawab itu."


"Apa ada seseorang yang memaksamu hingga kamu seperti ini?" tanya Liam memastikan.


"Tidak ada hubby, aku hanya sedang ingin saja karena merasa penasaran bagaimana wajah anak kita."


Liam tertawa.


"Menurutmu akan seperti apa? bukankah seperti bayi pada umumnya?"


"Jika anakku laki - laki aku sangat ingin wajahnya mirip denganmu apalagi memiliki warna bola mata yang bewarna coklat muda seperti milikmu."


"Oh begitu rupanya, tetapi aku juga ingin memiliki anak perempuan yang sangat cantik dan menggemaskan sepertimu."


"Kalau begitu bagaimana jika kita memiliki dua - duanya saja, anak laki - laki dan perempuan?"


"Sebuah ide yang bagus."

__ADS_1


Setelah pembicaraan hal tersebut mereka berdua lalu mulai bersiap untuk tidur, dan Liam juga sudah mematikan semua lampu yang berada di kamarnya agar tidurnya lebih nyenyak. Tidak lupa Liam juga mengecup kening Jane untuk memberinya ciuman selamat malam. Setelah itu baru deh Jane tidur di pelukan Liam. Pada keesokan harinya saat matahari mulai menampakkan dirinya dari timur hingga cahayanya menembus sampai ke dalam kamar mereka berdua, Jane mulai membuka matanya secara perlahan dan menguap. Setelah itu dia mencium pipi Liam dan menguncir rambutnya sebelum ke kamar mandi. Saat jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi, Jane baru mulai membangunkan suaminya untuk bersiap - siap sebelum berangkat kerja.


"Hubby sayang, bangun!"


"Nggg."


"Ayo bangun sayang, sudah jam setengah 7."


Liam mulai membuka matanya."


"Hoamm, aku masih mengantuk."


"Nanti pulang dari kantor langsung tidur saja agar tidak mengantuk."


"Iya."


"Mandi sana, aku sudah menyiapkan setelah jas yang akan kamu pakai dan setelah ini aku juga akan menyemir sepatumu."


"Kenapa begitu?"


"Agar sepatumu lebih mengkilap dan membuatmu terlihat lebih tampan."


"Oh begitu, baiklah."


*Beberapa menit kemudian.*


"Jane, bagusnya aku memakai dasi warna apa untuk setelan yang ini?"


"Kemari hubby, aku akan memakaikan dasimu."


"Oh ternyata kamu juga sudah memilihkan dasi untukku."


"Tentu saja."


Jane lalu mulai mengikat dasi di kerah kemeja Liam, sedangkan Liam hanya memperhatikan Jane yang sedang fokus mengikat dasinya.


"Nah sudah selesai. Duduklah disana dan aku akan memakaikan sepatumu juga."


"Aku bisa memakainya sendiri Jane, kamu tidak perlu repot - repot sampai seperti ini."

__ADS_1


"Aku tidak merasa direpotkan karena aku sangat menyukai hal - hal seperti ini setelah menikah denganmu."


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Liam sembari mengusap rambut Jane."


__ADS_2